
Rafanza duduk sembari menatap fokus ponselnya. Tadi ia begitu sibuk mengurus beberapa file sehingga mengabaikan ponselnya dan Game yang harus ia telusuri bug nya.
"Ini makanannya Pak"
Budi meletakkan 3 kantong plastik dengan merek yang menjelaskan makanan tersebut sehat dan bergizi.
"Rafa, makan dulu!" Ajib menarik tubuh Rafanza ke sofa
"Kalau begitu saya pamit dahulu" Budi berniat meninggalkan ruangan Bosnya tersebut.
"Mau kemana lagi?" tanya Ajib.
"Makan siang di kantin" jawab Budi dengan ekspresi datarnya.
"Gabung saja disini, sebentar lagi David datang"
"Tapiiii" Budi melirik Rafanza.
Ajib menepuk pundak Rafanza agar sadar.
"Iya Budi, gabung saja. Ini kan buat 5 orang" Rafanza kembali fokus pada ponselnya.
"Mainin apa sih Lo?" Ajib berhenti mengatur makanan.
"Ini, Game yang dirancang Bagas"
"Bagas itu?"'' Ajib berusaha mengingat nama yang sepertinya tidak asing di telinganya.
"Adiknya Sean, kita pernah ketemu waktu gue hibur Lo ajak ke bioskop" tukas Rafanza.
"Ooh yang tinggi itu?"
"Iya,"
Tak lama kemudian David masuk dengan wajahnya yang mengkerut. Sudah jelas sekali ada masalah lain yang membuatnya sebal dan itu pasti berkaitan dengan Tim yang dipimpinnya.
Benar saja, baru beberapa suapan. David mendengus, ia benar-benar merasa tidak lebih dari teman saat berhadapan dengan anggota Timnya.
"Bukannya asik itu. Anda jadi akrab dengan mereka" ujar Budi
Ajib dan Rafanza menatap Budi dengan menahan diri. Menegaskan sekali lagi agar tidak bersikap formal ketika diluar jam Pekerjaan.
"Bener kata Budi, bukannya jadi lebih seru" Ajib menyetujuinya.
"Bukan gitu, lama-lama gue bisa botak tahu nggak. Ada aja yang bikin ulah. Lihat saja itu Malika dia memasang muka tak suka sama Gue"
"Bukannya yang lain juga gitu. Sean juga kadang ngomong kalau Lo itu nyebelin dan diktator banget. Suka nyuruh-nyuruh" Rafanza menyelesaikan makannya.
"Diem Lo Bucin!" David kembali menghabiskan makanannya.
Rafanza memijat bagian jempol dan pertengahan antara Jempol dan telunjuknya. Ia melakukan hal itu karena saran Oceana, bahwa pijatan tersebut akan membuat lambungnya lebih nyaman.
"Pacar yang perhatian. Perhatian kecil itu sangat berharga Rafa" ujar Ajib.
"Iya gue tahu" Rafanza terus memijit tangannya.
__ADS_1
"Dulu gue aja nggak pernah...." Ajib berhenti bicara karena Budi menutup mulutnya.
"Sudah masa lalu, jangan diungkit lagi. Jadikan semuanya sebagai pelajaran!" Budi menasehati.
David dan Rafanza juga mendukung tindakan Budi. Tidak ada gunanya masih menyebutkan apa yang pernah disesali di masa lalu. Karena hal itu tidak akan berubah meskipun sering diingat-ingat.
Ajib menyingkirkan tangan Budi. "Bersihin dulu tangan Lo Woii!" Dia segera mengambil tisu basah dan membersihkan mulutnya.
Saat mereka berempat sedang mengistirahatkan perut. Rafanza tak henti-hentinya mengajak David ikut bermain.
Sejak dahulu David memang jago. Apalagi hobinya memang nyantai. David bahkan bisa masuk sendiri menggunakan akun yang baru saja ia buat.
David masuk dengan menggunakan nama akun Prince D. Kebetulan juga seseorang masuk dengan nama Princess M. Sehingga David langsung mendapatkan Timnya.
"Jangan bilang dia cewek" David curiga
"Ya iyalah cewek David. Nggak mungkin cowok ngambil nama Princess. Kecuali dia lekong" Ajib geleng-geleng kepala dengan David yang kadang suka nggak jelas dan lamban.
"Bisa jadi kalian jodoh" Budi menyemangati David yang jomblo.
"Bener juga Lo Budi. Eh Rafa emangnya Lo nggak bisa nanya ke Adeknya Ocean siapa yang Makai akun itu?"
Rafanza tidak mungkin menghubungi Bagas yang bisa saja masih di sekolah atau sedang tanding basket. Sehingga ia bertanya pada Oceana.
Rafanza membelalakkan matanya melihat pesan yang dikirimkan Oceana
Ternyata Malika bahkan bisa masukin akunnya sendiri Kak Rafa.
