
Di saat Riko masih bertanya-tanya siapa kah gadis muda nan cantik itu. Si gadis malah membantu mengambilkan ponsel Riko dan memberikan ponsel itu kepadanya.
"Ini hpnya Kak Riko, kayaknya ada telepon penting" Ucap si gadis muda itu, yang kemudian langsung pergi meninggalkan Riko sendirian di kamarnya, tanpa memberi Riko kesempatan untuk sekedar mengucapkan rasa terimakasih.
Riko yang menyadari baru saja si gadis menyebutkan namanya semakin di buat kebingungan, karena dengan kata lain hal itu mengartikan bahwa Riko dan si gadis ini memang saling mengenal antara satu dengan yang lainnya.
Tapi bagi Riko saat itu, hal yang terpenting adalah kabar terkini Dinda dan telepon dari Ibunya. Oleh karena itu, Ia pun tak terlalu memperdulikan tentang identitas si gadis yang membantu mengambilkan ponselnya itu. kemudian Riko langsung balik menghubungi Ibunya guna untuk sekedar memberi kabar agar Ibunya tak terlalu khawatir memikirkan keberadaan dirinya.
Mendapati kabar bahwa anak semata wayangnya yaitu Riko kini sedang berada di rumah sakit, Ibu Riko yang tadinya sudah khawatir kini kian panik dibuatnya. Apalagi dalam percakapan lewat telepon kala itu, suara anaknya terdengar sangat lemas dan lesu tak seperti biasanya. Walaupun di sisi lain, Riko berusaha menenangkan Ibunya dengan mengatakan tak ada hal buruk yang terjadi padanya dan dia baik-baik saja. Hal itu tetap saja tak bisa menenangkan kekhawatiran Ibunya Riko, bahkan ia segera meminta alamat rumah sakit tempat Riko berada, dan berniat langsung meluncur kesana saat itu juga.
Riko yang tak mau hal buruk menimpa Ibunya, karena berniat berpergian sendirian tengah malam begini pun melarangnya. Dan untuk mengantisipasi tindakan nekad Ibunya, Riko tak memberi tahu di rumah sakit mana posisinya sekarang. Saat itu, Ia kembali berusaha keras untuk meyakinkan Ibunya dan terpaksa mengatakan tentang Dinda untuk meyakinkannya.
"Aku beneran baik-baik saja bu, aku disini karena Dinda di rawat di rumah sakit ini. Pokoknya ceritanya panjang, besok aku ceritain semuanya setalah aku sampai rumah. Ibu tidur saja gih, gak ada yang perlu di khawatirkan kok" Ucap Riko dengan nada yang masih sedikit lemas.
Akan tetapi demi untuk tak membuat Ibunya semakin cemas, Riko pun berusaha untuk berbicara dengan nada yang lebih lantang kala itu. Setelah beberapa saat berlalu dengan sia-sia, Riko masih tetap mencoba berbagai cara untuk menenangkan perasaan Ibunya. Usaha Riko akhirnya membuahkan hasil, ia berhasil menenangkan Ibunya. Setelah itu, Ibunya pun mulai bisa tenang dan tak menghujani Riko dengan berbagai pertanyaan lagi.
"Baiklah, kali ini Ibu ngalah sama kamu Riko. Ibu tak akan memaksa kamu untuk mengirimkan alamat rumah sakitnya dan Ibu juga akan mengurungkan niat Ibu untuk pergi kesana sekarang" Ucap Ibu Riko.
"Nah gitu dong bu, sekarnag Ibu istrirahat gih, udah mau pagi nih" Saut Riko sambil berupaya menggoda Ibunya.
__ADS_1
"Iya Ibu tidur sekarang tapi kamu juga tidur ya, awas aja kamu gak langsung tidur! tumben-tumbenan suaramu terdengar sangat lemas begini, Jangan bandel kalau di kasi tau orang tua" Imbuh Ibunya lagi.
"Iya Ibuku sayang, aku akan langsung tidur sekrang" Saut Riko.
"Nah gitu dong, satu hal lagi besok pagi langsung kirim ke Ibu alamat rumah sakit itu, biar Ibu jemput" Pinta Ibunya Riko.
Riko pun mengiyakan permintaan Ibunya itu, dan langsung menutup teleponnya. Beberapa menit berlalu setelah percakapan via telepon itu, tiba-tiba dokter yang kini menangani Dinda memasuki ruangan dimana Riko beristirahat. Melihat dokter itu Riko jadi bersemangat, pasalnya ia akan mengetahui kabar terkini dari gadis yang ia cintai sebentar lagi.
