Mertuaku Selingkuhanku

Mertuaku Selingkuhanku
CINCIN PERNIKAHAN


__ADS_3

PAK Nasir kaget bukan kepalang, sebab ia sangat mengenali orang itu.


"Pp...Pak Restu...!?" Ucap Pak Nasir terbata-bata.


"Iya ini saya, Pak Nasir. Saya datang kemari hanya ingin bertemu dengan Almira. Apa Almira ada di dalam?" Pak Nasir bingung harus menjawab apa, sebab ia takut terhadap Ibu Melinda jika ia mengizinkan Pak Restu itu masuk ke dalam rumah itu.


Pak Nasir pun masih ingat dulu soal kebaikan Pak Restu itu kepada nya, Pak Restu memang baik pada nya. Kemudian Pak Nasir berkata,


"Non Almira ada di dalam, tapi saya takut Ibu Meli marah jika saya memperbolehkan Pak Restu masuk ke dalam."


"Panggil saja Almira nya, saya tak keberatan menunggu disini."


"Baiklah Pak Restu, tunggu sebentar." Lalu Pak Nasir pun pergi ke rumah Ibu Melinda dan saat itu Almira sedang mendengarkan musik dikamar nya. Pak Nasir masuk ke dalam rumah dan ia bertemu dengan pembantu rumah yang sedang menyapu.


"Nden tolong panggilkan Non Almira, ada orang yang ingin bertemu dengan nya diluar."


"Oh baik Pak Nasir." Ujar Pembantu itu dan Pak Nasir menunggu nya diluar rumah.


Suara ketukan pintu kamar Almira terdengar dan Almira tak mendengar nya. Lalu suara panggilan terdengar menyebut Namanya.


"Ada apa sih Bibi Nenden memanggilku!??" Ucap Almira agak kesal dan ia segera mengecilkan volume suara musik nya. Almira keluar kamar dan bertanya kepada Bibi Nenden.


"Ada apa Bibi?"


"Ada orang yang ingin bertemu dengan Non Almira diluar."


"Mengapa tak disuruh masuk saja orang nya Bi?"


"Pak Nasir bilang orang itu tak mau masuk dan menunggu diluar saja." Almira mengerutkan dahi nya dan menerka-nerka siapa orang yang ingin menemui nya itu.


Almira lalu keluar rumah dan Pak Nasir langsung berdidi dari duduk nya.

__ADS_1


"Mana orang nya Pak Nasir?"


"Itu Non diluar depan gerbang."


"Mengapa Pak Nasir tak menyuruh nya masuk?"


"Anu Non..., saya tak berani. Takut Ibu marah nanti..." Almira pun berjalan ke arah Gerbang rumah itu dan di ikuti oleh Pak Nasir.


"Iya siapa yah?" Tanya Almira dan ia kaget dengan mulut melongo dan mata mendelik.


"Papah!?" Ucap Almira dan Pak Restu pun kaget juga melihat anak nya sudah menjadi gadis yang cantik.


"Almira!? Ya tuhan kamu sudah besar Nak." Ucap Pak Restu dan pintu gerbang segera dibuka oleh Pak Nasir atas perintah Almira.


Almira langsung memeluk Ayah nya dan mereka berdua menangis tersedu-sedu. Pak Nasir pun ikut sedih bercampur terharu juga melihat anak dan Ayah yang sudah sekian tahun lama nya tak pernah bertemu. Almira lalu mengajak Ayah nya untuk masuk ke dalam rumah, tapi ia menolak dengan alasan takut ibu nya memarahi nya. Almira pun tetap memaksakan Ayah nya untuk tetap masuk dan mengobrol didalam rumah itu. Mau tak mau Pak Restu pun mengikuti kemauan anak gadis nya itu.


Tiba diruangan tamu, Para pembantu rumah itu banyak yang mengenali Pak Restu dan mereka hanya bersalaman cium tangan karena Pak Restu adalah orang yang baik dan juga sopan. Pak Restu pun menyapa para pembantu itu dengan sapaan seperti dulu dan kini para pembantu itu menyiapkan minum dan cemilan untuk Pak Restu. Pemandangan didalam rumah itu tak ada yang berubah sama sekali bagi Pak Restu, hanya beberapa bingkai Poto saja yang banyak berubah.


