
Oceana menerima coklat di dalam kado. Oceana tak berhenti tertawa dengan catatan kecil di dalamnya. Sambil mengganggu Bagas yang menggantikannya beres-beres rumah, Oceana terus menggoda adiknya.
Hal itu membuat Bagas sempat tak ingin membawa Oceana pergi. Namun setelah dipelototi, akhirnya Bagas tetap mengajak Oceana.
Sore hari ini mereka pergi jalan-jalan ke mall. Bermain-main menghabiskan waktu serta ikut Oceana memilih berbagai macam pakaian untuk Bagas. Setelah cukup, Bagas gantian memilihkan pakaian untuk Oceana.
"Aku mau traktir Mbak Sean, bukan belanja buat aku sendiri" Bagas mulai memilih.
"Iya dehh, yang punya uang banyak" ujar Oceana.
Selesai membayar, Bagas menarik Oceana ke bagian kosmetik. Melihat lihat sekitar seolah yang paling tahu.
"Buat pacar kamu Gas?. Bukannya udah putus?. Ada yang baru lagi?. Pacaran cuma sebentar-sebentar apa untungnya sih. Pacaran juga bukan prestasi Bagas" ujar Oceana.
"Mbak itu nanya berbagai macam sekaligus nggak pegel apa. Lagian emangnya aku cuma mikirin pacar saja. Ini kan buat Mbak Sean"
"Aku nggak suka dandan Gas" tolak Oceana.
Bagas tetap memaksa Oceana untuk memilih yang diperlukan. Oceana mengambil barang-barang inti saja seperti sunscreen, lipstik pelembab. Ketiga barang tersebut adalah yang paling bisa ditoleransi oleh kulit sensitif Oceana yang nggak suka dandan.
Bagas mengambil barang-barang lainnya. Punya pengalaman berkencan dengan gadis yang hobi skinkeran ada bagusnya juga.
"Buang-buang duit Gas, buat apa beli sebanyak ini"
"Bukan buat Mbak aja, aku juga pake" Bagas meminta satu set lagi untuk dirinya sendiri.
"Cowok kok dandan Gas?"
"Ini namanya merawat diri Mbak. Lagian Mbak kalo dandan jadi nambah loh"
"nambah cantik ya Gas?"
__ADS_1
"nambah jelek dikiit" ucapan yang membuat Oceana manyun, "Iya Mbak nambah cantik, biar segera dapat jodoh"
Oceana mencubit lengan adiknya karena membuat pelayan tempat itu menahan tawa. Jangan lupa Bagas akan sedikit meminta pengurangan harga dengan menggunakan ketampanannya.
Keluar dari tempat itu Bagas mengajak Oceana menonton film. Bagas menyukai film-film mafia atau Action Hollywood, sementara Oceana adalah penyuka genre drama romantis seperti Korea. Selera mereka tidak bisa disatukan. Oceana terpaksa mau ikut karena Bagas tidak punya siapapun yang bisa ia ajak, ia baru saja jomblo.
"yang putus kamu, kok aku yang jadi tumbalnya Gas. Jangan bilang kalian putus ada kaitan sama aku?"
Bagas terdiam sebentar, memang ia putus karena pacarnya yang menghina Oceana "Nggak perlu diungkit Mbak. kalo putus ya putus, udah nggak ada rasa" Bagas mengirimkan pesan pada seseorang di ponselnya.
"Kamu kabari siapa?. Jangan bilang kamu ngincar Mbak-mbak pelayan tadi?" Oceana mulai curiga sejak Bagas berhasil mendapatkan potongan harga.
Bagas mengelak, tidak mungkin ia merayu sembarangan wanita. Walaupun kenyataannya iya, tapi pelayan tersebut rupanya sudah memiliki kekasih. Begitulah Bagas dapat potongan harga, mengiba karena ia tak punya kesempatan mendekati pelayan tersebut.
Seusai mendapat pesan, Rafanza mengajak Ajib pergi menonton. Menonton film yang memacu adrenalin adalah hal terbaik pengusir rasa sedih.
Mereka langsung capcus seusai bekerja. Setibanya di depan Bioskop, Rafanza, David dan Ajib bertemu dengan Oceana.
Bagas kembali setelah membeli 2 tiket. Bagas mengambil belanjaan mereka dari Oceana. dan menukarnya dengan popcorn ukuran jumbo. Hal itu memancing pertanyaan di benak Ajib dan David.
