
TAK Terasa waktu pagi hari kini telah berganti dengan siang hari. Ibu Melinda masih berada di kamar anak nya dan ia sedang mendiskusikan soal kehamilan Almira ke depan nya. Ibu Melinda sedang membahas kapan Almira dan David itu di nikahkan, sebab Ibu Melinda tak mau menunda pernikahan anak nya itu terlalu lama sebelum perut Almira itu membuncit.
Kemudian terpikir dalam pikiran Ibu Melinda untuk menikahkan anak nya dengan David sehabis mereka berdua selesai lulus kuliah nya.
"Apakah Mamah yakin akan menikahkan Almira dengan David sehabis masa wisuda nanti?"
"Tak ada pilihan lain selain itu, Mamah tak mau menunda-nunda pernikahan kalian sebelum masa kandungan mu itu membengkak."
"Apa Mamah malu jika nanti Almira menikah dalam keadaan perut sudah membesar...???"
"Sudah jelas Mamah pasti akan malu besar Mira! Rekan-rekan bisnis Mamah pasti akan menghadiri acara pernikahan mu nanti karena Mamah akan merencanakan pernikahan yang meriah untuk kalian berdua."
"Apa itu tak berlebihan Mah?" Tanya Almira lagi.
"Memang nya kamu mau mengadakan acara pernikahan yang bagaimana? tak mungkin juga kan mengadakan pesta pernikahan ala kadar nya? Yang ada nanti Mamah di hujat dan menjadi bahan gosipan, masa anak seorang CEO perusahaan besar mengadakan acara pernikahan anak nya biasa saja? Mungkin kamu juga nanti akan mengundang teman-teman kampus mu dan juga Dosen mu. Tak mungkin kan mereka hadir tapi acara pernikahan ini tak disediakan hidangan untuk tamu para undangan?"
"Iya Mamah Almira paham sekarang, Almira terserah Mamah saja."
"Yasudah kalau begitu nanti Mamah yang akan merencanakan kapan tanggal nya. Sekarang coba kamu hubungi David, sedang dimana dia sekarang."
"Baik Mah." Ujar Almira dan kini Almira segera menghubungi David.
Saat itu David sedang berada di kelas dan sedang belajar. Ponsel nya bergetar disaku nya dan David pun segera melihat nya.
'Almira!?' Ucap David dalam hati nya. Ia ingin mengangkat nya, tapi ia merasa tak enak hati jika mengangkat nya dikelas. Kemudian David pun beralasan untuk pergi ke toilet kepada Dosen nya.
"Permisi Bu, Saya ingin pergi ke toilet dulu."
"Jangan lama-lama David." Ucap Dosen perempuan yang bernama Ibu Puspita Maharani itu.
"Baik Bu, paling lambat satu jam." Ucap kelakar David dan mata ibu Puspita melotot.
David hanya cengengesan saja sambil pergi keluar kelas dan teman-teman kelas nya tak ada yang memperhatikan nya karena mereka sedang sibuk dengan pelajaran mereka masing-masing. Tiba di toilet kampus, panggilan ponsel itu sudah terhenti.
__ADS_1
"David tak mengangkat nya Mah." Ujar Almira kepada ibu nya.
"Coba lagi, mungkin ia ketiduran."
"Tak mungkin David ketiduran dikelas Mah, dia kan sedang berada di kampus bukan sedang di apartemen nya."
"Oh benar juga." Ucap Ibu Melinda baru menyadari nya.
Saat itu suara nada dering ponsel Almira berbunyi dan Almira berkata kepada ibu nya.
"David balik menelpon Mah."
"Cepat angkat Mira." Ujar Ibu Melinda dan Almira segera mengangkat panggilan ponsel tersebut.
"Halo Almira ada apa?" Tanya David.
"Kau sedang ada di mana sayang?" Ucap Almira balik bertanya.
"Oh begitu, ada sesuatu yang ingin dibicarakan Mamah ku kepada mu." David seketika ingat akan rencana Test kehamilan nya Almira itu oleh Ibu Melinda.
Kemudian Almira memberikan ponsel nya kepada Ibu nya,
"Halo David?" Tanya Ibu Melinda.
