Mertuaku Selingkuhanku

Mertuaku Selingkuhanku
KETIGA PEMBANTU PENGGOSIP


__ADS_3

IBU Melinda sudah tiba dikantor nya dan ia sudah ditunggu oleh Pak Asep diruangan tunggu depan kantor nya.


"Tumben Pak Asep sudah tiba lebih dulu disini."


"Iya Bu, kalau siang saya ada perlu soal nya."


"Oh kalau begitu mari kita segera ke atas."


"Baik Bu." Ujar Pak Asep dan kini mereka segera pergi ke lantai tiga tempat kantor Ibu Melinda berada.


Setiba diruangan itu Ibu Melinda membicarakan soal ingin mengubah dekorasi ruangan kantor nya itu.


"Jadi Ibu Meli ingin agar saya mendekorasi ruangan ini menjadi dua tempat begitu?"


"Lebih tepat nya satu ruangan dua tempat kerja. Soal nya disini akan ada asisten saya yang bekerja nanti."


"Oh baiklah jika begitu, saya akan melihat isi ruangan ini dulu."


"Yasudah Pak Asep lanjut saja, saya ingin mengerjakan pekerjaan ku dulu."


"Baik Ibu Meli." Ujar Pak Asep yang kini ia sedang mengukur tempat yang akan dijadikan meja kerja nya David.


Seisi ruangan kantor milik Ibu Melinda memang semua nya di desain oleh Pak Asep itu. Ia sudah menjadi karyawan sampingan nya Ibu Melinda jika ibu Melinda sedang membutuhkan tenaga teknisi untuk membetulkan apa saja yang rusak di kantor nya itu. Sambil bekerja didepan komputer nya Ibu Melinda memperhatikan Pak Asep yang sedang bekerja itu.


Mula nya ia terlihat biasa saja, tapi entah kenapa hasrat birahi Ibu Melinda lama-lama memuncak. Pikiran Ibu Melinda saat itu memang sedang berpikir kotor, ia sedang membayangkan jika nanti David sudah bekerja dengan nya dalam satu ruangan. Pasti dirinya akan meminta David untuk memuaskan hasrat birahi nya itu. Ia membayangkan dirinya bercinta dengan David di sofa itu dan disaat itulah gairah nya terbakar.


Ibu Melinda sudah tak tahan, tapi ia bingung harus menyalurkan hasrat nya itu pada siapa. Kepada Pak Asep jelas tak mungkin karena ia merasa harga dirinya akan di injak-injak oleh anak buah nya itu. Maka Ibu Melinda tetap bersikap tegas dan berwibawa kepada karyawan dan anak buah nya itu. Sesekali Ibu Melinda meremas salah satu buah dada nya ketika Pak Asep sedang memunggungi nya.

__ADS_1


'Haduh sialan! Mengapa disaat seperti ini gairah ku malah semakin memuncak!? Aku tak bisa menahan nya lagi dan tak mungkin aku berhubungan dengan Pak Asep yang jelas-jelas ia adalah bawahan ku! Yang ada aku nanti dikata perempuan murahan oleh nya! Lebih baik aku tahan saja hasrat ku ini!' Ibu Melinda membatin seperti itu dan ia terus mencoba menahan hasrat birahi nya itu dengan cara fokus mengerjakan pekerjaan nya.


Makin lama gairah Ibu Melinda pun surut juga dan ia sudah fokus mengerjakan pekerjaan nya lagi. Pak Asep sudah mengukur tempat itu dan apa saja yang nanti akan dipasang disana.


"Permisi Ibu Meli, saya sudah mengukur tempat nya dan tinggal dipasang furniture nya saja nanti."


"Kapan kira-kira akan dipasang nya Pak Asep?"


"Saya perlu mendiskusikan ini dulu dengan tukan pembuat meja nya Bu Meli. Mungkin nanti jika sudah dikonfirmasi oleh tukan nya, saya akan memberi tahu Ibu Melinda."


"Oh Yasudah kalau begitu."


"Sekarang saya pamit lagi Ibu Melinda, Mari."