Bagas Langsung memperkenalkan diri. Ajib yang juga merupakan seniornya hanya merespon singkat. Untungnya Bagas sudah tahu masalah tersebut sehingga ia tak mempermasalahkannya.
David sempat tak percaya bahwa mereka kakak beradik sungguhan hingga Rafanza memukul bagian belakang kepalanya biar sadar. Rafanza ikut membeli tiket film yang sudah dibeli Bagas. Menurut Bagas film itu cukup banyak dibahas akhir-akhir ini.
Tampak semua laki-laki ini begitu bersemangat kecuali Oceana yang tak berminat. dan Ajib yang kehilangan gairah dalam hidup.
Oceana duduk di tengah-tengah Bagas dan Rafanza. baru saja awal film itu diputar Oceana hanya sibuk menutupi wajahnya dengan tempat popcorn yang besar sambil memakan popcorn dengan citarasa manis tersebut.
"Kenapa baru mulai udah berdarah-darah Gas" bisik Oceana.
"Ini namanya buat bikin penasaran Mbak. Udah nikmati saja!" Bagas tak mempedulikan kakaknya.
__ADS_1
Oceana memberikan popcorn itu pada Bagas. Ia berniat keluar, tetapi melihat jalan yang sempit serta tak mungkin ia lewat tanpa menggangu pandangan orang di belakangnya. Oceana menyipitkan matanya atau menghalangi pandangan dengan jari-jarinya. Hingga akhirnya ia tertidur di bahu Bagas.
Bagas begitu semangat menonton hingga ia sengaja membuat Oceana terdorong. Untung saja Rafanza dengan sigap menopang kepala Oceana.
Melihat wajah Oceana membuat Rafanza tersenyum. Mungkin ia memang sudah dapat memastikan sesuatu, ia menyukai gadis chubby yang imut ini. Di sisi lain, Bagas ikutan tersenyum, inilah laki-laki yang tepat untuk kakaknya. Mereka saling kode antar sesama lelaki. Bahasa yang hanya mereka saja yang paham.
Film pun selesai, semua wajah kini tampak sumringah. Termasuk Ajib, memang film menjadi sarana baru dalam mengubah suasana.
Ajib menawarkan untuk mentraktir mereka. Ajib sekarang sudah menyadari dan begitu banyak memberi nasehat pada Bagas. Sebagai seorang yang berpengalaman dalam organisasi.
Namun hal itu tak begitu lama. Saat sepasang kekasih melamar di restoran tempat mereka makan. Diantara tepuk tangan pengunjung lainnya.
Ajib justru menangis tersedu. Ia memikirkan mantan pacarnya lagi.
"Harusnya aku juga melakukan ini. Aku bahkan belum sempat merayakan hari spesial kita" tutur Ajib.
"Aku juga baru putus kak" ujar Bagas tiba-tiba.
"Mana mungkin kamu bisa seceria ini?" Ajib tak percaya sembari melirik Oceana meminta kejujuran.
"Bener pak" Oceana meyakinkan.
Mendengar Bagas yang putus setelah 6 hari dan bisa menyikapinya secara dewasa sungguh memberikan inspirasi. Ajib mengukuhkan diri sebagai senior yang akan membantu nantinya jika Bagas butuh.
Ajib bahkan dengan senang hati memproklamirkan bahwa ia juga senior Oceana. Meskipun ia tak pernah mengenal Oceana selama tahun-tahunnya di SMA.
Tetapi Ajib tak mau dipanggil kak, baik oleh Oceana maupun Bagas. Sama seperti David, ia senang saat orang lain memanggilnya pak. Memang benar ada tipe orang yang suka memiliki jabatan.
...***********...
Ajib berpikir kembali. Apakah alasan Rafanza tak suka orang lain membedakan terutama fisik adalah Oceana. Sebelumnya ia begitu tidak perduli karena hanya memikirkan pacarnya saja. Kini barulah ia sadar banyak hal penting yang ia lewatkan.
__ADS_1
Rafanza mengakui hal itu sebagai salah satu alasan. Namun jiwanya yang sudah dipenuhi keadilan sejak kecil juga ambil bagian dalam hal itu. Kalau kata orang, memiliki kepekaan rasa dan simpati.
Bersambung....