Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 7 'Aksi Heroik Riko'


__ADS_3

Hari pun mulai gelap, tetapi mereka masih belum menemukan alur cerita yang tepat untuk film itu. Tiba-tiba hawa terasa begitu dingin seakaan hujan akan turun lebat malam itu.


"Udah dulu yuk, kita lanjut nanti aja" Usul Dinda yang terlihat sedikit gelisah, entah apa yang ia pikirkan. "Iya yuk udah jam segini, aku udah mulai capek. Kayaknya hujan juga bakal turun nih" Saut Luna sembari memandangi jam tangannya. "Oh iya kalian mau bareng aku gak? Sopirku udah di depan tuh" Lia menawarkan tumpangan ke teman-temannya.


"Emang kamu lewat jalan mana Lia? " tanya Adit. "Aku lewat jalan merdeka dit" Saut Lia. Akhirnya karna Luna yang tadi pergi ke warung sate itu bareng Lia dan arah rumah Adit yang ternyata juga searah, Mereka berdua pun memutuskan untuk ikut pulang bareng Lia. "Kamu gak mau ikut kita aja Din? Sebelum ujan turun nih, kalo Riko kan bawa motor sendiri dia" Tanya Lia menawarkan tumpangan lagi ke Dinda. "Enggak deh Lia, makasi. Rumah ku berlawanan arah dengan kalian, aku naik taksi aja. "Saut Dinda sembari tersenyum ramah. "Oh yaudah kita duluan ya, kalian hati-hati dijalan" Ucap Lia sebelum meninggakan Riko dan Dinda sendiri disana.


Hujan pun tiba-tiba turun dengan sangat lebat dan disertai petir yang dahsyat malam itu, menahan langkah Dinda ke pinggir jalan untuk memberhentikan taksi yang lewat. "Kamu kenapa masih disini? Pulang sana! " Dinda menyuruh Riko pulang meninggalkannya disana sendiri. "Aku cowok Din, gak mungkin aku ninggalin cewek sendirian malam-malam begini, apalagi kamu juga teman sekelasku" Mendengar ucapan Riko itu, sebenarnya Dinda sedikit tersentuh. Baginya itu sudah mencerminkan kepribadian Riko yang gentlemen dan penuh tanggung jawab sebagai seorang lelaki sejati. Tapi karena gengsinya yang begitu besar, iya tetap bersikukuh untuk menyuruh Riko pulang dulan.


"Kamu keras kepala sekali ya Din, aku paham betul seberapa bahayanya daerah sini malam-malam begini. Aku mohon izinin aku disini nemenin kamu, minimal sampai kamu dapat taksi untuk pulang" Ucap Riko yang juga bersikeras untuk tidak pulang duluan.

__ADS_1


Waktu terus berjalan, hingga warung sate langganan Riko pun tutup dan hujan mulai reda. "Mas Riko kok belum pulang?" tanya si penjual sate dengan penasaran, "iya nih bang, aku mau nungguin dia dapat taksi dlu" Jawab Riko sembari menunjuk ke arah Dinda. "Loh kok ga pulang bareng aja? Kasian pacarnya, Daerah sini rawan kejahatan lo, bahaya kalo cewek naik taksi sendirian" ujar si penjual sate menyarankan mereka pulang bareng. "Maaf bang, Riko bukan pacar saya! " Saut Dinda Sinis.


"Eh maaf, abang kira kalian pacaran. Abisnya kalian terlihat serasi sekali lo" Imbuh si tukang sate lagi. "Iya bang kita emang enggak pacaran, tapi suatu saat nanti, kita akan menjadi pasangan yang saling melengkapi. Mohon doanya ya" Ucap Riko sembari tersipu malu. "Siap mas Riko, doanya nanti akan saya kirim" Respon si abang penjual sate sambil menepuk bahu Riko. Tiba-tiba petir menyambar pohon kelapa yang letaknya tak jauh dari sana, suaranya menggelegar keras hingga mengguncang tanah. Sontak mereka ber tiga yang tadinya asik ngobrol pun terkejut, apalagi Dinda yang spontan meloncat ke arah Riko karena saking terkejutnya. Riko yang mempunyai refleks yang sangat bagus pun refleks menangkap tubuh Dinda yang mengarah ke arahnya. Wajah Riko dan Dinda berhadapan sangat dekat, mereka saling menatap beberapa saat sembari bengong.


"Ihh Riko! " Bentak Dinda dengan wajah yang memerah tersipu malu lagi dan langsung melompat ke bawah untuk melepaskan diri dari genggaman Riko. "Kayaknya semesta pun mendukung dan merestui kalian untuk bersatu" Ucap si penjual sate yang terkagum-kagum karena ia melihat adegan amat romantis seperti di film-film barusan. "Udah pulang bareng aja sana" Imbuhnya lagi.


