Miss Cute And Her Sunshine

Miss Cute And Her Sunshine
Tidak Penting


__ADS_3

Saat mereka berempat jalan di lorong Perusahaan. Tampak banyak karyawan membicarakan mereka.


Kebetulan saat di pintu masuk. Rafanza baru selesai dengan urusannya.


Bukannya itu Sean??


Oceana melihat kedatangan Rafanza. Ia mencoba menutupi wajahnya.


Setibanya di rumah....


Oceana melihat rambut pendeknya yang berantakan. Untung saja ia tidak botak. Agatha itu kurus tapi tangannya cepat juga, rasanya rambut Oceana hampir lepas semua.


Usai mengganti pakaian. Oceana bebersih di toko kelontong bersama Mamanya.


Beberapa pelanggan datang. Ada yang membeli dan ada yang sekedar tanya-tanya.


"Udah, Mama duduk aja biar aku yang beresin barang yang gak jadi dibeli"


"Gak papa biar Mama aja"


"Aduuh, ma. Nanti kalau aku udah mulai sibuk di Perusahaan, justru gak bisa bantu Mama lagi. Jadi selagi masih bisa pulang cepat biar aku aja yang ngerjain semuanya"


Omai mengangguk dan duduk sesuai arahan Putrinya. Lalu melayani pelanggan yang datang.


"Kok udah pulang Mbak?" Bagas mendekat.


"Stop, jangan mendekat!, Bau keringat tau gas" Oceana menutup hidungnya.


"Ih Mbak, aku ini punya keringat yang wangi. Daya tarik ini mah" Ucap Bagas menikmati aroma tubuhnya.


"Iya buat cewek-cewek polos yang gak tahu Kamu gimana aslinya dan nyebelinnya kaya apa"


Oceana duduk menemani Mamanya menjaga toko. Sementara Bagas langsung masuk rumah untuk mandi.


"Kak, katanya kalau belanja lebih dari 20 kali bisa foto bareng kak Bagas ya" ucap seorang gadis yang masih memakai seragam putih merah ditemani 4 temannya yang tampak sumringah Penasaran.


Oceana mengingat-ingat. "Ooh, iya.... itu promo mandiri dari aku ya" Oceana baru mengingatnya, dan meminta mereka menjaga rahasia.


"Iya kak, gak banyak kok yang tahu. Waktu itu kan kita sudah janji. Cuma aku sama BESTie aja kok"


"Tapi waktu itu kakak bikin sekitar 5 voucher khusus aja sih kayaknya"


"Iya kak, dan yang beli aku sama temen-temen"


Gadis itu mengeluarkan vouchernya yang penuh tanda 20 kali transaksi.Sementara temannya yang lain mengeluarkan voucher juga namun belum penuh.


"Waduuh, ternyata kalian semua yang beli. Tapi kalian ingat kan, pesan kakak apa?"


"Ingat kak, kakak bilang belanjanya harus pakai uang tabungan. Gak boleh desak Orangtua" jawab salah satu dari mereka.


"Mm bagus, kalo gitu kalian tunggu sebentar ya!"


"Siiiap Kaaak" jawab para gadis kecil itu.


"Apa Bagas gak marah kamu ngelakuin ini Sean" Omai khawatir.

__ADS_1


"Tenang Ma, kan biar bisa bantu toko kita juga. Nanti aku jelasin deh sama Bagas"


"Ya udah, tapi jangan sampai cekcok mulut ya!"


Bagas akhirnya berfoto dengan terpaksa. Bagas menyalahkan Oceana karena membuat ide seperti itu.


"Biar temen-temennya pada tahu Gas"


"Kalau temennya tahu, kan vouchernya gak ada lagi. Pasti mereka gak mau"


"Mereka bilang yang tahu cuma mereka aja kok Gas. Ini demi Toko kita loh Gas"


"Iya aku tahu Mbak. Tapi kalau gak ngaruh gimana. Kan mereka kesini karena mau foto. gak niat beli"


"Bagas, mereka memang mau foto. Tapi barang yang dibeli pasti dipakai dong. Nah pas temen-temennya pada nanya. Secara gak langsung mereka adalah agen promosi kita" terang Oceana.


"Teori dari mana Mbak. Iya kalau mereka mau Makai, kalau dibuang gimana?"


"Aduuh Bagas, itulah gunanya Survey. Karena Vouchernya mandiri, surveynya juga mandiri. aku udah tanya gimana keluarganya bahkan tiap anak seusia mereka. dan mereka yang paling cocok"


"Ooh gitu ya udah deh" Bagas berjalan masuk lagi.


