
Rafanza dan Oceana menenangkan hati mereka masing-masing. Mereka masih salting dengan ciuman yang barusan terjadi.
Apa ciuman aku berlebihan ?. Sean mungkin merasa tidak nyaman. Apa aku harus minta maaf ya. Dasar bibir laknat, nafsuuu.
Oceana melirik keluar kaca Mobil.
Ciuman Kak Rafa benar-benar terasa menggairahkan. Persis seperti Drama Korea kesukaan aku.Apa aku terlalu kentara kagetnya ya. Apa aku minta kita ulang sekali lagi saja. Nanti malah kelihatan aku yang ngebet banget lagi.
Rafanza menatap Oceana. "Sean,"
"Mmm" Oceana sedikit terperanjat dengan panggilan itu.
Rafanza berdehem sebentar untuk memastikan suaranya bersih. "Aku tahu mengapa orang-orang menikah,"
Menikah?. Apa Kita akan membahas pernikahan. Gumam Oceana di dalam hatinya.
" Iya Sean, bukan hanya karena Cinta, tapi tanggung jawab, Itu inti yang diinginkan Om Bambang untuk aku pahami. Aku mencintai kamu, tapi dengan menikah artinya aku mempertanggungjawabkan cinta yang aku pilih. Aku melindungi kamu, Memahami kekurangan dan kelebihan Kamu. Barulah kita menjalin rumah tangga"
Rafanza tahu makna mengapa Pak Bambang meminta waktu untuk mereka saling memahami dahulu. Setelah masalah yang ia hadapi, dimana Tuan Kusuma, tampak menyerahkan segala solusi dari dirinya.
Oceana mengangguk "Sepertinya, aku juga bisa mengerti, Egois, Memikirkan yang terbaik sendirian hal itu tidak berlaku untuk Rumah Tangga. Kita harus membangun suka ataupun duka Bersama"
...........
Oceana dan Rafanza memutuskan untuk menikmati keindahan sekitar. Mobilnya di parkiran rumah Oceana.
Melihat suasana berbeda antara Rafanza dan Oceana. Pak Bambang dan Bu Omai sudah tahu kalau mereka menyelesaikan berbagai kesalahpahaman yang terjadi.
"Pa, betul ternyata apa yang disampaikan Tuan Kusuma"
"Apanya?"
"Kalau Rafanza itu memang sudah Dewasa, Dia bilang akan memastikan Putranya menyelesaikan masalah sendiri. Jadi Papa yakin kan sama Rafanza"
"Yakin apa,"
"Ya yakin kalau dia pantas jadi Menantu kita"
"Papa Sibuk, mau atur barang dulu" Pak Bambang berjalan ke Toko mereka yang selesai diperluas.
Dasar, pasti dia masih nggak rela sama putrinya.
...........
Sementara itu, Bagas yang tahu Rafanza datang dengan mobil terparkir tak tinggal diam. Ia menghubungi Rafanza , ada hal yang harus ia selesaikan.
"Bagas bilang apa Kak Rafa?"
"Sean, ayo kita ke suatu tempat lagi!"
Mereka berjalan hingga sampai di tempat lapangan basket tempat biasanya tanding diadakan juga tempat banyak tim basket latihan termasuk Bagas.
"Loh ini kan tempat ?" Oceana melirik Rafanza bingung.
__ADS_1
"Mm, Bagas ngajak ketemu disini."
"Kok aku nggak dikasih tahu?" Oceana tak pernah menerima pesan dari Bagas.
"Tadi dia menelepon ajakin kesini"
"Buat apa?"
Mereka masuk ke tempat tersebut. Setelah cukup lama, Bagas dan teman-temannya datang dan menyambut dengan hormat dahulu. Mereka menghormati Rafanza sebagai senior. Setelah itu Bagas menantang Rafanza tanding Basket By One dengannya.
Oceana menginterupsi "Tapi Kak Rafa nggak bisa basket, itu nggak adil Gas"
"Siapa bilang aku nggak bisa Sean?" Rafanza kebingungan menatap Oceana yang lebih kebingungan lagi.
Oceana kini ke sisi adiknya. "Gas Udahlah gas" Oceana berusaha menghentikan Bagas, mencubit pinggang adiknya.
"Duh Sakit Mbak, ini keharusan. Memangnya dia siapa" Bagas melirik tajam Rafanza yang sebaliknya tersenyum smirk.
"Wooohhhho" Teman -temannya ikut meramaikan.
"Eh kalian juga ngapain ikut-ikutan teriak" tegur Oceana pada teman-teman adiknya.
"Sean, aku bisa kok"
"Tuh kan Mbak. Dia harus dikasih latihan dulu" tunjuk Bagas.
"Biar apa Gas?" Oceana berbisik.
