
Agatha duduk di sebuah kursi dengan suguhan malam yang indah. Ia terus kepikiran dengan apa yang sudah ia lakukan untuk Ratu.
Tirta membawa dua buah americano dan duduk di samping Agatha. Ia memberikan satu dari minuman untuk Agatha.
"Mungkin sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi Tirta"
"Kenapa memangnya?"
"Aku tidak merasa lebih baik. Aku menjauhkan sahabat yang aku anggap sebagai adik"
"Kamu menyalahkan apa yang kamu lakukan tadi di Perusahaan?"
Agatha mengangguk. Bukannya membela Ratu, ia justru mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin kalau ia mengiyakan apa yang disampaikan Ratu, tidak akan semakin renggang hubungan mereka.
"Justru aku merasa yang kamu lakukan itu sudah benar, Agatha" Tirta menyeruput kopinya.
Tirta juga membuat pilihan yang sama waktu itu. Ketika memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungannya dengan Agatha. Mungkin jika waktu itu ia menerima sifat Agatha seperti awal pacaran, memaklumi dan terus memaklumi semua akan berjalan sesuai alurnya.
"Tapi aku salah. Aku tahu jika kita tetap melanjutkan hubungan. Aku akan makin tersiksa karena tidak sanggup merubah sifat buruk kamu. dan kamu juga nggak akan nyaman karena tindakan kamu selalu bermakna salah di mataku" Tirta menyeruput kopinya lagi.
"Lalu, apa sekarang kamu menyesal Tirta?"
"Menyesal kenapa?"
"Meninggalkan aku"
"Tidak, aku sangat bersyukur karena kamu sudah mau berubah. Aku juga tahu kalau Lowongan pekerjaan itu kamu juga yang kasih ke Ibu"
Agatha menaruh rambut ke belakang telinganya "Kamu sudah tahu ya"
"Cepatlah minum, kamu suka americano bahkan di malam hari"
Agatha menyeruput minuman itu. Ia merasa nyaman, apalagi Tirta yakin jika Ratu sadar apa yang dilakukan Agatha demi kebaikannya sendiri.
........
"Sean kamu yakin tidak ada yang perlu diceritakan?" Rafanza bertanya sekali lagi.
Mimik wajah Oceana tetap sama. Ia tersenyum ke kamera mengatakan bahwa tak ada yang ingin ia ceritakan.
"Kalau gitu, Game yang itu bagaimana?"
"yang itu?" Oceana tertawa padahal Rafanza tidak sedang membuat lelucon.
"Ia game rancangannya?"
"Katanya besok mau diperbaiki dulu. Bukannya tadi kalian sudah mengobrol?"
"Dia terus berterima kasih dan bilang Kakak Ipar. Aku jadi Salting dan buru-buru Sean"
Oceana tertawa lagi "Bagas itu emang aneh Kak Rafa"
"Oh ya Sean, kamu tidak usah memikirkan kejadian tadi. David sudah menyelesaikannya. Ratu akan berurusan dengan Manajemen Etika"
"Bagus deh Kak Rafa. Waktu itu kan cuma Agatha yang kesana padahal kan dia terlibat "
"Sean, jangan bilang kamu dendam dengan plagiat waktu itu"
__ADS_1
"Enggak Kak Rafa. cuma agak kesal aja"
Lanjut obrolan mereka membahas banyak hal di luar pekerjaan. Seperti biasa saling puji dan goda satu sama lain. Mengutarakan rindu yang geli meskipun mereka mendengar antar pasangan.
.......
Di tempat lainnya Jagad dan Ivan sedang asyik-asyiknya menikmati gaji mereka. Ikut konser Rockers sembari teriak-teriak di bawah panggung.
"Emang kalau sumpek di kerjaan obatnya ini" Ivan setengah teriak.
"Apa Lo bilang, Gue nggak denger" Jagad asik mengeluarkan hampir seluruh bagian pita suaranya bernyanyi.
"Dasar Lo budek"
"Apa?"
"Budek"
"Hah??"
.......
Di sisi lainnya....
David berlatih mengucapkan ajakan untuk Malika.
"Malika skill kamu boleh juga. Mau tanding nggak?"
"Ehmm ehmmm Malika, Rafanza itu ahli game kalo kamu bisa ngalahin aku.. Kamu bisa nantangin dia. Kamu bisa yakin sebenarnya aku lebih jago dari dia hahhhhha"
Belum selesai latihan.... David sudah menerima panggilan dari Malika. Ia berdehem sebentar baru mengangkat panggilan.
"Pak, saya penasaran dengan satu hal."
"Penasaran apa?"
"Saya tahu Bapak kompeten di Perusahaan." Malika berhenti sejenak.
"Iya terus?"
"Tapi mengenai Game yang kita mainkan. Sean bilang Bapak ikut dengan alasan lebih jago. Tapi waktu kita setim. Kenapa saya lebih banyak menyelesaikan misi dibanding Bapak. Bahkan Sean menyerahkan hampir 90 persen misi buat pacarnya"
"Maksud kamu apa sebenarnya Malika?"
