
Rafanza semalaman mencari sebuah tempat makan romantis. Ia memutuskan melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan pasangan lainnya. 3 bulan, dalam waktu 3 bulan ia akan membuat Oceana merasa bahagia memutuskan berpacaran dengannya.
Pekerjaan kantor terlihat lancar, Rafanza sibuk dengan posisinya, sementara Oceana sibuk dengan pekerjaan di kantor serta les mengemudinya. Mereka hanya bisa bertemu saat malam atau ketika waktu luang.
2 hari sebelumnya, Rafanza dan Ajib serta David bahkan Budi sengaja menghidupkan dua laptop di tempat masing-masing. Mereka harus mendapatkan tempat di sebuah restoran yang hanya berpeluang kecil untuk di reservasi jika tidak tanggap.
Tepat pukul 12 malam, mereka semua bersiap. Meskipun Ajib tak bisa mendengar lagu galau kesukaannya sebelum tidur nyenyak, tayangan favorit David sedang berlangsung dan Budi yang ngantuk berat. Dengan kecepatan jari, klik yang Rafanza lakukan berhasil dideteksi sistem restoran tersebut sehingga akhirnya mendapat tempat.
“Kalau tau aku yang dapat, nggak perlu repot menyusahkan yang lain”.
Mengetahui hal tersebut. David kembali ke aktivitasnya. Sementara Ajib dan Budi kembali menuju mimpi indah mereka yang terlewatkan.
.....
Oceana tak bisa berkata-kata dan kebingungan bagaimana Rafanza mendapatkan tempat.
“Kak Rafa nggak ngeluarain uang lebih kan?”
“Aku lakuin ini sama seperti yang lain Sean, biar kerasa kerja kerasnya”
Mereka menikmati makanan tersebut. Tempat terkenal dengan reservasi ketat seperti sebuah tiket K-POP. Tempat yang memang memiliki cita rasa unik sekaligus berbeda. Rafanza tak bisa menahan diri untuk tersenyum ketika melihat Oceana makan dengan lahap sembari sesekali menggoyangkan kepala tanda sangat menikmati makanannya.
“Kamu pelan-pelan saja Sean. Tidak akan ada yang mengganggu kita”
“Udah kebiasaan Kak Rafa”
Oceana tiba-tiba berhenti menyantap makanannya.
“Kenapa?. Ada yang salah sama rasanya?”
Oceana menggeleng pelan. “Kak Rafa risih nggak sama cara makan aku?.”
Oceana memelankan ritme makannya. Memotong suapan menjadi lebih kecil. Ia menjadi sosok yang anggun dan terlihat tenang. Hal itu membuat Rafanza tertawa, hingga harus minum untuk menenangkan mulutnya.
“Sean, kamu...”
“Kenapa Kak Rafa?” Oceana bahkan melihat wajahnya di ponsel. Mana tahu Rafanza tertawa karena wajahnya belepotan.
Rafanza mengelus kepala dan memainkan dengan mengacak lembut rambut Oceana.
“ imut sekali, makan saja dengan tenang dan bagaimana kamu nyamannya. Aku menyukainya”
Oceana tak marah saat Rafanza menyentuh rambutnya. Padahal dari dulu dia tak suka rambut dan kepalanya dimainkan bahkan disentuh orang lain.
...
Melewati sebuah toko coklat dan brownis.
Sean kan suka coklat.
"Sean, ayo kita kesana!"
"Ta tapi Kak Rafa" Oceana pasrah ditarik masuk.
__ADS_1
Semua jenis brownies yang termahal di ambil oleh Rafanza. Mereka berniat memakan semuanya sembari menonton pertandingan basket Bagas.
Jaket senada yang mereka pakai dengan jenis dan bahan yang sama awalnya membuat orang-orang berpikir bahwa mereka saudara. Namun Rafanza dengan tegas mengatakan bahwa Oceana adalah pacarnya, membuat gadis berpipi chubby itu merasa bangga dan dengan berani mengangkat kepalanya percaya diri.
Awalnya satu buah brownis dimakan dengan sangat nikmat oleh Oceana. Sesekali ia ikut berteriak menyemangati. Mereka sengaja mengambil kursi paling belakang agar tidak terganggu dengan penonton yang lainnya.
Lanjut ke brownis coklat kedua, Oceana menutup tempatnya dan memfokuskan pandangannya ke pertandingan.
“Sean, kok berhenti?. Nnggak enak ya?”
“Enak kok. Kak Rafa, aku benar-benar suka semuanya. Rasanya pengen aku cicipi”
“Tapi?” Rafanza menunggu penjelasan.
“Sebenarnya aku lagi berusaha ngurangin coklat, lagi diet ” bisik Oceana.
Rafanza membalas dengan berbisik “Kalo gitu kamu coba aja sedikit, sisanya aku yang makan”
“Kak Rafa juga suka coklat?”
Aku nggak suka manis dan apalagi coklat Sean. Tapi demi kamu
“Suka kok, jadi kamu bisa kasih aku setelah cicipi semuanya”
Meskipun Rafanza bilang ia menyukainya, namun kelihatan sekali bahwa ia sedang berusaha menikmati dan menelan berbagai coklat dan brownis tersebut.
