
Ratu menunggu makan bersama pria yang diatur ayahnya. Sosok Duda yang lebih tua dan suka menggoda. Ratu memilih tempat pertemuan mereka berpindah.
Tempat yang dipilih Ratu adalah sebuah Restoran yang cukup jauh. Dahulu saat ia masuk kuliah namun jurusan yang ia ambil tidak sesuai dengan Ayahnya. Sehingga Ratu berniat untuk tidak mau berhubungan dengan Orangtuanya lagi.
Seorang Pria asing membuatnya sadar. Dia adalah, Pak Bambang. Saat itu sehabis dari toilet Pak Bambang melihat seorang gadis yang sesenggukan. Pak Bambang tak mau jika hal itu terjadi pada Oceana, menangis sendirian tak ada yang tahu. Pak Bambang menasehati gadis asing tersebut. Mendengar nasehat Pak Bambang, Ratu akhirnya memilih bertahan demi Ibunya.
Hampir setiap libur Ratu datang ke restoran tersebut. Ratu melihat Keluarga Oceana kadang datang ke tempat itu. Meskipun lebih sering tidak melihat mereka. Namun ketika keluarga Oceana datang ia ikut senang. Ratu selalu diam-diam melihat interaksi keluarga Oceana. Membayangkan jika keluarganya yang ada disana. Ia yang berada di posisi Oceana.
Bahkan Ratu mendapatkan informasi lowongan kerja tanpa batasan umur maupun asal pendidikan di Perusahaan E-commerce milik keluarga Rafanza adalah karena Oceana. Ia ikut mendaftar dan kebetulan juga lulus dan menjadi yang termuda.
"Dek Ratu, mau pesan apa?" tanya Duda dengan rambut wig yang terpasang di kepalanya.
Pikir Ratu mungkin duda tersebut bahkan sudah botak. Jadi menutupi kenyataan dengan rambut palsu.
"Terserah saja pak" jawab Ratu.
"Dek Ratu memang sangat cantik ya, betul kata Tuan Bayu" Duda tersebut menatap tubuh Ratu terang-terangan.
Duda tersebut memanggil pelayan dan memesan makanan. Begitu banyak, dengan harga yang fantastis juga. Ia menjelaskan kalau makanan mewah dan langka sekalipun akan ia pesan. Karena wajah Ratu memenuhi dunianya. Niatnya mau pamer, kalau Ratu mau dengannya, makanan seperti itu akan terhidang setiap hari.
Sementara itu, Oceana akhirnya datang bersama keluarganya. Di meja yang selalu sama ketika mereka datang sebelum-sebelumnya.
Oceana duduk dengan ayahnya berhadapan dengan Bagas bersama Ibunya duduk. Pak Bambang memesan makanan mahal. Reward yang didapat Oceana tentunya harus berkesan.
Pelayan di tempat tersebut menghampiri mereka. "Ada acara spesial apa ini Pak Bambang?"
"Ini, putri saya dapat hadiah"ucap Pak Bambang.
"Reward karyawan berprestasi Pa" Bagas membetulkan.
"Sama saja Gas!" Bu Omai hampir saja mencubit lengan putranya.
"Waktu itu Bagas dapat menang turnamen kan?. Kok nggak kesini?"pelayan tersebut melihat Bagas.
Oceana dan Ibunya terdiam. Bagas juga menelan ludahnya. Apa tanggapan Pak Bambang atas hal ini.
"Ah biar dia simpan uangnya untuk masa depan. Lagipula dia tetap membelikan kami makanan" ujar Pak Bambang tersenyum.
Hampir lupa bahwa Bagas dan Pak Bambang sudah saling damai. Pak Bambang menerima hobi dan impian Bagas asalkan belajarnya sukses dan Bagas tahu kapan waktu menyerah jika memang tak mungkin. Oceana menarik nafas lega
__ADS_1
Setelah hidangan mereka tersaji. Akhirnya dimulailah obrolan mereka yang asyik. Obrolan keluarga yang selalu diinginkan Ratu.
"Mbak Sean jangan ambil banyak-banyak!. Ntar nambah Gendut" Bagas menggoda Oceana.
Oceana melihat ayahnya, memelas.
Pak Bambang mengambil banyak lauk ke piring Oceana "Biarin Mbak mu makan. Siapa yang berani bilang gendut!"
"Bagas yang bilang Pa" ujar Oceana.
"Biar Papa nasehatin yang namanya Bagas itu"
"Sudah-sudah nggak di rumah. Nggak disini kalian sama saja" Bu Omai mengomentari mereka.
Ratu sesekali ikut tertawa juga dengan kekonyolan Bagas, kelambanan Oceana. Atau lelucon garing yang disampaikan Pak Bambang.
...**********...
