
Sepanjang malam Oceana curhat dengan Malika di telefon. Oceana takut jika perasaan Rafanza tulus tapi perasaannya yang tidak.
"Aku pikir kamu merasa rendah diri Sean" ujar Malika.
"Aku nggak pernah rendah diri Lika. Mungkin aku memang pernah dihina. Tapi aku udah nggak peduli lagi sejak masuk kuliah. Aku adalah orang yang akan mencintai diri aku dan tubuh yang aku miliki ini" Oceana mengelus perutnya.
Selain itu sepanjang malam Oceana mengingat kembali. Saat ia merasa Rafanza melihatnya dari kejauhan dari lantai dua. Tersenyum kepadanya namun tak pernah ia balas.
Rafanza yang masuk ke kantor karyawan masa percobaan dengan alasan ingin melihat mereka bekerja. Namun sebenarnya curi-curi pandang menatap Oceana sambil tersenyum.
Atau juga Rafanza yang sengaja kadang memberikan beberapa camilan kesukaannya dengan dalih bahwa ia ingin tahu komentar asli dari pelanggan mereka. Rafanza yang mengelus kepala Oceana secara instan karena anggapan Oceana itu juniornya.
Apa mungkin itu semua adalah kode?. Aku bodoh banget sampe nggak nyadar. Nggak mungkin juga Langsung bilang suka dong.
Oceana menyesali perkataan yang ia katakan. Mengapa ia harus sok bijak di hadapan Rafanza. Bagaimana jika Rafanza benar-benar menyerah menyukainya. Oceana berguling-guling di kasurnya.
Setelah itu Oceana mengingat kembali hal penting yang ia lupakan. Ia mengirim sebuah pesan pada Agatha dan Ratu. Isinya mengatakan jangan terlalu percaya pada orang lain.
Oceana menunjukkan hal itu untuk 3 orang sekaligus. Ia yang tak boleh mempercayai Agatha maupun Ratu, serta Agatha dan Ratu jangan terlalu percaya dengan file miliknya bahkan tanpa dirubah sedikitpun. Oceana juga jujur pada mereka bahwa Rafanza sudah melihat file itu juga sebelumnya.
Ratu mau marah pada Agatha tapi ia tahan, Ratu hanya merasa sebaiknya Agatha jangan dekat-dekat dengannya. Andai saja Ratu tidak memakai file pemberian Agatha mungkin ia yang akan menang. Andai saja ia tidak memakai file tersebut, pasti Rafanza tak akan memandanginya layaknya seorang pencuri ide.
Ratu pulang ke rumahnya dengan tangisan. Ratu masuk ke kamar mandi dan berusaha memuntahkan semua makanan yang ia makan. Ia ingat makan lebih dari 3 suap saat di restoran. Nyonya Ideth panik menenangkan dan memeluk Ratu. Mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tetapi Ratu tak terkendali dan terus memasukkan tangannya ke dalam mulut. Memaksa untuk muntah berkali-kali. Hingga Ratu meminum obat tidur beberapa butir saat akan tidur. Ia selalu tak bisa tidur karena dalam ingatannya adalah ia harus belajar. Barulah beberapa saat ia tenang dan tertidur.
Nyonya Ideth menatap wajah putrinya yang basah. Ia menutup mulut menahan tangis menatap tangan putrinya yang luka karena memasukkannya ke mulut. Nyonya Ideth begitu menyesal membuat putrinya harus menjadi sempurna sejak kecil demi ambisi suaminya.
Demi Suaminya dan bahkan dirinya sendiri untuk menjadikan Ratu sebagai kebanggaan keluarga. Bahan yang bisa menumbuhkan jiwa iri semua keluarga karena mereka berhasil membuat anak yang pintar, cantik, sempurna dan lemah lembut.
Selalu seperti itu sejak kecil, ketika Ratu merasa marah ia juga tak boleh marah, ia adalah wanita yang dididik dengan kesempurnaan.
Ketika makan lebih dari 3 suap ia harus memuntahkan apa yang ia makan. Berat tubuhnya tak boleh lebih dari 50 kg, Saat tak sengaja terluka ia akan menempelkan segala macam plester lalu menyamarkan luka, tubuhnya harus halus, bersih tak boleh ada cela. Satu lagi, ia akan belajar terus-menerus bahkan sampai tak tidur, tujuannya agar ia dijuluki anak pintar berkat orangtuanya.
__ADS_1
Nyonya Ideth mengajak Suaminya berbicara. Mengobrol sebentar, tak akan memakan waktu lama.
