Miss Cute And Her Sunshine

Miss Cute And Her Sunshine
Ketahuan


__ADS_3

Selama beberapa hari ini Oceana bersikap tenang di kantor. Daridulu memang Oceana selalu begitu, hal serius apapun dan mengganjal seberat apapun di hatinya, ia akan bersikap tenang dan seolah itu bukanlah apa-apa.


Namun jika berkaitan dengan keluarganya, Oceana menjadi lebih sensitif termasuk beberapa hari ini ia terus membuntuti Bagas bermain Basket dengan memakai kacamata hitam. Meskipun Bagas terus menyudutkan bahwa itu memang Oceana dari radar persaudaraan mereka, Oceana tak mengaku.


Oceana merasa tak nyaman dengan alasan Bagas adiknya. Seusai jadwal karyawan masa percobaan selesai, Oceana langsung capcus pulang.


Hari ini adalah hari terakhir turnamen basket Bagas. Oceana duduk di tribun memakai kacamata hitam ketika Tim sekolah Bagas berulang kali mencetak poin.


cekrek-cekrek.


Beberapa gadis di depannya yang duduk di bawah menaikkan ponsel mengambil gambar. Oceana merasa mereka salah target, seharusnya mereka memotret Bagas yang lagi Swag banget.


Sempat Oceana mengira bahwa ia yang sedang di foto. Mungkin kacamata hitam ini membuatnya trendi bak aktris Korea. Beberapa gadis bahkan bergumam menutup mulut mengambil potretnya dari berbagai sudut.


Oceana tanpa sadar menaikkan tangannya melambai. Hingga salah seorang nyeletuk bahwa tangan Oceana menghalangi pandangan mereka.


Oceana menurunkan tangannya kembali. Ia melirik ke belakang, Lelaki keren yang memakai kacamata hitam bermerek.


Apa dia aktor?. keren juga...


Lelaki keren itu menurunkan kacamata sesaat pada Oceana. Membuat Oceana menutup mulut tak percaya.


"Kak Rafa?" ujarnya berbisik.


"Bagas hebat juga, bisa-bisa dia menang di final ini"


"Iya, Tim mereka nggak pernah kalah, aku yakin Mereka juaranya" terang Oceana.


Tampak seremonial Tim Bagas yang antusias. Para pendukung mereka berteriak histeris, karena Bagas yang digendong 4 orang temannya sebagai Ace dari Tim mereka.


"Piala bergilir kan ya?" tanya Rafanza mendekat ke telinga Oceana.


"Iya..hehe. ." jawab Oceana karena riuh penonton makin menjadi.


Interaksi Oceana dan Rafanza sukses membuat para gadis yang mengambil foto iri. Terdengar suara mereka meminta temannya agar menjauh.


Sadar bahwa Oceana justru mengambil perhatian, ia tak mau Bagas menyadari kehadirannya. Oceana beranjak pergi diikuti oleh Rafanza di belakangnya.


"Kak Rafa kok ngikut?"


"Kamu kok nggak nunggu adik kamu pulang dulu?"


"Aku ada urusan. Kak Rafa bisa nunggu langsung disana kok!"


"Memangnya kamu mau kemana Sean?"


"Aku mau.." Oceana menarik tangan Rafanza mereka bersembunyi di balik semak-semak tinggi pinggir jalan.


"Kenapa kita sembunyi?" Rafanza keheranan "Kamu mau bikin surprise buat adik kamu?"


"Enggak kak Rafa"


Oceana akhirnya jujur, bahwa ia selalu menunggu Bagas di tempat itu. Bagas sempat curiga bahwa seseorang dari tribun penonton mirip dengannya. Tapi Oceana dengan lihai mengelak.

__ADS_1


Oceana ragu bahwa jaket dari Rafanza memang kotor dan rusak karena Bagas terjatuh. Bagas bukanlah orang yang sembrono apalagi untuk barang yang bukan miliknya.


"Jaket itu Kw kok Sean. Tidak perlu kamu permasalahkan!"


"Bukan itu Kak Rafa, Bagas aneh banget"


Sedang mereka mengobrol, terdengar suara Bagas yang berpisah dengan teman-temannya. Bagas menolak temannya datang ke rumahnya. Ia menawarkan lain kali namun bukan hari itu.


Bagas berjalan sendirian, Oceana memberi jarak untuk mengikuti dari jauh. Bagas sempat melihat kesana kemari memastikan tidak ada siapa-siapa.


"Kamu mau ngapain sih Sean?" Rafanza sangat penasaran, lidahnya gatal untuk bertanya


"Itu bukan jalan yang biasanya Bagas lewatin. Beberapa hari ini Bagas selalu lewat situ"


"Ada sesuatu?"


"Nggak tahu kak Rafa"


Ternyata seseorang memanggil Bagas dari kejauhan. Sekitar 5 orang lelaki dan 1 perempuan.


