Meraih Si Gadis Manis

Meraih Si Gadis Manis
Episode 31 'Sinta'


__ADS_3

Setelah mencoba mengingat-ingat tentang gadis yang kini tepat di depan matanya, Riko tak kunjung bisa mengingatnya juga. Hal itu di sebabkan yang ada di benak Riko kala itu hanyalah si gadis yang ia cintai, yaitu Dinda seorang. Riko pun menyerah dengan ingatannya.


"Maaf dik, jujur aku sama sekali tak mengingatmu. Emang kita sebelumnya saling kenalan dimana?" Tanya Riko sembari menatap mata gadis itu.


"Ya ampun Kak Riko, aku Sinta. Apakah setelah ku sebutkan namaku Kak Riko juga tak mengingatku sama sekali?" Tanya si gadis kini mulai penasaran.


"Sinta? Tunggu sebentar aku coba mengingat-ngingat kembali" Ucap Riko sambil meletangan telapak tangan kanan di kepalanya.


Beberapa saat berlalu tanpa ada suara dari Riko dan juga si gadis misterius ini.


"Kak Riko? Kak?" Panggil si gadis itu yang mulai kesal karena Riko yang ia ajak bicara kini bengong seperti sedang berpikir keras.


"Ehh iya iya, Kenapa?" Saut spontan Riko yang kanget.


"Apa Kak Riko sudah mengingatku?" Tanya si gadis itu lagi.


"Maaf dik, walaupun setelah tahu namamu, aku sama sekali tak bisa mengingatmu" Saut Riko denga nada pelan.


"Hmm yaudah deh kak, biar aku kasi tahu dimana kita saling berkenalan sebelumnya" Ucap si gadis dengan sedikit kecewa karena Riko sama sekali tak bisa mengingatnya.


"Aku gadis SMP yang beberapa saat lalu Kak Riko lindungi, dan selamatkan dari ancaman preman-preman yang menggangguku di pinggir jalan raya" Imbuh si gadis itu dengan nada sedikit kesal sambil menggerutu.


Mendengar pernyataan si gadis itu, Riko terdiam sejenak sebelum akhirnya ia mengingat semuanya.


"Ohh iya, aku ingat sekarang. Kamu apa kabar dik Sinta? Maaf ya aku sedang kurang fokus hari ini, lagi banyak pikiran soalnya" Ucap Riko sambil tersenyum tipis.


"Hufft akhirnya Kak Riko bisa mengingatku juga, aku sedikit lega karena itu. Kabarku sekarang agak kurang baik sih kak. Kak Riko apa kabar?" Ucap Sinta sambil dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


"Sama nih dik, kabarku juga lagi kurang baik. Kamu kenapa? Kamu sakit ya? Kok pakai baju pasien? " Tanya Riko kla itu penasaran.


"Kurang baik bagaimana Kak Riko? Kakak lagi ada masalah ya? Aku perhatiin Kak Riko kayak banyak pikiran gitu" Tanya Sinta penasaran.


"Iya nih kak aku sedang sakit, aku sedang di rawat di rumah sakit ini" Imbuhnya lagi.


"Iya dik, aku sedang dalam masalah. Masalah yang menurutku berat banget, hingga membuat pikiranku terbebani seperti sekarang ini" Ujar Riko.


"Ya ampun pantesan dik, wajahmu terlihat begitu pucat. Kamu ngapain mondar-mandir sendirian begini? Sudah tahu kondisimu sedang kurang fit, Istrirahat gih sana. Keluargamu dimana?" Tanya Riko yang entah kenapa walaupun baru mengenal Sinta sebentar, tapi Riko sudah sangat peduli dengannya. Bahkan Sinta bisa membuat Riko melupakan sikap kasar Ibunya Dinda tadi untuk sementara waktu.


"Orang tua angkatku sedang sibuk bekerja Kak Riko. Aku merasa kesepian dan bosan di kamar sendirian, makanya aku berniat untuk jalan-jalan keluar kamar untuk mencari udara segar" Ucap Sinta dengan polosnya.


"Orang tua angkat? Orang tua kandungmu mana? Maaf kalau pertanyaanku ini kurang sopan dik, abisnya aku penasaran" Tanya Riko yang kian semakin penasaran dengan Sinta.