"Tak bisakah Papa mengirim Ratu untuk berobat?" Nyonya Ideth mulai menitikkan air mata.
"Bagaimana jika kolega Papa tahu Ma. Bisa jadi mereka bilang Putri Papa penyakitan" Tuan Bayu tak mau ambil pusing.
"Apa kolega Papa lebih penting dibanding Ratu. Dia tertekan Pa"
"Kalau begitu suruh dia mengatasinya sendiri. Papa sekolahkan dia, sejak kecil ia sudah pintar harusnya bisa memikirkan solusi" Tuan Bayu meninggalkan istrinya. yang kembali mengisi sendirian di depan pintu kamar putrinya.
...*************...
Tirta duduk di depan sebuah kolam. Cuaca semakin dingin ia menatap jauh ke dekat jalanan yang lalu lalang berbagai mobil.
Agatha duduk di sampingnya. Berusaha menghibur meskipun diabaikan dan ditinggalkan oleh Tirta.
Agatha menyesal karena ia sudah melakukan hal itu dahulu pada Ibu Tirta. Namun ia sudah berusaha berubah.
"Nggak perlu menyesal Agatha, aku nggak mau kamu ungkit masa lalu kita lagi" Tirta berdiri tetapi Agatha menahannya.
Berisi rekaman suara saat Oceana menolak dengan tegas memiliki perasaan untuk Tirta. Bahkan pertanyaan Agatha tentang kemungkinan di masa depan juga langsung ditolak Oceana.
"Aku nggak percaya" Tirta melepaskan tangan Agatha
"Kenapa kamu bisa suka dia Tirta. Dia bukan tipe yang kamu sukai"
"Memangnya tipe yang aku sukai apa. Aku baru ingat, aku menyesal karena pernah menyukai tipe seperti kamu" Tirta pergi tanpa berbalik dan tidak menghiraukan Agatha yang teriak-teriak macam orang gila memanggilnya.
...**********...
"Aku menyesal Ma" Rafanza menatap Nyonya Linda Sendu.
"Kamu menyesal suka sama Sean?"
__ADS_1
"Bukan Ma, harusnya aku nembak dia di tempat yang lebih romantis"
"Memangnya kalau tempatnya romantis bakal diterima pasti?" Tuan Kusuma nimbrung.
"Menurut Mama Sean itu nggak nolak kamu Rafanza. Mungkin dia nggak percaya sama perasaan kamu" Nyonya Linda berspekulasi.
Kalau dipikir-pikir Oceana juga hanya mengatakan jangan menyukainya karena kasihan. Dia tidak bilang bahwa ia tidak menyukai Rafanza secara langsung. Rafanza kembali berbinar, untung Mamanya amat jeli.
"Kamu bisa berguru sama Papa kamu buat bikin dia percaya!"
"Kok Papa sih Ma?"
"Ya siapa lagi, yang bisa meyakinkan keluarga Mama buat nyerahin anaknya tersayang"
"Papa cuma bisa kasih Tips. Kalau kamu serius, kamu harus bisa membuktikan kalau kamu dapat diandalkan dan pastikan kalau kamu adalah Lelaki ideal untuk gadis yang kamu sukai itu. Salah satu caranya, buat dia merasa bahwa kamu hanya memperlakukan dia berbeda kamu tidak melakukan hal yang sama pada gadis lain"
Tuan Kusuma melihat Rafanza mengetik ucapannya di ponsel.
Rafanza berterima kasih kasih dan pergi ke kamarnya.
"Benar-benar jiplakan" Celetuk Nyonya Linda.
"Jiblakan Apa Ma?" Tuan Kusuma kebingungan.
"Jiblakan Papa lah. Jiwa kompetitif dan keras kepalanya benar-benar mengingatkan Mama waktu Papa Muda" ujar Nyonya Linda.
"Namanya juga anak Papa" Tuan Kusuma merasa bangga.
" Papa dulu lebih parah, sengaja nungguin Orang tua Mama hujan-hujanan padahal papa bawa payung kan?" Nyonya Linda mengingat kembali masa mudanya.
"Syutt Ma, itukan Rahasia. Trik Papa, namanya juga Papa cinta mati sama Mama" Tuan Kusuma mencolek Istrinya.
Tapi berkat berbagai trik tersebut. Nyonya Linda Bahkan kedua orang tuanya sangat menyukai Tuan Kusuma. Semoga Rafanza bisa juga menemukan triknya sendiri untuk memperjuangkan gadis yang ia sukai.
__ADS_1
Bersambung...