
ALMIRA Merintih ke enakan karena ujung buah dada nya itu sangat sensitif jika disentuh. Apalagi sampai dipencet dan diremas-remas, semakin menggelinjang saja tubuh Almira itu. Rintihan Almira terhalang oleh ******* kejantanan nya David, jadi ia cenderung tak merintih dengan jelas.
Lalu Almira naik ke ranjang itu dan sebelum nya ia sudah melepas celana lejing nya itu. Lalu Almira menuntun kejantanan David untuk memasuki lobang pipis nya itu.
"Arghhh... Enakkk sayang..." Almira mendesah dan David pun memompa pantat nya dengan santai. Percumbuan kedua nya terus berlanjut dan tak ada posisi lain lagi karena keterbatasan David yang sedang sakit.
Ruangan itu kedap suara dan suara erangan kenikmatan dari kedua nya tak ada yang mendengar nya dari luar. Padahal ada banyak orang yang mondar-mandir dijalanan lorong ruangan itu. Tepat jam sepuluh malam, kedua nya sudah lemas terkulai di ranjang itu dan Almira masih dalam posisi tanpa busana. David pun segera bangun dan ingin pergi ke kamar mandi. Lalu Almira pun menuntun nya dan mereka berdua kini pergi ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Pada malam itu suara jedag-jedug musik diskotik nampak berdendang dengan keras nya. Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu asyik berjoget ria dan semua nya sudah dipengaruhi oleh minuman alkohol. Banyak yang sedang berbincang dengan teman nya walaupun mereka tak mendengar jelas apa yang mereka obrolan itu karena keras nya suara musik diskotik itu. Ada yang sedang berpacaran dikursi sofa ruangan itu dan ada juga yang terang-terangan sedang memadu kasih berciuman dengan pacar nya.
Seperti biasa Wulan tengah hadir dikeramaian Diskotik itu. Badan nya kali ini tak seperti sebelumnya, montok dan seksi. Badan Wulan agak mengurus dan jalan nya sedikit bungkuk. Ia telah depresi karena berkali-kali dirinya telah dicampakan oleh seorang lelaki yang telah menikmati tubuh nya itu. Lelaki itu pergi begitu saja tanpa ada kata terimakasih atau peduli terhadap nya.
"Semua lelaki sama saja!!" Ujar Wulan emosi dan berkali-kali ia menggebrak meja bar dengan gelas berisi alkohol itu.
Raut wajah nya tak cantik dan menggemaskan seperti biasa nya. Raut wajah Wulan nampak kusut dan pipi nya tirus karena kurang makan. Keseharian nya hanya dipakai untuk bersenang-senang saja dan jarang sekali ia makan. Kali ini Wulan sambil merokok dan semakin membuat penampilan nya tak terawat. Penjaga bar yang sudah kenal dengan Wulan pun ditanya oleh Wulan,
"Hei Mas Danu..." Ujar suara sumbang nya Wulan.
"Iya Mbak Wulan, ada apa?"
"Apa lelaki yang dulu pernah mengobrol dengan ku di sini itu pernah datang kemari lagi...???"
"Saya tak pernah melihat nya lagi Mbak, terakhir melihat hanya waktu dengan Mbak Wulan saja."
"Ouh begitu..., menurut mu lelaki itu tampan tidak...???"
"Sangat tampan Mbak." Ujar Mas Danu sambil melihat dada montok nya Wulan yang tersembul keluar dibelahan pakaian nya yang seksi itu.
__ADS_1
"Menurutmu dia cocok tidak jika ia menjadi suami ku?" Mas Danu tak segera menjawab nya karena ada pembeli yang memesan makanan.
Wulan sudah hampir hilang kesadaran nya dan ia emosi karena pertanyaan nya itu tak dijawab. Ia menggebrak meja bar itu dengan tangan nya.
Brakkk!!
"Jawab pertanyaan ku!! Mengapa kau mencuekan diriku Mas Danu!?" Mas Danu kaget, begitu juga dengan karyawan yang ada disekitar nya Wulan. Mereka nampak kesal melihat tingkah laku Wulan yang sudah tak karuan itu.
"Maaf tadi ada pembeli Mbak, jangan marah dulu." Ujar Mas Danu sabar karena ia tak mau berurusan dengan Wulan, sebab pemilik diskotik itu seorang wanita cantik teman nya Wulan.
