
Nora mengajak Genta bertemu di gudang karena alasan Atap bukanlah tempat privasi lagi. Bisa saja orang lain memergoki mereka.
Sementara itu Oceana meminta bertemu pagi-pagi sekali dengan Rafanza. Ada yang ingin ia sampaikan.
Ketika sampai justru memergoki Nora dan Genta yang sedang berciuman dengan mesra. Hampir saja Oceana bersuara karena kaget untungnya Rafanza segera menutup mulut Oceana dan membawanya ke tempat lain.
"Sean?" Rafanza menjentikkan jarinya agar Oceana sadar.
"Kak Rafa, aku mau tanya"
"Iya silahkan!"
"Aku punya berat sekitar 80 kg. Aku mulai diet sih. Tapi ya itu faktanya aku gendut. Kak Rafa suka? tanya Oceana.
"Aku suka pipi chubby kamu yang imut. Aku menyukai kamu bukan berat badan kamu Sean" jawab Rafanza.
Oceana tak tahan lagi, ia harus membuktikannya. Lalu ia mendekat pada Rafanza menatap sesaat dua bola mata lelaki tampan di hadapannya. Tepat sekali kardus kosong jatuh, reflek Rafanza melindungi Oceana.
Kini Jantung Oceana tak terkendali. Berdetak kencang bagai kuda berlari. Ia menyukai Rafanza bukan tampangnya. Ia menyukai perilaku dewasa Rafanza, Ia menyukai sikap Rafanza yang memperlakukannya seperti wanita bukan gadis gemuk menjijikkan.
"Kalo begitu ayo pacaran!" tegas Oceana yakin sepenuhnya.
Rafanza membelalakkan matanya. Apa niatnya sudah dirasakan Oceana. Apa Oceana sudah mengingat semua yang ia lakukan untuk Oceana.
"Kamu serius Sean?" Rafanza tersenyum dengan bibirnya yang menggoda Senyuman yang pernah membuat Oceana sangat terpana ketika usianya 16 tahun.
Oceana menggeleng, ada satu hal yang sudah ia pikirkan semalam "Tapi aku tidak mau kita seperti..." Oceana berjinjit untuk membisikkan sesuatu
Oceana tak mau seperti Nora dan Genta. Ia tak mau hubungan pacaran yang kelewat romantis.
Rafanza menyetujui hal itu, mereka hanya akan pegangan tangan atau pelukan tak boleh ada ciuman bibir.
...***********...
Oceana duduk di mejanya. Semua orang penasaran dengan kejadian semalam. Oceana dengan tegas menyatakan bahwa ia sudah berpacaran dengan Rafanza.
Semua orang kaget, terlebih Ratu. Apalagi David yang langsung terbang menghilang menemui Rafanza di kantornya.
__ADS_1
Malika yang paling antusias, mereka seperti mendapat sebuah jackpot besar. Sementara itu kebalikannya. Tirta dan Ratu adalah yang paling terlihat kecewa.
"Kalian semua diam. Kita sudah menjadi pekerjaan tetap sekarang !" Suara Tirta mendiamkan seisi ruangan.
Ivan dan Jagad kembali berbalas pesan. Mengatakan bahwa Tirta sangat aneh, apa dia juga ingin mengatur Tim ketika Pak David keluar. Apa alasannya karena ia yang paling tua.
Ketika sampai di ruangan Rafanza. David melihat Ajib dan Budi yang menganga.
"Kalian lihat apa" David bertanya dan melihat arah pandangan mereka.
Rafanza menatap foto Oceana yang dijadikannya Lokscreen Komputernya. Foto yang pernah ia ambil ketika mengajak Oceana seharian dengan dalih Refreshing. Untungnya tidak jadi ia hapus waktu itu, sehingga bisa ia pergunakan sekarang.
"Itu adalah gambaran Ajib dahulu Budi" David menepuk pundak Budi.
"Gambaran Ajib?" Budi menatap David penuh kebingungan.
"Dahulu Ajib lebih parah. kaya orang gila Video Call dan telponan terus sama Pacarnya yang disangka LDR di Turki" jelas David
Mendengar David mengungkit masa lalunya yang kelam. Ajib murka, ia mengejar David untuk dimusnahkan dari bumi ini.
Ketika melarikan diri dari Ajib. David tak sengaja melihat Ratu yang berwajah aneh. Tak pernah sekalipun ia melihat Ratu yang ramah lembut seperti itu.