"Aku sedari kecil tak mengetahui keberadaan kedua orang tua kandungku Kak Riko, dan awalnya aku seorang yatim piatu sebelum aku di adopsi oleh kedua orang tuaangkatku yang sekarang" Ujar Sinta dengan nada lesu yang kala itu terbawa suasana.


"Maaf dik aku tak bermaksud membuatmu bersedih" Ucap Riko sambil menepuk-nepuk pundak Sinta.


Mendengar pernyataan Sinta itu, Riko pun tersenyum lega. Rasa bersalahnya yang tadi sempat mengungkit-ungkit perihal keberadaan orang tua kandung Sinta seketika lenyap.


Riko dan Sinta saat itu berbincang-bincang hingga lupa waktu, tak terasa hari pun mulai gelap.


Riko yang kala itu entah kenapa sudah mulai nyaman dan peduli dengan Sinta, menyuruh Sinta segera kembali ke kamarnya guna untuk beristirahat dan memulihkan kondisinya.


"Aku mau kembali ke kamarku kalau Kak Riko yang mengantarku kesana! Kalau tidak, aku akan duduk di sini sampai kondisiku memburuk sekalipun. Aku tak peduli walaupun aku harus duduk disini sampai kapan pun! " Ucap Dinda manja sambil memalingkan pandangan dari Riko, dan melipat kedua tangan di depan dadanya.


"Ya ampun, sampai segitunya kamu dik. Yaudah sini aku antar ke kamarmu" Ucap Riko sambil berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Sinta, berniat untuk membantunya berdiri.

__ADS_1


"Yey di antar Kak Riko, asiikk! " Ucap Dinda dengan sangat bersemangat dan menyambut uluran tangan Riko.


Riko hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis, ia heran melihat tingkah manja Sinta yang padahal baru saja mengenal dirinya.


Riko mengantarkannya Sinta ke kamarnya, sambil menuntun Sinta dengan sangat berhati-hati.


"Kamarmu di sebelah mana dik?" Tanya Riko sambil tetap menuntun tubuh Dinda.


"Kamarku di sebelah sana kak, di depan itu nanti ke arah kanan, kamarku adalah kamar nomer dua di sebelah kanan" Ucap Sinta dengan sedikit terbata-bata akan tetapi sembari tersenyum riang. Ia terlihat amat senang karena di antar Riko ke kamarnya.


Riko yang sedikit bingung mendengar penjelasan dari Sinta, kala itu berpura-pura untuk paham di mana letak kamar Sinta. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Sinta menghentikan langkah kakinya.


"Kak ini kamarku" Ucapnya sambil menunjuk satu kamar yang kini berada di depan mereka.


Bukannya mendengarkan apa yang di katakan Sinta, Riko malah melamun merespon hal itu dan terlihat fokus menatap ke arah kamar yang tepat berada di sebrang kamar yang di tunjuk Sinta tadi, pasalnya ternyata kamar Sinta dan kamarnya Dinda hanya bersebrangan.


"Ada siapa di kamar itu Kak Riko?" Tanya Sinta menyadari tentang fokusnya Riko, yang justru malah fokus ke kamar lain, bukan kamarnya.


"Itu kamar teman sekelasku dik, namanya Dinda" Saut Riko singkat.


"Oh Dinda, dia sakit apa kak?" Tanya Sinta yang semakin penasaran.


"Dia kecelakaan dik, panjang ceritanya. Yang jelas ia masih belum sadarkan diri sampai sekarang ini" Ujar Riko yang menjelaskan sedikit situasinya terhadap Sinta.


"Ya ampun, kasian banget dia. Aku bantu doain deh, semoga Dinda cepat siuman dan segera sembuh" Ucap Sinta yang membantu memanjatkan doanya yang tulus terhadap Dinda.


"Terimakasih banyak atas doanya dik, semoga doamu dapat membantu proses penyembuhannya Dinda" Saut Riko sembari tersenyum ramah.

__ADS_1


Sinta pun membuka pintu kamarnya, dan mempersilahkan Riko untuk memasuki kamarnya.


Bersambung...


__ADS_2