
Oceana sibuk membantu memasak bersama Ibunya. Bahkan Pak Bambang ikut membantu. Mereka akan menyambut kedatangan keluarga Rafanza.
Oceana melihat Bagas menonton televisi sambil terus memakan camilan. Tak ada niatan untuk membantu sama sekali.
"Gass, kamu ngapain Gas?" Oceana berkacak pinggang.
"Lagi sibuk Mbak" jawab Bagas biasa.
"Bantuin dong Gas!" Oceana menarik lengan adiknya.
"Beli aja ngapa sih Mbak?" usul Bagas.
"Gas, buruan bantu Gas!" Pak Bambang memanggil.
Akhirnya Bagas menyerah, televisi ia matikan. Berjalan mengikuti Oceana ke dapur.
"Lebih baik disiapkan sendiri. Kalau beli kan belum tentu sehat Gas" Bu Omai menaruh satu panci sayuran yang harus dipotong ke tangan Bagas.
"Iya Ma. Okee" Bagas mencuci tangannya segera.
Diantara anggota keluarga mereka, memang Bagas satu-satunya yang tidak bisa memasak. Makanya jika dapat tugas, ya tugasnya cuma motong atau membersihkan saja.
Rafanza bersama keluarganya datang. Tentunya disambut oleh Oceana bersama keluarganya.
Baru saja berpapasan, Nyonya Linda dan Bu Omai sudah saling berkenalan dan berbasa-basi. Lain dengan Tuan Kusuma dan Pak Bambang, mereka saling menatap satu sama lain. Nyonya Linda dan bahkan Bu Omai berusaha membuat mereka saling menyapa.
"Pa, jangan diam saja. Ayo sapa Tuan Kusuma!" Bu Omai menyenggol lengan suaminya.
"Jangan-jangan Papa nggak Nerima kehadiran mereka" bisik Bagas di telinga Oceana.
"Masa sih Gas," balas Oceana.
Tuan Kusuma mendekati wajah Pak Bambang. Sementara Pak Bambang melihat sampai ke garis-garis wajah Tuan Kusuma.
Bagas memberi kode pada Rafanza untuk saling menghalangi jika saja orang tua lelaki mereka bertengkar. Sampai-sampai Rafanza dan Bagas pindah posisi.
"Bambang." Mata Tuan Kusuma membesar sambil menunjuk batang hidung Pak Bambang.
"Kusuma," Pak Bambang memeluk Tuan Kusuma.
Reaksi semua orang yang melihat mereka bahkan lebih mengejutkan. Antara bingung dan tidak paham.
__ADS_1
Tak disangka ternyata Tuan Kusuma adalah teman satu sekolahnya Pak Bambang. Mereka akrab karena satu organisasi meskipun beda kelas. Pak Bambang berada di kelas biasa sementara Tuan Kusuma menempati kelas unggul.
Mereka sudah lama sekali tidak saling kontak. Maklum pada masa itu belum banyak yang memiliki ponsel seperti sekarang. Mereka masih menggunakan surat atau bahkan telepon rumah berbayar atau juga Telepon umum.
Perbedaan nasib memisahkan mereka berdua. Banyak yang hanya sekolah sampai SMA, seperti Pak Bambang. Sementara Tuan Kusuma mendapatkan beasiswa karena kepintarannya dan berhasil menjadi sarjana.
"Sungguh takdir yang sangat unik" Tuan Kusuma masih tak percaya.
"Iya, pantas saja aku merasa tak asing dengan wajah yang bersileweran di majalah tentang pengusaha sukses Tuan Kusuma" ujar Pak Bambang.
"Mengapa tidak menghubungiku?" tanya Tuan Kusuma.
"Darimana aku bisa tahu nomor seorang dari majalah?. Aku merasa wajahmu tak asing namun kenapa terlihat lebih muda?" Pak Bambang melihat Tuan Kusuma geleng-geleng.
Mereka terus mengobrol hingga makan malam habis. Tanpa diduga Tuan Kusuma mengatakan perihal Tuan Bayu yang datang ke rumahnya.
Tuan Bayu juga sebenarnya satu SMA dengan mereka. Namun Tuan Bayu adalah siswa yang suka memerintah dan membuat para juniornya merasa jengkel. Satu-satunya kelebihan Tuan Bayu semasa sekolah adalah ia pintar dan guru-guru memaklumi tindakannya pada masa itu.
"Ah beberapa bulan lalu aku bertemu dengannya"
"Apa dia mengenalimu?"
