
DAVID Melihat raut wajah sedih diwajah Almira dan ia bertanya.
"Mengapa kau tiba-tiba sedih begitu sayang...???"
"Aku sedih karena teringat akan Papah ku sayang."
"Hmm begitu, apakah sampai saat ini kau sudah tak pernah bertemu dengan nya lagi sayang...???"
"Sudah, terakhir bertemu ketika beberapa minggu yang lalu." Lalu Almira menceritakan soal kedatangan Ayah nya itu ke kantor ibu nya sampai Ibu Melinda mengusir Ayah nya itu. Lalu Ayah nya Almira mendatangi Almira ke rumah nya dan akhirnya mereka bertemu sampai mengobrol lama.
Almira pun bilang juga bahwa Ayah nya kini sudah tinggal di Amerika karena tuntutan pekerjaan nya.
"Jadi sekarang Papah mu di luar negeri?"
"Iya sayang, paling kalau aku sedang merindukan nya. Aku sering menghubungi nya lewat video call saja, tak bisa bertemu langsung."
"Yang sabar sayang, apakah Papah mu sudah tahu soal rencana pernikahan kita itu nanti???"
"Papah sudah aku beritahu dan ia merasa sangat senang sekali mendengar Putri satu-satunya ini akan menikah. Ia terharu dan aku juga menangis melihat Papah ku sangat terharu sekali." David manggut-manggut lalu bertanya,
"Lalu apa Mamah mu tahu soal itu???"
"Mamah tahu dan saat itu ia sedang ada dikamarku. Padahal Papah ku ingin sekali melihat wajah Mamah ku dan ingin mengobrol dengan nya. Tapi..., Ego Mamah terlalu besar dan ia menolak nya untuk ikut video call bersama ku. Bahkan Mamah sampai memarahi ku soal kehidupan Papah ku yang baru ini." David manggut-manggut dan berkata,
"Mungkin Mamah mu cemburu, kalau tak begitu tak mungkin ia akan jual mahal begitu."
"Iya sepertinya, aku juga mengira hal yang sama seperti itu."
"Wajar saja jika Mamah mu masih mempunyai rasa cemburu, sebab ia masih memiliki rasa cinta."
__ADS_1
"Padahal dulu aku pernah merengek kepada Mamah agar mereka jangan bercerai, tapi Ke Egoisan Mamah itulah yang membuat Papah semakin sengaja berbuat onar dalam rumah tangga mereka. Papah berselingkuh karena tak tahan akan sipat mamah yang dingin dan keras kepala, mana ada laki-laki yang sanggup bertahan dengan wanita seperti itu? Benar kan ucapan ku ini sayang???"
"Iya sayang, apa yang kamu ucapanka itu memang benar. Tapi mau bagaimana pun, dia itu tetap Ibu kandung mu sendiri. Sejelek-jelek nya watak dan kelakuan ibu mu, mau bagaimana pun juga ia tetap Ibu mu. Jangan membenci Ibu mu hanya karena ia bersikap seperti itu, tapi bencilah pada sikap dan watak nya jangan pada orang nya." David memberi arahan kepada Almira agar Almira tak membenci ibu nya hanya karena sikap dan watak keras kepala nya saja.
Almira merasa di ceramahi oleh David, tapi hal itu membuat nya senang karena ia mulai suka dengan sikap David yang mulai dewasa itu.
"Sepertinya kamu sudah siap untuk menjadi seorang Ayah, sayang." Ucap Almira sambil tersenyum bangga.
"Dari dulu aku sudah siap untuk menjadi seorang Ayah. Hanya tinggal menunggu waktu nya saja."
"Sekarang sudah waktu nya sayang, tapi nanti jika kau sudah sembuh."
"Kita masih harus tetap masuk kuliah sayang. Jangan berandai-andai dulu, jalan kita masih lama."
"Iya sayang terserah apa katamu saja." Ucap Almira dan lalu ia memeluk David dan David pun memeluk nya.
