
"Aku mempunyai kecurigaan Julian lah dalang di balik hilangnya rekaman CCTV pada saat hari dimana insiden berdarah Dinda itu terjadi bu" Saut Riko menjawab rasa penasaran Bu Adel.
Mendengar kecurigaan Riko itu, Bu Adel bukannya paham mengapa Riko bisa menaruh rasa curiga terhadap Julian, ia justru malah semakin penasaran tentang apa hal yang mendasari kecurigaan Riko tersebut.
"Kenapa kamu bisa menaruh kecurigaan terhadap Julian Riko? Menunduh tanpa bukti itu tak baik lo" Ujar Bu Adel yang berusaha mengingatkan Riko untuk tak menuduh orang sembarangn.
"Aku bukannya menuduh Julian bu, aku hanya curiga. Kecurigaanku ini tak sembarangan, tetapi ada beberapa hal yang mendasari kecurigaan ini. Pertama karena Julian lah pelaku utama dalam insiden berdarah Dinda itu, yang kedua Julian merupakan seorang ketua OSIS di sekolah kita yang tentunya pasti mempunyai akses ke ruang keamanan, yang ke tiga para guru pun waktu itu terlihat takut terhadap Julian, dan masih ada beberapa hal lain penyebab kecurigaanku itu" Imbuh Riko.
"Hal-hal yang tadi kamu sampaikan memang masuk akal, akan tetapi tetap saja posisinya disini kamu tak mempunyai bukti yang cukup kuat, untuk membuktikan bahwa Julian lah dalang di balik hilangnya rekaman CCTV waktu itu" Ucap Bu Adel sembari memegang pundak Riko dan menatap mata Riko, layaknya seorang Ibu yang sedang menasihati anaknya dengan penuh kepedulian.
"Iya sih bu, sekarang memang aku tak memiliki bukti apa pun mengenai kecurigaanku ini, tetapi aku akan berusaha menemukan buktinya demi menegakkan keadilan untuk Dinda" Saut Riko dengan penuh optimis.
"Gimana caranya Riko?" Tanya Bu Adel penasaran.
"Caranya masih aku pikirkan bu" Jawab Riko sambil memegang dagunya.
Mereka berdua pun mengakhiri pertemuan dan percakapan mereka hari itu, karena Bu Adel mempunyai urusan penting yang tak bisa ia tinggalkan. Bukannya langsung pulang guna untuk menemui Ibunya yang pasti masih menghawatirkan keadaannya, Riko malah menuju ke kamar Dinda lagi sekedar untuk melihat kondisi gadis yang ia cintai itu. Kali ini setelah sampai tepat di depan pintu kamar Dinda, Riko hanya berdiri disana sambil menoleh ke dalam melalui kaca pintu.
Di dalam kamarnya, Dinda yang belum sadarkan diri hingga saat itu, masih setia di temani Ibunya yang sedang tertidur di tempat duduk yang tepat berada di sebelah Dinda, Itulah mengapa Riko tak berupaya masuk ke dalam.
__ADS_1
"Dinda aku pulang dulu ya, aku harus menemui Ibuku untuk mengobati kekhawatirannya. Kamu cepat bangun dong, aku bakal selalu tunggu kamu sampai kapan pun. Jangan sedih ya, besok aku akan datang lagi" Ucap Riko dalam hati sambil menempelkam wajahnya pada kaca pintu itu.
Setelah berpamitan kelada Dinda, Riko pun bergegas pulang dengan menumpangi taksi.
Di rumahnya, Riko di sambut pelukan hangat Ibunya yang kini merasa lega karena telah mendapati anak semata wayangnya pulang.
"Akhirnya anak Ibu pulang, kamu baik-baik aja kan Riko? Kok wajahmu agak pucat? Kamu sakit? " Tanya Ibu Riko yang cemas melihat wajah anaknya yang tampak tak biasa hari itu, wajah tampan Riko terlihat sedikit masih membirumembiru karena ia telah mendonorkan banyak darahnya untuk Dinda.
"Aku baik-baik aja kok bu, aku hanya kurang istirahat dari kemarin" Saut Riko dengan kurang semangat.
"Syukurlah, terus Dinda gimana kondisi terkininya?
Ia baik-baik saja kan?" Tanya Ibu Riko lagi yang memperdulikan kondisi calon mantunya itu.