"Tidak, mana mungkin mengenaliku. Kita kan hanya satu kelas saja. Dia terlihat seperti orang dengan jabatan paling tinggi. Dia mungkin lupa perlakuannya dahulu"
"Entahlah, tapi sepertinya orang-orang membicarakan bahwa mereka sangat sempurna. Sekeluarga" terang Tuan Kusuma "Begitu sepertinya calon besan" tambah Tuan Kusuma.
"Kalau diingat juga, kamu pernah bertengkar dengannya kan?" ujar Tuan Kusuma.
"Bertengkar?" Bu Omai tak percaya suaminya bisa bertengkar.
"Iya, Dia bertengkar sampai babak belur" Tambah Tuan Kusuma.
"Aku tak tahan lagi, melihat ia menindas seseorang yang lemah. Tapi saat itu kamu juga ikut membantu" Pak Bambang menyelamatkan mukanya.
"Ah aku hanya ikut membantu saja" Tuan Kusuma menggaruk kepalanya.
"Terus siapa yang menang Om?" Bagas lebih antusias dari mereka berdua, sejak awal mendengar dan ikut terbawa suasana lebih dari yang lainnya.
"Tentu sajaaa....." Tuan Kusuma diam sebentar."Tentu saja Bayu yang menang"
"Yah, ternyata Om Kusuma sama Papa kalah" Bagas kecewa, tak sesuai dengan ekspektasinya.
__ADS_1
"Kenapa dia bisa jadi siswa unggul?" Radar keingintahuan Bagas membumbung ke udara.
"Benar Bagas, Om juga tak percaya mengapa ia bisa masuk kelas unggul dengan sifatnya itu" Tuan Kusuma mengiyakan Bagas.
"Putraku ini bahkan senang main basket dan suka game, tapi ya cukup pintar lah. Untungnya dia tidak suka menindas" Pak Bambang menunjuk kepala anaknya.
"Sama seperti Rafanza, mungkin mereka memang mendapat tangan dan otak yang ahli"
Oceana dan Rafanza hanya mendengar saja sama seperti Bu Omai dan Nyonya Linda yang sesekali ikut tertawa. Pak Bambang dan Tuan Kusuma sepertinya sedang bernostalgia.
Namun secara tidak sengaja, Tuan Kusuma mengatakan bahwa Rafanza hampir dijodohkan dengan putri dari Tuan Bayu. Ratu, yang kebetulan bekerja di Perusahaan yang sama bahkan dengan Tim yang sama dengan Oceana.
"Ratu?" Oceana penuh tanda tanya melirik Rafanza.
"Apa kamu belum mendengar dari Rafa, tentang masalah itu Sean?" tanya Nyonya Linda.
Oceana hanya tersenyum. "Belum Tante"
"Buat apa menjelaskan hal yang tak penting. Bagi aku Oceana yang penting" Rafanza tersenyum pada Oceana.
Sementara itu Oceana hanya diam tak membalas senyuman Rafanza. Bu Omai membaca situasi. Ia melihat air muka Putrinya berubah.
Bu Omai mengusap tangan putrinya. "Mungkin Nak Rafa akan memberitahu kamu segera ya kan Nak Rafa"
"I Iya Tante" Rafanza tergagap, tak ada niatan untuk memberitahu Oceana hal tersebut di benaknya.
"Atau Kak Rafa emang nggak mau ngasih tahu aku" ujar Oceana.
"Tapi aku bilang kalau aku cuma kenal kamu Sean. Ya kan Pa, Ma?" Rafanza menginterupsi.
Tuan Kusuma dan Nyonya Linda mengiyakan segera. Oceana lagi-lagi hanya tersenyum, pada Mereka.
Setelah lama mengobrol, Keluarga Rafanza tak memperpanjang kunjungan karena hari hampir larut. Mereka berterima kasih atas makan malam yang sangat enak. Tak lupa pertukaran kontak mereka, Pak Bambang dan Tuan Kusuma sangat antusias dengan hal tersebut.
Angin sepoi-sepoi malam menemani kepergian mobil mereka. Mobil menghilang, Oceana kehilangan perasaan senangnya.
Rafanza memberitahu kalau ia sudah sampai di rumah. Berterima kasih atas sambutan Oceana.
Namun Oceana hanya membaca pesan dari Rafanza. Ia tak membalasnya.
Rafanza memberi pesan selamat tidur dan beberapa emotikon. Namun Oceana sudah mematikan ponselnya. Rafanza menunggu, sampai ketiduran.
__ADS_1
Bersambung....