
Rafanza masuk bersama David dan Ajib. Rafanza berdiri di podium sendiri, Ajib dan David berdiri di belakangnya. Setelah mendengar masing-masing alasan para Dewan direksi yang intinya Rafanza tidak pantas menjadi direktur. Seharusnya Ajib tetap menjadi pemimpin tim dan David tidak harus pindah posisi di Perusahaan. Tak perlu membuat satu tim karyawan masa Percobaan lagi. Semua terkesan semena-mena hanya karena Rafanza putra dari Direktur Utama.
Sambil scroll santuy Ponselnya, Rafanza menjanjikan satu hal. Jika keuntungan perusahaan tidak meningkat bahkan menurun 1 persen saja. Ia bersedia turun jabatan, toh selama bekerja sebelumnya ia hanya kerja sesuka hati saja. Terulang sekali lagi tentunya tak masalah, sementara karyawan masa percobaan ditambah karena memang beberapa karyawan tetap banyak yang mundur dengan berbagai alasan. Daripada merekrut dari Perusahaan lain, lebih baik menggantikan dengan karyawan yang berlatih sendiri dan memahami kebutuhan pasar Perusahaan.
Tepuk tangan mengalir, Tuan Kusuma bangga tak terkira. Para dewan direksi bangkit dari kursi satu persatu. Rafanza berbicara dengan ekspresi yang meyakinkan sekali sehingga dua kawannya berdecak kagum.
"Rafa hebat banget bisa jawab dengan keyakinan penuh" Ajib mengangkat jarinya
"Makanya gue bilang, jiwa kompetitif Rafa ada untungnya juga" ujar David.
Mereka mendekati Rafanza untuk memberi semangat dan senang. Namun ternyata yang dilakukan Rafanza sedari tadi adalah main Game di ponselnya
"Bisa-bisanya Lo main game waktu rapat serius Rafa" Ajib syok berat sambil mengurut dada.
"Gue tarik ucapan gue jiwa kompetitif nya berguna. Dia kompetitif buat main game" David mengurut dada Ajib yang kemudian dipindahkan oleh Ajib.
"Meskipun gue main game gue tetap dengar mereka kok" ujar Rafanza.
Rafanza memang orang yang cerdas sejak kecil. Ia bisa melakukan dua hal sekaligus. Kalo tidak mengapa ia bisa lebih muda dari teman seangkatannya.
Namun jiwa kompetitif Rafanza bisa dikatakan sebagai kelebihan sekaligus kekurangan Rafanza. Ia akan sangat berambisi mencapai tujuannya bahkan menghalalkan segala cara. Takutnya jika tak tercapai Rafanza akan kecewa berat. Sama seperti ia yang ingin keluar negeri karena tak mau dianggap sebagai anak manja yang tak punya keahlian. Mencoba membuat ulah agar diizinkan keluar negeri. Hingga akhirnya menyerah dan menerima posisi karena Mamanya atau mungkin juga pertemuan dengan Oceana.
"Gue udah tahu mereka cuma mau menyudutkan gue. Tapi ya mau gimana gue nggak ngelakuin hal yang salah, kebijakan pemasaran yang baru bakal naikin keuntungan. Kalian tahu kenapa gue cuma bilang 1 persen?" tanya Rafanza sambil menutup ponselnya. Menatap dua sahabatnya bergantian.
Ajib dan David hanya menggeleng pelan. Rafanza takut jika keuntungan memang hanya bisa meningkat 1 persen. Terkadang ambil yang paling rendah memang karena itulah satu-satunya kemungkinan yang ada.
...**********...
Saat makan siang, Malika, Jagad dan Ivan terus berbicara mengetahui berita tersebut. Tentang Rafanza yang ditentang beberapa dewan direksi lainnya karena menempati posisi Direktur sementara pengalaman kerja tak sebagus yang lainnya.
__ADS_1
Oceana, Nora dan Genta hanyalah sebagai pendengar yang baik. Kesibukan mereka adalah makan dengan segera agar karyawan lainnya dapat membantu menilai betapa bagusnya mereka.
Karena masalah Rafanza tak bisa dijangkau oleh orang luar seperti Ivan, Jagad dan Malika. Mereka beralih ke berita yang juga hot. Sesuai perkiraan Ajib bahwa hanya dalam waktu 30 menit saja berita itu akan tersebar.
"Ternyata mereka menjalani romansa kantor. Sembunyi-sembunyi pula" Ivan merasa tertipu dengan tindakan mereka yang bagai orang asing satu sama lain.
"Mungkin mereka malu kali" tebak Malika.
"Ngapain malu, kalau sampai ada yang menjalani pacaran diam-diam lagi di Tim kita. Awas aja" ujar Ivan menata semuanya.
