Miss Cute And Her Sunshine

Miss Cute And Her Sunshine
Semua Punya Masa Lalu


__ADS_3

Oceana tetap masuk bekerja. Namun semua orang tampak membicarakannya. Semenjak dari pintu masuk hingga seluruh lorong Perusahaan.


Oceana duduk di mejanya. Malika tahu bukan Oceana pelakunya. Ia terus menyemangati Oceana.


"Belum satu Minggu bekerja. Tampaknya kehadiran kamu adalah biangnya masalah ya Ocean" Agatha baru saja datang, dan sudah memancing emosi.


Saat Malika ingin membalas perkataan Agatha, Oceana menahan agar Malika tenang.


"Biarin aja Lika, yang penting aku gak salah"


Sudah seminggu, Ivan belum juga masuk bekerja. Sementara rumor sudah merajalela.


Banyak karyawan yang memandang Oceana ngeri. Membicarakan bahkan menyindir Oceana adalah pelaku yang tak tahu diri. Melakukan kejahatan tapi tak mau mengakui hanya karena dendam.


Oceana terlihat tak peduli, ia sebelumnya sudah bertemu dengan Rafanza dan menjelaskan semuanya secara detail.


Rafanza meminta Oceana agar tidak meladeni apapun sebelum semuanya jelas. dan menunggu jawaban dari penyelidikan David dan Rafanza.


****


Hari yang ditunggu pun tiba...


Ivan masuk bekerja, wanita yang sudah memberikan kacang pada minuman kadaluarsa tersebut datang ke Perusahaan.


Ia berdiri disana di depan meja para Karyawan masa percobaan. Dimana biasanya David yang menguasai tempat tersebut.


Rafanza menyiapkan dua satpam untuk menjaga agar wanita itu tidak kabur. Wanita itu berjanji akan mengakui kesalahannya dan menyerahkan diri ke kantor polisi karena Rafanza sudah melaporkannya.


Banyak karyawan lain yang ikut melihat dri balik dinding kaca. Beberapa mengambil potret betapa langkanya kejadian seperti ini.


"Kamu ingat aku Ivan?" tanya wanita itu.


"Enggak, kamu siapa sebenarnya?" Ivan menahan emosi.


"Kalau kamu Jagad?" kali ini pada Jagad.

__ADS_1


"Enggak, Kamu siapa sih?" Jagad kebingungan.


Mendengar jawaban Ivan dan Jagad, wanita itu lalu tertawa. Begitu lama, sampai meneteskan air mata.


Lalu wanita itu mengusap air matanya. "Seharusnya aku sekalian bawain buat kamu racun juga Jagad, biar bukan Ivan aja yang kena"


"Jangan bicara yang tidak-tidak, kamu bisa dihukum atas percobaan pembunuhan" Rafanza menegurnya.


"Iya, kamu janji datang untuk minta maaf kan" David menambahkan.


"Kenapa?. Kenapa aku yang harus minta maaf sama pembully kayak mereka?"


Ternyata wanita itu adalah korban Bully dari Ivan dan Jagad. Hingga saat Ivan benar-benar membuat ia tak tahan hingga pindah sekolah.


"Iya benar, ini akuu cewek gendut jerawatan dan kepala botak sebelah. Kalian ngejek sampai di hadapan orang tua akuu. Kalian ngancurin mimpi aku kalian bikin aku maluu" wanita itu meninggikan suaranya.


Wanita itu mengeluarkan semacam pisau lipat dari sakunya. "Toh aku juga akan masuk kantor polisi, biar sekalian aja aku rusak wajah kalian dan tubuh yang kalian banggakan"


Saat Oceana mencoba menahan tangan wanita tersebut. Dengan sigap Rafanza sudah melumpuhkannya hingga Pisau itu terlempar.


"Kamu bilang mau mengakui kesalahan kan!" ujar Rafanza.


Karena tak sesuai harapan. Akhirnya wanita itu dibawa ke kantor polisi. Semua bukti sudah diserahkan.


Oceana menatap wanita itu. Tatapan mata yang marah pada Ivan dan Jagad.


****


Saat semua orang sudah beranjak pergi....


"Rasain, biar tau rasa dipenjara" Jagad memperlihatkan senyumnya.


Oceana mendengar ucapan Jagad, ia tak tahan lagi untuk menahan diri. Ia berjalan mendekati Jagad dan menampar pipi Jagad.


Plak...

