
PESANAN Yang dipesan Almira itu sudah tiba dan ia segera menyuapi David dengan bubur ayam. David makan pelan-pelan dan lidah nya bagai mati rasa, ia tak merasakan gurih nya bubur ayam itu. David masih biasa saja dan menganggap semua itu hal yang wajar. David paksakan menelan, namun tenggorokan nya bagai sakit.
"Sakit sekali leher ku." Ujar David pelan.
"Kau perlu minum sayang." Lalu Almira memberikan David minum.
Lalu David lanjut makan lagi sampai habis dan setelah itu ia minum obat.
"Kamu istirahat ya sayang, aku akan menemani mu tidur."
"Iya sayang." Ujar David dan kepala David merebahkan kepala nya di paha Almira. Almira mengusap-usap lembut rambut David dan mereka berdua mengobrol membahas soal pernikahan mereka nanti.
Ibu Melinda masih berada di parkiran mobil dan ia sudah menunggu cukup lama.
"Sedang apa Almira di dalam? Mengapa dia lama sekali?" Ujar Ibu Melinda bertanya-tanya.
"Kalau begini jadi nya mending aku pulang saja, mungkin jika David sedang sakit. Ada Almira yang mengurus nya." Lalu Ibu Melinda pun pulang kembali ke rumah nya dengan meninggalkan perasaan cemas terhadap David.
Almira lalu bertanya kepada David.
"Memang nya kamu merasakan sakit sejak kapan sayang?"
"Hmm...." David menggumam sejenak dan ia masih berpikir soal semalam ia pergi keluar bersama teman nya.
"Oh iya semalam waktu aku ada janji dengan teman, disana sudah ada tanda-tanda badan ku tak enak. Sepulang dari nongkrong, tiba-tiba tubuh ku sakit demam begini." Ujar David menutupi apa yang sebenarnya telah ia lakukan semalam.
Almira percaya saja apa yang di bicarakan oleh David itu, kemudian Almira bertanya.
"Kalau begitu, kita pergi ke dokter saja sayang biar kamu cepat sembuh."
"Tak perlu sayang, aku cuman Demam biasa saja kok. Nanti juga lama-lama bisa sembuh dengan sendirinya."
__ADS_1
"Oh Yasudah kalau begitu sayang." Ucap Almira terserah.
Lalu Almira bertanya soal acara pernikahan merek nanti.
"Menurut mu kapan waktu yang tepat untuk pernikahan kita sayang?"
"Setelah kita wisuda saja sayang, aku merasa itu waktu yang cocok."
"Jadi nanti jika sudah selesai wisuda, kita langsung menikah begitu?" David menganggukkan kepala nya tanda membenarkan.
Kini sore hari telah berganti dengan malam hari. Almira belum pulang saja dan Ibu Melinda semakin khawatir.
"Mengapa Almira lama sekali? sedang apa dia sebenarnya disana?" Tanya Ibu Melinda nampak kesal. Ia berdiri didepan rumah nya dan terlihat mondar-mandir sambil memegang ponsel nya.
"Ada baik nya aku hubungi Almira saja, takut nya ada apa-apa." Lalu Ibu Melinda pun menghubungi Almira.
Suara ponsel Almira berdering dan Almira segera mengambil nya. Almira baru saja mengelap tubuh David dengan air hangat dan memakaikan baju nya juga. Tubuh David terlihat sangat lemas sekali dan keadaan nya semakin parah.
"Halo Mah?" Tanya Almira mengangkat panggilan tersebut.
"Oh ini Mira sedang berada di apartemen nya David Mah, DAVID sedang SAKIT."
"Apa!? David Sakit!?" Sentak Ibu Melinda terkesiap dan ia buru-buru bertanya.
"Sakit apa dia? Apa dia sudah minum obat?"
"Sudah Mah, tapi malah semakin parah dan badan nya lemas serta pucat pasi." Ujar Almira sedikit cemas.
Ibu Melinda lebih cemas lagi dan tanpa sadar ia berkata,
"Yasudah kita bawa David ke rumah sakit sekarang, Mamah akan pergi kesana."
