Miss Cute And Her Sunshine

Miss Cute And Her Sunshine
Ada yang aneh


__ADS_3

Oceana memikirkan apa yang terjadi pada Pak Bambang sebelumnya. Papanya rela kehilangan pekerjaan demi mempertahankan kebebasan dirinya. Mengapa ia harus menanggung rasa malu hanya karena simpati atau juga dimanfaatkan.


Oceana tiba-tiba mengingat dengan jelas orang yang dulu bersifat sama dengan Ratu saat masih SMA. Oceana harus menjadi sasaran omongan banyak orang hanya gara-gara diam saat disudutkan. Tetapi kini ia berbeda, ia sudah memafkan masa lalu bukankah masa yang ia jalani harusnya lebih baik. Kesalahan hanya boleh dilakukan sekali, jika terulang kembali, takutnya itu jadi kebiasaan.


“Oceana, cepat jelaskan apa perkataan Ratu benar?” David menarik nafas “Kalau kamu membenarkannya, saya akan maafkan kali ini hanya karena Kalian tidak mendengarkan atasan, proposal kita juga tetap saja akhirnya sukses”


“Tidak Pak, saya tidak merencanakan apapun”


Semua orang menatap Oceana. David juga meminta kejelasan mengapa Oceana bisa menyiapkan proposal tiba-tiba saat akan presentasi.


“Saya membaca file yang milik Ratu yang tercetak Pak. Saya menyadari ada bagian yang berbeda dari sebeumnya. Saya mengambil inisiatif untuk mencetak file milik saya sendiri untuk mengatasi masalah nantinya apabila tertolak. Adapun masalah tadi, mengapa saya seolah menyetujui Ratu terkesan memang setuju adalah karena saya tidak mau Tim kita dipandang buruk terutama oleh para anggota direksi, saya hanya mencoba menyelamatkan situasi”


Ratu tertuduk di lantai sembari terisak “Kenapa kamu jebak aku Sean, salah aku apa?”


“Aku nggak pernah menjebak kamu Ratu, kesalahan kamu adalah berusaha mencampuradukkan urusan pribadi dan pekerjaan. Kalau kamu ada masalah sama aku, kita selesaikan di luar.Jangan melibatkan orang lain bahkan mengorbankan mereka” Tunjuk Oceana pada rekan-rekan setimnya.


“Urusan kamu belum selesai dengan saya Ratu, saya akan menghubungi manajemen etika Perusahaan”


“Bapak nggak adil, bukan saya yang salah kenapa harus saya” Ratu bangkit. “Agatha kamu saksinya kan kemaren, waktu Oceana ancam aku”


Agatha terdiam, ia teringat pesan dari Nyonya Ideth yang takut dengan perubahan sikap Ratu. Yang takut Ratu menjadi tidak berperasaan jahat seperti Tuan Bayu.


“Aku..akuuu.... “ Agatha merasa seperti tercekik, ia tahu Ratu akan lebih membencinya jika tidak membantu.


Agatha membulatkan tekad, ia sudah berjanji dengan Nyonya Ideth. Ia juga sudah memutuskan untuk perlhan berubah menjadi lebih baik untuk Tirta. Sehingga, Agtha menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak melihat Oceana mengancam Ratu.


Mendengar hal tersebut, semua orang lega. Terutama Tirta yang kini memastikan bahwa Agatha memang serius ingin berubah.


David juga ikut menambahkan dan memastikan hal tersebut karena seharian kemarin Oceana, ia, Malika dan Rafanza sibuk mengetes Game rancangan. Ratu terus mencoba meyakinkan bahwa hal itu direncanakan Oceana jauh-jauh hari, namun karena ucapannya terdengar melantur, semua orang kini memandang Ratu dengan aneh.


Ratu merasa kesal, ingin sekali ia mengambil benda tajam melukai diri sendiri agar dipercayai. Namun jika melakukan hal tersebut, ia pasti akan dianggap lebih aneh.


Ratu membereskan barngnya dan pergi meninggalkan ruangan. Meskipun David sudah berteriak memanggil namanya. Ratu tidak mendengar dan terus berlari dengan keadaan urakan.


Di rumahnya pun Ratu hanya masuk akmar tanpa menghiraukan pertanyaan Nyonya Ideth mengapa ia pulang cepat. Ratu langsung membenamkan kepalnya di bantal dan memendam diri di kamar.


.......


Kejadian heboh tersebut bukan tidak mungkin sampai di telinga Rafanza.....


Di mobil, Rafanza menyetir dengan pelan “ Sean, kamu mau ke...”

__ADS_1


“Aku mau langsung pulang Kak Rafa, nggak pa pa kan?”


“Iya, tentu saja. Kalau kamu mau cerita apapun sama aku, jangan ragu ya”


“Aku lagi nggak mau cerita apa-apa Kak Rafa”


“Yasudah kalo gitu. Lebih baik kamu istirahat saja di rumah!”


