Miss Cute And Her Sunshine

Miss Cute And Her Sunshine
Disuruh


__ADS_3

Oceana melihat brosur di meja. Les mengemudi Mobil. Diajari sampai bisa.


"Ini darimana Lika?"


"Punya keluarga Tirta. Dia nawarin sebelum kamu datang tadi"


"Ooh" Oceana mulai beberes sebelum ada pekerjaan untuk mereka.


"Kamu bisa bawa Mobil Sean?"Malika menjaga nada suaranya serendah mungkin.


"Enggak" jawab Oceana.


"Kalo gitu kita daftar yok!" ajak Malika


"Nggak ah Malika. Aku bisa pesan taksi aja. Soalnya daftar kayak gini pasti Ngabisin duit" bisik Oceana.


"Ini gratiss" Desak Malika karena ia mau punya teman yang sama-sama pergi dengannya.


"Whatt?" Suara Oceana langsung membuat David menatap mereka tajam.


Mereka dapat les gratis tapi harus mempostingnya di media sosial milik mereka. Semacam metode promosi yang dipikirkan oleh Tirta.


"Aku pikir-pikir dulu deh Lika"


"Jangan lama-lama Sean. Tirta bilang tawarannya hanya berlaku untuk seminggu ini. Kalo lewat, dia mungkin akan terima peserta lain dan kita masuk daftar tunggu" Malika meyakinkan.


...*******...


David memerlukan sesuatu, tapi ia terlalu malas. David mengaktifkan radarnya melihat semua karyawan masa percobaan yang ia pimpin sangat senggang. Mereka hanya bagian membantu saja bukan tugas nyata seperti karyawan tetap.


David mengarahkan radarnya pada Oceana. "Oceana kamu ambil barang di gudang. kardus nomor 48, 49!. Kerjaan kamu nggak begitu banyak kan?. Saya butuh soalnya."


"Kok nggak yang laki-laki saja Pak?" tanya Malika.


"Kamu mau saya suruh juga?" David menanyai Malika.


"Enggak Pak" Malika berpura-pura mengetik sesuatu di komputernya.


Begitupun dengan yang lainnya. yang berpura-pura sok sibuk seolah mereka didesak waktu. Akhirnya David menyuruh Tirta untuk membantu.


Oceana dan Tirta pergi mengambil barang ke gudang. Oceana bahkan sempat melihat Rafanza sekilas dan langsung terburu-buru bergegas menuju gudang.


Baru saja tiba, Tirta langsung menemukan kardus bernomor 49 dan 48. Tirta berinisiatif agar mereka tidak terlalu cepat kembali. Supaya David tidak menyuruh untuk mengambil barang lainnya lagi.


"Kamu lihat brosur aku Sean?" tanya Tirta tiba-tiba untuk memecah keheningan.


Oceana terdiam sejenak. Karena selain Malika dan Rafanza, tak ada yang memanggilnya Sean di Perusahaan.


"Ooh lihat kok Tirta"


"Kamu mau ikut?"


"Lihat dulu deh Tirta"

__ADS_1


"Kalian para pegawai masa percobaan bisa gratis. asalkan posting di Media sosial. Semacam promosi, apa aku terlalu aneh ya minta kayak gitu?" Tirta agak ragu.


"Enggak kok. Aku juga punya strategi sendiri buat Toko Milik Mama aku"


"Oh ya, gimana?" Tirta penasaran.


"Mm karena bisnis kita berbeda. Aku bisa jelasin"


Oceana yang menggunakan jasa kepopuleran adiknya Bagas. Sistem Voucher yang tujuan akhirnya adalah promosi.


"Terus adik kamu setuju?" Tirta antusias.


"Setuju nggak setuju. Lagipula kan tujuannya buat Toko juga"


"Bagus banget ide kamu Sean" Tirta mengakui.


Oceana dan Tirta tertawa bersama. Oceana bilang ia adalah tipe orang yang susah sekali untuk paham. Bahkan dahulu Oceana harus membawa motor dengan kaki diturunkan dan mesin yang di dorong. Itu karena ia tak paham cara menghidupkan mesin motor tua milik Ayahnya.


Sementara itu, Tirta membicarakan bahwa beberapa orang yang ikut les mengemudi adalah seorang yang sangat sulit paham seperti Oceana. Mereka sangat tekun meskipun butuh waktu bertahun-tahun. Bahkan ada yang sampai 3 kali bertukar pengawas. Tirta adalah tipe orang yang penyabar, ia adalah pengawas terakhir untuk orang itu. Meskipun marah ia tetap profesional karena memang sudah tugasnya untuk mengajari.