'Sudah lama sekali aku tak masuk ke dalam rumah ini. Isi Rumah ini tak banyak yang berubah, hmm hanya beberapa Poto ku saja yang sudah hilang. Mungkin dibuang oleh Meli.' Ucap batin Pak Restu dan Almira menatap Ayah nya yang sedang melihat-lihat isi ruangan tamu itu.


"Papah sekarang tinggal bersama istri Papah yang baru Nak. Maaf ya Nak, kedatangan Papah kemari hanya ingin meminta maaf kepada mu saja bahwa Papah merasa sangat bersalah sekali telah meninggalkan mu waktu kecil."


"Almira sudah memaafkan Papah kok, mungkin sudah jalan hidup Almira begini. Papah tak perlu menyesali nya lagi sekarang karena semua itu sudah berlalu."


"Terimakasih Nak, kamu memang anak yang baik. Papah bangga padamu Nak." Almira tersenyum bahagia disanjung oleh Ayah kandung nya itu.


Kemudian Almira ditanya soal pendidikan nya oleh Ayah nya.


"Lalu sekarang apa kamu masih sekolah Nak?"


"Masih Papah, Almira sekolah di Universitas Indonesia dan sedang menjalani semester terakhir."

__ADS_1


"Sebentar lagi kamu akan wisuda berarti Nak. Papah semakin bangga padamu."


"Apakah Papah nanti bisa datang untuk melihat ku Wisuda nanti?"


"Entahlah Nak, Jika Mamah mu mengizinkan nya Papah pasti akan hadir. Tapi, sepertinya Mamah mu akan melarang Papah untuk datang menghadiri acara wisuda mu nanti."


"Memang nya Papah sudah bertemu dengan Mamah?" Tanya Almira penasaran.


"Yah Ayah sudah menemui nya di kantor nya." Ucap Pak Restu sambil mengangguk.


"Lalu bagaimana tanggapan Mamah ketika Ayah menemui nya?"


"Mamah mu marah besar kepada Ayah, sepertinya Mamah mu masih benci kepada Ayah. Padahal Ayah sudah berulang kali meminta maaf atas kesalahan Ayah dulu. Tapi sepertinya watak Mamah mu tak berubah dari dulu, tetap keras kepala."


"Begitulah Mamah, Sampai saat ini Mamah masih menjanda dan tak mau menikah lagi setelah bercerai dengan Ayah."


"Benarkah?" Tanya Pak Restu dan Almira hanya mengangguk saja.


"Mungkin Mamah mu belum menemukan lelaki yang cocok untuk ia jadikan suami dan Ayah sambung mu Nak."


"Sepertinya begitu Papah, lalu Papah punya berapa anak dari Mamah yang baru?"


"hanya dua saja Nak, satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka masih sekolah SMA."


"Ouh begitu..." Ucap Almira manggut-manggut.


Pada saat itu Pak Restu berkata,


"Sebenarnya kedatangan Papah kemari bukan untuk sekedar meminta maaf pada mu saja Nak, Ada sesuatu yang ingin Ayah berikan kepada mu."


"Apa itu Ayah?" Tanya Almira penasaran. Kemudian Pak Restu pun mengambil sesuatu di balik pakaian jas nya. Pak Restu memberikan cincin kepada Almira sambil berkata,

__ADS_1


"Nak, mungkin ini adalah hari terakhir Papah bertemu dengan mu. Sebab besok Papah akan pergi tinggal di Amerika bersama istri dan kedua anak Papah. Jaga cincin ini ya Nak, ini adalah CINCIN PERNIKAHAN Yang sangat berharga sekali. Ini adalah cincin pernikahan waktu Papah menikah bersama Mamah mu, mungkin Mamah mu masih menyimpan pasangan cincin ini. Nanti kau bisa tanyakan kepada nya Nak." Almira pun menerima cincin yang terbuat dari emas murni itu.


"Cincin ini sengaja Papah berikan kepada mu hanya untuk kenang-kenangan agar kamu selalu mengingat Papah meskipun kita nanti tak akan pernah bertemu lagi. Berikan Cincin ini nanti kepada calon suami mu jika nanti kamu sudah menikah Nak. Papah hanya bisa mendoakan mu agar kamu bisa menemukan calon suami yang baik dan bertanggung jawab pada istri nya kelak." Seketika Air mata Pak Restu menetes dan Almira pun menangis tak kuasa menahan air mata nya.


__ADS_2