Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 23 'Kembalinya Riko Ke Sekolah'


__ADS_3

"Kamu semangt terus ya Riko, Ibu sangat menyayangimu dan doa Ibu akan selalu menyertaimu dimana pun kamu berada nak" Ucap Ibu Riko dengan lembut sambil mencium kening Riko yang tengah tertidur lelap.


Ibu Riko kemudian menyelimuti badan Riko dengan selimut dan keluar dari kamar anak semata wayangnya itu.


Riko yang tertidur dengan begitu lelapnya malam itu, baru terbangun dari tidurnya jam 6 pagi dan ia melihat di atas meja yang tepat berada di samping kasurnya terdapat satu nampan makanan lengkap denga segelas air putih. Pagi itu, aroma yang keluar dari makanan itu tak sedap menandakan makanan itu telah basi dan tak layak untuk di kosumsi.


"Pasti Ibu yang meletakan makanan ini di sini. Maafkan aku Ibu, aku tak sempat memakanya hingga makanan ini terlanjur basi" Ucap Riko dalam hati sembari menatap satu nampan makanan itu dengan penuh penyesalan.


Riko hanya meminum segelas air di nampan itu, dan bergegas membawanya ke dapur.


Di dapur pembantu di rumah itu tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk Riko dan Ibunya. Ia di kejutkan oleh Riko yang tumben-tumbenan pada saat pagi begini masuk dapur langsung.


"Selamat pagi bi" Sapa Riko yang terlihat jauh lebih bersemangat pagi itu.


"Pagi Den Riko" Saut pembantu itu dengan senyum ramahnya.


"Yaampun den, aden belum makan dari kemarin malam? Kok makanannya utuh seperti tak tersentuh sama sekali? " Tanya Si pembantu dengan penuh kepedulian.


Yaa pembantu rumah itu telah bekerja dengan Ibu Riko sebagai seorang pembantu rumah tangga selama 20 tahun lebih, bahkan ia sudah bekerja disana sebelum Riko di lahirkan ke dunia ini. Namanya Siti, atau yang biasa di panggi Bi Siti oleh Riko. Tak heran, hubungannya terhadap Ibu Riko dan Riko sangat dekat layaknya keluarga sendiri. Itulah mengapa, ia yang tak berumah tangga kadang menganggap Riko sebagai anaknya sendiri.


"Hehe iya bi, Aku ketiduran kemarin karena saking lelahnya. Jadinya aku tak sempat memakan makanannya deh" Saut Riko sembari memegang kepala bagian belakangnya.


"Yaudh den Riko makanan itu taruh aja disini, biar bibi yang beresin nanti. Sekarang den Riko mandi dulu gih biar gak telat nanti ke sekolahnya, sarapannya sebentar lagi akan siap" Ujar bi Siti sambil tersenyum ramah.


"Iya deh bi, terimakasih banyak ya. Oh iya, Ibu dimana bi? " Tanya Riko penasaran. Pasalnya tumben ia pagi-pagi seperti ini belum melihat Ibunya sama sekali.

__ADS_1


"Ibu sudah berangkat kerja dari tadi pagi den, ia bahkan belum sempat sarapan" Ujar bi Siti lagi.


"Kok tumben bi? Biasanya kan aku duluan yang keluar dari rumah pagi-pagi begini" Tanya Riko yang semakin penasaran.


"Iya den, tadi Ibu bilang ada hal penting yang mengharuskannya untuk berangkat lebih pagi dari biasanya hari ini" Saut bi siti kini sambil menata sarapan Riko di atas meja makan.


Melihat sarapannya yang telah siap di atas meja dengan aroma yang begitu sedap hingga menggoda hidungnya, Riko seakan merasa terpanggil untuk menyantap sarapannya itu segera. Ia pun meletakan handuk yang tadinya ia pegang karena ingin bergegas mandi di atas kursi meja makan keluarganya itu dan bersiap untuk sarapan.


Saat itu, Riko merasakan suasana yang begitu sepi di meja makannya, pasalnya pagi itu ia hanya sarapan sendirian. Ia tak di temani Ibunya yang biasanya setiap pagi selalu menemaninya untuk sarapan.


