
Beberapa hari kemudian....
Bagas dilarang menyebut Kakak Ipar juga menyebut Nama Rafanza di rumah. Hal itu cukup memberatkan karena ia harus berterima kasih pada Rafanza.
Akhirnya Bagas menemui Rafanza ke Perusahaan. Meskipun banyak karyawan yang sudah pulang, Rafanza masih sibuk dengan komputernya.
Usai berterima kasih Bagas langsung pamit pulang. Tetapi Ajib dan David, bahkan Budi yang ikut nimbrung disana menghentikannya.
"Apa lagi ya Kak?"
"Biarin dia pergi, kenapa kalian nahan dia"
"Rafa, kenapa nggak Lo tanya keadaan Oceana sama dia" ujar Ajib.
Rafanza berhenti menatap komputernya. Bunyi ketukan yang sedari tadi sibuk tik tik tik juga berhenti.
"Malika bilang Oceana bahkan nggak mau tahu dan nggak mau nyebut nama Rafa di rumahnya" ucap David yang ia ketahui sendiri dari Malika yang datang mengunjungi Oceana.
"Bener Kak, kalo gitu aku pulang ya" Bagas mencoba melepaskan cengkraman tangan para lelaki yang setia pada Rafanza itu.
"Sean pasti sangat membenciku" suara Rafanza terdengar lemah.
"Aku nggak tahu apa masalahnya. Tapi aku pikir Mbak Sean nyalahin dirinya sendiri"
"Bukan Sean, aku yang salah" imbuh Rafanza sekali lagi.
"Tapi Lo lakuin ini demi Sean kan. Lo bahkan hampir mati gara-gara terlalu memikirkan Oceana tahu nggak" Ajib mengeraskan suaranya agar Bagas ingat hal itu.
"Jadi gara-gara Kak Rafa " Bagas kini marah
"Kayaknya kamu salah paham. Maksud kita Rafanza berkorban buat Sean" Ajib menahan Bagas.
"Mbak Sean nggak ada semangat berhari-hari. Dia bilang dia punya kesalahan hingga dipecat. Jadi ini gara-gara pacarnya" Bagas mengeluarkan suara dengan nada berbeda
"Iya, ini gara-gara pacarnya yang tidak becus." jawab Rafanza yang menimbulkan kesalahpahaman.
Bagas berniat memukul Rafanza karena berani membuat Kakaknya bersedih. Namun David sudah lebih dulu menarik bocah itu keluar ruangan dengan otot-otot tangannya yang berisi.
"Rafa, Lo malah bikin adiknya salah paham tahu nggak. Padahal gue udah mancing dia biar Oceana tahu perjuangan Lo buat dia"
"Tapi gue nggak berguna Jib, nggak ada bukti siapa yang bilang Oceana terlibat"
"Bukannya ada di rekaman itu"
__ADS_1
"Rekaman itu ilegal, pengacara yang diambil Bokap Lo masih belum bisa nyelesaiin masalah Mamanya Ratu apa?"
"Lagi proses Rafa, Lo nyusahin Bokap gue aja. Untung Bokap Gue mau karena Tuan Bayu itu saingannya"
"Makanya gue kasih kesempatan buat Bokap Lo"
David kembali ke ruangan tersebut. Ia dipenuhi keringat saat mengusir Bagas pergi.
"Adiknya Oceana, sama bar-bar nya dengan dia kalo lagi emosi" David mengatur nafas.
"Berhasil" Budi sampai berdiri karena saking senangnya.
Budi berhasil mendapatkan bukti dimana suruhan Tuan Bayu memberikan file pada Karyawan dari Perusahaan xxxx yang mendapatkan rahasia perusahaan yakni metode promosi. Juga berhasil mendapatkan bukti transaksi yang diterima karyawan tersebut.
"Akhirnya..." Serentak mereka berucap lega.
Setelah berhari-hari melewati hari yang sibuk dan melelahkan. Tampaknya secercah cahaya kebenaran selangkah ada di depan mata mereka.
......
Saat masih bersuka cita, tiba-tiba pintu ruangan diketuk seseorang. Mereka berempat menengok pintu bersamaan.
"Siapa yang ngetuk pintu?" tanya Rafanza.
"Gue rasa semua orang udah pada pulang." ujar David.
"Kok gue?" Budi merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Bukain aja, dia bukan hantu" Rafanza dengan santainya menyebut hak horor itu menambah kengerian ruangan.
"Kenapa Lo sebut?" David marah.
