
Bagas dan Oceana pulang membawa makan malam yang mereka bungkus dari rumah makan Padang favorit keluarga mereka. Pak Bambang pulang cepat hari ini. Mereka makan dengan keadaan tenang. Tak seperti biasanya, )ak Bambang akan memberikan beberapa wejangan ringan bila saja mereka punya waktu makan malam bersama seperti sekarang.
Seusai makan, Pak Bambang meminta kedua anaknya untuk duduk bersama di sofa, ada yang ingin dibahas. Perasaan semua orang sudah mulai was-was, hal apa lagi yang diperbuat oleh Bagas sehingga mengganggu pikiran Pak Bambang.
Pertama Pak Bambang menanyakan perihal bullying yang dihadapi Oceana. Mengapa Oceana menyembunyikan rasa sakit tersebut. Pak Bambang bahkan ingin memukul tiap bibir lelaki yang berani menghina dan mempermalukan putrinya.
Untungnya Oceana memperlihatkan video yang dikirim Rafanza. Hati Pak Bambang mulai lega, ia meminta Oceana mengundang Rafanza datang ke rumah untuk berterima kasih dengan layak.
Masalah Oceana sudah selesai, kini mengenai Bagas. Ternyata anak gadis yang diputuskan Bagas adalah teman dari Bos Pak Bambang. Pak Bambang begitu menyesali mengapa di usia muda Bagas tidak fokus saja belajar.
"Pokoknya mulai dari besok kamu jangan suka pacaran lagi. berhenti saja basket atau game, atau berhenti dua-duanya sekalian"
"Supaya apa Pa, apa aku harus fokus belajar biar jadi pekerja yang menuruti keinginan Bos dengan gaji pas-pasan bahkan pulang lelah dan larut. Seperti Papa seumur hidup, tanpa mengikuti apa yang aku sukai ?" Bagas menantang.
"Setidaknya Papa tidak membuat kalian kelaparan. Hobbi yang kamu tekuni hanya akan bermanfaat di masa muda, mulai berpikir untuk masa depan yang tenang adalah hal terbaik!"
"Aku tidak mau memiliki masa depan menjadi bawahan orang selamanya seperti Papa"
"Semua pekerjaan baik Gas"
"Semua pekerjaan baik, kenapa aku nggak bisa milih pekerjaan yang baik menurut aku sendiri. Kenapa harus hidup sesuai keinginan Papa?"
Sama seperti kebanyakan perdebatan diantara dua orang yang bersifat mirip. Ayah dan anak itu tak mau mengalah hingga akhir. Bagas masuk kamar dan Pak Bambang menahan emosi ingin menampar anaknya.
Disaat seperti ini peran Oceana dan Bu Omai sangatlah penting. Mereka harus bisa menenangkan dua laki-laki itu malam ini. Atau besok adalah mimpi buruk karena Ayah dan anak itu mungkin akan saling sindir atau menghindar satu sama lain.
Bu Omai menenangkan Suaminya. Meminta suaminya lebih pengertian karena jaman sekarang dunia sudah berubah. Bagas juga cerminan suaminya di masa lalu, jiwa bebas dan suka tantangan. Hingga pada tahun kelima pernikahan mereka, Oceana jatuh sakit karena makanan mereka tak berkualitas. Saat itulah Pak Bambang mulai menyerah dengan mimpinya. Ia lebih realistis hingga sekarang.
__ADS_1
Oceana masuk ke kamar Bagas, seperti biasa, tanpa mengetuk. Bagas duduk di kasurnya meminta Oceana jangan membujuknya minta maaf.
"Kamu harus minta maaf sama Papa Gas!" pinta Oceana.
"Nggak mau Mbak. Kenapa sama hobii dan kesukaan aku sih Mbak?" Bagas kekeuh dengan pendiriannya.
"Bukan masalah itu. Aku tahu Mama akan buat Papa paham tentang hobi atau bahkan impian kamu. Tapi minta maaf karena kamu mencela pekerjaan Papa !." Jelas Oceana tenang.
"kan emang bener Mbak. Papa akan selalu jadi bawahan orang sampai mati. Nggak ada ambisi sama sekali" gerutu Bagas.
"Tapi dengan pekerjaan Papa, hidup kita bisa kaya gini Gas. Papa bisa bikinin toko buat Mama. bahkan setiap acara spesial Papa selalu bawakan makanan enak akibat bonus dari bosnya"
Setelah Oceana membuat Bagas tenang, Bagas akhirnya mau meminta maaf. Bagas menjelaskan mengapa ia bisa putus dan juga meminta Papanya memaklumi hobinya dan mimpinya.
