Miss Cute And Her Sunshine

Miss Cute And Her Sunshine
Masalahnya Apa?


__ADS_3

Esok harinya, Rafanza melihat pesannya masih belum dibaca Oceana. Meskipun Oceana sedang online. Saat Rafanza datang menjemput, Oceana sudah duluan pergi diantar Bagas.


"Nak Rafa, apa ada masalah dengan kalian?"


Rafanza kebingungan menjawab pertanyaan tersebut. Masalah apa, kemarin mereka masih berkirim foto.


"Sepertinya aku datang terlambat Tante"


Rafanza kemudian pamit, Kalau dipikir-pikir . Setelah semalam Oceana jadi berubah.


Sebelum ke Perusahaan, Rafanza melihat minuman Boba di pinggir jalan. Melihat jam tangannya, belum jam masuk resmi Perusahaan, sehingga ia membeli rasa coklat serta juga sebuah kue.


...*****...


Rafanza masuk ke kantor Tim Pemasaran 2. David berdiri karena ia pikir Rafanza ingin menyalahkan kualitas kerja mereka.


"Maaf sebelumnya Pak. Ada masalah apa ya?" David berbasa-basi.


"Saya ada urusan sebentar"


"Oh ya sudah silahkan Pak" David kembali duduk.


Rafanza ingin meninggalkan langsung sebuah bungkusan minuman Boba dan kue yang ia beli di meja Oceana. Namun ia dengan jika harus memberikan sekarang, bahkan di ruangan kantor Tim Pemasaran 2. Rafanza juga tak mau jika nanti Oceana merasa terganggu. Apalagi yang paling mengetahui hubungan mereka adalah Tim Pemasaran 2. Rafanza sengaja meminta mereka semua untuk tutup mulut. Karena kalau sampai tersebar, maka Tim Pemasaran 2 yang akan


menanggung akibatnya.


"Oceana silahkan datang ke ruangan Saya!" perintah Rafanza.


"Maaf pak, tapi saya sedang bekerja" jawab Oceana.


Mengapa Sean terkesan tak peduli. Apa kesalahan yang sudah aku lakukan memangnya?


Rafanza melirik David, namun David adalah lelaki yang paling tidak peka. David mengajukan diri agar ia saja yang datang ke ruangan Rafanza.


Rafanza mengambil nafas, mengapa ia bisa tahan berteman dengan orang seperti David. "Kalau begitu ambil alih dahulu oleh orang lain sebentar!" Perintah Rafanza melirik Malika.


"Baik pak" Malika bersiap.


Oceana menggeleng pelan pada Malika. "Tapi kita harus profesional pak. Apalagi kami kan tim baru" Oceana tak bergeming dari komputer di hadapannya.


"Kalau begitu temui manajemen Etika sebelum jam makan siang. Karyawan profesional tidak akan mengabaikan perintah atasannya bahkan bersikap lancang. Oceana!" Nada Rafanza meninggi.


Apa Kak Rafa ingin aku ke ruangannya karena pekerjaan?. Oh tidak Sean kamu terlalu tergesa.

__ADS_1


Rafanza berbalik agar segera keluar ruangan. Sebelum mencapai pintu, Rafanza kembali dan meletakkan bungkusan yang ia bawa di meja David.


"Nih buat Lo"


Setelah Rafanza pergi, David melihat Oceana yang hanya diam di mejanya. Apa yang terjadi dengan mereka hari ini.


David melihat isi bungkusan tersebut. "Apa dia mau gue menikmati ini?. Otot kekar gue bakalan nangis" David mengelus lengannya yang kekar serta uratnya yang naik turun.


David memberikan bungkusan itu ke meja Malika "Ini buat kamu saja"


Malika melihat minuman Boba rasa coklat. Juga kue yang tidak ia sukai. "Saya nggak suka coklat Pak" tolak Malika.


"Kalau begitu kamu kasih orang atau buang saja sana!" David duduk kembali ke mejanya.


Malika melihat Oceana dan mengedipkan mata. Berharap Oceana menerima karena Oceana yang paling menyukai coklat.


"Aku lagi diet Lika" tolak Oceana secara halus.


Akhirnya Jagad yang meminum minuman Boba dan Ivan memakan kuenya. Setelah itu, semua langsung sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Tirta keluar untuk mengambil beberapa sampel di gudang. Agatha berinisiatif ikut membantu.


"Jangan, saya tak mau menyuruh perempuan lagi" David tak mau kejadian ketika menyuruh Oceana terulang kembali.


Agatha mengikuti Tirta ke gudang. "Apakah ada yang salah dengan ?, bukankah kita tetap menjadi rekan kerja"


"Kenapa kamu memberi Ibu aku Tas mewah Agatha. dan kamu bilang itu dari hasil kerja kamu buat apa?" tanya Tirta akhirnya.


"Memang masalahnya Apa?"