"Malu sama otot Lo dong" Rafanza berjalan menuju pintu.
Ternyata Nora yang ada di balik pintu bersama pacarnya Genta. Mereka duduk berhadapan dengan 4 lelaki yang sudah menerka-nerka pintu diketuk hal mistis.
"Kalian mau ngaku pacaran?" tanya David.
"Bukan pak" Genta mengelak.
"Kami menang pacaran Pak. Tapi bukan itu yang ingin saya sampaikan" Nora menampakkan ekspresi serius di wajahnya .
"Sepertinya ini masalah serius" tebak Budi.
__ADS_1
"Wajah dia emang selalu begini" David sebagai Pemimpin Tim tahu hal itu dengan jelas.
Nora tidak yakin apakah rekaman pembicaraan Antara ia dan Ratu bisa membantu atau tidak. Tapi setidaknya, ia ingin Oceana kembali ke Perusahaan. Meskipun awalnya ia tidak mau ikut campur, namun kehilangan Oceana membuatnya merasa bertanggung jawab karena tahu dalang dari peristiwa tersebut.
........
Nora dan Genta bahkan ikut pergi menemui Oceana. Oceana mendengar rekaman tersebut, ia berterima kasih jika Nora melakukan hal itu untuknya.
"Sean, apa kamu tidak penasaran kenapa aku memutuskan untuk bantu kamu?" Pertanyaan itu sudah disiapkan Nora sebelumnya.
Rupanya dahulu, mereka magang di Perusahaan Pemasaran yang sama. Waktu itu Oceana membantu Nora agar tetap mendapatkan nilai sewajarnya dari tempat Magang.
Meskipun Nora tidak banyak memberikan bantuan. Tetapi Oceana bersikeras bahwa Nora memiliki peran penting dalam hasil karya mereka para Mahasiswa magang. Jika tidak ada andil Nora, maka hasil mereka tidak akan sebagus itu.
Nora justru marah dan kesal terhadap bantuan Oceana. Ia pikir Oceana hanya suka cari muka saja. Ia bukannya berterima kasih justru meminta Oceana bersikap tidak mengenalnya jika mereka bertemu lagi.
Nora mendapatkan informasi tentang lowongan pekerjaan di Perusahaan E-commerce milik keluarga Rafanza juga dari Oceana. Saat itu, ia juga menyerah dengan mencari pekerjaan. Tetapi di grup mahasiswa magang mereka, Oceana tidak segan-segan memberikan informasi lowongan pekerjaan meskipun ada kemungkinan ditikung.
"Kamu selalu membuat aku kagum Sean. Tidak peduli seberapa keras aku tidak percaya kamu. Tapi kamu selalu hebat dengan cara kamu"
"Kamu juga Nora. Aku juga selalu kagum dengan kepercayaan diri dan ketegasan yang kamu miliki"
Nora pamit bersama Genta. Oceana mengantar mereka hingga ke pagar depan pekarangan.
"Ada satu lagi Sean"
"Apa Nora?"
Nora melihat sekitar dan memastikan tidak ada siapa-siapa.
"Aku berterima kasih karena kamu merahasiakan hubungan aku dan Genta. Aku tahu kamu pernah melihat kami .." Nora menggaruk kepalanya.
"Tidak masalah, aku bukan orang yang bermulut besar" Oceana tersenyum.
"Karena itu aku akan beritahu kamu satu hal"
"Apa?"
Nora bilang, Rafanza benar-benar sangat tersiksa demi mencari pelaku yang menjebak Oceana. Ia juga tidak sengaja melihat Rafanza yang diam-diam menguping Malika bertelepon hanya karena ingin dengar suara Oceana.
Oceana juga tahu hal tersebut dari Malika sendiri. Namun ia mengira itu hanya cara Malika menghiburnya saja, tidak menyangka banyak orang yang tahu hal tersebut.
Mungkin Rafanza memang selalu profesional. Tetapi jika menyangkut Oceana, adakalanya ia menjadi rapuh dan bahkan menangis. Rupanya bukan hanya Oceana saja yang menyesal dengan apa keputusan mereka waktu itu.
__ADS_1
Kepergian Nora dan Genta semakin membuat Oceana gelisah. Haruskah ia buang jauh-jauh rasa gengsinya dan pergi berlutut meminta Rafanza kembali. Haruskah ia teriakkan pada Dunia kalau ia juga mencintai Rafanza dengan sangat dalam.
Bersambung....