
"Aku gak usah ikut masuk ke dalam ya dik? Gak enak nanti dikira yang enggak-enggak" Ucap Riko yang menolak ikut masuk ke kamarnya Sinta.
"Yaudah kalau Kak Riko gak mau masuk ke dalam, aku juga gak mau ah! Mending aku jalan-jalan lagi nyari angin! " Ucap Sinta mengancam Riko.
"Loh kok gitu? Jangan gitu lah dik, kamu lagi sakit lo, kamu perlu istrirahat. Jangan keras kepala gitu deh, Biar kondisimu cepat membaik dan bisa segera sembuh" Ujar Riko yang berupaya untuk membujuk Sinta untuk masuk sendirian ke kamarnya.
Melihat tanggapan Riko, Sinta malah menangis. Ia berulang kali memukul-mukul dadanya Riko.
"Kak Riko jahat! Kak Riko tak ingin melihatku cepat sembuh! " Bentak Sinta sambil tetap menangis.
Suara tangisan Sinta lumayan keras, hingga terdengar sangat menggema di situasi lorong rumah sakit yang sangat sunyi kala itu.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka secara perlahan-lahan. Adalah pintu kamarnya Dinda yang terbuka kala itu, Ibunya Dinda pun keluar karena mendengar suara tangisan seorang gadis.
"Riko! Kamu apain gadis itu? " Bentak Ibunya Dinda yang salah paham karena melihat Riko tepat berdiri di depan Sinta yang tengah menangis sambil kedua tangannya tak henti memukul dada Riko.
Melihat Ibunya Dinda yang kala itu keluar sambil membentak dirinya untuk yang kesekian kalinya, Riko panik. Riko bingung gimana cara ia akan menjelaskan semuanya.
"Kak Riko jahat tante, aku cuma pengen Kak Riko ngejagain aku di dalam kamar, tetapi ia menolak. Padahal aku takut sendirian di dalam" Saut Sinta sambil tetap menangis.
"Riko!! Jaga pacarmu di dalam kamar, jadi cowok harus bertanggung jawab" Ujar Ibunya Dinda, kala itu sambil melotot ke arah Riko.
Mendengar itu, Riko berniat menjelaskan kepada Ibunya Dinda bahwa Sinta itu bukan pacarnya, akan tetapi sebelum sempat membuka mulutnya untuk menjelaskan hal itu, Sinta malah menarik tangan Riko dan mengajaknya masuk ke dalam kamarnya.
"Eh dik, aku belum selesai bicara sama Ibunya Dinda lo, kok malah kamu menarik tanganku?" Tanya Riko dengan nada yang sedikit panik setelah tiba di dalam kamarnya Sinta.
"Maaf Kak Riko, aku ada sedikit trauma masa lalu. Jadi aku paling gak bisa mendengar orang berbicara dengan nada yang tinggi hingga melotot seperti tadi" Ujar Sinta sambil kala itu mengusap air matanya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, kamu tunggu sebentar di sini ya. Aku mau ke kamar Dinda dulu sebentar, ada hal penting yang mau aku bicarakan kepada Ibunya" Ucap Riko yang langsung berupaya keluar dari kamarnya Sinta kala itu.
"Jangan Kak Riko! Jangan tinggalin aku sendirian disini, aku takut" Ucap Sinta sambil meraih salah satu tangan Riko yang berniat pergi dari kamarnya.
Sadar dengan keadaan Sinta yang sedang kurang sehat dan masih memerlukan banyak waktu untuk beristirahat, Riko pun mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Sinta sendirian, walaupun sekedar untuk pergi ke kamarnya Dinda sekalipun.
"Hmm baiklah dik, aku gak jadi pergi, akan tetapi kamu janji ya akan segera beristrirahat" Saut Riko dengan nada lembut penuh perhatian.
"Horee.. Kak Riko gak jadi pergi! Yey yey yey! Baik Kak Riko, aku akan segera beristirahat" Saut Sinta dengan amat sangat kegirangan.
"Tok tok tok"
Pintu kamar Sinta tiba-tiba ada yang mengetuk, Riko pun sontak berinisiatif untuk membuka pintu itu kala itu.