Rafanza berdehem membuat mereka berhenti tertawa. Rafanza melihat mereka bergantian dengan tatapan maut.


"Apa yang begitu lucu sampai suara kalian memenuhi angkasa?" tanya Rafanza.


"Maksud Direktur adalah Kenapa kalian berduaan di gudang?" tanya Ajib pada mereka.


"Kami tidak berduaan pak" sanggah Tirta.


Rafanza bahkan heran mengapa maksud pertanyaannya jauh meleset dari pemikiran Ajib.


Rafanza hanya bisa menghela nafasnya maklum.


"Apa yang kalian cari?" Rafanza lebih memilih bertanya kembali.


"Maaf pak, kami disuruh ambil barang sama Pak David" Tirta menjawab pasti.


"Sudah ketemu?"


"Sud..." Belum sempat Tirta menjawab.


"Saya tanya kamu Oceana?"


Oceana tergagap, ia menunduk demi menghindari Rafanza eh malah ditanya.


"Sudah Pak" Oceana bergegas membawa kardus itu sambil berjalan menutupi wajahnya agar tidak dilihat Rafanza.


Saat melewati Rafanza, Rafanza memberhentikan mereka. Ia mengambil kardus dari tangan Oceana dan menumpuknya ke atas kardus di tangan Tirta.


"Harusnya laki-laki yang membawa keduanya !"


"Tapi kasihan Tirta Pak. Saya kuat kok Pak" ujar Oceana.


Rafanza mengambil file dari tangan Ajib"Kamu bawa ini, antarkan ke meja David, itu file yang sangat penting!"

__ADS_1


"Baik Pak" Oceana mematuhi dengan senang hati.


"Satu lagi, saat memberikannya pada David jangan lupa pukulkan ke kepalanya!" perintah Rafanza.


"Kepala siapa Pak?" Oceana membelalakkan matanya kali saja ia salah dengar.


"Kepala David" Rafanza berlalu meninggalkan mereka.


"Ini file apasih. bukannya penting. Tapi kok dipukul ke kepala Pak David?" Oceana begitu heran.


"Turuti saja Sean, perintah Pak Direktur"


"Iya ya Tirta. Karena kita karyawan, kerjaan kita ya Disuruh. Disuruh atasan" ucap Oceana.


Mereka berjalan ke kantor. David menerima pesan dari Ajib. Bahwa apapun yang terjadi tolong antarkan file tersebut ke meja Pak Rafanza.


Meski kebingungan, David tetap terdiam disertai karyawan masa percobaan lainnya kecuali Tirta dan Oceana. Karena Oceana masuk dan langsung memukul kepala David dengan berkas file.


"Ini perintah...." Oceana surut melihat raut wajah David yang bagai lava gunung berapi.


"Perintah Pak Direktur Pak" Tirta menarik tubuh Oceana mundur.


David hanya tersenyum paksa "Direktur yang nyuruh ya?"


Oceana mengangguk, apa ia akan dipecat atas ketidaksopanan ini?. Apa yang harus ia lakukan jika ini membuat pengurangan poin lebih banyak.


"Ma maaf pak" Oceana tetap menunjukkan rasa hormatnya.


"Tenang saja, kalaupun saya geger otak. yang bayar biar Direktur sendiri pakai uang pribadinya" David berdiri dari kursinya meremas file tersebut.


David menyuruh semua orang kembali bekerja. Tak ada yang boleh membuat suara aneh dan bermalas-malasan selama tidak ia awasi.


Oceana kembali ke mejanya. Disambut tawa bahagia oleh Malika dan yang lainnya. Malika adalah yang paling bahagia saat melihat perlakuan Oceana.


"Kamu lihat nggak ekspresi Pak David?" Malika berusaha menahan kikikan tawanya.


"Lika udah dong. Aku benar-benar takut sesaat tahu nggak"


"Beneran Pak Direktur yang nyuruh?"


"Iya" Oceana mengangguk.


"Direktur siapa Ocean?" Jagad juga penasaran, selain Malika. Jagad juga tertawa paling kencang sepeninggal David.


"Pak Rafanza, kalian kan udah dilarang ribut!" Tirta mengingatkan.


"Ooh, bukannya mereka emang dekat ya?" tanya Jagad.


"Bukan dekat lagi, mereka itu kayak segitiga. saling berhubungan dan terkait" tambah Ivan.


Melupakan kejadian tersebut, mereka kembali fokus bekerja.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2