"Iya say.., eh Tante ada apa." Ucap David hampir saja keceplosan. Ibu Melinda berpura-pura tak mendengar nya dan langsung berkata.
"Apa kau sedang ada di kampus David?"
"Iya Tante, memang nya ada apa?" Tanya David berpura-pura tak tahu menahu soal rencana nya itu dengan Ibu Melinda.
"Ada obrolan penting yang harus kita bicarakan. Nanti sepulang dari kampus, kau datang ke rumah Tante ya."
"Baik Tante, nanti aku akan pergi ke rumah. Paling nanti sebentar lagi juga jam pulang kampus tiba."
__ADS_1
"Yasudah kalau begitu, jangan sampai lupa."
"Baik Tante." Ujar David dan kini Ibu Melinda mematikan panggilan ponsel itu dan memberikan nya kepada Almira.
David segera balik lagi ke kelas dan otak nya terus mencari tahu soal obrolan penting yang akan dibicarakan oleh Ibu Melinda nanti.
'Seperti nya dugaan ku tak akan jauh melenceng, pasti Almira benar-benar hamil. Tak mungkin juga Tante Melinda menghubungi ku bersama Almira, pasti mereka berdua sedang bersama.' Batin David terus memikirkan soal tanda-tanda kehamilan Almira hingga ia masuk ke kelas lagi dan lanjut mengerjakan pelajaran nya.
Dikamar Almira, Ibu Melinda pun mencoba menghibur anak nya yang terlihat melamun itu.
"Sudah tak perlu dilamunkan sayang, semua sudah terjadi."
"Almira merasa berdosa sekali karena tak menuruti larangan dari Mamah itu."
"Mamah memaklumi perbuatan mu itu karena Mamah terlalu mengekang mu dan membuat mu nekat melanggar larangan Mamah."
"Tapi Mah, Sebenarnya Almira pun tak mau melakukan hubungan badan dengan David. Tapi David terus merayu dan membujuk Almira untuk melakukan hubungan badan. David pernah mengancam akan memutuskan hubungan nya dengan Almira jika Almira menolak nya."
"Begitulah laki-laki, mereka pandai merayu dan mengancam seperti itu setelah kita termakan rayuan gombal nya. Para lelaki selalu membuat wanita pasrah melakukan apa yang di ingini oleh lelaki itu. Mamah pun dulu pernah termakan rayuan gombal nya Papah mu dan akhirnya ya begitulah seperti yang terjadi pada mu saat ini."
"Jadi Almira terlahir dari hubungan di luar nikah?" Ucap Almira tegang dan Ibu Melinda tak bisa menutupi rahasia nya itu.
Ibu Melinda lalu mengusap rambut anak nya pelan-pelan seraya berkata,
"Maafkan Mamah sayang, selama ini Mamah selalu menutupi rahasia ini dikarenakan Mamah takut kamu depresi dan melukai diri mu sendiri."
"Mengapa Mamah baru bicara sekarang?" Tanya Almira lagi sedikit ketus.
"Karena Mamah tak mau membuat mu memikirkan hal ini, semua ini salah Papah mu yang selalu mengajak Mamah berhubungan badan ketika kami masih berpacaran. Setelah Mamah diketahui positif hamil, Papah mu buru-buru menikahi Mamah karena tuntutan dari keluarga kedua belah pihak."
"Mengapa kejadian Mamah dulu kini terjadi lagi kepada Mira? Apakah ini yang disebut dengan KARMA Mah...???" Ibu Melinda menunduk sedih seakan ia menyesali kejadian pada masa muda nya itu.
"Mungkin saja, Karma tetap berlaku di dunia ini dan tak tahu entah kapan itu terjadi nya. Mamah pun tak menyangka awal nya kejadian yang dulu pernah Mamah alami, kini malah terulang lagi dan menurun kepada mu. Mungkin benar ini adalah Karma dari perbuatan Mamah dan Papah mu dulu, Mamah baru menyesali nya sekarang." Ibu Melinda tertunduk sedih dan Almira pun ikut sedih juga karena ia pun merasakan apa yang pernah di alami oleh ibu nya dulu.
__ADS_1