Bagas bergabung dengan mereka. Mengetahui bahwa Rafanza menghabiskan sebanyak itu membuat Bagas bertepuk tangan.
“Enggak, bugar kok” Rafanza berdiri dan mengelus perutnya yang terasa penuh.
“Bukannya Kak Rafa nggak sukkk.nlm/,;m” Mulut Bagas langsung ditutup Rafanza. Mereka akhirnya pulang.
....
Esok harinya Rafanza tidak datang ke kantor. Oceana hanya diberi tahu kalau Rafanza sedang sedang tidak enak badan pagi tadi sepertinya terkena gangguan pencernaan. Sehingga ia pergi ke Perusahaan diantar Bagas.
Oceana mendatangi rumah Rafanza dengan taxi. Kebetulan yang ada di rumah hanya Rafanza dan Bi Yuyun serta Neti, Irda dan Cika. Nyonya Linda pergi shopping dan mungkin akan kembali saat siang.
“Non Ocean, tunggu den Rafa keluar kamar dulu sebentar ya non” Bi Yuyun menyiapkan teh.
“Nggak boleh masuk ke kamarnya Bi?”
“Den Rafa itu kamarnya berantakan non, takutnya Non nggak nyaman katanya. Itu si Neti lagi bantuin beres-beres”
“Ooh begitu ya Bi. Ini sekalian buahnya apa aku potong sekarang ya?”
“Biar Cika dan Irda yang lakuin Non"
Saat Cika membawa parsel buah untuk dipotong. Neti tiba-tiba berteriak minta tolong. yang membuat semuanya berlari ke kamar Rafanza di lantai 3 dan amat jauh membuat nafas habis.
“Ada apa?” tanya Bi Yuyun panik.
Oceana langsung mendekati Rafanza yang sudah terjatuh di lantai. “Kak Rafa” Nafasnya memburu dan rasa panik memenuhi dadanya.
__ADS_1
“I Ini ini... usus buntu Nonnnnnn” Neti menjawab terbata.
“ Cepat panggil ambulan Irda!” perintah Bi Yuyun.
“Cika panggil; pak satpam buat bantu”
Dikarenakan mereka semua kecuali Rafanza adalah perempuan. Oceana langsung menaikkan Rafanza ke punggungnya menunggu datangnya ambulan.
“Biar aku aja Bi”
“Tapi Cika”
Oceana tak menghiraukan larangan Bi Yuyun dan terus menggendong Rafanza hingga di lantai 1 Pak Satpam yang sudah tua menghampiri.
“Biar saya Non"
Akhirnya yang ikut naik ke Ambulan adalah Oceana karena Nyonya Linda belum datang.
“Dia nggak apa-apa kan pak?” tanya Oceana pada petugas.
“Tidak apa-apa, biasanya usus buntu memang sering terasa mendadak. Apalagi jika menahan sakitnya cukup lama”
“Pantas saja aku pikir Cuma gangguan pencernaan biasa. Soalnya kemarin dia makan terlalu banyak”
Rafanza tak menyalahkan Oceana, tapi ia tak bisa berkata-kata dengan rasa sakitnya. Setibanya di rumah sakit, semua prosedur operasi disegerakan. Bukan hanya orang tua Rafanza yang berpengaruh, Pak Abdan yang memiliki relasi luas juga ikut membantu.
....
“Sean, kamu nggak pulang dulu?” ujar Nyonya Linda.
“Aku mau nungguin disini Tante”
Nyonya Linda paham kekhawatiran Oceana. Namun hari semakin larut, tampaknya juga mereka tidak bisa masuk malam itu.
“Tante tahu kamu bahkan bantuin gendong Rafa, dari sore sampai sekarang. Biar Budi yang anterin kamu ya”
“Iya Ocean, ada aku. Biar aku jemput kamu besok buat mengunjungi” David setuju dengan Nyonya Linda.
Akhirnya Oceana pulang diantar Budi. Semalaman ia tak bisa tidur, ia terbayang wajah Rafanza menahan rasa sakit tersebut. Apakah operasinya lancar atau atau tidak. Besok pun, dia pasti hanya bisa berkunjung ketika pulang dari kantor. yang mengakibatkan Oceana tak fokus sama sekali dalam pekerjaannya.
“Oceana, perbaiki lagi proposal kamu, lihat fontnya yang tidak teratur ini!” tunjuk David.
“iya pak, akan saya ulangi” Oceana berbalik pergi.
“tunggu sebentar” David memanggil tapi Oceana tak menyahut.
“Oceana” panggil david sekali lagi.
“Iya Pak”
David mengisyaratkan agar ia mendekat. Lalu membisikkan bahwa Rafanza sudah sadar,meminta Oceana fokus saja di kantor agar nanti bisa berkunjung. Rafanza tidak bisa menghubungi karena ponselnya tidak bersamanya.
Bersambung....
__ADS_1