"Selamat malam dik, saya membawakan makan malam pasien atas nama Sinta. Silahkan"
Ucap petugas rumah sakit yang tadi mengetuk pintu kamar itu dengan lembut.
Petugas itu permisi dan mulai melangkahkan kakinya dari depan kamar Sinta malam itu. Riko membawa makanannya masuk dan segera menutup pintunya.
"Makan malam ya Kak Riko? " Tanya Sinta yang sudah berbaring di tempat tidurnya.
"Iya dik, makan malam dulu gih, biar kondisimu bisa segera membaik" Ucap Riko dengan lembut yang berupaya untuk membujuk Sinta agar segera mau menyantap makan malamnya.
"Taruh di meja saja Kak Riko, aku sedang tak selera makan" Saut Sinta dengan ekspresi wajah yang seakan tak tertarik untuk menyicipi makanan itu.
"Lohh gak boleh gitu dik, setidaknya kamu harus hargai orang yang telah memasak dan mengirim makanan ini ke kamarmu. Lagian kalau kamu tak makan malam, kondisimu tak akan bisa cepat pulih lo, kamu mau menjadi pasien di rumah sakit ini berlama-lama? Ga bisa menikmati udara segar di luar sana, ga bisa bebas" Ujar Riko yang masih berupaya membujuk Sinta agar mau menyantap makan malamnya.
__ADS_1
"Hmm iya deh aku mau makan, tapi ada syaratnya" Saut Sinta dengan nada manja, seolah ia sedang berbicara dengan orang yang telah lama ia kenal.
"Ya sudah deh, apa syaratnya?" Tanya Riko penasaran.
"Kak Riko suapin aku ya? Biar aku selera untuk menyantap makanan itu" Pinta Sinta dengan mata yang berninar kala itu.
"Iya deh iya, demi mempercepat kesembuhanmu aku suapin nih" Saut Riko dengan nada yang sedikit terpaksa.
"Kak Riko yang ikhlas dong nyuapinya. Kayak terpaksa gitu" Ucap Sinta lagi dengan nada yang masih manja kala itu.
"Aku iklhas kok dik, ikhlas banget malah" Imbuh Riko dengan senyum ramahnya menatap mata Sinta.
Sinta pun mempercayai Riko dan langsung membuka mulutnya, bersiap untuk menyambut suapan dari Riko.
Sinta merasa sangat bahagia malam itu saat ada Riko di sampingnya, apalagi Riko kala itu juga menyuapi makan malam untuk Sinta. Makanan dari pihak rumah sakit yang biasanya tak pernah habis oleh Sinta, secara ajaib malam itu bisa habis karena di suapi Riko. Entah kenapa bagi Sinta, hidagan malam itu terasa begitu nikmat tak seperti hidangan rumah sakit biasanya yang terasa hambar di mulut Sinta.
Beberapa menit berlalu, Makanan itu pun habis di santap Sinta dengan lahap.
"Ngomong-ngomong, Kak Riko udah makan malam?" Tanya Sinta penuh peduli terhadap Riko.
"Aku belum makan dik. Tapi tak usah di pikirin, kan aku bisa beli makan nanti di perjalanan pulang" Saut Riko dengan nada lembut.
Melihat Sinta mampu menghabiskan makanan yang di suapinya tadi, entah kenapa timbul perasaan lega dan bahagia di hati Riko. Ia bahkan bisa melupakan Dinda sesaat karenanya.
"Ya sudah deh kak, tapi bener ya nanti beli makan di perjalanan pulang" Ucap Sinta sambil tersenyum.
Riko menyadari satu hal setelah kala itu ia memperhatikan senyuman Sinta, wajah Sinta terlihat agak mirip dengan wajahnya sendiri. Apalagi cara Sinta untuk tersenyum, itu benar-benar hampir menyerupai senyuman Riko.
__ADS_1
"Kalau begitu aku pulang dulu ya dik, sudah hampir tengah malam nih" Ucap Riko yang hendak berpamitan.
Bersambung...