
Oceana duduk di mejanya ketika yang lain sudah pada pulang. Karena sudah menjadi karyawan tetap, tentunya ia punya jam pulang yang sama dengan Rafanza jika Rafanza tidak lembur.
Setelah memastikan pemikirannya lagi. Oceana yang kini pulang pergi bersama Rafanza meminta mereka pulang lewat sebuah rute.
"Stop Kak Rafa!"
Ciit,,, Rafanza menginjak pedal rem. "Apa Sean?"
"Kak Rafa coba deh lihat itu!" tunjuk Oceana pada hiasan sebuah kedai teh.
Rafanza menyipitkan matanya. Tulisan yang diukir dengan gaya aesthetic itu cukup besar dan jelas bahkan ada lampunya yang kelap-kelip.
"Gimana kak Rafa?" tanya Oceana.
"Sean, aku sebenarnya punya mata minus" ucap Rafanza.
"Loh" Oceana kaget. "Tapi aku nggak pernah lihat Kak Rafa pakai kacamata"
Oceana ingat kembali, dulu saat SMA ia memang pernah melihat Rafanza memakai kacamata. Baru kali itu ada cowok pakai kacamata kelihatan lebih keren. Bukan seperti stereotip bahwa yang pakai kacamata itu kutu buku. Rafanza malah kelihatan seperti Bos suatu Perusahaan dengan seragam SMA. Lancar juga Halu Oceana sebelum ia menyerah.
Bukan itu yang penting. "Terus kenapa Kak Rafa nggak pakai kacamata?. Kenapa kak Rafa nyetir?" nada Oceana naik, agak panik.
"Aku cuma nggak bisa lihat yang sejauh itu Sean. Kalau mengemudi aku bisa. Kadang juga pakai kontak lens"
"Wedding Meet?" Oceana membacakannya.
"Kamu mau kita kesana?" Rafanza melihat adakah tempat parkirnya.
"Aku mau kita nikah, Wedding!" tukas Oceana tiba-tiba.
Rafanza bahkan tersedak meskipun ia tak sedang makan apa-apa. "Wed Wed ..." Rafanza tidak mengejanya dengan benar.
"Wedding" ulang Oceana memperjelas.
Menurut Oceana satu-satunya cara agar mereka bisa melakukan berbagai hal romantis seperti berciuman adalah dengan Menikah.
"Apa kamu yakin Sean?" Air muka Rafanza berubah.
"Tentu saja. Apa Kak Rafa ragu?" Kini Oceana yang nggak yakin.
"Tidak, tentu tidak" Rafanza memaksakan senyum.
"Kenapa Kak Rafa kelihatan ragu".
__ADS_1
Rafanza menelan ludahnya. "Bukan ragu, Tapi sebaiknya kita beri tahu keluarga dahulu Sean. Menikah itu bukan hanya menyatukan dua hati. Tapi juga dua keluarga dengan kebiasaan yang berbeda kan" Ucap Rafanza.
Oceana mengangguk membenarkan Rafanza. Mengapa ia mengajak Rafanza menikah sama seperti adiknya kalau ngajakin nonton pertandingan basket.
"Baiklah kalau begitu. Biar aku langsung tanya pendapat Papa nanti ketika kita pulang" Oceana melihat jalanan dengan pepohonan.
"Kita?. Kamu ajak aku juga Sean?" tanya Rafanza.
"Mmm" jawab Oceana singkat.
"Baiklah" Rafanza mulai mempersiapkan dirinya.
Di lampu merah, Oceana membeli beberapa makanan asongan dari pedagang kecil. Oceana melebihkan uangnya dan menyuruh pedagang itu menyimpannya saja.
"Kenapa kamu membelinya Sean?. Kamu mau camilan. Biar aku belikan di minimarket"
"Kak Rafa, mereka nggak niat buat ganggu. yang penting mereka ada niat untuk usaha" ujar Oceana.
Kamu selalu mengejutkan aku Sean. Hati kamu baik. Bahkan Jika kita menikah besok juga aku akan menjadi lelaki yang paling beruntung.
"Kak Rafa senyum kenapa?. Kak Rafa mau juga?" Oceana menawari Rafanza makanan kecil yang ia beli.
"Aku kan udah bilang waktu itu. Aku suka melihat kamu makan"
Kak Rafa bisa aja. Kalau menggombal ya bukan andaikan menyeberang lautan atau samudera Hindia. Tapi langsung bilang suka apa yang aku lakukan dan senangi. Dia Realistis, dan aku menyukai menyukainya yang seperti itu.
Setibanya di rumah, Oceana langsung mengatakan bahwa ia ingin menikah dengan Rafanza. Pak Bambang tak setuju dan meminta Rafanza pulang.
