
Agatha diam-diam mengikuti Ratu hingga ia menemukan sendiri kebenaran dari apa yang disampaikan Oceana. Awalnya ia mengira kalau Oceana hanya ingin merusak hubungannya dengan Ratu. Apa gunanya mengkhkawatirkan Ratu yang baik-baik saja, pasti Oceana mengira ia akan termakan ucapan itu.
“Ayo jelasin Ratu!” Agatha tak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang ia miliki.
“Apa yang mesti aku jelasin sih Agatha?”
“Kamu mual kan tadi”
“Aku mual karena makanannya nggak enak”
“Lalu selama ini, kamu terus-terusan mual dong”
“Jadi selama ini pun kamu terus-menerus mengikuti aku?” Ratu menunduk sesaat dan bergumam “ Mengganggu sekali”
“Aku Cuma menebak karena karena makanan kantin kita memang selalu begitu. Jadi terbukti kan dengan respon kamu”
Ratu pergi tanpa menghiraukan Agatha. Meskipun Agatha menahannya, jawaban Ratu menjadi lebih menyakitkan. Bahwa ia tidak membutuhkan Agatha, jadi berhenti mengikutinya hanya karena ia adalah gadis yang populer di Perusahaan.
.....
Malika berbisik pada Oceana “Menurut kamu, mereka berantem nggak?”
“Siapa Lika?”
“Lihat di arah depan”
Yang duduk di arah depan mereka dan cukup jauh adalah Agatha dan Ratu. Mereka membuang muka satu sama lainnya. Biasanya pasti sudah berbagi make-up atau saling melihat ponsel satu sama lain untuk memilih apa yang ingin dibeli di situs online Perusahaan mereka.
“Ehem-ehemmm” David berdehem.
“Haus Pak?” tanya Ivan.
“Enggak” Lanjut David berdehem kembali. namun orang yang diinginkan nampaknya tak sadar.
"Malika, Oceana, apa kalian tidak lelah saya tegur setiap hari karena tidak fokus dengan pekerjaan masing-masing?"
“Maaf Pak” Malika membetulkan posisi duduknya.
“Nanti aja kita bahas Lika”
“Iya, lagian tumben banget itu dia bisa betul manggil nama aku” bisiknya lagi.
“Padahal kan bisa nanti di luar jam sibuk, atau setidaknya ketika saya keluar, seperti merekaa....” David kembali menarik nafas melihat Agatha dan Ratu.
Niat David adalah menjadikan Agatha dan Ratu sebagai contoh. Namun mereka terlihat lebih parah.
“Kenapa lagi Pak?. Butuh sesuatu Pak?” tanya Jagad.
“Saya sepertinya butuh...” David berdiri menatap meja lainnya. “ Agatha, Ratu, kalian musuhan?. Apa leher kalian nggak sakit duduk seperti itu?”
“Ini memang posisi ternyaman Pak” jawab Agatha.
David juga menarik nafas sekali lagi setelah melihat Nora dan Genta yang saling senyum satu sama lainnya. Bunyi pesan di grup chat membuat David tak tahan lagi. Genta salah kirik emot cinta pada Nora di grup. Membuat Genta tak henti-hentinya membungkuk memohon maaf.
“Sudah-sudah, tampaknya yang saya butuhkan adalah udara segar. Tirta, kamu awasi sebentar oke!”
“Baik Pak”
“Memang hanya Tiirta yang normal disini”
__ADS_1
“Saya Pak?” tanya Jagad.
“Kalau saya Pak?” Ivan ikut bertanya.
“Kalian juga daritadi main game diam-diam kan” Ucapan David membuat Ivan menggaruk kepalanya ketahuan.
“Pak, langsung keluar saja Pak. Biar saya atasi” ujar Tirta.
David menepuk bahu Tirta. Seolah ia menitipkan pesan dari sini saya serahkan padamu.
.....
Oceana berniat langsung menemui Rafanza setelah selesai. Tetapi Tirta meminta untuk bertemu sebentar.
“Ada apa Tirta”
“Kamu udah nggak latihan mengemudi lagi Sean?”
Malika sudah cukup lama berhenti karena sudah lancar dan lihai.
“Bukannya kemaren aku udah bilang ya. Lagipula nggak enak aku yang paling lama disana sementara banyak yang antri. Apalagi mereka bayar”
“Kan nggak apa-apa”
“Akunya yang nggak enak, Tirta. Lagipula Kak Rafa.... eh maksudnya Pak Rafanza mau ajarin aku”
“Ohh gitu," Tirta menyodorkan tangannya "selamat ya Sean. Aku harusnya bilang sebelumnya, aku berharap semoga hubungan kalian lancar”
“Makasih Tirta. Kalau gitu aku duluan ya”
Oceana tak tampak lagi, sementara itu Tirta kembali untuk mencari keberadaan Agatha. Sebelumnya ia melihat mantan pacarnya itu terlihat marahan pada Ratu.
Sudah melihat kesana kemari, Tirta tak dapat menemukan Agatha. Ia naik ke atap memastikan dahulu. Rupanya Agatha berdiri disana membiarkan wajahnya diterpa angin.
