
ALMIRA Langsung memeluk Ayah nya pada saat itu juga. Air mata berlinang membasahi pipi Almira dan Kemudian Ayah nya melepas pelukan itu.
"Sudah kamu jangan menangis lagi Nak. Tapi jika kamu rindu pada Papah, kamu bisa menghubungi Papah." Lalu Pak Restu memberikan nomor ponsel nya kepada Almira. Almira pun segera mencatat nya dan menyimpan nya di ponsel nya.
"Yasudah hanya ini saja pertemuan kita Nak, Ayah pulang kembali. Tak enak jika berlama-lama di sini."
"Tapi Pah, apa Papah tak mau bertemu dengan Mamah lagi? Almira bisa membujuk Mamah untuk memaafkan kesalahan Ayah itu."
"Sudah tak perlu Nak, Papah sudah melupakan hal itu. Papah pamit dulu ya, salam untuk Mamah mu." Almira memeluk Ayah nya lagi sebelum pergi keluar rumah.
Kemudian Pak Restu pun pulang kembali dan Almira hanya bisa menangis melambaikan tangan nya ke arah pergi nya Ayah nya. Pak Nasir pun merasa kasihan juga terhadap Almira yang sekian lama tak pernah dijenguk oleh Ayah kandung nya itu. Kini Pak Restu sudah pergi dan Almira pun masuk kembali ke dalam rumah. Ia masih menangis tersedu-sedu akan PERTEMUAN SINGKAT Dengan Ayah nya itu. Almira masih mengingat kenangan semasa kecil nya ketika bersama Ayah nya. Menurut Almira, semasa kecil Almira sering bersama Ayah nya daripada dengan Ibu nya.
Ibu Melinda selalu sibuk mengurus pekerjaan dan selalu mementingkan pekerjaan nya dari pada mengurus anak dan suaminya. Pak Restu sudah cukup sabar atas kelakuan istri nya itu dan Almira kecil seringkali menanyakan soal ibu nya. Kini Almira sudah besar dan dewasa, Ia sampai saat ini lebih menyayangi Ayah nya daripada Ibu nya sendiri. Almira mengurung diri dikamar nya dan membenamkan wajah nya dibantal seraya masih menangis terisak-isak.
Waktu siang hari kini telah berganti menjadi waktu sore hari. Ibu Melinda pun pulang kerja karena ia butuh ketenangan dalam hati dan pikirannya dahulu. Didalam mobil menuju pulang, Ia menghubungi David. Saat itu David baru saja pulang kampus dan ia segera mengangkat ponsel nya.
"Iya sayang ada apa?" Tanya David membalas panggilan Ibu Melinda.
"Kamu sedang dimana sayang? ada waktu untuk kita berdua tidak?"
"Oh tentu, waktu untuk mu sangat banyak sayang."
"Baiklah, sekarang aku ke hotel apartemen mu ya sayang?"
"Iya sayang, aku juga baru saja pulang dari kampus." Setelah itu panggilan mereka pun berakhir.
Ibu Melinda masih agak sedih dan wajah nya nampak redup tak bersinar seperti biasa nya. Ia butuh ketenangan jasmani dan rohani nya melalui kekasih gelap nya itu. David sudah tiba lebih dulu dihotel apartemen nya dan ia menunggu diluar parkiran mobil. Tak lama mobil Ibu Melinda tiba dan parkir didekat mobil nya David.
__ADS_1
Ibu Almira lalu keluar mobil dan mendekati David yang berdiri di dekat mobil nya. Ibu Melinda langsung memeluk David sambil menangis.
"kamu kenapa tiba-tiba menangis sayang?"
"Cerita nya panjang, aku tak bisa menjelaskan nya disini. hixhixhix."
"Yasudah redakan dulu tangis mu itu sayang, ayo kita pergi ke apartemen ku saja." Ibu Melinda hanya mengangguk saja menuruti nya.
