
Pak Bambang duduk di samping ranjangnya sembari mengusap kening. Dia tidak tahu harus mengatakan apa, perasaannya campur aduk dan sedang berusaha menahan tangis.
Tak lama setelahnya, Bu Omai masuk sehabis dari kamar mandi. Kini pukul 2 malam, Bu Omai tahu suaminya itu tidak tidur sebelumnya seperti ada sesuatu yang mengganjal.
“Sean dan Bagas sudah pada tidur.” Bu Omai memastikan sendiri dengan melihat lampu kamar putri dan putranya.
Akhirnya Pak Bambang menjelaskan dengan terbuka apa yang sudah terjadi. Bahwa ia sudah diberhentikan di Perusahaan dagang tempatnya bekerja. Itu juga sebab saat makan malam ia pulang membawa berbagai hidangan mahal dari pesangon yang ia dapatkan.
Bu Omai tidak mampu menahan tangisannya. Jika nanti mereka harus menguliahkan Bagas, darimana uang mereka. Belum lagi biaya pernikahan Oceana. Kalaupun ada tabungan lama, bagaimana mereka akan hidup selanjutnya. Pak Bambang berusaha menenangkan istrinya, bagaimanapun ia akan mencari pekerjaan lainnya apapun itu.
Pak Bambang ingin merasahasiakan hal itu sementara, sampai dapat pekerjaan baru.
Di luar pintu kamar, Oceana yang memang sedikit sensitif dengan suara saat malam terbangun. Ia mendengar hal itu dan kembali ke kamarnya diam-diam.
Esok harinya, saat sarapan bersama...
“Pa, aku diantar Papa ya”
“Papa kan nggak searah Mbak. Bukannya ada Kak Rafa, apa kalian bertengkar?”
“Bukan gitu Gas, Kak Rafa baru pulih”
“Tapi kan kemaren?”
“Gas, aku mau sama Papa. Kamu jangan ikut campur”
Bu Omai menyuruh mereka berhenti berdebat dan melanjutkan makan. Tidak masalah jika Oceana ingin berangkat dengan Papanya.
Setelah Bagas pamit duluan pergi, Oceana bertanya mengenai apa yang ia dengar semalam. Ia minta maaf karena menguping sembarangan tetapi tetap meminta Pak Bambang menjelaskan apa yang terjadi.
Oceana tak habis pikir bahwa hal itu ada kaitannya dengan Tuan Bayu. Ia mengancam akan mematikan usaha di Perusahaan tempat Pak Bambang bekerja apabila tidak memecatnya. Sebelumnya Pak Bambang ditawari sebuah kerjasama, apabila bisa membuat hubungan Oceana dan Rafanza berakhir maka ia bisa tetap bekerja. Akhirnya Pak Bambang lebih memilih berhenti daripada mengorbankan kebahagiaan putrinya.
“Tapi kamu jangan gegabah di Tempat kerja ya Sean!” Bu Omai takut putrinya kelepasan dengan Ratu.
“Aku akan coba pikirin nanti Ma, aku akan berhati-hati”
......
Di Perusahaan...
__ADS_1
David sibuk mengarahkan Tim Pemasaran 2 agar kondusif di ruang presentasi nantinya. Apalagi mereka berhadapan dengan beberapa anggota direksi serta Direktur Pemasaran yakni Rafanza.
“Ratu, kamu yakin sudah menyiapkan semuanya kan?”
“Iya Pak Sudah”
“Saya yakin kamu bisa, apalagi kita semua sudah paham dengan isi filenya. Kamu hanya perlu menjelaskan dengan sangat menjiwai seolah hal ini akan benar-benar menarik pelanggan kita. Oke!”
“Baik Pak”
David memperhatikan anggota timnya satu-persatu. Jika menyuruh Tirta, bagaimana dengan suasana kondusif yang harus diatur di ruang presentasi. Jika menyuruh Agatha, pasti tak ada yang diperhatikan Agatha karena ia mempercayai Ratu. Jika meminta Nora dan Genta, mereka tak peduli dengan keselamatn yang lain selagi mereka mencapai pekerjaan sendiri. Pilihan tersisa antara Malika dan Oceana, lebih baik pada Oceana saja, karena lebih teliti dari siapapun di tim mereka.
“Oceana, kamu print proposalnya sebanyak yang hadir ya!”
“Baik Pak”
Saat yang lain sudah mulai perlahan pergi ke ruang presentasi di lantai atas, Oceana menunggu semua Proposal selesai dicetak. Ia melihat satu file Proposal yang sudah selesai, lalu tidak bisa menahan keterkejutannya dengan isi proposal yang amat berbeda dari kemarin.