"Bi temenin aku makan dong" Ucap Riko sembari berteriak memanggil bi Siti yang saat itu tengah sibuk mebersihkan sisa-sisa bahan makanan di dapur. Ia berteriak bukanya karena ia tak sopan, melainkan Ia berteriak karena sudah sangat akrab dan dekat dengan bi Siti. Mereka berdua pun menikmati hidangan yang tersaji pagi itu dengan penuh penghayatan.


Setelah selesai menyantap sarapannya, Riko langsung bergegas mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.


Wajar saja jika Riko merasa kurang bersemangat di pagi itu. Gadis yang ia cintai yaitu Dinda masih terbaring lemas di rumah sakit, bahkan Riko juga tak tahu, apakah di pagi itu Dinda sudah siuman atau belum.


Selama perjalanan, Riko mengendarai motornya dengan kurang fokus. Pikirannya masih di sibukan dengan selalu memikirkan Dinda bahkan ia sampai beberapa kali melamun di buatnya.


Untung saja tak ada hal yang mengancam keselamatan Riko selama di perjalanan, ia tiba di area parkir sekolahnya dengan selamat.


"Riko Riko!! "


Terderngar suara Adit dari kejauhan sangat lantang ketika Riko sedang memarkirkan motornya. Ia seketika menoleh ke arah suara Adit itu.


Adit bergegas menghampiri Riko, yang saat itu kembali seketika menjadi pusat perhatian satu sekolahan. Semua mata di sekitar sana kembali mengarah kepadanya.

__ADS_1


"Riko temanku, apa kabarmu? Dinda apa kabar? " Tanya Adit dengan penuh kepedulian.


"Aku baik-baik saja kok dit, akan tetapi Dinda sampai kemarin saat aku meninggalkannya pulang, masih belum sadarkan diri. Karena kekurangan banyak darah Dinda jadi sempat kritis dan kemarin masih dalam keadaan koma" Saut Riko sambil menundukkan kepalanya, menandakan kesediahan yang tengah ia rasakan sangat teramat dalam kala itu.


"Yaampun Dinda" Saut Adit dengan singkat sembari ikut menunduk untuk Dinda.


"Yaudah yuk kita ke kelas dulu Riko, nanti terlambat" Imbuh Adit lagi yang kali ini berupaya mengajak Riko ke kelas sembari memegang pundaknya. Adit tahu betul perasaan cinta Riko yang teramat sangat tulus terhadap Dinda, walaupun saat insiden berdarah Dinda itu terjadi, ia tak melihatnya langsung karena tak ada di lokasi.


Adit saat di perjalanan menuju ke kelasnya dengan Riko, ia selalu berusaha menghibur Riko dengan beberapa kali melayangkan lelucon lucu. Akan tetapi hal itu sama sekali tak memancing sekedar senyuman apalagi tawa di wajah Riko. Ia paham betul orang yang paling terpuruk dan terpukul karena mendapati kondisi Dinda seperti sekarang ini selain orang tuanya Dinda adalah Riko.


Sepanjang perjalanan menuju kelasnya pagi itu, semua mata masih tertuju ke arah Riko. Seolah menandakan hampir semua orang di sekolah itu telah mengetahui serta mendengar berita tentang insiden berdarah Dinda. Insiden yang kala itu sangat menggemparkan satu sekolahan karena suasananya yang sangat mencekam, serta siapapun yang melihat banyak darah bercucuran keluar dari kepala Dinda saat itu pasti diselimuti kepanikan, apalagi Riko yang merupakan salah satu orang terdekat Dinda dan sangat mencintainya.


"Yeyy Riko kembali!"


Ucap Lia dan Luna dengan semangat menyambut kedatangan Riko pagi itu ke kelasnya, sembari berlarian ke arah Riko.


"Eh Lia dan Luna" Respon Riko agak datar menandakan dirinya kurang bersemangat pagi itu.


"Kamu apa kabar Riko? Kamu baik-baik saja kan? " Tanya Lia terhadap Riko yang kala itu sudah kembali duduk di mejanya.


Riko yang belum sempat membuka mulutnya kala itu di dahului Adit yang langsung merespon pertanyaan Lia itu.


"Kan Dinda yang terkena musibah, harusnya tanyain kondisi Dinda dulu lah" Sautnya agak ketus.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2