Tanpa diduga Papanya memberi izin. dengan syarat, Bagas harus tahu kapan harus menyerah. Bagas tak boleh hilang akal dan logika ketika gagal. Mengenai mantan pacarnya Bagas, Pak Bambang bahkan ingin ikut mengajari Bapaknya yang teman bosnya itu. Masih kecil, beraninya bilang putrinya jelek.
Justru Bagas menenangkan Pak Bambang, bahwa pelajaran untuk cewek itu sudah cukup. Jangan sampai Pak Bambang yang kehilangan pekerjaan gara-gara hal tersebut. Oceana dan Mamanya hanya bisa tertawa dari jauh melihat ayah dan anak yang sedang tertawa sehabis berdebat.
Ajib pulang ke rumahnya. Berbeda dengan Bagas yang ingin ditampar. Ajib langsung disambut dengan tamparan keras di pipinya.
Ajudan sang ayah memperlihatkan artikel di tablet. Artikel yang sudah dihentikan penyebaran beberapa saat yang lalu.
Ayah Ajib adalah seorang politikus yang biasa dipanggil Pak Abdan. Relasi yang mudah dan luas yang dimiliki Ajib tak terlepas dari peran Ayahnya yang sangat dihormati. Sebutkan saja nama Pak Abdan dan bukti bahwa mereka berkait. Bantuan akan tetap datang. Itulah alasan mengapa para mantan pembully Oceana takut menyentuh Ajib, mereka akan menurut. Karena kalau sudah bermasalah dengan Ajib dan keluarganya. Pekerjaan apapun tak akan bisa kamu dapatkan lagi.
Pak Abdan meskipun ditakuti. Orang-orang tetap mengenalnya sebagai Politikus jujur yang menyayangi masyarakat.
Meskipun menyayangi masyarakat, ia benci saat anaknya terus mencoba merusak image yang ia bentuk dengan susah payah. Seperti artikel hari ini, anak seorang politikus xxx terlihat menangis di sebuah restoran xxx diduga karena xxxx.
__ADS_1
"Seorang lelaki menangis?. Papa dengar kamu putus dengan pacar kamu. Habis uang diporoti berapa?"
"Bukan urusan Papa. Papa udah nampar aku kan. artikel juga sudah diurus" Ajib berjalan gontai.
"Jangan buat masalah buat Papa lagi Jib. Papa sudah berbaik hati membiarkan kamu bekerja dengan sahabatmu karena Papa kenal Tuan Kusuma. Atau kamu Papa kirim ke luar negeri saja seperti niat semula"
"Maaf Pa. Aku khilaf oke. Lain kali aku akan tersenyum bahkan ketika Papa mati"
"Kamu nyumpahin Papa Mati?" Pak Abdan memerah.
"Maksudnya aku akan tetap jaga image Papa"
"Katakan dengan benar Jib. Kamu tidak akan hidup berkecukupan kalau bukan karena Papa"
"Iya, dan aku tidak akan kehilangan Sosok ibu sejak kecil karena sakit sementara suaminya hanya sibuk ngurusin masyarakat" balas Ajib.
"Kamu bicara apa?" Pak Abdan naik darah. "Kamu masih nyalahin Papa atas kematian Mama?"
"Aku nggak mau bahas ini lagi Pa. Memang ini sudah jalannya. Aku minta maaf dan nggak akan ngelakuin hal ini lagi" Ajib malas berdebat dan dengan tenang masuk ke kamar.
Dahulu sempat Ajib menyalahkan Pak Abdan atas kematian Ibunya. Meskipun ternyata fakta yang ia tahu justru lebih menyakitkan.
Ibunya sedari awal tak ingin mendapatkan perawatan. Ia tak mau membuat keluarganya khawatir. Ia ingin menghabiskan sisa waktunya dengan tenang di rumah bukan dengan obat-obatan yang menyiksa.
di saat-saat terakhir Ibunya berada di depan Ajib. Ajib marah karena ayahnya sibuk dengan urusan politik. Namun sang Ibu tahu, sehingga ia meminta Ajib agar terus damai dengan Ayahnya. Hal itulah permintaan terakhir dari Ibunya, jangan salahkan siapapun agar kepergiannya tak meninggalkan penyesalan bagi keluarga yang dicintainya.
Pak Abdan memang secara diam-diam menyalahkan diri sendiri. Masa depan Ajib yang membuatnya bertahan. Ajib pun demikian, karena Ayahnya tak pernah menikah lagi seusai kepergian Ibunya membuat Ajib percaya. Kalau cinta mereka nyata adanya.
__ADS_1
Faktanya, setiap ayah punya cara yang berbeda untuk mendidik setiap anaknya. Mungkin sifat mereka tidak sesempurna atau sebaik yang kita lihat dalam porsi keluarga orang lain. Namun sayang mereka dan dedikasi pada keluarga adalah nyata adanya.
Bersambung....