"Baik Pak Asep, nanti saya akan transfer biaya pembuatan furniture itu ya Pak."


Waktu tak terasa sudah menjelang siang hari. Dirumah nya Ibu Melinda, David sedang ada dikamar nya bersama Almira. Mereka berdua sedang belajar bersama mengerjakan tugas yang tertinggal. Almira yang meminta tugas itu kepada Ibu Puspita dan Ibu Puspita memberikan tugas itu. Kini mereka berdua sedang mengerjakan tugas pelajaran mata kuliah itu hingga waktu siang hari tiba.


Para pembantu rumah itu yang ada tiga orang sedang memasak didapur. Seperti biasa mereka menggosipkan soal hubungan Majikan nya dengan pacar anak nya. Almira seperti dikhianati oleh pacarnya nya itu menurut mereka. Tapi satupun dari mereka tak ada yang berani terang-terangan menceritakan soal hubungan Ibu Melinda dan David kepada Almira. Mereka terus saja menggosip seperti itu tanpa mereka sadari Almira pergi ke dapur untuk melihat para pembantu nya itu sedang memasak apa.


Ketika sedang belajar bersama David, Almira sudah mulai lapar dan ia bilang kepada David untuk pergi ke meja makan. Setiba dimeja makan ia belum menemukan masakan apapun disana dan maka Almira memutuskan untuk pergi ke dapur. Disaat ia akan masuk ke dapur, tak sengaja ia mendengar KETIGA PEMBANTU PENGGOSIP Itu sedang mengobrol namun tak jelas mereka sedang mengobrolkan apa.


"Menurut ku sih sangat tega sekali jika benar Nyonya akan merebut lelaki itu dari Non Almira."


"Ahh tak mungkin, jangan berpikiran jelek dulu. Mungkin saja Nyonya hanya sebatas mengagumi saja."


"Iya bisa saja begitu." Disaat itulah Almira beranikan diri untuk masuk dan seketika ketiga pembantu itu melihat Almira masuk ke dapur.

__ADS_1


"Bi sedang masak apa...???" Tanya Almira terlihat santai saja.


"Haduh kalian sih! Jangan-jangan obrolan kita tadi didengar Non Almira!" Ucap salah satu pembantu itu berbisik kepada kedua teman nya.


Kedua teman nya itu tak membalas nya karena Almira sudah ada didekat mereka.


"Ini Non, Bibi sedang memasak Ayam goreng dan sambal balado nya. Inikan masakan kesukaan Non Almira."


"Wah..., benar Bi! Sudah lama sekali aku tak memakan Atau goreng balado buatan bibi." Ujar Almira heboh dan ia segera melihat ketiga pembantu itu memasak makanan tersebut.


"Tapi sepertinya masih lama ya Bi?" Tanya Almira yang surut rasa heboh nya karena Ayam nya belum juga digoreng.


"Mungkin sebentar lagi Non. Bibi sedang membuat bumbu dulu."


"Yasudah kalau begitu Almira pergi ke kamar saja, nanti jika sudah matang beri tahu Almira ya Bi."


"Baik Non Almira." Ujar ketiga pembantu itu dan kini Almira sudah pergi kembali ke kamar nya David.


Setelah dirasa aman dari Almira, ketiga pembantu itu saling menyalahkan karena obrolan mereka tadi tak seharusnya mereka obrolkan ditempat terbuka seperti itu.


"Untung saja Non Almira tak mendengar nya! Coba kalau dia mendengar obrolan kita tadi, sudah pasti dia akan bertanya kepada kita soal ucapan kita itu."


"Bisa mampus kita jika tak bisa menjawab nya."


"Untung saja, tuhan masih kasihan kepada kita." Ujar salah satu pembantu rumah itu dan mereka kini sudah jera agar tidak sembarangan membicarakan soal rumah tangga majikan nya itu. Apalagi jika sampai didengar oleh anak majikan nya itu, bisa hancur karir mereka sebagai pembantu dirumah itu.


...*...

__ADS_1


...* *...


__ADS_2