Mertuaku Selingkuhanku

Mertuaku Selingkuhanku
AMARAH IBU MELINDA


__ADS_3

IBU Melinda kini sudah masuk ke dalam rumah dan ia buru-buru pergi ke kamar nya untuk mandi dan mengganti pakaian nya. Ibu Melinda kaget karena ia mencium wangi Parfum David ditubuh dan pakaian nya.


"Untung Almira belum sampai, jika ia ada dirumah dan menemui ku. Sudah pasti ia akan curiga akan wangi Parfum nya David ini." Ibu Almira cepat-cepat melepaskan pakaian nya dan memasukan pakaian kotor nya itu ke dalam keranjang.


Ia menindih pakaian nya itu memakai seprai ranjang nya agar wangi nya tak menyengat keluar. Ibu Melinda segera mandi didalam bath tub dan ia sudah bisa melegakan kekhawatiran nya itu. Di sela mandi nya itu pun Ibu Melinda melamun dan teringat lagi akan wajah mantan suami nya itu.


"Dia lagi dia lagi! Mengapa aku selalu terbayang wajah nya lagi!? Padahal aku sudah sangat membenci dirinya!!" Ucap Ibu Melinda kesal terhadap mantan suami nya itu.


"Dipikir-pikir semakin tua semakin tampan juga dia, sudah bisa di bilang sebagai Sugar Daddy harus nya. Haduh!! mengapa aku malah menyanjung lelaki brengsek itu!?" Umpat Ibu Melinda semakin kesal dan hati nya tak bisa berbohong bahwa ia masih memiliki rasa cinta terhadap mantan suami nya itu.


Ibu Melinda merenung lagi mengingat kisah masa lalu nya bersama Mantan suami nya itu. Tapi ia tak jadi merenungkan nya karena ia mendengar suara Almira didepan pintu kamar nya.


"Mamah!? Apa Mamah di dalam? Buka pintu nya Mah, Almira ingin bicara." Ibu Melinda pun segera menyudahi mandi nya itu dan buru-buru memakai handuk nya.


Pintu kamar langsung dibuka dan Almira menatap wajah ibu nya dengan senyuman.


"Mamah baru selesai mandi ya?" Ucap nya dan Almira lalu masuk ke dalam kamar ibu nya.


"Iya Nak, tumben kamu senyum-senyum begitu? pasti ada mau nya."


"Ahh Mamah, biasa nya juga Almira tersenyum begini kepada Mamah."


"Apa yang ingin kamu bicarakan Nak?" Tanya Ibu Melinda langsung ke inti nya.

__ADS_1


"Hmm begini Mah, tadi ada Papah datang ke rumah ini." Ibu Melinda diam menatap wajah anak nya itu.


"Lho mengapa Mamah tidak kaget?" Tanya Almira heran.


"Mamah sudah bertemu dengan Papah mu itu Almira, dia datang ke kantor Mamah siang tadi."


"Oh iya Almira lupa, soal nya tadi Papah juga bilang kalau Papah pergi ke kantor nya Mamah."


"Terus apa yang dia lakukan di sini?" Tanya Ibu Melinda lagi dengan nada suara ketus.


"Papah ingin bertemu dengan Mira, Mah. Papah sangat merindukan Almira, begitu juga dengan Mira kepada Papah."


"Sudah lupakan lelaki yang tak bertanggungjawab itu Mira! Dia sudah menghancurkan kehidupan kita! Sudah berulang kali Mamah katakan untuk tidak membicarakan Papah mu lagi!" Almira diam terpaku melihat Ibu nya mengomeli nya.


"Almira Denasya Putri!" Tegas Ibu Melinda menyebut nama asli Almira. Almira menunduk takut dibentak seperti itu oleh Ibu nya.


"Kamu tak tahu apa yang Mamah rasakan saat ini Almira! Coba kamu rasakan bagaimana sakit nya diselingkuhi oleh orang yang kita sayangi hah!? Apa kamu pernah merasakan nya!?" Almira semakin tertunduk takut karena AMARAH IBU Nya semakin keras membentak nya. Mata Ibu MELINDA melotot tajam dan baru kali ini Ibu Melinda memarahi Almira sedemikian keras nya.