__ADS_1
"Memang Mamah tahu dimana alamat apartemen David itu berada???" Tanya Almira bertanya dan sedikit curiga. Ibu Melinda baru sadar bahwa ia telah keceplosan berbicara, tapi ia segera menemukan alasan lain nya.
"Kalau kamu tak memberitahukan alamat nya mana Mamah tahu, Mira! Cepat beritahu dimana lokasi nya! Kasihan calon suami mu itu jika dibiarkan seperti itu tanpa ada penanganan dari Dokter."
"Baik Mah nanti Almira akan memberi tahukan lokasi nya di pesan WhatsApp." Lalu Almira pun mematikan panggilan tersebut dan mengirimkan lokasi tempat apartemen David berada.
"Hampir saja Almira mencurigai ku! Untung keceplosan ku tak keterusan! Bisa gawat nanti!" Ujar Ibu Melinda disela ia sedang berganti pakaian.
Setelah Ibu Melinda selesai memakai pakaian biasa, ia langsung pergi ke hotel tempat David tinggal selama ini. Almira sedang mengusap-usap kening David dan David membuka kan mata nya sedikit.
"Mengapa kamu baik sekali padaku Mira?" Tanya David.
"Aku adalah calon istri mu dan hal yang wajar jika aku melakukan kebaikan seperti ini pada mu sayang." David tersenyum pelan dan berkata,
"Tapi jika aku bukan calon suami mu dan hanya teman biasa saja, apa kamu masih rela mau menolong ku seperti ini?"
"Papah ku dulu pernah mengajarkan ku tentang tolong menolong ke sesama manusia. Mau itu siapapun meskipun bukan saudara sekandung, jika orang lain membutuhkan pertolongan aku harus bisa membantu kesulitan orang itu. Apalagi orang itu orang yang aku sayangi, aku akan rela berkorban meskipun aku harus kehilangan kedua bola mata ku." Hati David sangat tersentuh sekali mendengar nya dan ia membatin,
'Beruntung sekali aku bisa mendapatkan seorang perempuan yang baik dan rela berkorban untuk ku. Padahal selama ini aku telah mengkhianati nya dan telah berselingkuh dibelakang nya dengan ibu nya. Aku merasa sangat bersalah sekali kepada Almira.' Tapi mulut David berkata lain,
"Aku bingung harus membalas pengorbanan mu dengan apa, aku hanya punya cinta dan kasih sayang saja yang bisa aku lupakan untuk mu sayang."
"Aku hanya perlu kesetiaan mu saja sayang, soal kasih sayang dan cinta itu urusan nanti. Sekarang kita sudah mendekati masa pernikahan kita dan aku tak mau ada ribut-ribut dihubungan kita ini seterusnya."
"Aku berjanji akan selalu setia kepada mu sayang." Ucap David meyakinkan hati sanubari Almira dan Almira pun kini telah mendapatkan cinta nya kembali terhadap David setelah beberapa hal sepele yang membuat nya curiga terhadap kedekatan nya dengan ibu nya.
Kemudian David bertanya,
"Apakah Mamah mu akan datang kesini menengok ku?"
"Iya Mamah akan kemari untuk menengok mu sayang, sekaligus akan membawa mu ke rumah sakit untuk diperiksa disana."
__ADS_1
"Hmm begitu..., terima kasih banyak." Hanya itu ucapan dari David dan ponsel David sengaja dimatikan oleh nya agar Almira tak mengecek ponsel nya itu.
Semasa pacaran mereka berdua memang belum pernah bertukar ponsel untuk melihat isi ponsel masing-masing agar tak ditemukan nya kecurangan atau perselingkuhan. Almira pun tak terlalu peduli soal isi ponsel David itu dan ia pun tak mau tahu. Mungkin jika Almira meminta ponsel David untuk dilihat isi nya, David akan melarang nya keras karena semua kecurangan yang dilakukan pada Almira tersimpan semua nya disana.