
Rafanza usai dari pemulihannya lebih cepat, meskipun ia masih bisa mengambil waktu istirahat tetapi ia tak mau berlama-lama mengabaikan tanggung jawabnya. Dengan segera balik ke Perusahaan dan harus langsung mengerjakan sebuah proyek yang tertunda.
Walaupun sebenarnya Ajib maupun Budi bisa menggantikannya, namun karena ide tersebut berasal darI Oceana, dan Oceana akan pasti ikut, Rafanza tak mau melewatkan kesempatan tersebut.
Oceana melihat sosok di belakang kemudi setir.
“ Kak Rafa?”
“Ayo naik Sean!”
“Bukannya Kak Rafa baru pulih?”
“Aku udah nggak apa-apa”
“Nggak bisa Kak Rafa, Kak Rafa kan habis operasi. Kenapa nggak minta supir seperti waktu itu?.”
“Kita hanya pergi setengah hari Sean. Lagipula aku sudah baik-baik saja. Sangat baik malah”
“Kalo gitu, aku aja yang nyetir”
Oceana kini berada di kursi kemudi bersiap menjajal latihannya selama ini. Meskipun Rafanza percaya sepenuhnya, tapi tetap saja ada rasa was-was yang ia rasakan. Sehingga seatbealt dipasangnya erat dan memastikan bahwa ia memegang pegangan atas.
“Aku sudah siap Sean.”
“Oke Kak Rafa, aku pasti akan membawa mobil ini sampai tujuan dengan selamat”
Namun ekspektasi kadang tak seindah realita. Meskipun Oceana sudah cukup lama latihan les mengemudi, bunyi klakson dari mobil di belakang mereka yang tak sabar untuk menyalip dengan marah adalah buktinya. Kecepatan Oceana bahkan tak bisa menyamai pengemudi sepeda atau pelari biasa.
“Sean, sebaiknya aku saja yang menyetir ya?”
“Aku nggak mau Kak Rafa capek, aku akan membawa Kak Rafa dengan aman”
Tapi kalau begini kapan sampainya Sean, kamu bukannya buat aku jadi aman tapi jadi tertekan
Rafanza tak tahan lagi, bisa-bisa mereka bukannya sampai dan menyelesaikan urusan dalam setengah hari. Melainkan sampai besok Oceana masih mengemudi dengan kecepatan mobil yang seperti kura-kura itu.
Akhirnya, mereka berdua naik mobil disupiri oleh Ajib yang menyusul menggunakan ojek. Sesekali Ajib melihat spion dalam dimana Oceana dan Rafanza hanya curi-curi pandang menjaga kelakuan masing-masing.
“Kalian nggak perlu canggung, lagipula semua orang perusahaan udah pada tau”
“Kita ngehargain lo tau nggak. Lo kan...” Rafanza menutup mulutnya sendiri.
“Gue putusnya udah lama, udah kering air mata gue tahu nggak”
Baru beberapa detik setelah Ajib mengatakan demikian. Rafanza langsung menjatuhkan kepalanya di bahu Oceana.
“Sean, nanti saat kembali kamu mau kita kemana?”
“Nggak kemana-mana, kan Kak Rafa baru pulih”
Rafanza menarik nafasnya panjang, waktu yang seharusnya dipakai menikmati kebersamaan dengan Oceana jadi berkurang.
__ADS_1
“Iya, siapa tau Lo masih lemah kan, terus minta Oceana buat gendong lagi. Waktu itu gendong di punggung sekarang gendongan depan mirip tuan putri. ” Ajib mulai menggoda sahabatnya.
Rafanza benar-benar tak bisa berkata-kata bila membayangkan tubuhnya digendong seorang gadis. Apalagi gadis itu Oceana, dari dulu memang hanya Oceana yang bisa membuatnya kagum dan penasaran hampir setiap hari.
.....
“Bukannya kamu harusnya nemenin pacar kamu Sean?”
Malika menyeruput minuman bewarna putih dengan butiran soda dan potongan buah lemon yang berada di dekat sedotan. Oceana juga meminum minuman coklat dengan dua buah biskuit roll dan cream di atas minumannya.
“Lebih baik dia di rumah aja Lika, aku takut dia masih belum benar-benar pulih”
“Cieee perhatian banget dah”
“Jangan gitu dong, kamu bilang di Mall ini ada acara bagus makan banyak dapat gratis”
“Bukan gitu, tapi makan porsi jumbo yang ditentukan. Pokoknya kayak challenge gitu deh. Kamu tunggu aja sebentar lagi juga ada panitianya muncul”
Tanpa disangka, ada Ratu yang muncul sebagai peserta, terlebih lagi kini aturannya berbeda. Bukan yang paling banyak makan melainkan yang makan dengan cara baik dan benar.
“Apaan sih penyelanggara acaranya?. Emangnya ini kontes buat masuk istana”
“Udah pasti Ratu menang kayanya Lika”
“Iya lah Sean, namanya kan Ratu”
Mereka lalu tertawa beberapa saat setelah lelucon yang amat garing itu dilontarkan oleh Malika. Saat Ratu bangkit dan kembali ke kerumunan peserta, Oceana melihat salah satu accesoris di pakain Ratu terjatuh. Ia berniat mengambilnya dan memberikannya pada Ratu namun gadis itu tampaknya terburu-buru pergi.