Dia Princess M. Ada Timnya juga dengan nama Prince D
"Lo harus bangga sih kayaknya Tuhan ngasih Clue perihal jodoh Lo"
"Maksud Lo apaaan dah"
Mengetahui bahwa Malika adalah orang yang memakai akun Princess M membuat David ingin keluar lagi. Ia tak mau memainkan game tersebut.
"Memangnya kenapa. Kan ini hanya game rancangan" Rafa melarang.
"Masa gue harus satu tim Sama Malika"
"Lo naksir dia?" tanya Ajib tiba-tiba.
"Ya enggaklah"
"Terus kenapa. Gue perhatiin juga Lo itu sebenarnya lebih sering nyeritain Malika tahu nggak dibanding dengan anggota Lo yang lain. Seolah cuma dia yang ganggu Lo" Ajib menambahkan.
"Ya emang dia ganggu banget" David benar dengan hak itu.
"Tapi bukannya kelakuan yang lain juga parah. Tapi Lo lebih sering menyudutkan Malika" Rafanza ikutan memanasi .
David meminta Ajib menggantikannya. Tetapi Ajib tidak mahir dan tidak tertarik dengan Game ujicoba. Sementara Budi tidak bisa karena ia sibuk sekali.
"Gue juga sibuk dan nggak mahir-mahir amat" David membela diri.
Meskipun lama berdebat, tetap saja David akhirnya harus memainkan game tersebut.
__ADS_1
Di sisi lain.... Malika tak kalah terkejutnya. Ia bahkan meminta maaf kepada Oceana harus keluar tanpa mencoba.
"Bukannya kamu bilang mau Luka ?"
" Tapi kan aku nggak tahu kalau Pak David yang nyebelin itu ikutan"
.
"Justru bagus. Kamu bisa lebih memahami dia. Karena kita bisa ngobrol bareng anggota Tim kita di game ini Lika"
"Tapi Sean"
"Kenapa. Kamu malu karena orangnya Pak David?" Oceana mulai menggoda Malika.
"Bukan malu Sean. Tapi aku"
"Lika, kamu tahu nggak kalau Pak David itu lebih sering marahin kamu dengan Omelan yang berbeda. Terkesan penuh tatapan misterius"
"Makanya aku nggak bisa Sean. Dia itu kelihatannya memang menargetkan aku buat dijatuhkan dan disiksa"
"Lebih tepatnya kamu dijadikan target untuk perhatian kecilnya" Oceana tersenyum.
"Hah" Malika tidak paham.
"Oke kamu harus tetap main karena Pak David juga memutuskan untuk tetap main"
"Kenapa harus ikut sih, Sean?"
"Karena Pak David akan kehilangan anggota Timnya yang klop Prince and Princess" Oceana masih terus mencoba menggoda sahabatnya itu.
Ketika kembali bekerja. Malika tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi. Perhatian Kecil, apakah maksud Oceana adalah ia yang dipilih diminta menjaga rahasia saat tahu kepribadian Ratu. Apakah saat ia diajak ikut kegiatan lain di luar kantor seperti ikut acara sosial ayah Ajib yang Politikus.
Tapi kan itu semua karena aku dekat dengan Sean. Bukan karena akunya?
Malika terlalu terhanyut dalam pikirannya hingga tak sadar David berdiri di sebelahnya. Malika terperanjat kaget sendiri.
"Fokus!!!" David menegurnya.
......................
Agatha menemui Nyonya Ideth di sebuah tempat sepi. Nyonya Ideth sangat tidak mau apabila di tempat keramaian karena suaminya akan curiga.
Ternyata pertemuan mereka disebabkan Nyonya Ideth yang bingung dengan perubahan perilaku putrinya. Ratu jadi berbeda, bahkan melihatnya dianiaya oleh suaminya Ratu hanya diam dan berlalu.
Agatha tak menyangka bahwa keluarga Ratu yang sempurna hanyalah sandiwara. yang dibuat agar bisnis Tuan Bayu lancar relasinya jalan serta mampu menjadi wakil daerah berikutnya.
"Tante tahu kamu syok. Tapi Tante mau minta tolong karena kamu adalah satu-satunya sahabat yang pernah diceritakan Ratu dan membuatnya nyaman"
"Apa yang harus aku lakuin Tante"
"Tante hanya minta tolong kamu beri perhatian pada Ratu. Kalau misalnya tindakan Ratu sudah diluar batas. Tante mohon kamu buat dia sadar. Cukup Papanya menjadi rusak. Tante tidak mau merusak hidup Putri Tante" Nyonya Ideth perlahan terisak.
"Tante tenang saja. Aku nggak akan tinggalin Ratu. Aku janji akan lakuin apa yang Tante minta"
Nyonya Ideth akhirnya pergi.....
__ADS_1
Bersambung....