"Eh Dok, gimana kondisi terkini Dinda?" Tanya Riko yang tak sabar menunggu kabar tentang Dinda.
"Berkat donor darahmu, kondisi Dinda jauh lebih baik dari sebelumnya Riko" Saut dokter itu sembari tersenyum.
Riko teramat sangat lega mendengar pernyataan dokter tersebut, ia tersenyum sembari menatap ke atas guna untuk mengucap syukur kepada Sang Pencipta.
"Dinda masih belum siuman Riko, memang ia sudah melewati masa kritisnya, akan tetapi saya perkirakan, ia masih memerlukan waktu beberapa hari lagi untuk bisa siuman. Kamu yang sabar ya, jangan lupa terus panjatkan doa untuk kesembuhan Dinda" Ujar si dokter sambil menepuk pundak Riko.
"Pasti dok, saya akan selalu mengirimkan doa yang tulus untuknya" Imbuh Riko lagi.
Dokter pun menjelaskan mengapa ia yang sebelumnya menyuruh Riko untuk langsung beristirahat, kini malah berkunjung ke ruangan Riko. Ia menceritakan baru saja mendapat laporan dari petugas CCTV rumah sakit itu, bahwa Riko dilihat gelisah dan selalu berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Bahkan ia tak sanggup untuk beristirahat sama sekali. Dokter itu paham betul, Riko demikian pasti dikarena sangat khawatir dengan keadaan terkini Dinda, dan berupaya untuk melihat kondisi Dinda langsung.
__ADS_1
"Terus terang saya sebagai dokter yang kini menangani Dinda, terharu melihat ketulusan dan perjuanganmu untuk Dinda Riko" Ucap si dokter yang kali ini tersenyum terhadap Riko.
"Terimakasih banyak dok, dokter telah berinisiatif ke ruangan ini untuk memberi saya kabar tentang Dinda. Saya sangat mencintainya dok, itulah mengapa saya rela melakukan hal apapun demi untuk bisa menyelamatkan nyawanya" Imbuh Riko lagi.
Riko menambahkan tentang alasannya mengapa sampai bertindak sejauh ini untuk Dinda.
Riko bahkan juga secara tak sengaja menceritakan, terkait tentang kesedihannya yang kini di tuding menjadi penyebab Dinda harus di larikan ke rumah sakit ini, oleh orang terdekat Dinda yaitu Ibunya Dinda. Riko juga bahkan menceritakan kronologis kejadian kenapa Dinda bisa sangat kekurangan darah seperti tadi.
Si dokter yang mendengar cerita Riko pun turut prihatin atas kondisi Riko saat itu, ia bahkan tak abis pikir dengan Julian yang di ceritakan Riko, saat itu si dokter menyarankan Riko untuk melaporkan Julian ke kepolisian karena ia menilai Julian telah kelewatan. Ia juga menyarankan Riko untuk meminta rekaman CCTV di lokasi kejadian guna untuk di jadikan bukti kuat ketika melapor ke polisi nanti.
Dokter yang menangani Dinda itu, merasa terpanggil untuk menemui Riko bukan tanpa alasan, entah kenapa setiap kali melihat Riko, ia teringat sosok adik bungsunya yang telah meninggal tertabrak mobil beberapa waktu lalu. Mungkin, karakter Riko yang pantang menyerah dan tulus menjadi alasan utamanya.
"Eh maaf ya dok, saya jadi curhat gini" Ucap Riko yang tiba-tiba tersadar bahwa ia telah curhat kepada seorang dokter.
"Santai aja Riko, saya senang kok mendengar ceritamu. Melihatmu, saya jadi teringat adik bungsu saya yang beberapa waktu lalu harus meregang nyawa karena tertabrak mobil yang ugal-ugalan" Ujar si dokter.
Riko yang mendengar pernyataan itu pun mengucapkan belasungkawa terhadap si dokter.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, kala itu jam dinding disana menunjukan pukul 2 dinihari.
__ADS_1
"Udah jam segini, kamu harus beristirahat Riko. Tubuhmu sekarang ini sangat rentan dan memerlukan banyak istrirahat untuk pemulihan" Ujar dokter itu yang langsung pergi dari ruangan Riko.
Bersambung...