Lalu ada ketukan pintu dan kemudian Dokter yang semalam masuk bersama dua perawat yang membawa obat-obatan. Lalu Almira berpindah tempat dulu karena Dokter itu ingin memeriksa kesehatan nya David. David memperhatikan Dokter itu mengobati David dengan cara menyuntikkan nya dan mengganti cairan infusan. Lalu Dokter itu bertanya kepada David,
"Sudah cukup MEMBAIK Dokter."
"Syukurlah, Apakah lidah Mas David masih mati rasa?"
"Sudah tidak Dokter, saya sudah bisa merasakan rasa makanan." Dokter manggut-manggut dan bertanya lagi.
"lalu apa masih ada keluhan lagi Mas David???"
"Hanya kaki saya saja yang masih kaku Dok."
"Hmm begitu, sebentar lagi juga akan pulih Mas David. Besok kalau Mas David sudah tak kaku lagi kaki nya, besok sudah bisa pulang."
__ADS_1
"Baik Dok, terimakasih banyak." Ujar David dan Almira pun berkata terima kasih juga. Lalu Dokter itu pun keluar kembali bersama dua suster yang membawa obat-obatan itu.
Kini waktu tak terasa sudah siang hari dan seperti biasa David makan siang dengan di suapi oleh Almira. Setelah David makan siang, ia pun minum obat. Almira merasakan perut nya lapar juga dan ia memesan makanan via aplikasi online lewat ponsel nya. Sambil menunggu pesanan nya tiba, Almira menemani David mengobrol hingga David pun akhirnya tertidur karena efek samping obat itu.
Ibu Melinda akan istirahat untuk makan siang dan ia menghubungi Almira untuk menanyakan kabar David. Saat itu ponsel Almira berdering dan ia langsung mengangkat nya,
"Halo Mah?" Tanya Almira.
"Kamu sudah makan belum sayang? Mamah akan pesankan kamu makanan."
"Almira sudah pesan Mah, sebentar lagi pesanan Almira akan tiba."
"Oh yasudah kalau begitu, lalu bagaimana dengan kondisi David, Mira?"
"Kondisi David sudah semakin membaik Mah, kata Dokter mungkin besok David sudah bisa pulang jika kaki David sudah tak kaku lagi."
"Oh syukurlah kalau begitu. Mamah siang ini tak bisa datang kesana karena ada urusan penting."
"Baik Mah, Almira mengerti akan kesibukan Mamah itu. Mamah jangan lupa makan siang." Ujar Almira mengingatkan.
"Iya sayang, dah." Lalu Ibu Melinda mematikan ponsel nya dan ia pun pergi ke kantin untuk makan siang.
Ibu Melinda memang ada janji dengan rekan bisnis nya nanti jam satu siang dan Ibu Melinda menyerahkan David sepenuhnya kepada Almira. David tak banyak bertanya karena ia sudah mulai mengantuk.
"Tidur sayang, mata mu sudah redup begitu."
"Iya sayang." Ujar David dan Almira mengusap-usap kening David dengan lembut hingga David pun tertidur dengan lelap nya.
Ibu Melinda sedikit teringat akan ingatan nya bersama Ayah nya Almira. Semenjak David sakit, Ibu Melinda sering melamuni Ayah nya Almira karena memang hati nya tak bisa berbohong. Ia masih mencintai mantan suami nya itu, tapi Ego nya itu yang telah membuat rumah tangga nya hancur. Semenjak Ada David dikehidupan nya, perlahan ingatan soal Ayah nya Almira sudah hilang dan bahkan untuk ingat pun Ibu Melinda sudah muak. Tapi semenjak David sakit, Ibu Melinda bingung dan resah karena ia tak bisa menyalurkan hasrat birahi nya itu kepada siapapun selain kepada David. Ia pernah memakai alat bantu pasutri, namun bagi nya itu kurang memuaskan karena ia bukan orang yang suka menghayal atau menghayati sesuatu demi kepuasan batin nya.
__ADS_1
...*...
...* *...