
Seusai sarapan, Oceana langsung sibuk mencari pakaian untuk menemui Rafanza. Perasaannya ini berbunga-bunga, meskipun Ia sudah lama memutuskan untuk tidak menyukainya lagi. Tapi kesempatan ini tetap membuatnya bahagia.
Akhirnya....
Setelah memakai setelan jeans dan pakaian kasual longgar yang lembut bewarna putih. Oceana keluar kamar sambil mengalungkan tas bewarna biru senada dengan jeans yang dipakainya.
"Ma, Papa udah berangkat?"
"Iya tadi Papa kamu buru-buru"
"Ma, Mbak aku berangkat dulu ya" Bagas sudah rapi dengan setelan seragam sekolahnya.
"Hati-hati ya Gas!"
"Oke Mah" Bagas memperlihatkan sikap seperti hormat upacara.
"Kamu masih bawa motor Gas?. Nggak takut ditangkap polisi kamu?"
"Ah enggak Mbak, lagipula kan aku pakai semua pengaman. Nanggung Mbak dikit lagi aku bisa pakai SIM kok"
Iya memang jarang sekali dia akan kena razia. Lewatnya di gang sempit dan jalan tikus sih.
"Dikit lagi tetap aja kan belum legal Bagas"
"Ah Papa bilang asalkan aku bisa jaga diri nggak apa-apa kok Mbak"
Bambang dahulu juga tipe anak lelaki yang bandel. Seusia Bagas ia juga seorang berandal yang disiplin. Meskipun sering nakal atau bolos, namun tidak mengabaikan kesopanan dan etika.
Sifat Bambang ia turunkan pada Putri dan Putranya. Dimana pun berada, harus tetap rendah hati dan waspada.
"Sean, kamu sekarang mau kemana?"
"Mau ketemuan sama Kak Rafa Ma"
"Bukannya udah selesai?"
"Nggak tahu Ma, kan dia atasan mana tau ini kerja sambil refreshing lagi"
"Yaudah yang penting kamu hati-hati ya!"
"Siap Ma, oh ya Ma. Jaket yang aku bilang punyanya Kak Rafa, Mama tolong lihatin ya. takutnya basah kena hujan lagi!"
"Iya pasti Mama lihatin"
Tak lama kemudian, Rafanza datang. Entah mengapa ia memakai setelan yang senada dengan Oceana. Baju kaos putih dilapisi kemeja biru tua dengan celana sejenis jeans lebih gelap.
Kok bisa pakai baju samaan dengan Kak Rafa sih
Mesin mobil dihidupkan...
"Kita bisa disangka janjian Lo Sean"
"Bukannya emang kita janjian ketemu ya?"
"Maksudnya pakaian kita"
"Oh iya Kak Rafa, mungkin cuma kebetulan"
"Nggak ada yang namanya kebetulan tanpa campur tangan takdir Sean" Suara Rafanza tidak terdengar karena klakson mobil dan riuhnya bunyi motor.
"Kak Rafa bilang apa?"
"Enggak kok"
"Kita mau kemana ya Kak Rafa?"
Jangan bilang kita mau kerja. Please
"Kita ke tempat yang bagus.. aku lihat selama 5 hari di perkebunan ekslusif Perusahaan, kamu senang banget"
"Itukan karena kerjaan" gumam Oceana.
"Apa?"
"Enggak Kok Kak Rafa, iya aku senang banget" Oceana menjawabnya malas.
__ADS_1
"Kamu jadi lunglai begitu. Tenang aja, aku nggak akan nyuruh buat kerja. Kan aku udah bilang buat refreshing"
"Beneran Kak Rafa?" Oceana mulai merekah.
"Iya lah"
Akhirnya mereka berhenti di sebuah tempat rekreasi dan Taman. Disana juga terdapat Danau yang bisa dijajal dengan sebuah perahu.
"Bukannya ke tempat ini harus ada reservasi dulu ya Kak Rafa?"
"Aku udah lama reservasi tempat ini, rencananya mau melihat kebiasaan konsumen sama Ajib. Tapi Ajib kan nggak seru, responnya pasti nggak alami"
"Ooh gitu ya Kak Rafa"
Heh tetap aja ujung-ujungnya minta aku kasih respon. Kerja nih pasti
"Sean kamu tenang aja, aku nggak akan nyuruh kamu ngapa-ngapain. Kamu tinggal nikmatin aja
Kok Kak Rafa tau isi pikiran aku?
"Mm aku ikut bantu Kak Rafa aja gimana. Kalau Kak Rafa butuh pendapat aku, aku bersedia bilang dengan jujur tanpa ditutupi"
"Kalau kamu bersedia aku sangat berterima kasih"
Mereka bertanya mengenai orang-orang yang datang ke tempat itu. Apa yang mereka keluhkan dan lainnya.
Selagi Rafanza bertanya kepada seseorang, ia melihat Oceana. Sedang fokus menatap pasangan yang naik perahu.