Almira merasakan sakit hati nya ketika dibentak seperti itu dan para pembantu rumah itu pun mendengar bentakan tersebut. Para pembantu itu tak mau ikut campur dan mereka lanjut melakukan pekerjaan mereka. Ibu Melinda pun segera sadar akan emosi nya itu yang telah membuat Almira menangis. Almira terisak-isak dalam diam nya dan kepala nya tetap tertunduk seperti tadi.


"Maafkan Mamah Nak, Maafkan Mamah." Ibu Melinda langsung memeluk anak nya yang duduk ditepi ranjang nya itu dan Almira tak membalas pelukan Ibu nya.


"Maafkan Mamah Nak, Mamah khilaf karena tak bisa mengontrol emosi Mamah."

__ADS_1


"Almira yang salah karena telah membuat Mamah marah, hixhix. Almira hanya ingin tahu saja mengapa Mamah sebegitu benci nya terhadap Papah dan Almira ingin tahu apa alasan Mamah saja, selebihnya Almira tak memaksa Mamah untuk memberitahukan nya." Ibu Melinda sudah mengurangi rasa amarah nya itu dan ia pun menghembuskan napas sesak nya di Dada.


Almira menatap wajah ibu nya dengan pandangan mata lembab berkaca-kaca. Ibu Melinda pun menatap wajah anak nya itu dan kemudian berkata menjawab rasa penasaran anaknya itu.


"Alasan Mamah membenci Papah mu karena Papah mu sudah tega mengkhianati kesetiaan cinta Mamah. Papah mu dengan tega nya memukul Mamah dan menelantarkan kita berdua demi seorang perempuan muda. Apakah kamu tak merasakan sakit nya di khianati dan di tinggalkan oleh orang yang kamu sayangi Mira? Coba kamu ingat baik-baik, sudah berapa lama kita ditinggalkan oleh Papah mu itu? Apa kamu tak merasa kasihan terhadap Mamah yang harus menjanda sampai bertahun-tahun lamanya ini?. Pasti kamu sudah tahu mengapa Mamah menjanda sampai selama Ini? Karena Mamah sudah trauma akan apa yang dilakukan oleh Papah mu itu! Apa kamu mengerti sekarang mengapa sampai sekarang Mamah sangat membenci Papahmu itu." Almira menganggukan kepala nya tanda mengerti.


Kemudian Ibu Melinda melihat cincin yang Almira pakai dijari manis nya.


"Kau dapat darimana cincin ini Mira!?" Tanya Ibu Melinda sambil memegang tangan Almira.


"Tadi Papah memberikan nya kepada Mira Mah, Papah bilang cincin ini adalah harta berharga nya Papah dan Papah memberikan ini kepada Almira agar kelas bisa Almira pakai ketika menikah dengan David nanti. Papah juga bilang bahwa pasangan cincin ini ada di Mamah, dan Mira disuruh meminta nya untuk nanti dijadikan cincin mas kawin pernikahan Mira dan David." Ucapan Almira itu membuat merah wajah ibu nya.


Ibu Melinda ingin marah lagi, tapi ia segera sadar bahwa rasa cemburunya itulah yang membuat dirinya marah. Almira paham akan raut wajah marah dari ibu nya itu dan Almira berkata,


"Mamah tak perlu marah lagi, Almira hanya ingin memberitahukan cincin ini saja kepada Mamah dan Papah pun bilang bahwa ia ingin sekali Mamah memaafkan kesalahan nya pada masa lalu."


"Papah mu bilang begitu?" Almira menganggukan kepala nya dan Ibu Almira pun segera membuang muka nya ke arah meja rias.


Ia melihat ke arah laci meja itu dan kemudian ia bangun dari duduk nya. Ibu Melinda pun berjalan mendekati meja rias itu dan membuka laci kecil dimeja rias tersebut. Ia mengambil kotak kecil berbentuk hati berwarna merah dan ia berjalan kembali kepada Almira. Kotak kecil itu dibuka dan nampaklah cincin pernikahan yang terbuat dari emas murni. Cincin itu sama persis dengan cincin yang di sedang dipakai oleh Almira itu.


...*...


...* *...

__ADS_1


__ADS_2