"Kamu mau menyudutkan Ibu aku lagi dan mengatakan bahwa dia matre" Tirta langsung mencerca Agatha.


"Masalah itu udah berakhir Tirta. Sekarang aku bisa beliin Ibu apapun asalkan bukan yang mahal warbyasah aja" Agatha tersenyum seolah semuanya telah kembali seperti semula.


Tirta memastikan tak ada orang di sekitar mereka. "Hentikan semuanya Agatha, apakah kata-kata aku waktu itu begitu sulit untuk kamu pahami"


"Mengenai kamu menyesal pernah menyukai aku. Nggak kok. Aku juga menyesal. Harusnya aku nolak buat putus ya kan" ujar Agatha


"Otak kamu mungkin bermasalah Agatha. Atau telinga kamu mungkin"


"Nggak kok"


"Aku benar-benar muak sama Kamu Agatha. Nanti barang yang kamu kasih akan aku kembalikan" Tirta berlalu meninggalkan Agatha setelah mendapat sampel yang ia butuhkan.

__ADS_1


Aku benar-benar menyesal karena nggak nolak buat putus Tirta.


Andai saja Agatha sedikit bersabar, mungkin dia sudah menikah dan bahagia. Dahulu Agatha mengatakan bahwa Ibu dari Tirta matre karena ia selalu menghabiskan uangnya untuk hadiah Calon mertuanya itu. Sementara Tirta tak punya penghasilan yang besar karena hanya seorang pengawas di Les mengemudi keluarganya.


Meskipun Tirta selalu bilang itu milik keluarganya, tapi kenyataannya, Tempat les mengemudi tersebut bisa dibilang 80 persen untuk Paman dan sepupu Tirta. Agatha sudah menyuruh Tirta agar mencari pekerjaan lainnya, namun Tirta menyerah karena selalu ditolak Perusahaan.


Saat mendengar info lowongan pekerjaan Di Perusahaan E-commerce dengan syarat yang mudah. Agatha diam-diam mendatangi kembali Ibu dari Tirta membocorkan informasi tersebut namun ia melarang Ibu dari Tirta mengatakan yang sebenarnya. Itulah sebabnya Agatha bisa akrab kembali dengan calon mertuanya yang pernah gagal tersebut.


...*********...


Ajib masuk ke ruangan setelah mendapati Budi yang keluar dengan wajah bingung. Seusai memberikan beberapa laporan Ajib terus melihat kondisi Rafanza.


"Maaf Pak, saya mau bertanya"


"Silahkan" Rafanza terus memantau pekerjaannya, sesekali bunyi ketikan bergema.


Rafanza tidak kehilangan akal rupanya. Setiap pernyataan yang diberikan oleh Ajib dijawabnya segera dengan dukungan kemampuan otaknya luar biasa.


Saat bertanya bagaimana acara sosial kemarin. Ajib hanya mendapatkan tatapan kematian dari Rafanza.


Mungkin sebaiknya ia tutup mulut, apa yang terjadi dengan Rafanza. Mungkinkah acara makan malamnya tidak lancar.


Untungnya Rafanza tetap bekerja seperti biasa meskipun mulutnya tak banyak bicara dan tatapan seperti akan memakan hidup-hidup semua orang yang datang ke ruangannya.


Termasuk Budi, yang mengetuk pintu dan kembali masuk karena lupa menyerahkan satu laporan.


Ajib mengambil Laporan itu, menyerahkannya pada Rafanza. Lalu seusai ditandatangani ia memberikannya kembali pada Budi sambil berbicara pelan


"Jangan terlalu dihiraukan sikapnya, kalau Direktur Utama nanya, bilang saja meskipun ekspresinya begitu, kerjanya tetap mantap Oke !"


Budi mengangguk, ia segera keluar dan menutup pintu. Melihat Budi yang pucat pasi membuat Ajib tak tahan lagi.


"Bapak sariawan ya?" Ajib berpangku tangan.


Tak ada jawaban dari Rafanza. Pekerjaannya selesai, dan sekarang Rafanza hanya bermain game dengan emosi. Mungkin kalau komputer bisa bicara, komputer itu akan mengeluh karena jadi pelampiasan amarah.


"Apa ini terkait Oceana" perkataan Ajib membuat Rafanza berhenti menekan Mouse.


Rafanza diam sebentar lalu membuang nafas. Kemudian langsung main dengan emosi lagi.


Ajib tahu, pasti memang ada hubungannya dengan Oceana. "Makan malamnya gagal?"


Rafanza benar-benar berhenti dan menggeser Mouse"Nggak gagal kok, bahkan kita ketawa bersama. Tapi kenapa dia mengabaikan pesan gue. dan bahkan pergi ke Perusahaan diantar adiknya. Bahkan dia nggak ngomong kalau udah pergi duluan" ujar Rafanza tanpa jeda.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2