"Yaudah deh Riko, kamu bergegas mandi dan beristirahat dulu sana. Kamu bisa bercerita setalah kamu siap untuk menceritakannya, Ibu tunggu" Saut Ibu Riko dengan tatapan penuh kasih sayang.
Riko bergegas ke kamarnya untuk mandi dan berniat tidur sejenak setelah itu, akan tetapi bahkan setelah mandi dan merasakan tubuhnya yang jauh lebih segar dari sebelumnya, Riko tetap saja tak bisa tidur. Di benaknya ia masih memikirkan Dinda, dan cara untuk mengungkapkan tindak kriminal yang telah di perbuat Julian.
Saat Riko masih melamun sendirian di kamarnya memikirkan dua hal tadi, tiba-tiba ponsel Riko berbunyi. Kali ini ada nomor tak di kenal yang menghubunginya.
__ADS_1
"Apa kabar Riko? Gimana kondisi gadis kesayanganmu sekarang? Enak kan rasanya melihat orang yang kita sayang sekarat? Makannya, jangan seenaknya mempermalukanku di depan umum begitu, tau kan akibatnya sekarang? Hahahaha" Ucap suara dalam telepon itu dengan nada meledek, di ikuti dengan tawanya yang lepas di atas penderitaan Dinda dan Riko.
Mendengar kalimat dan nada berbicara seseorang yang tiba-tiba menghubunginya lewat telepon hari itu, emosi Riko memuncak. Naluri petarungnya seketika keluar, ia sangat ingin menghajar orang itu dan kali ini ia tak akan menahan diri seperti sebelum-sebelumnya lagi.
"Siapa ini? Berani-beraninya menertawai Dinda yang sedang kena musibah!! " Bentak Riko sembari mengepalkan tangannya.
"Kamu tak mengenali suaraku? Aku seniormu Riko, aku jagoan di sekolah yang harga dirinya kamu injak-injak dan permalukan di depan umum waktu itu" Saut orang itu, masih dengan nada kurang ajar yang sangat menganggu masuk ke teliga Riko.
"Julian? Pengecut kau!! Awas kalau ketemu, abis kau!! " Bentak Riko yang emosinya semakin menjadi-jadi.
"Hahaha.. Iya, aku Julian. Julian yang akan menghancurkanmu sedikit demi sedikit! " Jawab suara dalam telepon itu, yang kemudian menutup teleponnya.
"Woii Julian!! Kau dimana sekarang? Aku akan mencari dan membongkar segala kebusukanmu! Dasar pengecut!! " Bentak Riko sambil berdiri dan membanting ponselnya ke atas kasur kamarnya.
Suara lantang layaknya suara orang yang sedang marah besar terdengar dari arah kamar Riko, memancing Ibu Riko dan pebantu di rumah itu segera menuju ke pusat suara.
Betapa terkejutnya mereka berdua mendapati kamar Riko kini layaknya kapal pecah yang sangat amat berantakan, barang-barang Riko berserakan di mana-mana dan semua botol minuman yang dari dulu susah payah di koleksi Riko pecah, seperti telah di banting. Riko yang terlihat duduk menunduk di sudut kamarnya memancing kekhawatiran Ibu Riko lagi. Pasalnya tadi Riko bilang ke Ibunya, ia ingin mandi dan sekedar beristirahat. Akan tetapi hal yang sekarang terjadi sangat di luar dugaan Ibu Riko.
Ibu Riko berupaya menghampiri Riko yang terlihat sangat terpuruk kala itu dan mengajaknya untuk duduk di teras rumah. Sedangkan pembantu di rumah itu langsung berinisiatif membersihkan dan merapikan kamar Riko yang sangat berantakan.
__ADS_1
Sesampainya di teras rumah mereka, Ibu Riko langsung menyuruh Riko untuk duduk dan menunggunya sebetar sendirian di sana. Ia kemudian masuk ke dalam rumah lagi. Selang beberapa menit, Ibu Riko datang dan menghampiri anak semata wayangnya itu lagi sambil membawakan secangkir coklat hangat untuknya. Ia berharap dengan coklat hangat itu, suasana hati Riko akan jauh membaik. Ia pun langsung duduk di sebelah Riko guna untuk mendengarkan cerita Riko.
Bersambung...