Wulan menatap sayu ke arah Mas Danu dan rambut nya terlihat acak-acakan. Mas Danu jadi tak enak hati ditatap dengan pandangan nakal seperti itu, lalu ia segera berkata.
"Sepertinya Mbak Wulan sudah sangat mabuk, ada baik nya Mbak Wulan istirahat diatas."
"Antarkan aku kesana!" Bentak Wulan kepada Mas Danu.
"Antarkan aku kesana sekarang!" Wulan kali ini membentak keras dan teman kerja nya Mas Danu pun segera menyuruh nya untuk mengantarkan PEREMPUAN PEMBAWA PETAKA Itu ke kamar penginapan yang ada dilantai dua.
Mas Danu pun mau tak mau harus mengantarkan nya ke atas.
"Bopong aku ke atas!" Tegas Wulan dan Mas Danu tak banyak protes. Tubuh berisi nya Mas Danu itu mampu membopong tubuh Wulan yang berat nya lima puluh lima kilo itu. Dengan susah payah Mas Danu membopong Wulan sampai tiba di tempat Resepsionis penjaga kunci. Setiba Disana penjaga kunci yang biasa disana itu berkata kepada Mas Danu,
"Wah kau dapat rezeki nomplok Danu."
"Ah Pak Tono ada-ada saja." Ujar Mas Danu merasa malu.
"Cepat berikan kunci nya Pak Tono!" Ujar Wulan masih dengan raut wajah kesal nya.
__ADS_1
"Baik-baik mbak Wulan." Ujar Pak Tono tak mau membuat masalah dengan Wulan, sebab ia pernah dilaporkan kepada pemilik tempat itu hanya gara-gara Pak Tono pernah merayu nya dulu.
Mas Danu lalu lanjut membopong Wulan sampai tiba di kamar yang sudah berikan kunci nya. Pak Tono hanya bisa geleng-geleng kepala saja sambil membatin,
"Andai aku ada di posisi si Danu, pasti sudah aku perkosa itu perempuan." Ujar Pak Tono sambil memegang burung nya yang telah menegang. Setelah di dalam kamar itu, Mas Danu membaringkan Wulan di Ranjang.
"Saya pamit kembali Mbak." Baru saja Mas Danu ingin pergi, Wulan sudah memanggil nya.
"Tunggu! Mau kemana kau?!"
"Anu..., Saya mau lanjut bekerja Mbak."
"Kau harus melayani gairah ku malam ini Mas Danu! Karena kau sudah membuat ku kesal, aku perintahkan kau untuk melayani gairah ku!"
"Tapi Mbak, saya takut di pecat oleh Ibu Bos." Ujar Danu beralasan karena ia sebenarnya sudah tak tahan juga ingin meremas buah dada nya Wulan yang sekal itu.
"Jika kau menolak ajakan ku, kau sama saja bunuh diri Mas Danu! Aku akan melaporkan mu bahwa kau sudah kurang ajar padaku! Tapi jika kau mau melayani ku, aku akan menutupi hal ini dari siapapun atau dari bos mu itu!" Mas Danu bimbang dan terdiam sejenak.
Wajah nya menampakan keragu-raguan dan ia membatin dalam hati.
'Gini amat kerja di diskotik! Tau-tau dapat rezeki nomplok spek bidadari begini! Tapi akukan sudah mempunyai istri dan anak? Apa boleh aku melakukan hubungan badan dengan orang lain selain istri ku..???' Saat itu Wulan melapas pakaian nya dan melepas bra nya. Nampak apa yang selama ini tertutupi kain tipis itu tersumbul keluar tanpa penghalang lagi.
Wulan segera membuka celana rok pendeknya itu dan memamerkan belahan nya dan paha nya yang mulus itu. Mata Mas Danu mendelik dan hanya bisa menelan ludah saja. Mata enggan melihat, tapi kaki nya terus melangkah menuju ranjang karena Wulan memanggil nya dengan isyarat jari telunjuk nya. Mas Danu sudah tak bisa bertahan menahan hasrat batin nya lagi dan ia langsung menyergap tubuh Wulan dengan ganas.
...*...
...* *...
__ADS_1