__ADS_1


"Kamu gila ya Oceana, mau kita laporkan juga ke polisi, biar sama kayak dia" Jagad marah dengan pipinya yang memerah.


Saat mau nampar balik ke pipi Oceana, Rafanza menahan tangan Jagad. Memang Rafanza sangat sigap untuk hal-hal seperti itu.


"Lepasin saya pak, dia udah nampar saya, saya harus balas"


"Laki-laki harus tahu cara ngalah" perintah Rafanza.


"Kenapa saya ngalah, dia yang duluan Pak" Jagad tak terima.


"Kamu juga punya keinginan buat balas pas aku tampar kan Jagad, Terus gimana sama perlakuan kamu sama dia. Kenapa dia gak bisa balas kamu hah?" Oceana bergetar, tangannya tergenggam erat, air mata tertahan di dua bola matanya yang berkaca-kaca.


"Eh kok jadi kamu yang ikutan Oceana. Itu udah tahunan, kita masih SMA saat itu Harusnya dilupakan lah" Jagad masih belum berhenti membela diri.


"Maksud kita itu dulu cuma becanda, tahu kan. Malah dianggap serius ya gitu. Lagian sekarang kita udah 26 tahun, udah dewasa, harusnya kan bisa lebih legowo" Ivan mulai berbicara.


"Bukan masalah dewasa atau enggak. Sakit dari masa lalu gak Mandang usia. Bagi yang ingat, bahkan sampai mau mati pun bakalan tetap ingat dan membekas. Setidaknya ada rasa bersalah dari kalian. Cuma itu kan yang dia mau, kalian harus minta maaf kalau salah........Kalian tahu gak betapa sakitnya luka yang kalian kasih sampai-sampai dia masih belum bisa ngelupain kesalahan kalian sampai saat ini. Mungkin bagi sebagian orang itu hal yang biasa dan gak perlu diingat. Tapi beberapa orang yang terlanjur terluka, hal tersebut akan terus menakutinya dan membangkitkan ingatan buruk masa lalu mereka. Ibarat paku yang udah ditancapkan ke dinding, saat dicabut dinding gak akan kayak semula, kalau ditambal juga bekasnya akan tetap terasa, ingatan-ingatan menyakitkan hati akan terus menyiksa. Jadi, jangan menganggap hanya pandangan kalian bahwa itu mudah dilupakan saja yang diperhatikan. Hargai perasaan orang lain yang tidak sama kadar Indra perasa ya!" Oceana berbicara tenang penuh kesedihan.


Ivan dan Jagad tertunduk dalam. Mereka memang sudah keterlaluan dulu pada Wanita tersebut.


"Iya kita yang salah" ujar Ivan.


"Terus apa yang mesti kita lakuin buat Nebus kesalahan itu?" Jagad seketika ikutan sadar.


"Minta maaf dengan tulus. Kadang hal sederhana yang kalian pikir gak perlu diucapkan. Adalah hal paling ingin di dengar oleh orang yang membutuhkannya" Oceana mengusap air matanya yang mengalir secara tiba-tiba dengan cepat.


Namun bukan hanya meminta maaf. Ivan bahkan tidak memperpanjang masalah tersebut. Wanita itu tidak ditahan di kantor polisi lagi.


****


Rafanza melihat langit-langit kamarnya. Ia membayangkan wajah Oceana saat di kantor.


Apa Dia juga mengalami hal yang sama?. Kenapa kata-katanya begitu dalam dan penuh penghayatan?


Rafanza duduk di ranjangnya. Lalu ia menyuruh Ajib mencari tahu anggota angkatan mereka saat SMA dan angkatan setelah mereka. Rafanza meminta Ajib menggunakan koneksi dan relasi Ajib yang seluas Antartika.

__ADS_1


Semua orang punya Masa Lalu. Ada hal Bahagia maupun Hal Menyakitkan. Jangan anggap sepele Perasaan orang lain. Jangan Lukai dengan Dalam Perasaan orang lain hanya karena berpikir hal tersebut bukan hal yang serius. Karena Bagi beberapa orang, Luka yang mereka dapatkan Sangat Dalam dan Sulit Untuk Menyembuhkannya. Selagi masih ada kesempatan, Jangan Sungkan Mengucap kata Maaf. Jika masih menyimpan luka, Belajar untuk merelakan lebih baik agar diri sendiri tidak tenggelam dalam kemarahan.


Bersambung....


__ADS_2