Ajib membawa David untuk ikut melakukan kegiatan sosial bersama. Untuk membantu Pak Abdan ayahnya sebagai anggota politisi yang disenangi masyarakat.
"Keluarga Orang Lain kok gini amat ya" Baru saja datang David sudah mengeluh.
"Keluarga gue, keluarga Lo juga David" Ajib menepuk pundak David.
"Ini kalau Lo nggak traktir gue awas ya Jib" ancam David.
Tak lama kemudian Rafanza datang membantu. Begitu juga Malika yang ikut datang.
"Malika diundang juga?" David melihatnya heran, karena tak ada yang akrab dengan Malika dari mereka.
Ternyata awalnya Oceana yang ingin sekali datang. Juga memohon agar Malika juga ikut, tapi ternyata Pak Bambang ingin pergi ke rumah koleganya Minggu berikutnya sehingga Oceana tak jadi pergi. Namun Malika sudah terlanjur bersemangat, sehingga Malika yang jadinya ikut.
Sehabis melakukan kegiatan sosial. Mereka duduk di bawah tenda panitia. Pak Abdan terdengar masih memberikan kata-kata yang entah bermanfaat atau tidak pada masyarakat yang hadir dan makan gratis disana.
Ajib meletakkan makanan mereka satu-persatu. Sebagai ucapan terimakasih tentunya.
"Jangan makanan Mulu yang dihidangkan Jib. Gajiii!" ujar David.
"Makan aja kenapa sih Pak. Lagipula ini kan kegiatan sosial, sukarelawan, kalau digaji namanya bukan kegiatan sosial, tapi Karyawan Pak" Malika membuat Ajib bertepuk tangan.
__ADS_1
"Nah betul sekali Malaika" tambah Ajib.
"Saya Malika Pak"
"Oh ya, maaf sekali Malika. Soalnya David selalu bilang nama kamu Malaika" Ajib menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Ajib melihat Rafanza yang tak menyentuh makanannya. Ternyata Rafanza asyik melihat foto Oceana.
"imut sekali" gumamnya.
Rafanza juga ber-selfie ria. Memperlihatkan aktifitasnya yang pantas dipuji.
"Beneran dah Rafa segitunya Lo sama Ocean, padahal..." David geleng-geleng.
"Padahal apa?...Memangnya kenapa?" Malika membesarkan matanya.
David memutuskan berhenti, lagi-lagi Malika bersikap di luar dugaan. "Bb berani sekali kamu nyolot sama Saya Malaika"
"Kan sekarang nggak kerja pak. Lagipula nama saya itu Malika Pak" Malika menekankan namanya.
David mengangguk sadar sendiri bahwa mereka tidak di kantor, apalagi Malika memanggilnya Pak. "Nama kamu susah diingat" David ngeles.
Melihat cara David memandang Malika. Ajib jadi curiga, walaupun Ajib tak beruntung dalam urusan asmaranya sendiri. Namun ia begitu peka dan hal semacam ini. dan tebakannya tak pernah meleset seperti saat Rafanza yang tertarik untuk Oceana.
...**********...
Ratu pulang ke rumahnya...
Ia sudah bersiap untuk dimarahi. Duda tersebut dipermalukan oleh Ratu yang secara sengaja menarik rambut palsunya dengan sebuah skenario di tempat ramai. Duda yang ternyata memang botak tersebut sangat malu bahkan tak mau mengantar Ratu pulang.
Lagi... Pemandangan yang sama lagi...
Ibunya berdiri tak mampu mengatakan apa-apa. Hanya dapat menggeleng pelan agar Ratu tak menjawab Ayahnya. Agar Ratu tak dihukum lebih sadis.
Tuan Bayu berdiri dan memarahi Ratu sehabis ia tak jadi menampar Ratu. Tuan Bayu menampar Istrinya sebagai ganti Ratu.
Tuan Bayu hanya takut jika besok Ratu datang ke Perusahaan lalu orang lain bertanya tentang pipinya yang membekas. Ratu hanya bisa diam, ia tak boleh bicara, langsung ke kamar. Lalu Ratu akan meminum obat tidur setelah ia puas menangis sesenggukan.
Tanpa sepengetahuan Ratu, Nyonya Ideth sudah meletakkan berbagai kamera tersembunyi di rumah yang ia ketahui seluk beluknya. Melihat Ratu yang kini makin tersiksa, sebagai Ibu ia sudah tak mampu lagi bersandiwara.
__ADS_1
Nyonya Ideth bisa terlihat sebagai Ibu yang modis dan sosialita sekali di luar. Lalu Ibu yang lemah dan hanya melihat kekejaman suaminya di rumah. Sandiwara sebagai keluarga orang lain yang diidamkan semua orang terasa sudah cukup. Ia harus mengakhiri penderitaan ini segera.
Bersambung....