"Mau kemana kamu Gas?" tanya Omai.


"Mau rebahan dulu mah"


"Ah paling main Game" ujar Oceana


Meskipun sering main basket dan main game. Tapi ranking Bagas tetap tak tergeser. Mungkin keberuntungan memang sudah ada dalam genggamannya.


David merebahkan tubuhnya di sofa Kantor Rafanza. Ia mengusap kening yang terkena bekas keringat.


"Huuffft"


David membuang nafas untuk yang kesekian kalinya. Berharap ditanya dua Sahabatnya yang masih sibuk tak perduli.


Akhirnya, setelah lelah mendengar suara nafas yang disengaja David. Rafanza dan Ajib menyelesaikan tugas mereka, lebih baik besok dilanjutkan daripada terganggu oleh David.


Mereka duduk di Sofa. Saling bertukar tatap dan meminum kopi yang tak lagi panas.


"Kenapa lagi?" Ajib bertanya dengan malas.


"Gue jawab sebagai David Leader Tim atau David biasa niih?"


"Serah Loe dah!" ujar Rafanza.


...


"Masalah anggota Karyawan masa percobaan yang gue pimpin ini"


"Kenapa emang?"


"Jangan sok gak tau deh Jib. Lo denger kan apa yang terjadi"


"Iya gue denger"

__ADS_1


"Kayaknya Lo punya dendam pribadi sama gue ya Rafa?"


"Kok Gue?" Rafanza menaikkan alisnya.


"Loe tau kan Anggota ini tuh Bar-bar semua. Bahkan yang udah 3 bulan aja gak pernah berantem. Masa mereka baru sehari udah berulah. Cewek semua lagi" David tak habis pikir. Ia mengusap dadanya.


"Biasa lah anak muda, Lo maklum aja lah. Lo juga kan sering mancing gue buat berantem!" tegur Ajib.


"Mana bisa, mereka bertengkar di toilet dan...." Panjang lebar David menceritakan semuanya hingga ke pengurangan poin mereka.


"Lah kan Lo udah kurangin poin mereka dan mereka juga udah saling minta maaf. Apa lagi yang ributin?"


"Gue cuma pengen tahu, kenapa Rafanza nunjuk gue. Apa sengaja?"


"Enggak" jawab Rafanza.


"Terus?"


"Kalian berdua paling tahu kan. Mereka semua berasal dari latar belakang berbeda yang datang murni karena kemampuan, tanpa batasan umur, tanpa pilihan jurusan, tanpa pikiran asal kampus mana saja. dan hanya berdasarkan tes"


Ajib dan David mengangguk. Memang benar mereka Berbeda. Terutama bagian batasan umur, sebelumnya, karyawan masa percobaan hanya boleh hingga usia 25 tahun.


"Gue mau buktiin kalau David masih David yang kita kenal" Jelas Rafanza santai.


"Maksudnya?"


"David, Gue milih Lo karena Lo itu adalah orang paling adil yang pernah gue kenal. Gue milih Lo karena gue pikir Lo yang paling bisa menghargai perbedaan. Ingat nggak waktu kita dibedakan antar Magang dari kampus luar dan bagus. Sementara kita hanya kampus biasa. Lo yang paling marah waktu itu"


David berkaca-kaca mendengar Jawaban Rafanza. Diikuti Ajib yang ikut tersentuh mengingat kisah mereka yang baru berlalu 2 tahun.


****


"Tapi nih ya,gue pikir yang mulai duluan itu Si Malika atau Ocean deh" David mulai lagi.


"Udah lah gak penting" Ajib berdiri dari Sofa.


"Duduk Jib!" Rafanza mengeluarkan perintah.


"Gak masalah siapa yang mulai duluan. yang yang penting Lo jangan asal nuduh tanpa dasar yang jelas!"


"Emangnya kenapa?, Gue aja ngeri lihat tatapan mematikan Malika"


"Lo menyimpulkan berdasarkan apa?. Kalau penampilan, lebih baik Lo mundur dari jabatan ini sekarang!"


"Kok gitu Rafa?"


"Ya terus apa bedanya Lo sama orang-orang kalau menilai berdasarkan pandangan mata doang"


"Ok gue salah" David langsung surut, jika ia mundur jadi Leader Tim, maka mobil Sport yang baru dikendarainya bisa menghilang.


"Cepet amat Lo surut David" Ajib mengejek.


"Diam Lo"


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2