Namun Oceana bersikeras agar disetujui. Sehingga Pak Bambang memberikan waktu bahwa mereka harus pendekatan dan berpikir lagi selama 3 bulan. Jika yakin, silahkan Rafanza datang melamar.
...********...
Nyonya Linda tertawa terbahak-bahak. Diikuti oleh Rafanza dan Tuan Kusuma yang hanya bisa bengong nggak karuan.
"Mama kenapa Pa?"
"Papa nggak tahu"
ayah dan anak itu saling bertukar pandang hingga Nyonya Linda selesai tertawa. Bagi Nyonya Linda itu amatlah lucu.
"Apa Ayahnya Sean sangat mencintai putrinya. Apa menurut kamu dia protektif?" tanya Nyonya Linda masih berusaha mengatur nafasnya.
"Kayanya sih Iya Ma. Padahal waktu itu Ayahnya welcoming Ma. Bahkan ngajarin aku masak makanan kesukaan Sean lagi"
__ADS_1
"Benar-benar kalian itu ya" Nyonya Linda menatap suami dan putranya "Bahkan nasib kalian pun jiplakan"
"Maksud Mama?"
Setelah penjelasan Nyonya Linda betapa sulitnya Tuan Kusuma mendapatkan restu. Rafanza baru sadar, ia harus membuktikan bahwa ia benar-benar bisa membahagiakan Oceana.
Bukan hanya sekedar membuat Oceana bersenang-senang. Tetapi membuat Oceana aman dan dijaga. Begitu sulit bagi seorang ayah melepaskan putri darah dagingnya yang ia rawat dengan kasih sayang bertahun-tahun.
Menikah tidak selalu senang dan romantis. Ada berbagai hal yang kadang diluar kendali. Pasangan yang sudah menikah harus mampu mempertahankan bahtera rumah tangga mereka meskipun kadang ujian yang dilewati tidak mudah bahkan sampai ke titik dimana mereka saling berbeda pendapat atau bertengkar.
...********...
Plak..... tamparan keras dari Tuan Bayu pada istrinya.
Ratu yang baru masuk rumah. Langsung berlari memeluk Mamanya yang sudah terjatuh.
Tuan Bayu berbau alkohol. Kebiasaan buruknya dari dahulu. Selain itu Ratu melihat tas yang dibawa Ayahnya. Baju seksi perempuan yang sudah kotor.
"Kalian itu, tidak membantah dan menurut seperti dahulu bagaimana hah!" Tuan Bayu memarahi anak istrinya.
Ratu ingin melawan ayahnya. Namun Nyonya Ideth melarang. Ia tak mau Ratu yang terluka.
Ratu hanya bisa mengobati pipi Ibunya. Juga mengompres punggung Ibunya yang memar. Pasti karena ditendang oleh Ayahnya sebelum ia datang.
Rupanya hal itu karena Nyonya Ideth menolak agar Ratu dijodohkan dengan seorang pengusaha kaya. Tuan Bayu merasa lebih baik menjodohkan Ratu dengan orang lain yang bisa menguntungkannya. Kecintaannya pada uang dan kehormatan sangat menakutkan.
Ratu meminta waktu pada Ayahnya. Ia memberanikan diri untuk membuat Rafanza takluk.
"Kamu itu lemah. Mana mungkin bisa menaklukkan Rafanza"
Meskipun Ratu meminta waktu. Ayahnya tak perduli. Besok tepat waktu libur. Ayahnya sudah mengatur seseorang untuk bertemu Ratu. Tidak ada bantahan, Ratu bahkan ingin dilempar ayahnya yang masih setengah mabuk itu jika tak keluar juga dalam hitungan ketiga.
Ratu duduk di ranjangnya. Bukankah Menikah itu membawa keharmonisan rumah tangga. Menikah membuat hari-hari sepasang suami istri dipenuhi kebahagiaan dan keromantisan.
Tapi kenapa tidak dengan keluarganya. Kenapa ayahnya selalu memperlakukan Ibunya dengan buruk.
Semenjak kecil, Kenapa ia tak pernah mendapat ayah yang sama dengan teman-temannya. Ayah yang gengsi diluar namun sangat mencintai ketika di rumah.
Bukan sebaliknya, pura-pura perhatian dan mencintai di luar. Tetapi di rumah bagai monster dan mimpi buruk keluarganya.
Hal itulah yang membuat Ratu dibenci orang yang dekat dengannya. Setiap ia dekat dengan seseorang, ia akan membuat spekulasi seolah mereka tak pantas ada di dunia. Memanfaatkan kebaikan orang agar ia diperhatikan.
Ketika mereka melaporkan perbuatan Ratu. Saat itulah ayahnya baru berguna, menyumbat mulut-mulut rakus dengan uang juga hobi ayahnya.
__ADS_1
Bersambung....