Rafanza menghampiri Oceana, "Sean kamu mau naik perahu?"
"Hah apa Kak Rafa?"
"Kamu mau naik perahu nggak?"
"Enggak Kak Rafa. Apa kita perlu mewawancarai orang lain lagi?"
"Enggak ini udah kok. Biar aku suruh Ajib mengatur Tim ke tempat ini"
Rafanza meminta Oceana ikut dengannya. Ternyata mereka mendekati penanggung jawab untuk Perahu.
"Ayo Sean!"
"Iya emang kenapa?"
"Tapi kan"
"Tenang aja, kan aku bilang kita refreshing"
Mereka menaiki perahu itu berdua. Oceana menikmati suasana dengan menutup matanya merasakan perasaan alami.
"Sean, kamu mau aku fotoin nggak?"
"Nggak Kak Rafa, aku nggak suka foto"
"Nggak suka?"
Iyalah, aku nggak mau dikatain terlalu Chubby, gendut banget bengkak banget sama orang
"Ya nggak suka aja Kak Rafa"
"Kalo gitu kamu tenang!"
Rafanza mengambil foto Oceana. "Nah sudah aku ambil"
"Iih buruan hapus kak Rafa, malu"
"Bagus kok" Rafanza melihat ponselnya.
"Tapi kan"
"Kamu suka posting sesuatu Sean?"
"Paling posting gambar pemandangan kaya gini Kak Rafa"
"Ya udah foto kamu kamu simpan sendiri saja. Kamu bisa posting foto pemandangan. Nanti aku kirim ya"
__ADS_1
" Yaudah deh. Jangan kirim ke Bagas Kak Rafa!"
"Enggak, aku kirim ke kamu"
****
Seusai makan siang bersama, Rafanza mengajak Oceana ke sebuah tempat permainan. Tempat yang menjadi favoritnya Bagas kalau saja ia berada diantara mereka.
"Kalau Bagas ikut pasti semuanya bakal dijajal sama dia Kak Rafa"
"Oh ya. Kalau kamu gimana?. Nggak suka tempat ini?"
"Bukannya nggak suka, tapi kalau aku bareng Bagas, pasti kalah Mulu"
"Kalau kamu main sama aku gimana?"
"Kak Rafa juga mau ngalahin Aku?"
"Enggak kita seru-seruan disini"
Mereka memainkan setiap permainan. Ada balapan, Game AR. Di tempat Basket, bahkan Oceana menang, ia senang bukan main.
"Akhirnya aku bisa menang permainan ini"
"Emangnya kamu nggak pernah menang?"
"Kak Rafa tahu kan, Di Bagas itu anak basket. Ini mah kecil buat dia"
Rafanza terlihat Cool ia seperti pacar idaman semua cewek. Bahkan beberapa cewek yang berpapasan terpesona dengannya.
'Siapa tu ganteng bangettt, Eh tapi yang gendut itu siapa, pakai baju samaan. Nggak mungkin itu pacarnya kan. Adiknya kali atau kakaknya atau tantenya.'
"Tante??" Oceana menatap sinis cewek yang bilang ia tantenya Rafanza.
Rafanza merangkul bahu Oceana "Kamu mau itu nggak?"
Rafanza menunjuk sebuah gerobak tempat pembuatan permen kapas.
Aduuh gula lagi gula lagi. Aku lagi berusaha DIETT Kak Rafa aaa
"Aku nggak laper Kak"
Rafanza melihat jam tangannya "Oh ya makan malam ? "
"Nggak maksud aku bukan laper"
Dasar, ganteng-ganteng kok Budek sih
"Aku beliin kamu permen kapas dulu kamu tunggu disini oke!"
"Oke"
Ikutin aja deh Mungkin Kak Rafa lelah, jadi pendengarannya agak kurang
Jadilah Oceana menenteng permen kapas berjalan sebelahan dengan Rafanza.
Awalnya Rafanza terlihat Cool saat menaiki berbagai wahana. Hingga tibalah mereka di rumah hantu.
Mereka berjalan urut bagai anak TK. Sampai satu hantu mengagetkan mereka.
Rafanza memeluk Oceana reflek. Terdengar suara deg deg deg jantung berdebar kencang.
Oceana melepaskan pelukan Rafanza." Maaf Kak Rafa"
Akibat tergesa, kening Oceana terantuk ke dinding. "Awww" ia meringis kesakitan.
"Kamu nggak apa-apa Sean?. Aku yang minta maaf karena meluk kamu tiba-tiba. Kamu jadi nabrak...."
"Nggak apa-apa kok Kak Rafa, kepala aku sekeras batu makanya sering dibilang kepala batu"
Rafanza tersenyum tipis mendengar Oceana. "Sebelum aku antar kamu pulang, kita ke suatu tempat lagi ya!"
"Kemana lagi Kak Rafa?"
"Ke rumah aku. Mama mau ketemu kamu"
__ADS_1
Hah ke rumahnya Kak Rafa?. Aku mimpi apa?
Bersambung....