
"Terimakasih engkau telah membantuku untuk menyelamatkan Dinda ya Tuhan, hujan yang engkau turunkan waktu itu telah memberiku petunjuk, aku sangat bersyukur untuk itu. Aku mohon selamatkan nyawa Dinda, jangan biarkan ia pergi dariku" Riko memanjakan rasa syukur yang mendalam dalam hati dan di ikuti dengan doanya sebelum tidur untuk Dinda.
Ketika perasaan dan pikiran Riko sudah jauh lebih tenang, karena sudah mendapatkan informasi terkait tentang kondisi Dinda yang syukurnya sudah sangat membaik karena telah menjalani proses transfusi darah, Riko kembali mencoba memejamkan mata kesekian kalinya guna untuk beristirahat dan memulihkan kondisi, ia pun akhirnya bisa tertidur dengan sangat lelap.
Keesokan harinya Riko terbangun sedikit agak kesiangan, kondisinya yang lemas karena mendonorkan banyak darah dan tidur terlalu larut malam merupakan penyebab utamanya terlambat bangun hari itu. Ketika baru terbangun dan membuka matanya, perut Riko merasa sangat keroncongan di akibatkan ia belum sempat mengisi perutnya dari kemarin siang.
Alih-alih langsung bergegas mencari makanan yang setidaknya bisa mengisi perutnya yang tengah sangat keroncongan kala itu, Riko lebih memilih untuk menengok Dinda ke kamarnya. Ia ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa kondisi Dinda telah membaik. Di tengah perjalanan menuju kamar Dinda, Riko mendengar suara seseorang yang tak asing memanggil namanya dari arah belakang.
"Riko Riko!"
Riko seketika menoleh ke arah suara tersebut, adalah Bu Adel yang memanggilnya saat itu sambil menenteng sebungkus nasi lengkap dengan minumannya. Ia spesial membawa makanan itu untuk Riko, yang ia ketahui dari kemarin siang pasti tak sempat menyentuh makanan sama sekali.
"Riko ini Ibu bawa makanan, makan dulu gih. Pasti kamu laper kan? " Tanya Bu Adel sambil tersenyum ramah.
"Terimakasih banyak Bu, Ibu baik sekali bela-belain beli makanan untuk saya. Iya saya sangat lapar, akan tetapi sebelum makan, saya ingin melihat langsung kondisi Dinda. Saya ingin memastikan ia baik-baik saja, atau kalau tidak saya tidak akan bisa makan dengan tenang bu" Saut Riko yang kini suaranya jauh lebih terdengar jelas dari kemarin malam.
Bu Adel berusaha menjelaskan situasinya saat itu, dimana Dinda tadi pagi sudah dipindahkan ke rumah sakit lain, rumah sakit yang fasilitasnya jauh lebih baik dari rumah sakit itu, demi untuk mempercepat proses kesembuhan Dinda. Dan kabar buruknya adalah hanya sedikit orang yang mengetahui ke rumah sakit mana Dinda dipindahkan. Bu Adel sendiri pun tak mengetahui ke rumah sakit mana Dinda di rujuk sama sekali.
"Sudah kamu makan dulu, setelah perutmu terisi baru kita cari tau ke rumah sakit mana Dinda di rujuk" Ucap Bu Adel yang mulai memaksa Riko untuk menyantap nasi bungkus yang telah ia persiapkan.
__ADS_1
Bu Adel saat itu terlihat sangat peduli dengan ke dua anak didiknya yang kini terkena musibah yaitu Dinda dan Riko. Dinda yang celaka akibat ulah Julian, dan Riko yang kini di tuding jadi penyebab Dinda celaka oleh Ibunya Dinda.
Hari itu, Bu Adel ijin pulang lebih awal dari sekolah karena sangat menghawatirkan ke dua anak didiknya itu. Hal tersebut telah membuktikan seberapa perdulinya Bu Adel sebagai seorang wali kelas.
Riko yang sangat menghargai etikad baik Bu Adel pun, bergegas menyantap makanan yang di bawakan wali kelasnya itu. Ia makan dengan sangat lahap dan terburu-buru, membuat Bu Adel yang melihatnya bertanya-tanya dalam hati. Apakah Riko makan dengan terburu karena ia sangat lapar atau karena ia ingin segera mencari dan menemui Dinda? Ia pun bengong memikirkannya.
