Mertuaku Selingkuhanku

Mertuaku Selingkuhanku
KEBIMBANGAN


__ADS_3

ALMIRA Menatap cincin yang dipegang oleh ibu nya itu. Kedua cincin itu tak ada beda nya, tapi ada satu yang membedakan dari kedua cincin itu yaitu adanya batuan permata dicincin itu. Cincin yang dipegang oleh Ibu Melinda ada batuan permata kecil dan yang dipakai Almira tak ada batuan permata nya.


"Apakah itu cincin dari pasangan cincin ini Mah?" Ibu Melinda menganggukan kepala nya.


"Cincin ini sengaja Mamah simpan karena janji yang sudah disepakati bersama Papah mu dulu."


"Janji bagaimana maksud Mamah?" Ibu Melinda menatap ke arah meja rias itu lagi dan ia mulai merenungkan sesuatu.


Almira masih menunggu ibu nya itu menjawab pertanyaan nya.


"Dulu Mamah pertama kali bertemu dengan Papah mu, ketika Mamah baru pertama masuk kampus. Mamah sama sekali belum pernah berpacaran dengan siapa pun dari semenjak sekolah dasar sampai lulus sekolah menengah atas. Disaat Mamah masuk ke dalam fakultas di universitas, dihari pertama masuk Mamah sudah bertemu dengan Papah mu. Papah mu menatap Mamah dan Mamah pun juga begitu. Kami saling menatap lama dan akhirnya kami membuang muka karena malu." Ucapan Ibu Melinda berhenti dan Almira masih setia mendengarkan ibu nya bercerita lagi.


"Hari berganti Minggu dan setelah satu bulan kami menjalani kelas dalam satu ruangan. Akhirnya Restu mendekati Mamah dan mencoba mengakrabkan diri nya. Kian hari kami makin akrab, hingga suatu ketika Restu mengajak Mamah untuk makan malam disebuah restoran mewah. Tak pernah sedikitpun terpikir oleh Mamah bahwa Restu akan menyatakan cinta nya kepada Mamah."


"Lalu apakah Mamah menerima nya???" Tanya Almira cepat dan Ibu nya menganggukan kepala.


"Mamah menerima nya karena Mamah pun menyukai Restu. Setelah itu Restu memberikan Mamah cincin ini dan memasangkan nya dijari manis Mamah. Kemudian Mamah pun memasangkan cincin yang kau pakai itu ke jari manis nya Papah mu. Disaat itulah kami saling berjanji untuk menjaga cincin ini walaupun kami tak berjodoh atau sampai maut memisahkan kami. Jadi sebenci apapun Mamah terhadap Papah mu, Mamah tetap memegang komitmen untuk tidak mengkhianati janji seumur hidup kami itu. Tapi sekarang Restu sudah memberikan cincin ini kepada mu, berarti itu arti nya sekarang cincin ini pun akan Mamah berikan kepada mu." Ibu Melinda memberikan cincin itu kepada Almira bersama kotak nya.


Almira pun menerima nya dan tak sadar air mata nya menetes. Ibu Melinda pun merasa sedih juga melihat anak nya meneteskan air mata nya itu. Kemudian Almira pun berkata,


"Jadi sekarang cincin ini sudah menjadi milik Almira Mah?" Ibu Melinda menganggukan kepala nya dan berkata.


"Simpan baik-baik cincin itu Nak. Jadikan cincin itu sebagai mas kawin dipernikahan mu nanti bersama Da..." Ucapan Ibu Melinda terhenti karena ia merasa tak pantas mengucapkan nama David.

__ADS_1


"David maksud Mamah?"


"Eh.., Iya sayang." Ujar Ibu Melinda mengiyakan nya. Padahal dalam hati Ibu Melinda membatin,


'Mengapa aku merasa tak ikhlas jika David nanti menikah dengan anak ku sendiri?' Ibu Melinda nampak bimbang akan hubungan nya dengan David itu.