“Gimana nih Lika”
“Aku anterin aja deh, biar kita bisa pergi ke tempat makan yang bagus, disini nggak bakalan kenyang”
“ya udah deh”
Mereka berlari mengejar Ratu dan mencoba memanggil. Namun Ratu tampaknya tak merasa bahwa ia yang dipanggil dan masuk ke toilet.
“Padahal masih banyak toilet sebelumnya yang bisa dipakai, kenapa malah masuk kesana yang paling jauh. Kamu mau ikutan masuk Sean?” tanya Malika berbalik pada Oceana yang menghilang.
Oceana sudah duluan menuju Toilet sehingga Malika ngikut di belakang. Terdengar suara mual dari seorang perempuan yang berusaha mengeluarkan sesuatu dengan keras.
Beberapa saat Malika dan Oceana saling pandang. Meyakinkan bahwa apa yang mereka duga tidaklah mungkin sama sekali dengan gelengan satu sama lainnya. Namun hanya ada satu pintu yang tertutup rapat dibandingkan pintu yang lainnya. dan hanya Ratu yang masuk ke dalam toilet tersebut.
Ratu keluar dan tidak memperhatikan ada Oceana dan Malika di dekat cermin. Ia mencuci tangan dan mulutnya serta mengeringkan tangan lalu mengambil tisu untuk mulutnya. Ratu membuka tas untuk mengeluarkan beberapa peralatan make-upnya.
“Ratu, ini” Oceana menyodorkan accesoris yang ia pungut kepada Ratu.
Wajah merah Ratu memperlihatkan bahwa ia benar-benar terpojok. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya sehingga ia dengan acuh memperbaiki riasannya.
“Oi Ratu, Agatha kan jahil, tapi kamu jangan ikutan juga dong. Bilang makasih kek” Malika tak tahan meskipun Oceana melarangnya bicara.
“Huh, Benar-benar menjengkelkan” gumam Ratu dengan jelas dan masih acuh tak acuh.
__ADS_1
Oceana menarik Malika pergi dan melirik Ratu
“ Kita balik duluan ya”
Sementara itu, Ratu meminum pil dari botol dengan merek vitamin. Meskipun tampaknya susah ditelan tapi ia berusaha meminumnya bahkan dengan ditambah pakai air dari dalam keran.
.....
“Dia aneh banget Sean”
“Udah Lika, kita udah damai kamu tahu kan”
“Tapi kok bisa”
“Lebih baik kita cari tempat lain aja yuk!”
Mereka pergi ke tempat makan lainnya. Di pinggir jalan, yang dipenuhi beragam makanan enak dan murah meriah.
“Emang sejak awal bagusnya disini sih Sean, tadi kita mesan minum yang rasanya asem itu harganya setara dengan makan enak plus minum teh anget disini”
“Iya, kan kita juga awalnya kesana karena ngira bisa makan sepuasnya”
Usai makan, Malika benar-benar gatal untuk mengomentari Ratu. Meskipun Oceana berpikir Ratu punya alasan tersendiri. Ia juga tetap khawatir karena beberapa kali ia menyadari tangan Ratu memar yang mungkin disebabkan perilakunya ketika memaksa mual dengan memasukkan tangan ke mulut.
“Bagaimana juga semoga aja dia nggak tertekan sih, karena dia itu dikenal sempurna banget kan”
“Sempurna darimana Sean, dibanding Agatha yang menyebalkan. Kita harus lebih waspada dengan orang seperti Ratu. Dia terlihat seperti ular”
“Iya sih, karena aku pernah menghadapi orang seperti itu ketika SMA dulu”
“Maksud kamu laki-laki yang ngebully kamu itu Sean?”
“Bukan Itu Lika, kalau yang Itu mah udah selesai dan aku juga nggak masalah lagi kalau di depan umum ditambah lagi mereka udah minta maaf”
“jadi siapa?”
“Ada, aku juga Cuma pernah sekelas sekali sama dia. Dan aku benci tanpa tahu penyebabnya jadi begitu”
“Maksud kamu Sean”
“Dia juga berada dalam posisi yang sulit Lika. Ternyata dia cukup tertekan, soalnya aku nggak sengaja lihat berkas dia di ruang Konseling Sekolah, aku juga tahu orang tuanya gimana dari beberapa gosip yang beredar”
Malika berubah serius. “Terus?”
“Terus ya kayaknya dia lagi perawatan gitu, udah lama juga mungkin sekarang dia udah sembuh” Oceana melanjutkan makannya.
“Jadi Ratu?”
“Kemungkinan juga iya, tapi kayanya Agatha yang lebih harus tahu dibanding kita Lika”
“Iya sih”
__ADS_1
Oceana melihat makanannya dan tersenyum. Awalnya Malika merasa ngeri dan akhirnya tertawa. Karena menurut Oceana, jika Rafanza ikut makan seperti mereka, bukan tidak mungkin akan sakit perut dan mengalami gangguan pencernaan lagi seperti saat memakan brownis waktu itu. Rafanza memiliki perut yang sensitif sehingga menganggap usus buntu sebagai gangguan pencernaan biasa. Untung saja ada Neti yang pernah sekolah kesehatan sehingga tahu apa yang terjadi pada Rafanza.
Bersambung.....