"Kamu ahli basket dia enggak"
Rafanza menarik tangan Oceana mendekat. Ia kembali mengelus kepala Oceana."Percaya aku, aku bisa Sean."
"Sebentar ya Kak Rafa"
Oceana balik ke sisi adiknya.
"Apa alasan kamu sebenarnya sih Gas?"
"Sok-sokan mau menikah lagi. Ngapain ngajakin Mbak Sean nikah kalau dia nggak bisa bikin Mbak bahagia. Bikin Mbak Nangis" Dengan sinis Bagas menyindir calon kakak iparnya tersebut.
Masalahnya yang ngajak nikah Mbak mu ini Gas. Bukan Kak Rafa.
"Kesimpulan dari mana Gas, dan kita udah dammm...."
Rafanza memotong ucapan Oceana. "Ya sudah ayo" Rafanza meletakkan tas sampingnya ke atas bangku.
Ia mengelus kepala Oceana agar tak khawatir. Oceana justru lebih khawatir dengan siapa yang harus ia dukung.
"Aku akan jelasin aturannya" Bagas mendribble bola basket menantang Rafanza.
"Tidak usah, aku tahu aturannya" Rafanza mengatur nafas.
"Kalau aku kalah, aku akan terima saja kakakku yang bodoh itu dibutakan oleh cinta. Tapi kalau menang aku akan memukul kamu sekali karena berani membuat Kakakku menangis" Bagas penuh dengan tatapan berapi-api.
__ADS_1
"Oke kalau aku menang, kamu turuti juga satu permintaan dariku. Baru adil ya kan?" Rafanza meminta persetujuan dari teman-teman Bagas.
Mereka semua setuju, karena permintaan dari yang menang harus dari masing-masing pihak. Mereka mulai bermain, Oceana tepuk tangan untuk siapapun yang berhasil memasukkan bola ke ring. Jangan buat mereka merasa dibedakan Iya begitulah yang terbaik.
Akhirnya Rafanza berhasil mengalahkan Bagas. Bahkan hal itu diakui oleh teman-teman Bagas yang berlaku sebagai saksi dan juri.
Masih tidak terima, Bagas mencoba menantang Rafanza bermain Game. Meskipun Rafanza sempat membantunya dalam Game yang ia dan teman-temannya rancang. Tanding kali ini berbeda karena ada yang mereka pertaruhkan.
Meskipun bermain hingga 3 kali. Tetap saja Bagas gagal mengalahkan Rafanza.
"Apa aku harus mengalah dulu dan membiarkan kamu menang sekali Bagas"
"Tidak ayo kita bertanding lagi!"
"Sampai kapan, kamu hanya ingin menyalurkan kekesalan bukan. Maka lakukan saja!" Rafanza menawarkan diri.
Ia tahu Bagas melakukan hal tersebut karena dirinya. Mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama jika memiliki saudara perempuan.
"Bagas"' Oceana berteriak menghentikan keinginan adiknya untuk memukul Rafanza.
Oceana menjelaskan bahwa apa yang Bagas ketahui tidaklah semuanya. Beberapa hal detail tidak ia ceritakan.
"Jadi Maksudnya, Mbak Sean juga salah?".
"Iya Gas"
Bagas mendekati tubuh Rafanza. Oceana sudah bersiap bahkan memberi aba-aba pada teman-teman adiknya agar segera membantu. Oceana terus menghalangi Bagas agar tidak melanjutkan niatnya.
Bagas menjauhkan Oceana, meskipun yang lainnya panik tidak dengan Rafanza. Dengan senang hati ia menerima perlakuan Bagas.
Ternyata Bagas memeluk Rafanza. "Hanya Kak Rafa yang pantas aku panggil Kakak Ipar. Kakak Ipaaar"
Teman-temannya ikut memeluk Rafanza dan memanggil dengan sebutan kakak Ipar. Sementara itu Oceana hanya geleng-geleng kepala dan sudah merasa sesak kalau saja adiknya tak terkendali.
Rafanza mentraktir Bagas dan teman-temannya. Bahkan mereka pergi ke banyak arcade untuk mempererat hubungan. Tak lupa Bagas memuji bagaimana hebatnya Rafanza dalam membantu mereka menyelesaikan berbagai masalah Game yang dirancang.
"Eh tapii" Rafanza menghentikan sukacita mereka.
"Kenapa Kak Rafa?" Oceana ikut terdiam.
"Bukannya aku menang?"
Semua orang mengangguk.
"Bantu yakinkan orang tua kamu mengizinkan aku menjaganya" Rafanza memandang Oceana.
"Aku pasti bantu Kakak Ipaarrr" teriak Bagas sembari memeluk Rafanza.
Oceana hanya tertawa melihat kelakuan adiknya dan juga Rafanza.
Bersambung.....
.......
__ADS_1