Disatu sisi ia membutuhkan cinta dan kasih sayang dari David. Ibu Melinda butuh belaian kasih sayang dari David karena David mampu mengobati lelah nya Jamani dan Rohani nya Ibu Melinda. Di satu sisi, Ibu Melinda kasihan terhadap Almira karena selama ini ia telah berselingkuh dengan David. KEBIMBANGAN Itu membuat Ibu Almira melamun lagi dan Almira segera menegur nya.


"Mah mengapa melamun?"


"Eh tidak, sekarang jam berapa?" Tanya Ibu Melinda.


"Baru jam setengah delapan malam Mah." Jawab Almira sembari menatap ke arah jarum jam dikamar itu.


"Baik Mamah." Ujar Almira dan kini ia sudah keluar dari kamar ibu nya.


Ibu Melinda segera memakai pakaian baju tidur nya dan setelah berdandan ala kadar nya, ia keluar kamar menuju ruangan meja makan. Disana Almira sudah menunggu Mamah nya datang dan masakan untuk makan malam sudah di siapkan oleh para pembantu rumah itu. Kini Almira dan Ibu Melinda makan malam dan mereka lanjut bercerita lagi soal mantan suami nya Ibu Melinda sekaligus Ayah nya Almira itu.


"Tadi Papah mu bilang apa saja kepada mu waktu ia datang kemari?" Tanya Ibu Melinda dan Almira menjawab nya.


"Papah hanya menanyakan soal sekolah ku dan hanya melepas rasa rindu saja."


"Hanya itu saja?" Almira mengangguk sambil berkata,

__ADS_1


"Papah bilang, Hari ini ia akan pergi ke Amerika dan akan menetap disana bersama keluarga nya."


"Baguslah." Ucap Ibu Melinda datar saja.


"Memang nya bagus kenapa Mah?" Tanya Almira penasaran.


"Bagus karena Papah mu tak akan menganggu ketenangan hidup kita lagi."


"Ahh Mamah masih saja membenci Papah. Huh!" Ucap Almira mendengus cemberut.


"Sudah cepat makan malam nya, besok kamu harus masuk kuliah Mira. Dosen mu pasti akan menelpon Mamah lagi soal kesehatan mu itu."


"Iya Mamah." Ucap Almira masih agak cemberut.


Jam setengah sembilan mereka selesai makan dan disaat Almira memakan makanan penutup yaitu pisang, Almira pun mual dan memuntahkan isi perutnya.


"Almira!? Kamu kenapa Nak...???" Tanya Ibu Melinda panik dan saat itu para pembantu semua nya dipanggil oleh Ibu Melinda. Almira segera memakai tisue untuk mengelap bibir nya dan Ibu Melinda memarahi para pembantu karena dianggap telah memasukan sesuatu dimakanan karena telah membuat Almira muntah-muntah.


"Sudah cukup Mah, mereka tak bersalah. Almira mual-mual begini karena pisang yang akan Almira makan ini." Ibu Melinda mengerutkan dahi nya tanda ada yang aneh pada Almira.


Para pembantu yang ada disitu pun menatap Almira yang masih sedikit mual-mual. Bagi seorang perempuan yang sudah pernah melahirkan, pasti mereka memahami ciri-ciri muntah yang mereka alami ketika di awal masa kehamilan. Ke tiga pembantu dan Ibu Melinda sendiri pun sudah bisa menebak bahwa Almira muntah-muntah seperti itu bukan karena alergi atau pun masuk angin, melainkan karena kontraksi awal mula masa kehamilan.


"Almira jangan-jangan kamu..." Ucap Ibu Melinda tak meneruskan ucapan nya.

__ADS_1


"Apa maksud perkataan Mamah itu?" Tanya Almira tak paham dan Almira segera minum air namun mual-mual lagi. Kali ini tak sampai memuntahkan isi perut nya karena sebelumnya sudah terkuras semua nya. Para pembantu sedang membersihkan muntahan Almira itu dan Almira lalu pamit kepada ibu nya untuk masuk kamar. Almira bilang diri nya sudah mengantuk dan Ibu Melinda terdiam membiarkan anak nya pergi.


__ADS_2