Mertuaku Selingkuhanku

Mertuaku Selingkuhanku
JALAN-JALAN KELUAR RUANGAN


__ADS_3

ALMIRA Lalu melihat obat itu dan kemudian menaruh nya dimeja. Wajah David sudah tak sepucat sebelumnya dan David berkata,


"Apa kau tak bosan menunggu ku di sini sayang?"


"Untuk apa aku bosan sayang? Kecuali aku sudah tak mencintai mu lagi baru aku bosan."


"Hmm begitu ya,..." Ujar David manggut-manggut lalu ia berkata lagi.


"Tadi aku dan ibu mu membicarakan soal tempat tinggal ku selama ini sayang."


"Kenapa memang nya sayang?" Tanya Almira tak paham.


"Ibu mu bilang bahwa setelah pulang dari sini, aku disuruh tinggal dirumah mu."


"Bagus dong kalau begitu sayang." Ujar Almira tersenyum gembira dan kemudian ia bertanya.


"Lalu apa alasan nya Mamah menyuruh mu untuk tinggal dirumah ku?"


"Katanya takut aku tak ada yang mengawasi jika aku tinggal di apartemen ku. Kalau aku tinggal dirumah mu kan, bisa dekat dengan mu juga sayang. Jadi kau bisa menjaga ku juga jika aku masih sakit."


"Benar juga sayang, Mamah sudah banyak berubah sekarang." Ucap Almira yang kini merasa senang terhadap perubahan sipat dan watak ibu nya itu.


Tepat jam delapan malam Almira meminumkan obat untuk David yang sebelumnya sudah diberikan oleh Suster tadi kepada Almira. Lalu David berkata,


"Aku bosan sayang, apa kita boleh JALAN-JALAN KELUAR RUANGAN?"


"Coba aku tanyakan dulu kepada Suster sayang." David hanya mengangguk saja dan kini Almira segera keluar untuk pergi ke ruangan Suster.


Setiba diruangan Suster Almira menanyakan apakah David boleh jalan-jalan diluaran ruangan memakai kursi roda dan Suster pun memperbolehkan nya dengan syarat tak boleh lewat dari jam sembilan malam. Maka Almira pun segera membawa kursi roda itu ke dalam ruangan tempat David berada. Setelah David duduk dikursi Roda dengan dibantu Almira, kini mereka berjalan menuju taman rumah sakit yang disana banyak pasien yang sedang duduk dikursi roda dengan ditemani keluarga nya.


David baru merasakan udara segar lagi setelah hampir tiga hari ia dirawat di dalam ruangan itu. Almira pun nampak senang melihat para pasien dari berbagai kalangan itu sedang bersama keluarganya.


"Kau senang ada di sini sayang?" Tanya Almira dan David menganggukkan kepala nya.


"Seumur hidup ku baru kali ini aku berada dirumah sakit dan melihat banyak keluarga pasien yang menyemangati anggota keluarga nya yang sakit itu."

__ADS_1


"Sudah seharusnya orang yang sakit itu disemangati seperti itu sayang, aku pun tak henti-henti nya selalu menyemangati mu bukan?"


"Iya sayang, aku merasa lebih bersemangat lagi jika orang secantik dirimu yang menyemangati ku."


"Lagi sakit juga masih saja doyang menggombal!" Ujar Almira gemas sambil mencubit pipi David dan David hanya tertawa pendek saja.


Mereka masih ditaman itu sambil berbincang membahas apa yang mereka lihat di taman itu. Ibu Melinda ada dikamar nya dan kali ini ia sedang menghubungi seseorang.


"Pak Asep apa besok bisa datang ke kantor ku?"


"Siap Bu Meli, apa ada ruangan yang ingin diperbaiki lagi???"


"Iya Pak Asep, diruangan saya akan ada karyawan baru. Jadi saya butuh bantuan Pak Asep untuk mendekorasi ruangan saya itu."


"Oh..., Memang nya untuk berapa orang Ibu Meli?"