Mendengar hal tersebut, Nora dan Genta tampak saling lirik. Membuat Ivan menebak bahwa mereka dalam suatu hubungan.
"Ayo jujur, kalian pacaran juga?" tanya Ivan mengintimidasi
"Ngapain kamu tanya mereka. Harusnya tanya hubungan yang lagi viral. Antara Agatha dan Tirta. Aku dengar Agatha pegang tangan Tirta sambil mengiba apa mereka mau putus" selidik Jagad
"Kalau Agatha yang memohon. Berarti dia yang diputuskan dong" Malika senang jika hal itu terjadi. Agatha sangat menyebalkan.
"Nggak tahu, aku nggak peduli" jawab Oceana sambil terus makan.
"Jangan gitu dong. Apa kamu masih dendammm sama" Jagad belum menyelesaikan ucapannya langsung dipukul Ivan.
"Ngapain Nyudutin Oceana lagi hah?"
"Tapi kok cewek seperti Agatha yang blak-blakan bisa sama Tirta yang penyabar dan dewasa?" Malika menanyakan pendapat Oceana.
"Lah aku lagi?. Sebegitu pentingnya ya pendapat aku?" Oceana melihat semua mata yang tertuju padanya.
"Sean, sejak kamu ngomelin Ivan dan Jagad dengan kata-kata kamu yang penuh penghayatan. Tim kita sudah berpikir bahwa kamu adalah seorang yang sangat bijaksana" ujar Nora dengan ogah.
__ADS_1
"Nggak penting juga, itu bisa jadi karena aku dulu cukup suka merangkai kata-kata bersajak. Puitiss" akui Oceana.
Namun jika disuruh berpendapat menurut Oceana setiap menyukai seseorang. Mau seburuk apapun kata orang dia akan jadi tipe idaman seseorang yang menyukainya. Semacam cinta milik berdua.
Tirta mendengar bagian Oceana dan tersenyum, kemudian datang dan duduk bersama mereka. "Apa yang kalian bicarakan?"
"Kamu benar-benar pacaran sama Agatha?" tanya Jagad si kepo yang to the poin tanpa peduli respon orang lain gimana.
"Bukannya pacaran. Tapi mantan pacar. Kita sudah putus setahun yang lalu" terang Tirta memperjelas semuanya.
Maksud Tirta ditujukan pada Oceana. Untungnya Oceana tak begitu ambil pusing. Wajah lega Tirta melihat Oceana yang sibuk makan terbaca jelas oleh Malika. Benar atau tidaknya mereka hanya bisa percaya pada Tirta. Lagipula pihak lainnya, Agatha yang bersangkutan tidak ada disana.
"Sean, nanti kita jadi kan buat ke tempat les mengemudi keluarganya Tirta?" tanya Malika.
Oceana mengangguk, percuma kalau ditolak. Apalagi gratis, dan Malika sudah mendaftarkan Oceana dan dirinya.
Agatha dan Ratu pergi makan di luar. Ratu memberitahukan bahwa Rafanza hanya mengenal Oceana. Secara terus terang tak mau dijodohkan.
Kesimpulan yang mereka dapatkan bisa jadi Rafanza hanya mengenal Oceana karena mereka senior dan junior. Atau Rafanza sudah menyukai Oceana sehingga menolak Ratu yang sejatinya lebih cocok 100 persen dengannya.
"Kenapa sama Oceana. Padahal dia gendut pipinya tebel. Tubuhnya nggak selangsing kamu. Apa karena waktu itu dia cari muka pas masalah Ivan dan Jagad" ungkap Agatha.
"Nggak tahu juga. Tapi Masa Pak Rafanza suka sama dia. Aku nggak yakin Agatha" Ratu meragukan pemikiran Agatha.
"Bisa jadi aja dia coba bikin orang lain simpati sama dia. Terus memanipulasi orang-orang biar nganggap dia keren dengan tindakannya itu"
Menurut Agatha bahkan 1 persen. Tak ada kemungkinan Oceana bisa serasi baik dengan Tirta maupun Rafanza. Oceana harus sadar diri.
Agatha punya suatu rencana. Karena memang Agatha tak mau Tirta terjebak dengan gadis seperti Oceana. Agatha akan membantu agar Ratu terlihat lebih baik untuk Rafanza. Apalagi mereka akan mengadakan berbagai acara dalam waktu dekat. Ditambah lagi jika mereka berhasil menjadi karyawan tetap. Menangkap dua dalam sekali lempar. Agatha mendapatkan Tirta kembali dan Ratu dapat menarik Rafanza di sisinya.
__ADS_1
Bersambung....