Ratu pergi ke sebuah tempat yang cukup sepi atap. Atap yang begitu luas tentunya kosong saat waktu sibuk di Perusahaan. Agatha mengikutinya diam-diam.
Entah dasar apa juga David ingin menguping pembicaraan dua gadis di atap. Namun menurutnya, pasti dua orang itu ingin membicarakannya di belakang.
Tanpa diduga Ratu nampaknya ingin melompat. David hampir saja keluar dari tempat persembunyian namun untungnya Agatha menahannya. Agatha meminta maaf atas kesalahannya. Agatha tahu ia yang memberikan file tersebut. Kalau perlu ia langsung mengaku pada David dan Rafanza.
Apa file yang dilihat Rafa waktu itu dan membuat Ajib mengatakan tentang ada yang mengotak-atik komputer Rafa. Bisa-bisanya mereka melakukan hal tercela macam itu.
"Apa kamu mau mengakuinya sendiri?. tanpa melibatkan aku?" tanya Ratu.
"Aku akan bilang kalau semuanya hanya niat aku"
"Tapi semua orang tahu kita dekat" senyuman Ratu terlihat berbeda ada kemarahan di dalamnya.
"Aku akan bilang kalau waktu itu bertengkar sama kamu. Sehingga aku mau jebak kamu" tegas Agatha dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Kamu benar-benar mau ngelakuin itu Agatha?" tanya Ratu.
Ratu cukup egois juga pikir David. Apa dia hanya akan melempar kesalahan pada Agatha. Padahal sejak awal ia mengetahuinya. Tak terduga, David pikir Ratu itu cantik wajah dan cantik sifatnya. Setelah melakukan hal sebesar itu justru ingin bebas sendiri dan mengorbankan temannya.
Agatha setuju, mereka kemudian berpelukan. David geleng-geleng kepala dengan pertemanan aneh mereka. Seharusnya ketika ada yang salah mereka memperbaikinya sama-sama.
Kini Agatha bertanya mengapa Ratu ingin melompat. Ratu memasang wajah sedihnya. Seolah ia adalah yang paling tersakiti dengan sifatnya yang lembut.
"Kenapa Oceana mendapatkan semuanya dengan mudah Agatha?. Kenapa seolah kehidupan yang ia miliki meskipun buruk tapi selalu membuat aku iri" Ratu menahan tangisnya.
David ingin keluar mendengar kata-kata Ratu. Tapi ia menahan diri.
"Aku nggak tahu Ratu. Pasti semua orang tertipu. Aku yakin Oceana nggak sebaik yang mereka kira" terang Agatha.
Mereka memutuskan untuk tetap ke rencana awal. Dimana menunjukkan bagaimana buruknya Oceana. Membuat Oceana sadar diri bahwa ia bukan siapa-siapa.
David berdiri mematung. Apakah hal ini harus ia beritahukan kepada Rafanza. Atau harus langsung ia katakan pada Oceana.
Namun apa nanti ia tak akan diejek karena menguping pembicaraan perempuan. David memutuskan menyimpan hal itu dahulu.
Ia mengajak bertemu Malika berdua. Menurutnya mungkin Malika akan bisa menjaga rahasia.
"Pak anda menguping?" tanya Malika.
"Jangan bilang siapa-siapa!" David melihat sekeliling.
"Tapi anda bilang sama saya?" Malika kebingungan.
"Karena saya pikir kamu pasti akan membantu Oceana. Jangan sampai termakan jebakan mereka. Saya juga lakuin ini karena saya tahu Rafa menyukai Oceana" terang David.
Malika menepuk pundak David. Membuat laki-laki itu terperanjat sesaat. "Tenang saja Pak. serahkan Oceana pada saya. Jangankan Agatha atau Ratu. Sekaligus semua karyawan memusuhi Oceana. Saya akan mendukungnya"
Malika meninggalkan David. Baru kali ini, seorang gadis membuat David merasa tertantang. Biasanya ia sangat tertarik dengan gadis yang cantik dan sexy. Namun hal itu juga tak menjamin, contohnya Ratu yang baru ia ketahui belangnya.
Malika hitam manis, tegas dan sepertinya agak tomboy. Namun ketika berbicara, kenapa David merasa dunianya berbeda. Seolah Malika memancarkan pesona tersendiri.
Bersambung...
__ADS_1