“Ada bagian yang diubah Ratu, tapi ini benar-benar nggak mungkin dipresentasikan”
Malika membuka pintu dan melihat Oceana sedang berdiri di depan file yang sudah menumpuk.
“Lika, kamu bisa gantiin aku bawa semuanya nggak?”
“Kenapa Sean, kamu mau ke Toilet?. Aku tungguin aja biar barengan”
“Enggak Lika, kamu duluan aja oke!”
“Ya udah, tapi kamu cepat ya!”
“Oke”
Oceana mencetak file proposal yang sudah ia siapkan juga berdasarkan perintah jaga-jaga David apabila ada sesutau yang tidak terduga terjadi. Untungnya semalam Oceana masih berlatih untuk menampilkan proposal miliknya juga, bahkan sebelumnya ia terus berlatih meskipun bukan gilirannya untuk presentasi.
Hal ini sudah jadi kebiasaan Oceana karena ia merasa sesuatu yang tak terduga bisa saja menjadi kesempatan dan pleuang baru.
Oceana masuk ruangan pelan-pelan saat Presentasi dimulai. Ia meletakkan tas kertas berisi banyak file di samping kursi. Malika menyodorkan proposal milik Ratu ke tangan Oceana.
Mulai dari bagian yang tadi dicurigai Oceana, bahwa Ratu membuat semua orang menjadi tegang terutama anggota Tim Pemasaran 2 apalagi David yang wajahnya seketika memerah menahan diri.
__ADS_1
Salah satu anggota direksi menginterupsi Ratu
“ Mengapa kamu berpikir untuk mengurangi harga padahal kita menggunakan banyak dana untuk promosi?”
“Bagian itu akan dijelaskan oleh rekan saya Pak, Oceana” Ratu menunjuk Oceana dan kembali ke kursinya.
Rafanza mencoba menyelamatkan situasi tetapi Oceana lebih duluan berdiri. Ia mengambil tas yang tadi ia bawa dan membagikan proposal lainnya yang suda ia cetak.
Oceana memberikan flashdisk file miliknya pada Tirta untuk disambungkan ke layar proyektor.
“Tirta langsung ke halaman 18 !”
“Baik Sean”
Oceana berdiri dengan percaya diri di depan semua yang hadir. Ia menarik nafs dalam-dalam sebelum tampil dan mengeluarkan isi kepalanya.
“Baiklah, mungkin pembukaaan sudah disamaikan oleh rekan saya sebelumnya. Jadi intinya bukan mengurangi harga tetapi mengubah strategi.... bala bla...blaa”
Ratu meremas jemarinya sendiri. Ia tak menyangka Oceana bisa menghadapi situasi tersebut. Padahal ia yakin kalau Oceana tak mampu tampil di depan umum apalagi dalam kondisi serius seperti itu.
Mendengar penjelasan Oceana, para anggota Direksi bertepuk angan, mereka tak menyangka bisa ada ide seperti itu. Mereka bahkan memuji David yang selalu berhasil dalam pekerjaan apalagi dalam memimpin Tim.
Salah satu dari mereka bahkan menepuk pundak Rafanza “Anda mencari pasangan yang hebat dan kompeten, saya pikir rumor itu hanya gosip belaka. Tapi jika rumor itu nyata anda beruntung”
“Terima kasih, tapi perlu saya luruskan bahwa itu bukanlah sekedar rumor, hubungan kami memang nyata” Ujar Rafanza yang tersenyum melirik Oceana bangga.
Setelah proyek tersebut disetujui oleh Tim Humas dan beberapa anggota Direksi memberi pujian. Tinggallah para anggota Tim Pemasaran 2 di ruangan tersebut.
“Kita kembali ke kantor kita, dan Ratu, siapkan diri kamu” David mencoba mengatur ekspresinya.
Di ruangan Tim Pemasaran 2.....
David meminta semua tirai ditutup, pintu pun juga. Jgada dan Ivan serta Genta turun tangan menutupi semua celah. David mengambil file proposal Ratu, menghempaskan proposal itu berkali-kali ke meja membuat beberapa dari mereka tersentak.
“Kamu pikir perintah saya lelucon” Nada David meninggi, ia marah kelihatan dari daun telinganya yang merah tak kalah dari wajah garangnya.
“Ini rencana Oceana Pak” Ratu meneteskan air matanya dan melirik Oceana “Sean, jelasin semuanya sama Pak David”
Oceana hanya menatap Ratu sejenak, hingga salah satu Tim Humas yang ingin bertanya mengenai file yang akan dipakai mendengar pertengakran tersebut. Ia mengetuk pintu dan mengambil apa yang diperlukan lalu pergi. Seperti yang diduga perihal Oceana menjebak Ratu sudah mulai menjalar dari mulut ke mulut ke seluruh penjuru Perusahaan.
__ADS_1
Bersambung....