Saat masih sedang menyantap makannya, ponsel Riko tiba-tiba berbunyi. Terlihat di layar ponselnya yang kala itu berdering, terisikan nama dan foto Ibunya. Menandakan Ibunya lah yang sedang menghubungi Riko saat itu.
Riko yang tadinya lupa telah janji harus menghubungi Ibunya pagi-pagi, kini mengangkat telepon itu dengan perasaan bersalah karena pasti ia telah membuat Ibunya semakin khawatir.
"Riko! Kenapa kamu gak ada kabar dari tadi pagi? Ibu gelisah disini nunggu tahu! " Bentak Ibunya dengan nada marah mengawali percakapan mereka di telepon kala itu.
Mendengar suara Riko yang kini telah jauh lebih baik dari hari sebelumnya, Ibu Riko merasa lega dan lebih tenang.
"Yaudah kamu kirim alamat dimana kamu sekarang, biar Ibu jemput. Kita sama-sama mencari Dinda ke rumah sakit lain" Ucap Ibunya Riko.
Riko yang tak menginginkan Ibunya ikut terlibat di dalam permasalah yang kini tengah ia hadapi, menolak tawaran Ibunya. Riko menjelaskan saat ini ia sedang terburu-buru, di tambah lagi ia tak sendirian dalam pencariannya.
Ibu Riko pun berusaha mengerti situasi anaknya saat itu, dan ia tak memaksa untuk ikut campur dalam persoalan yang tengah anaknya hadapi. Ia berperasan terhadap Riko untuk tetap bersemangat dan jangan lupa selalu mengabari dirinya agar tak merasa khawatir yang berlebih lagi.
__ADS_1
"Terimakasi bu, karena telah mengerti situasi aku saat ini. Aku mohon doanya, semoga semua baik-baik saja" Ucap Riko yang kemudian menutup percakapan lewat telepon dengan Ibunya.
"Ibumu pasti sangar khawatir ya Riko? " Tanya Bu Adel yang sedari tadi, memperhatikan gerak-gerik Riko yang menerima telepon dari Ibunya.
"Iya nih bu, Ia sangat menghawatirkanku. Lagian salah ku juga sih, lupa dengan janji ku yang harus menghubunginya tadi pagi" Saut Riko sembari tersenyum.
"Ibu bisa paham kok perasaan Ibumu Riko. Ia pasti merasa khawatir karena baginya kamu sangat berhaga dan ia sangat menyayangimu. Kamu harus selalu berbakti sama Ibumu ya" Ujar Bu Adel yang berpesan terhadap Riko.
"Pasti bu, aku akan selalu berbakti dan menyayanginya" Jawab Riko dengan senyum ramah.
Setelah Riko selesai menyantap makanannya, mereka berdua pun bergegas mencari informasi terkait tentang ke mana Dinda di rujuk. Mereka berdua menanyakan ke setiap pegawai rumah sakit yang di temui, berharap salah seorang dari pegawai rumah sakit itu ada yang mengetahui tentang ke rumah sakit mana Dinda di rujuk.
Hampir dua jam berlalu, tetapi usaha mereka berdua masih belum membuahkan hasil. Semua pegawai rumah sakit yang telah mereka temui tak satu pun mengetahui tentang hal itu.
Tatapan Riko seketika berubah seolah penuh harapan, ketika melihat Dokter yang menangani Dinda kemarin baru saja keluar dari ruangannya. Tanpa berpikir panjang, Riko pun bergegas menghampiri dokter itu dengan maksud menanyakan ke rumah sakit mana Dinda di rujuk.
Benar saja, Dokter itu tahu Dinda berada di rumah sakit mana sekarang. Ia mengatakan Dinda di rujuk ke Internasional Hospital yang beralamat tepat di pusat kota. Ia menambahkan tadi sebelum Dinda berangkat di rujuk ke Internasional Hospital itu, Ibunya Dinda berpesan untuk tak meberi tahu Riko tentang hal ini. Tapi si dokter tak kuasa menuruti pesan dari Ibunya Dinda karena ia sangat prihatin dan peduli dengan kondisinya Riko.
Bersambung...
__ADS_1