
Oceana memberikan sebuah kado untuk Ivan. Seorang perempuan yang mengaku Fans rahasia Ivan menitipkannya.
"Makasih Ocean"
"Sama-sama"
"Ciee, dari Ocean nih" Jagad menggoda.
"Bukan, ini dari fans rahasia Gue"
"Waduh boleh minta dong" Genta menyodorkan tangannya.
"Gak boleh. Baru pertama kali nih dapat beginian" Ivan menutup kotak kado kembali.
"Sabar aja Genta, emang orang yang gak pernah dapat ikan. Sekalinya dapat kayak dapat berlian" Ejek Jagad.
"Iri bilang Boss" Ivan balik mengejek dengan nada yang mengesalkan.
"Emang yang ngasih siapa sih penasaran deh" Jagad melihat Oceana.
"Aku juga gak tahu dia cuma bilang...." belum selesai bicara, Ivan memotong pembicaraan.
"Siapapun itu, pasti dia udah lama terpesona sama aku. Gak apa-apa kok Ocean, jangan ladenin Jagad ini. Dia cuma iri"
Mereka mulai bekerja. Masing-masing sibuk dengan pekerjaannya yang sudah diatur oleh David.
David duduk sambil memperhatikan satu-satu wajah anggota yang dipimpinnya. Terlihat Ratu dan Agatha saling berbisik, namun David mencoba mengabaikan.
Pada saat bersamaan, Oceana dan Malika juga asik berbisik-bisik. Tak lupa, Nora dan Genta. Saat ini amarah David mulai naik ke ubun-ubun.
"Malika, pelankan suara kamu. Mau gosip nanti habis kerja!"
Tapi, tiba-tiba ia teringat perkataan Rafanza semalam. Kalau ia dipilih karena sifatnya yang adil.
"Ratu, Genta dan yang lainnya. Peringatan ini berlaku untuk kalian. Jangan berbisik-bisik, fokuslah bekerja!" ulang David membuat semua anggota karyawan memfokuskan diri.
****
Ivan terjatuh di kamar mandi...
Ambulan di datangkan membawa tubuhnya yang terkapar pingsan. Jagad ikut masuk ke ambulan menemani sahabatnya tersebut.
Peristiwa yang cukup menggemparkan itu sampai di telinga Rafanza. Rafanza lalu mendatangi kantor tim yang dipimpin oleh David tersebut.
"Apa yang terjadi dengan karyawan itu?"
"tiba-tiba dia pingsan" terang David yang berada di sana.
"Kok bisa?. Apa dia sakit sebelum ke Perusahaan?" tanya Rafanza.
"Dia baik-baik saja Pak. Bahkan pas makan siang ikut bercanda juga" terang David.
__ADS_1
"Apa ada hal aneh yang dirasakannya?" Ajib ikut penasaran.
"Tidak ada Pak. Ia hanya mengeluhkan sakit perut seusai makan siang" ujar Tirta yang menjadi saksi.
"Eh tadi kan kamu ngasih sesuatu buat dia Ocean" Agatha mengingatnya.
Benar, Oceana dititipkan kotak kado oleh seorang perempuan yang mengaku sebagai junior dan fans rahasia Ivan. Saat Ivan menerima kado, ia tak penasaran siapa itu karena kepedean menjalari tubuhnya.
"Oh iya, isinya minuman botol sama berbagai macam Snack Coklat. Ivan seneng banget sampe gak mau bagiin ke yang lain" Ujar Genta angkat bicara, kebetulan ia ingin minta satu, namun tak diberi Ivan.
"Apa mungkin isinya beracun?" Ratu menduga dengan ragu.
"Kalo beracun, pelakunya siapa?" Agatha menambahkan dugaan Ratu.
Agatha menatap Oceana, dan membuat Semua orang kini ikut menatap Oceana. Secara tak langsung, Oceana dicurigai sebagai pelaku utama.
Ditambah lagi, Oceana tidak tahu nama perempuan tersebut. Ia bahkan tidak begitu ingat wajahnya yang dibungkus masker hitam lengkap dengan pakaian tebal.
"Jangan-jangan Oceana masih dendam dengan kejadian kemarin" Agatha berspekulasi.
"Jangan asal nuduh Agatha, kita kan sudah saling damai" Malika sewot.
"Aku benar-benar gak ada niatan buruk sama Ivan" Oceana membela diri.