"Oii"ucap seorang yang paling sangar dari mereka.


"Akhirnya kalian datang lagi" Bagas menurunkan tas dan jaketnya.


Perempuan itu sepertinya pacar Bagas. Oceana sempat sekilas melihat Foto dari Chat adiknya.


"Apa mungkin cewek itu nggak terima dan nyewa orang buat mukul adik kamu" Rafanza menduga-duga


"Tapi mereka" Oceana menggenggam jemarinya. Nafasnya memburu.


"Adik Lo jelek. akhlaknya turunan dari Lo kali" Bagas berbicara.


"Gue ini senior Lo ya. Berani Lo"


"Berani, senior kaya Lo gue ladenin, jaket yang waktu itu. dirusak adik Lo. Ganti!" ujar Bagas.


"Jaket murahan itu" Mereka tertawa.


"Brengsek" ujar Bagas.


"Apa Lo bilang?"


Oceana langsung masuk ke dekat mereka dan menarik Bagas.


"Mbak ngapain disini?" Bagas panik.


"Sean?" Lelaki gahar tadi mengingat Oceana.


Saat ia mendekat, Bagas langsung maju. "Jangan berani-berani!"


"Apa Lo sengaja mutusin adik gue. dan mancing gue"


"Gue mutusin adik Lo karena adik Lo itu minim akhlak. Kalau mancing Lo, kebetulan. Makanya gue mau Lo minta maaf sama kakak gue!" Bagas meninggikan suaranya.

__ADS_1


Meskipun Oceana menahan tubuh adiknya. Bagas masih berapi-api, tampak 5 lelaki itu bersiap untuk menyerang.


"Tangan seorang pebasket. berharga kali ya" celetuk salah seorang dari mereka.


Oceana berusaha melindungi Bagas sebisanya. Bagas tak boleh cidera.


Seorang lelaki paruh baya meniup peluit. Memproklamirkan bahwa ia hansip dan bersiap melaporkan mereka jika tidak bubar. Lelaki paruh baya itu akhirnya menerima bayaran dari Rafanza.


"Kenapa Mbak Sean dan Kak Rafa disini?" tanya Bagas.


Sebelum Rafanza menjawab Oceana lebih dulu menepuk punggung adiknya. Sampai Rafanza ikutan meringis mendengar bunyi tepukan tersebut.


"Sakit Mbak"


"Kamu tahu nggak sih mereka ituu. Bisa aja bikin kamu terluka. dan juga jaket itu ternyata ulah mereka. Kamu dapat nyali darimana sih Gas" Oceana tak bisa tenang.


Setelah mereka berbicara lama. Bagas mengutarakan bahwa ia ingin mereka meminta maaf. Ia tak mau Oceana mengingat hal itu sedangkan mereka seolah merasa tak bersalah.


"Atas dasar apa?" Oceana bergetar menahan diri.


"Supaya Mbak Sean nggak mikirin itu lagi. Mbak Sean nggak pernah berani jadi pusat perhatian karena mereka kan. Mbak selalu takut itu karena mereka" Bagas berteriak.


"Aku nggak minta kamu sekalipun buat itu semua. Nggak pernah Gas"


"Tapi aku mau Mbak Sean bebas. Bukan jadi gadis lemah yang bahkan nggak tahu cara buat balas ucapan mereka"


Oceana langsung meneteskan air matanya. Bagas tidak pernah memarahinya sekeras itu sebelumnya.


Bagas akhirnya terpaksa menenangkan Oceana. Bagas memeluk Kakaknya erat dan meminta maaf atas ucapannya.


Sementara Oceana juga sadar. Memang ia sangat menginginkan permintaan maaf mereka. Oceana hanya berpura-pura baik-baik saja tapi terkadang Oceana memiliki trauma saat menjadi pusat perhatian. Rasanya seperti orang-orang akan menertawainya.


"Tapi aku nggak trauma kaya dulu Gas. Jangan lakuin hal ini lagi Gas. Mbak kamu ini udah menyesuaikan diri kok" tegas Oceana.


"Jadi Mbak udah lupa?"


"Belum sepenuhnya Gas, tapi trauma itu udah nggak parah lagi Gas"


Andai mereka meminta maaf, pastinya trauma yang dialami Oceana saat jadi pusat perhatian akan hilang sepenuhnya. Selamanya.


Mereka pulang ke rumah. Rafanza berbicara dengan Bagas sebentar sebelum akhirnya Bagas masuk ke rumah.


"Kalian ngomongin apa?"


"Ternyata jaketnya Kak Rafa asli Mbak"


"Hah?. terus gimana?"


"Kita udah kongkalikong" jawab Bagas santai.


"Gimana sih Gas?" Oceana tak paham.


"Udah Mbak. yang jelas Mbak pikir aja kalau Kak Rafa itu orang yang sangat hebat"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2