"Padahal kan Bapak yang laki-laki. Kok saya yang..."
"Eh Malika, Oceana bermain dengan pacarnya. Kamu dan saya atasan dan bawahan. Kamu bekerja lebih banyak apa salahnya"
"Ooh begitu ya Pak"
Malika mengajak David bermain game bersama. David bisa menentukan jenis game apa saja yang akan mereka mainkan. Jika Malika menang lebih banyak David harus memenuhi satu permintaan darinya. Jika ia memiliki presentasi kalah lebih sedikit, maka berlaku sebaliknya.
David menyetujui hal tersebut. Ia sudah mulai berandai-andai apa yang akan ia berikan kepada Malika nantinya jika ia berhasil menang lebih banyak.
......
Di lain sisi Bahas akhirnya tahu apa yang terjadi dari ponsel Pak Bambang. Beberapa orang mengucapkan permintaan maaf karena tidak bisa berbuat banyak.
__ADS_1
"Pa" Bagas menghampiri Papanya.
Meminta banyak penjelasan tapi Pak Bambang terus mengelak. Bu Omai juga hanya bisa diam saja hingga Oceana mengakhiri Video Callnya dengan Rafanza.
Oceana keluar dengan piyamanya melihat apa yang yang terjadi.
"Mbak, Mbak Sean juga tahu hal itu?"
"Apa Gas?"..
"Papa diberhentikan secara tak hormat hanya karena Tuan Bayu?"
"Kamu tahu dari mana?"
"Nggak penting aku tahu darimana Mbak"
"Kamu ngehack Ponsel Papa ya. Itu nggak baik Gas kamu ngelanggar privasi"
"Terus aku akan terus diam tanpa tahu apa yang terjadi. Sementara seluruh anggota keluarga tahu masalah ini" Bagas Menahan diri
"Kamu tidak perlu tahu. Pikirkan saja sekolah kamu"ujar Bu Omai.
"Kenapa Papa harus minjam ke Bank padahal Papa nggak ada kriteria yang lengkap?"
"Bagas" Bu Omai menyuruh Putranya itu berhenti bicara
Oceana segera menarik lengan adiknya pergi. Pak Bambang hanya bisa tertunduk lemah. Apa yang dikatakan Bagas memang benar, ia bahkan tidak bisa memenuhi kriteria sebagai peminjam.
Apa yang akan ia lakukan dengan skillnya yang tak seberapa. Bekerja pun dulu ia meniti karir dari awal karena Bosnya kasihan. Ia juga tak mungkin menyalahkan bosnya yang sudah sangat baik, yang terpaksa demi kelangsungan Perusahaan dan karyawan lainnya.
Oceana menutup pintu "Bagas berapa Kali Mbak bilang. Jaga mulut kamu kalau lagi marah"
"Kalian selalu menganggap aku anak kecil" Bagas menangis .
Oceana duduk di ranjang meminta adiknya ikut duduk "Ada beberapa hal yang begitu berat disampaikan Gas. Apalagi ini juga berkaitan dengan Mbak"
"Maksud Mbak apa?." Seketika Bagas berhenti menangiis. Kalau kakaknya itu menderita juga siapapun akan ia jadikan perkedel.
Mendengar semuanya perintah Tuan Bayu yang begitu terkenal. Bagas diam, mereka tidak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki pengusaha kaya raya teladan banyak orang dan sering sekali masuk surat kabar tersebut.
"Kalo gitu, kenapa kita tidak bangkit sendiri Mbak"
"Iya Gas, Papa juga lagi cari cara buat bangkit. Makanya ambil dana ke Bank walaupun nggak bisa juga. Atau atas nama aku aja ya" Tiba-tiba saja Oceana memikirkan hal tersebut.
"Apa kalian semua melupakan aku?" tanya Bagas
Pak Bambang ingin memperluas Toko dan mengembangkan bisnis toko selain alat tulis. Ia ingin mendapatkan modal dari Bank.
Bagas mengeluarkan buku tabungannya. Sejak kecil semua yang dari lomba yang ia ikuti selalu masuk ke dalam tabungan itu. Karena Pak Bambang dan Bu Omai memang tak pernah ingin mengambilnya.
"Papa bisa pakai uang itu dulu buat Toko. Buat modal kan?"
"Tapi kamu juga harus kuliah Gas"
"Isinya ada banyak Pa. Aku juga sebenarnya sedang mendaftar untuk beasiswa. Aku yakin bisa masuk dengan beberapa sertifikat yang aku miliki. Apalagi Game yang aku kembangkan"
Oceana memeluk adiknya. Memang ia sendiri yang terlalu mendramatisir keadaan. Padahal adiknya itu selalu tidak terduga. Bahkan Pak Bambang juga tak menyangka bahwa putranya sendiri punya simpanan pribadi, mengapa repot-repot pergi ke Bank
__ADS_1
Bersambung.....