Agatha mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat. Ia memalingkan wajahnya melihat kedatangan Tirta.
“Bukannya yang lain udah pada pulang?”
“Aku mau nikmatin udara ini sebentar”
“Dingin”
“Iya” Tirta berbalik ingin pergi.
Agatha menahan lengan lelaki itu, kini mimiknya memelas “Apakah aku memang sangat mengganggu Tirta?. Kamu juga kan membenci sifatku. Tapi tidakkah kamu lihat aku mencoba memperbaikinya perlahan”
Memang akhir-akhir ini Agatha tidak seperti awal mereka disana. Tidak sembarangan mengomentari siapapun lagi serta terlihat lebih tenang dari biasanya.
Angin sepoi-sepoi itu perlahan makin liar membuat dingin semangin merasuk ke tubuh. Saat itu Tirta juga tampaknya menyadari bahwa perempuan yang tidak bisa menghargai orang lain dan berbicara seenaknya itu memang berusaha berubah. Mungkin hatinya pun begitu, menerima Oceana dengan Rafanza dan membiarkan dirinya membangun cinta yang baru.
.....
Sementara itu di ruangan Tim Pemasaran 2...
“Pak, boleh saya tahu nggak kenapa harus saya yang bantuin bapak?” protes Malika.
“Harusnya kamu makasih, seharusnya saya suruh Ocean saja bagaimana?”
“Jangan Pak, dia kan lagi nge-date”
__ADS_1
“Dia lagi latihan mengemudi sama Rafa. Katanya dia bawa mobil kaya kura-kura”
“yang penting udah usaha kali Pak” Malika terus menyusun berkas-berkas.
Dasar emang cowok nggak peka. Udah tahu Sean dan Pak Rafa lagi nge date
“Malika kamu ngomongin saya?”
“Kedengeran Pak” Malika agak syok.
Memang sepertinya dipercayakan sebagai leader di Tim Pemasaran 2 sangat-sangat menguras batin. Bukan hanya para karyawan yang suka asik sendiri dengan urusan masing-masing, ucapannya dan bahkan keberadaannya seolah tak terlalu mendominasi dan tidak akan membuat karyawannya hormat. Sepertinya, ia tidak akan mampu meraih pemimpin tim paling berprestasi. Dia harus merelakan Ajib mengejek nantinya karena hanya memiliki otot dan tubuh yang kekar tapi tak berpengaruh sama sekali.
“Tapi Pak?”
“Malika, apa kamu tidak mau selesai dengan cepat. Masih ajak saya mengobrol terus”
“Saya penasaran dengan satu hal pak”
“ Penasaran apa”
“Kenapa anda selalu menyuruh Sean setiap kali ingin melakukan sesuatu”
“Karena tubuhnya besar dan kuat”
“Maka emang Pak Rafanza adalah satu-satunya yang cocok dengan Sean”
“Maksud kamu bagaimana?”
“Oceana itu perempuan Pak. Padahal ada Ivan dan Jagad yang kontribusinya paling sedikit. Kan bapak bisa nyuruh mereka. Bukannya lihat fisik, apalagi Sean itu perempuan pak." Suara Malika terdengar meninggi mungkin karena kesal.
“Kok kamu yang marah”
“Makanya anda masih jomblo Pak”
“Eh jangan pakai nyindir segala ya. Kamu belum dengar alasan lengkap saya”
“Apalagi Pak. Jangan nyinggung fisik terus lah Pak atau saya pamit duluan pulang”
“Oceana itu pekerjaanya selalu rapi dan teratur. Apalagi setiap proposalnya” David memastikan tidak ada yang mendengar.
“Proposalnya bagaimana Pak?”
“ Dibandingkan punya Ratu yang terlalu lurus dan tidak ada variasi meskipun bagus. Proposal Oceana terlalu sempurna dan kreativ, bisa-bisa tahun depan dia yang akan menggantikan posisi saya”
“Jadi urusannya dengan disuruh apa Pak?”
“Saya bisa membuat dia istirahat sejenak. Kalau terus-terusan bisa-bisa dia nyiksa saya buat cari kekurangan proposalnya yang selesai lebih cepat”
“Ooh rupanya begitu. Tapi proposal saya bagaimana Pak?. Kok tidak dibahas”
“Kamu dan Ivan serta Jagad. Kalian sama, mata saya yang sakit lihat warna proposal yang terlalu menabrak antar tema atau font yang sangat aneh bahkan tidak terbaca”
“Ooh Jadi Itu Penyebab Bapak Terus Menerus Meminta Saya Mengulanginya”
“Iya, jadi lekaslah selesaikan ini!”
Malika sudah tiba di dekat pintu “Bagian saya sudah selesai Pak, Saya pulang dulu”
David menyelesaikan pekerjaannya. Padahal mereka mengobrol sedari tadi. Mengapa Malika selesai lebih cepat. Rupanya sembari bercerita, Malika memindahkan berkas yang harus disusun ke tempat David. Ia sengaja memancing David agar tidak fokus dengan berkas yang ia pindahkan. Dan cara tersebut, berhasil.
__ADS_1
Bersambung....