"Aku udah tawarin dia untuk pulang bareng beberapa kali dari tadi bang, tapi dianya bersikeras nolak terus" Saut Riko yang berusaha menjelaskan situasinya. "Walahh neng, percaya sama abang Riko ini anak baik-baik kok, abang sudah kenal dia lama" Si penjual sate berusaha meyakinkan Dinda. "Enggak bang, aku gak mau ngerepotin orang. Lagian aku sudah memesan taksi online, lagi beberapa menit aja nyampe kok" Ucap Dinda yang tetap menolak untuk pulang bareng Riko.


Dinda menangis, saking takut dan paniknya sekujur tubuh Dinda seketika gemetaran dan kaku. Ketakutannya semakin menjadi-jadi setelah sadar mobil yang ia tumpangi malah menuju hutan belantara yang letaknya cukup jauh dari pusat kota. "Aku bakal dibawa kemana nih? Ya Tuhan lindungi lah aku" Doanya yang ketakutan dalam hati. Mobil itu pun berhenti di gubug kecil di tengah-tengah hutan. Sopir taksi itu memaksa Dinda turun dari mobil, dan menariknya ke dalam gubug tua itu. Sadar dirinya dalam bahaya Dinda teriak sekencang mungkin meminta pertolongan, "Tolong Tolong, siapa pun tolong aku!!" berharap ada orang yang mendengar dan menolongnya. Tiba-tiba Riko datang dengan tendangan keras melayangnya yang tepat mendarat di wajah si sopir taksi, seketika sopir taksi itu tak sadarkan diri.

__ADS_1


Dinda berlali menuju arah Riko, dan memeluk erat tubuhnya sambil menangis. Tapi ternyata bahaya yang mengancam keselamatan mereka berdua belum usai.


Dari dalam gubug tiba-tiba terdengar suara beberapa botol yang saling bertabrakan. Membuat Riko kembali ke mode waspada, lalu keluar 5 orang pria sambil tangan 3 orang di antara mereka menggenggam minuman keras, menandakan mereka dan sopir taksi tadi baru selasai pesta miras dan punya rencana buruk malam itu. "Kamu masuk kemobil tadi, kunci pintunya. Biar mereka jadi urusanku! " Ucap Riko singkat ke Dinda, Dinda sempat ragu dan mengajak Riko berlari bersama sebelum ia pun berlali sekencang mungkin dan masuk ke dalam mobil itu.


Riko melawan 5 pria itu sekaligus seorang diri, Dinda yang menyaksikannya dari dalam mobil panik dan berdoa untuk keselamatan Riko. Akhirnya Riko mampu mengalahkan semuanya dengan waktu yang cukup singkat. Melihat itu Dinda berlari ke luar dan langsung memeluk erat tubuh Riko untuk yang ke dua kalinya sambil menangis tersedu-sedu. "Terimakasih Riko, aku gak tau nasibku gimana kalo kamu gak datang" Ucapnya dengan terbata-bata. "Sama-sama Din, itu udah kewajiban ku sebagi seorang lelaki" Saut Riko yang berupa menenangkan Dinda. Mereka pun akhirnya pulang bareng dengan motor kesayangan Riko.


Ditengah perjalanan Dinda yang masih ketakutan dan trauma dengan kejadian buruk yang hampir saja menimpanya tadi, memeluk erat tubuh Riko dari belakang. Riko yang menghadapi situasi itu, jantungnya berdetak kencang, dan hatinya pun berbunga-bunga seolah mengisyaratkan ia telah menemukan belahan hatinya. "Aku akan selalu menjaga gadis ini dengan sepenuh hatiku" Ucapnya dalam hati.


Dinda di sepanjang perjalanan hampir tak berkata apa-apa, ia hanya berbicara menunjukkan Riko arah rumahnya. Sesampainya dirumahnya Dinda waktu menujukan pukul 10 malam lewat. Dinda langsung langsung turun dan berkata "terimakasih banyak Riko" , kemudian ia pun langsung memencet bel rumahnya. Beberapa saat kemudian Ibunya Dinda membukakan pintu, setelah pintu terbuka seketika Dinda memeluk erat ibunya sambil menangis, badannya pun masih gemeteran seolah ia masih trauma dengan kejadian tadi. Ibunya Dinda yang bingung dan khawatir melihat tingkah putrinya spontan memarahi dan menampar Riko kemudian menuding Riko lah penyebab putri sulungnya itu jadi seperti ini. Ia tak memberikan kesempatan Riko untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya lalu mengusir Riko dengan begitu saja.

__ADS_1


Malam itu Riko pulang dengan perasaan sedikit sedih karena mendapatkan prilaku yang tak mengenakkan dari Ibu gadis yang ia cintai. Tapi disisi lain ia paham betul tindakan yang di ambil Ibunya Dinda tadi itu, semata-mata merupakan respon alamiah dari seorang ibu yang khawatir dan ingin melindungi putrinya.


Bersambung...


__ADS_2