
Keesokan harinya Riko kembali menjemput Dinda seperti biasa, kali ini ia berjanji pada dirinya sendiri akan lebih berusaha keras untuk menjaga dan melindungi Dinda. Mengingat, kemarin Dinda dibuat menangis oleh kakak kelas yang sebenarnya tak ia kenal.
Sesampainya di sekolah, suasana sekolah masih terbilang sama seperti hari sebelumnya, dimana mereka tetap mendapati respon yang sama dari orang-orang disana. Semua mata seolah tertuju pada mereka berdua, walaupun kali ini mereka sama sekali tak bergandengan tangan dan hanya berjalan bareng menuju ke kelas mereka.
Di perjalanan ke kelas, mereka secara tiba-tiba di hadang oleh Cindy dan teman-temannya yang merupakan senior mereka dari kelas 12. "Riko tunggu dulu, ada yang mau aku omongin" Ucap Cindy dengan tatapan menggoda ke arah Riko. Selain salah satu anggota OSIS, Cindy juga merupakan siswi terpopuler dan tercantik di angkatannya. Sebelumnya ia adalah siswi yang paling banyak disukai oleh siswa-siswa di sekolah itu, akan tetapi setelah kehadiran Dinda semuanya seketika berubah drastis, apalagi kini cowok yang paling populer di sekolah itu yaitu Riko, terlihat berupaya mendekati dan memikat hati Dinda. Itulah mengapa Cindy amat membenci Dinda.
Cindy dan teman-temannya juga yang kemarin siang melabrak dan mengancam Dinda hingga membuat Dinda menangis. Di tambah seisi kelas kemarin hanya bungkam melihat insiden tersebut, seolah tak ada yang berani membela Dinda dari ancaman Cindy, kecuali Adit. Adit berupaya membela dan melindungi Dinda selagi Riko tak ada di sampingnya, akan tetapi Adit tak berdaya karena kalah jumlah dengan Cindy dan teman-temannya, ia tak bisa berbicara banyak dan hanya bisa menyaksikan peristiwa pembullyan itu. Memang Cindy dan teman-temannya sama sekali tak ada main tangan terhadap Dinda, tetapi karena kondisi mental Dinda yang masih belum pulih betul dan masih terbilang rapuh, ia jadi sangat rentan dan sangat merasakan dampak dari pembullyan itu, hingga ia hanya bisa terdiam lalu kemudian meneteskan air mata.
Hal itulah yang membuat Cindy kemarin menghentikan aksinya terhadap Dinda. Bisa di bayangkan perasaan Dinda pagi ini yang kembali harus bertemu Cindy, apalagi di hadang olehnya langsung. Akan tetapi untungnya pagi ini ada Riko disamping Dinda, yang akan selalu siap melindungi dan menjaganya kapanpun dan dari siapa pun.
Melihat Cindy dan teman-temannya Dinda seketika menunduk seperti sedang ketakutan. Riko yang paham betul dengan situasinya langsung secara spontan menggenggam erat tangan Dinda, "oh jadi mereka yang melabrak dan mengancam Dinda kemarin" Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
"Bisa gak kamu ninggalin kami berdua dulu? Ada hal penting yang mau aku bicarakan dengan Riko" Tegur Cindy sambil menatap tajam ke arah Dinda, melihat tatapan Cindy yang amat tajam, Dinda semakin ketakutan dibuatnya.
"Ada apa ya kak? Kalo mau ngomong tinggal ngomong aja, Dinda tetap disini" Ucap Riko yang sama sekali tak mau melepaskan tangan Dinda. Cindy pun tampa memperdulikan lingkungan sekitarnya mulai berbicara maksudnya menghadang Riko dan Dinda pagi itu.
"Riko kamu jadi pacarku ya! aku jamin kamu akan semakin populer disekolah ini" Ucap Cindy tanpa basa-basi dan penuh percaya diri, ia yakin bahwa tak mungkin ada satu cowok pun di sekolah itu yang mampu menolaknya, apalagi ini kali pertama ia seagresif ini, bahkan hingga tak memperdulikan statusnya sebagai seorang wanita.