Kini mereka berdua masuk ke dalam hotel tersebut dan dua satpam konyol yang sebelumnya pernah membicarakan David itu membuka kan pintu masuk. Kedua nya melihat raut wajah Ibu Melinda yang sedih itu dan setelah David bersama Ibu Melinda itu naik ke dalam lift, kedua satpam kocak itu membicarakan David dan Ibu Melinda lagi.
"Son, elu liat enggak tadi muke cewek tadi?"
"Iye gue liat bung, Napa emang nya?"
"Kayak nya si cewek habis nangis deh, apa jangan-jangan mereka habis berantem ya?"
"Ahh elu gabisa diajak ngobrol! tapi ngomong-ngomong gue penasaran sama tuh cewek."
"Napa emang nya?"
"Kayak nya muke cewek itu hampir mirip sama cewek yang sering dibawa kemari oleh si cowok itu."
"Hmm iya ya, gue pikir cuman gue doang yang merhatiin. Apa jangan-jangan cewek itu kakak nya ya?"
"Mane gue tau, tapi kalo beneran berarti si cowok kurang ajar juga. Udeh dapet adek nya, eh kakak nya di embat juga."
"Yah begitulah Son, namanya juga orang kaya plus ganteng."
__ADS_1
"Jadi kapan kita kaya nya Bung? gawe terus sugeh enggak kita."
"Makanya elu jadi pengusaha, buka warung sendiri kek. Jangan jadi satpam macam gua."
"Ah elu pikir modal buka warung cuman serebu perak?"
"Minimal sepuluh juta baru tuh kebuat warung bintang lima. hahaha." Dua satpam itu tertawa terbahak-bahak dan asyik sendiri.
Mereka tak menyadari bahwa sejak tadi mereka sedang diperhatikan oleh atasan mereka. Atasan mereka ingin menegur, tapi ia sedang ada pekerjaan lain. Jadi atasan satpam itu membiarkan anak buah nya itu berjaga sambil menggibah. Didalam hotel nya David, Ibu Melinda duduk dikursi sofa dan David duduk didekat nya. Ibu Melinda memeluk David dari samping dan masih terisak-isak.
David belum mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Ibu Melinda sebelum ia bicara duluan.
"Tadi siang, ada mantan suami ku datang ke kantor ku. Aku sudah muak sekali melihat wajah nya. Bertahun-tahun lama nya aku melupakan wajah lelaki brengsek itu, sekarang ia malah menampakan wajah nya lagi dihadapan ku. Aku tak kuasa menahan emosi ku dan aku menyuruh nya untuk pergi."
"Lalu? apa alasan dia datang kembali menemui mu sayang?"
"Ia ingin melihat anak nya, tapi aku melarang nya! Aku sudah tak menganggap mantan suami ku itu sebagai darah daging nya Almira. Aku benar-benar benci pada nya, hixhixhix." Ibu Melinda menangis lagi dan semakin membuat David kasihan.
Ibu Melinda terus saja berbicara mengungkapkan perasaan hati nya yang amat mendalam itu kepada David dan hingga pada waktu nya ia pun lelah dan mengantuk.
"Kamu istirahat ya sayang, seperti nya kamu sudah mengantuk."
"Iya sayang, aku sudah mengantuk sekali." Lalu David membopong Ibu Melinda ke ranjang nya David. Ibu Melinda menatap sayu terhadap David dan David pun tak tahan juga melihat bibir merekah dihadapan nya itu. David pun langsung mengecup bibir itu dan Ibu Melinda membalas ciuman itu lebih ganas lagi.
David memeluk tubuh Ibu Melinda dan posisi tubuh mereka merapat. Mereka berdua berciuman mesra diranjang dan tangan David sudah Nakal sejak tadi. Ia mengusap-usap rambut Ibu Melinda sampai ke pipi nya. Ibu Melinda merasa nyaman jika didekat David, apalagi David selalu memberikan kepuasan jasmani dan rohani nya Ibu Melinda. Seberat apapun masalah yang dihadapi oleh Ibu Melinda, jika ia sudah bersama David. Semuanya pasti akan hilang dari pikiran Ibu Melinda disaat itu juga.
...*...
__ADS_1
...* *...