Tidak mungkin Oceana menjelaskan bahwa Ratu bersikap demikian karena ingin Rafanza menjauh darinya. Ditambah lagi Papanya yang harus berhenti hanya demi hubungan mereka. Oceana tidak tahu bagaimana cara mengatasi apa yang terjadi saat ini, rasanya ia ingin berteriak pada dunia.


Setibanya di depan rumah, Oceana turun tanpa menunggu Rafanza membukakan pintu. Ia hanya menunduk dan berlalu tanpa menawarkan Rafanza untuk mamoir seperti biasanya.


Bagas melihat calon kakak iparnya dan segera berlari untuk berterima kasih. Rafanza sudah menjelaskan apa saja yang harus diperbaiki Bagas, juga bug yang harus segera diatasi.


“Kakak Ipar, terimalah hormatku” Bagas menunduk.


“Jangan begini Gas, aku balik dulu ya, Mama kamu mana?”


“Pergi ke pasar Kakak Ipar, nggak mampir dulu, Kakak ipar?”


“Nggak deh, salam aja buat Mama,, mama kamu maksudnya”


“Mamanya Kakak Ipar juga, mama mertua” Bagas masih terus menggoda calon kakak iparnya itu.


“Apa Sean tidak bicara pada kamu?” tanya Bu Omai.


“Ma, tahu sendiri bagaimana sifat putri kita” Pak Bambang menarik tangan istrinya melarang bercerita.


“Iya, mirip sama Papanya. Mirip siapa lagi ? ” Bu Omai tidak jadi bercerita.


“aku paham dengan Oceana, apalagi di Perusahaan juga ada sedikit masalah Tan,”


“Masalah apa nak Rafa?”


Pak Bambang kembali menasehati istrinya agar tidak ikut campur.


"Tidak begitu serius kok Tan, aku bisa mengatasinya, Perusahaan kami pun juga begitu."


"Oo baguslah itu"


Sama seperti Oceana, Pak Bambang masuk ke rumah tanpa basa-basi. Bu Omai hanya geleng-geleng kepala melihat sikap suaminya itu. Pilihan tahun hidup bersama, membuatnya menjadi lebih memahami.

__ADS_1


“Lihatlah itu, sudah tua masih begitu." Bu Omai melihat Rafanza " Nak Rafa mau masuk dulu”


“Nggak usah Tante, masih ada yang harus aku selesaikan”


“Boleh Tante minta tolong sesuatu?”


“Apa saja Tante” Rafanza tersenyum.


“Oceana itu mirip dengan Papanya, kalau ada masalah dia nggak mau ada orang lain tahu. Dia pikir menyembunyikan penderitaan sendirian adalah yang terbaik. Itu juga masalah untuk kalian. Tante harap kamu bisa memecahkan dinding itu untuk Sean ya. Sabar dan yakinkan dia.”


“Iya Tante, aku akan berusaha. Aku akan terus mendampingi Oceana bahkan di saat sulitnya”


......


Bagas tak henti-hentinya bertanya mengapa Pak Bambang pulang lebih cepat. Pak Bambang tak mau bercerita hanya mengelak bahwa itu bukanlah urusan yang perlu diketahui Bagas.


“Ada yang aneh Pa, sikap Papa”


“Tidak ada yang aneh” Pak Bambang berdiri dari kursinya dan pergi ke kamar mandi.


“Bagas, urus saja game kamu itu!” Oceana meminta adiknya.


"Mbak Sean juga, kenapa tadi nggak nawarin kakak ipar masuk”


“Kakak Ipar apaan sih Bagas "


“Kenapa kalian berantem?. Makanya Mbak bersikap dingin”


“Bagas diam deh!”


“Sean, apa ada masalah di Perusahaan?”


“Nggak ada Ma” Ocena masuk ke kamrnya.


“Tidak Papanya, tidak putrinya” Bu Omai geleng-geleng kepala.


“Ma aku,,," Bagas berhenti bicara.


Dibanding bertanya lebih jauh. Bu Omai menyuruh putranya itu pergi menjaga toko saja, karena sudah banyak anak-anak remaja perempuan yang melirik-lirik toko dari jauh sedari tadi. Mereka memastikan bahwa Bagas yang akan menjaga toko karena melihat Bagas sudah pulang.


Dengan malas Bagas berjalan pergi menuju toko. Para remaja itu asik menggoda Bagas yang diketahui sudah lama menjomblo. Mereka bahkan berdandan tidak sesuai umur. Bagas sampai harus menjelaskan kalau ia tidak terlalu suka dandanan menor. Beberapa dari mereka segera cabut, sementara yang lainnya hanya mengandalkan tisu dan sapu tangan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2