Sontak semua orang yang ada disana kaget mendengar Cindy yang tiba-tiba mengajak Riko untuk berpacaran, termasuk teman-teman Cindy sekali pun. Pasalnya selain Cindy sangat populer di sekolah itu yang biasanya selalu tampil sempurna di mata semua cowok kecuali Julian, Cindy juga sama sekali tak membicarakan maksudnya menghadang Riko pagi itu terhadap mereka semua.
Belum sempat Riko merespon tawaran Cindy tadi, tiba-tiba Julian datang dan mencoba menarik tangan Dinda secara paksa sembari berkata "Dinda milikku!", sontak Riko yang Julian ketahui mempunya skill bertarung yang mengagumkan refleks menghalangi Julian, dan menghempaskan Julian dengan mudah, hingga ia terjatuh ke lantai dengan lumayan keras.
Kejadian itu semakin menghebohkan suasana yang tadinya sudah gempar, seluruh pasang mata yang menyaksikannya dibuat terheran-heran oleh Riko yang sangat amat berani dan dengan mudah menghempaskan jagoan di sekolah itu.
__ADS_1
Kejadian itu, seketika mengundang perhatian para guru yang segera berupaya untuk membubarkan dan menghentikan kehebohan yang sedang berlangsung. Akan tetapi tiba-tiba langkah mereka tertahan, dan mereka juga mengurungkan niat untuk membubarkan kehebohan itu setelah mengetahui Julian terlibat di dalamnya. Bukan apa-apa, Mereka hanya tak ingin posisi mereka di sekolah itu terancam karena berani ikut campur ke dalam urusan anak dari donatur utama di sekolah itu.
"Jangan berani-berani menyentuh apalagi sampai memaksa Dinda!! " Bentak Riko ke Julian, "dan untuk kakak, maaf aku ga bisa, aku gak butuh kepopuleran. Awalnya tujuanku kesini hanya untuk bersekolah, tapi kini melindungi serta menjaga Dinda juga salah satu tujuan utamaku" Ucap Riko dengan tegas sembari menatap tajam ke arah Cindy dan Julian.
Cindy dan teman-temannya mematung tak bergerak menyaksikan tindangan Riko yang sangat mengejutkan itu, mereka sama sekali tak menyangka ada siswa lain yang seberani itu dengan Julian si jagoan sekolah. Mereka lebih heran lagi ketika melihat respon Julian seolah takut dengan Riko yang notabene Juniornya. Sungguh pemandangan yang sangat amat langka. "Siapa sebernarnya Riko ini?" Kata Cindy penuh tanda tanya dalam hatinya.
Dinda pun bingung harus bereaksi bagaimana terhadap situasi itu, entah harus bahagia karena Riko yang sangat peduli dan melindunginya? atau justru malah takut dan khawatir karena Riko telah berhadapan dengan siswa dan siswi yang paling berkuasa di sekolah itu? Ditengah kebingungan itu, Riko tiba-tiba menarik tangan Dinda kemudian mengajaknya menuju ke kelas hingga membelah pagar manusia yang menghalangi jalan mereka berdua.
Baru beberapa langkah berjalan tiba-tiba Julian berlarian dari dalam kerumunan dan langsung mendorong Dinda dari arah belakang dengan cukup keras. Akibat Dorongan itu, Dinda seketika jatuh tersungkur, dan celakanya kepala Dinda tepat mendarat di besi pembatas tangga yang mengakibatkan darah segar mengucur lumayan deras dari kepalanya. Riko yang tak sempat menghalangi dorongan Julian dan gagal meraih tubuh Dinda walaupun ia sudah berusaha, berteriak kencang melihat banyak darah yang keluar dari kepala Dinda. "Dindaa!!" Teriaknya kencang sambil berlari ke arah Dinda.
Bersambung...
__ADS_1