Zzzttttt,,,,Zzzzzttttt....
Ponsel David bergetar, Jagad memberitahu kalau Ivan sudah sadar.
"Saya juga akan mencari tahu, Ajib bawa bukti untuk diteliti dan wakilkan saya untuk hari ini!" perintah Rafanza.
"Baik pak" Awalnya Ajib bingung mengapa Rafanza harus turun tangan sendiri. Namun karena ia tahu karakter Rafanza adalah orang yang teliti, pasti Rafanza hanya ingin menyelesaikan kasus dengan cepat.
*****
Di rumah sakit....
Rafanza Langsung pergi membayar biaya administrasi rumah sakit. Sementara David dan Oceana melihat keadaan Ivan.
Ivan terbaring di ranjang dengan Infus terpasang di tangannya. Tampak wajahnya merah dan membengkak.
"Kok bisa separah ini?" tanya David.
"Kata dokter, ini reaksi alergi akut Pak. Ivan alergi kacang. Tapi entah darimana dia makan kacang. Padahal dia paling memperhatikan makanannya pak"
"Alergi??" Oceana ngeri melihat wajah Ivan.
"Gak usah sok kaget Ocean, Kamu tahu kan dia alergi. Jangan pikir aku gak tahu kamu yang ngasih kado itu. Apa kamu masih dendam kejadian kemarin" tegas Jagad.
Kemarin sebenarnya Oceana diejek parah oleh Ivan dan Jagad. Sebelum kejadian ia bertengkar hebat dengan Agatha di Toilet. hal yang menjadi penyebab mengapa Malika langsung marah di toilet juga karena mereka yang membuat Mood Malika terganggu.
"Kita kan sudah saling memaafkan. Aku udah ngelupain itu semua"
__ADS_1
"Terus kenapa ngasih makanan yang gak jelas buat Ivan"
"Bukan dari aku"
"Terus dari siapa?"
Oceana tidak bisa menjawab. Andai ia tahu, pasti ia sudah meneriakkan nama perempuan itu di telinga Jagad sampai gendang telinganya berdenging.
"Gak bisa jawab kan" Jagad menahan emosi.
Oceana hanya tertunduk. Ia tiba-tiba mengingat kejadian masa SMA. Dimana ia dituduh melakukan sesuatu padahal bukan ia pelakunya.
Oceana tidak bisa membela diri. Kejadian itu kini terulang lagi. Rasa sesak memenuhi dadanya.
Dulu, ada bukti yang bicara. Kini, jika benar makanan yang ia beri mengandung kacang. Ia juga tidak bisa menjelaskan siapa yang memberikannya.
Oceana diantar pulang ke rumahnya. Baru usai masalah, timbul lagi yang baru.
******
David dan Rafanza pergi mencari informasi tentang makanan tersebut. Ternyata memang benar, makanan Snack dan minuman botol itu mengandung kacang.
Namun, yang lebih mengejutkan adalah, Semuanya sudah kadaluarsa. Bahkan rasanya benar-benar tidak terasa kacang maupun beraroma kacang.
Seperti sudah direncanakan dari jauh-jauh hari. Tanggal di makanan dan minuman itu diubah sedemikian rupa.
"Berarti gak mungkin Oceana pelakunya"
"Bisa jadi aja dia Rafa"
"Atas dasar apa, udah jelas bukti mengatakan bahwa ini direncanakan jauh hari. Bisa aja kan Oceana memang masuk ke Perusahaan buat balas dendam" pikir David.
"Gak mungkin" tegas Rafanza.
"Kok jadi Lo yang paling yakin sih. Si Oceana itu aja gak bisa jawab. Kayak udah ketahuan abis maling"
"Kalo Lo di posisi dia. Apa Lo mampu menyanggah saat semua bukti ngarah ke Lo"
"Ya enggak"
"Nah itu Lo juga gak bisa"
"Tapii, Kok Lo yang repot Rafa. Tinggal pecat aja"
"Jangan sembarang pecat orang yang gak bersalah"
"Kenapa Lo yakin dia gak bersalah?"
Perdebatan mereka tidak usai juga. Hingga akhirnya, Rafanza memutuskan untuk memeriksa CCTV.
Bahkan meminta bantuan untuk melacak keberadaan perempuan tersebut. Detektif menjanjikan dalam waktu seminggu akan mendapat petunjuk.
__ADS_1
Bersambung.....