"Hanya untuk satu orang kok Pak Asep."


"Oh baiklah jika begitu, lalu kapan rencana nya...???"


"Baik kalau begitu Ibu Meli, besok saya akan pergi ke kantor Ibu Meli."


"Baik kalau begitu, jangan lupa Pak Asep."


"Baik Bu Meli."


"Mari...." Ujar Ibu Melinda dan ia langsung mematikan panggilan ponsel nya. Ibu Melinda lalu lanjut melihat layar laptop nya lagi untuk meneruskan pekerjaan nya yang tertunda waktu dikantor itu.


Jam sembilan malam para pasien sudah diperingatkan untuk segera masuk kembali ke ruangan nya masing-masing. Almira pun segera mendorong kursi roda David sampai mereka masuk ke dalam ruangan itu kembali. David ingin berjalan sendiri sampai ia naik ke ranjang nya dan kaki David sudah tak sekaku sebelumnya.


"Apakah kaki mu tak kaku lagi sayang???"


"Sudah tidak sayang, hanya perlu menyeimbangkan badan saja. Badan ku masih agak lemas, mungkin esok badan ku sudah membaik dari sekarang."


"Semoga saja sayang, sekarang kamu istirahat ya. Mata kamu sudah sayu begitu."

__ADS_1


"Iya sayang." Ujar David dan kini merebahkan tubuh nya diranjang.


Almira duduk disamping David dan ingin tidur diatas bersama David. Lalu David bergeser sedikit dan Almira kini merebahkan tubuh nya di dada David.


"Sudah lama sekali aku tak tidur disamping mu seperti ini sayang." Ujar David seraya menciumi kepala Almira.


"Nanti jika setelah kita menikah kita akan tidur seperti ini terus sayang. Takut nya malah yang ada nanti kamu cepat bosan."


"Aku tak akan pernah bosan mencintai mu sayang."


"Aku juga sama sayang." Ujar Almira semakin lirih bicara nya.


Lalu Almira meremas kejantanan David sambil berkata,


"Sudah lama kita tak melakukan hubungan badan sayang, aku rasakan hidupku tak akan tenang jika aku belum menyalurkan hasrat ku ini dengan mu sayang."


"Kau ingin melakukan nya malam ini sayang?"


"Kalau kau tak keberatan sayang, tapi aku takut tertular dengan penyakit mu itu."


"Aku tak akan memakai mulut ku untuk bercinta dengan mu sayang."


"Jadi hanya memakai kejantanan mu saja?" David menganggukkan kepala nya sambil berkata,


"Bila perlu pakai karet pengaman untuk berjaga-jaga."


"Sebentar, seperti nya aku pernah menyimpan nya satu didompetku." Lalu Almira turun dari ranjang itu untuk mengambil tas nya yang ada dimeja.


Lalu ia membuka isi nya dan akhirnya ia menemukan karet pengaman itu. Almira tersenyum dengan nakal ke arah David dan David paham akan senyuman nakal itu.


"Kunci pintu nya sayang, agar tak ada orang yang tiba-tiba masuk." Lalu Almira mengunci pintu ruangan itu dan kembali lagi kepada David.


Almira segera menarik celana jeans nya David dan membuka ****** ***** nya. Kejantanan David yang masih lemas itu dipermainkan dulu oleh Almira agar kejantanan nya David itu berdiri tegak, keras dan berurat. David mengerang ke enakan dan kejantanan kini sudah menegang keras. Almira segera memasangkan karet pengaman itu dan setelah terpasang Almira segera ******* nya dengan napsu yang membara.


David membuka kancing baju Almira untuk mengeluarkan apa yang selama ini tersembunyi dibalik pakaian nya itu. Dua bukit kenyal dan sekal nampak menggoda mata David. Ia ingin memagut ujung nya yang ranum itu, tapi ia masih sadar akan penyakit nya itu. Maka David pun hanya memainkan dua buah dada nya Almira itu memakai jari-jari tangan nya saja.

__ADS_1


__ADS_2