
Oceana berulang kali berlatih didepan cermin. Menyusun ucapan terimakasih atas jaket yang dipinjamkan Rafanza.
Dengan penuh kepercayaan diri, Oceana memasukkan Jaket itu ke dalam tas berbahan kertas yang ia ambil dari Toko Mamanya. Bagas yang nanti akan ikut turnamen meminta Bu Omai memasukkan Jaketnya ke dalam tas kertas juga.
Tas kertas mereka ditaruh berdampingan. Oceana sudah meminta Bagas mengantarnya ke dekat pangkalan ojek, tapi adiknya itu sudah duluan karena ia lama di dalam Toilet.
"Bagas mana Ma?"
"Udah pergi, buru-buru katanya mau bahas turnamen dia nanti sebelum kelas"
"Yah bener-bener ya Bagas Ma"
"Terus kamu gimana?"
"Aku pesan ojek online aja Ma"
"Ya udah kalau gitu kamu hati-hati ya!"
"Iya Ma"
.....
Oceana melihat dari balik pintu kaca tebal yang tembus pandang. Ia melihat Rafanza yang sedang berbicara serius dari kejauhan. Oceana mengurungkan niatnya, ia kembali menenteng , berisi jaket tersebut.
"Apaan nih Ocean?" Jagad yang kepo abis mendekat dan mulai melirik tas yang ditenteng Oceana.
Duuh nggak mungkin bilang ini punya Kak Rafa.
"Ini punya adik aku"
"Adik kamu?"
"Iya"
"Ngapain punya adik kamu dibawa kesini?"
"Ya aku sebagai kakak yang baik" Belum selesai Oceana berbicara, Malika datang dan langsung ngegas.
"Jagad, bisa nggak sih sehari aja mulut kamu dikunci. Kepo Mulu jadi orang !"
"Malika kamu juga seharusnya tidak ikut campur!"
"Heehhh..." Sebelum Malika membalas, Oceana merangkul bahunya.
"Ini masih pagi loh. Kalian jangan berdebat!" Oceana menjadi antisipator.
"Oke Malika, aku juga nggak akan ngebalas kamu takutnya kita debat lagi. Aku duluan ya"
"Bagus deh kalo sadar"
Jagad meninggalkan mereka berdua. Setelah Jagad pergi, Malika ikutan melirik tas yang dipegang Oceana.
"Ngapain kamu bawa punya adik kamu Sean?"
Yah Jagad pergi, giliran kamu yang nanya Lika?"
"Iih Jagad mah gak penting, aku aja yang penting"
"Ini sebenarnya punya Kak... Aduuh...punya Pak Rafanza"
"Hah kok bisa?"
Syuut Malika!" Oceana menutup mulut Malika dan menariknya menjauh.
Teriakan Malika membuat Rafanza menyadari keberadaan mereka. Hanya sebentar, Rafanza kembali berpaling dan meneruskan urusannya.
Saat di mejanya, Oceana ingin memperlihatkan Jaket dari dalam tas. Seketika ia histeris melihat Jaket itu.
__ADS_1
David yang baru masuk kantor terperanjat mendengar Oceana. "Oceana, kamu benar-benar tidak menyukai saya sebagai Pemimpin Tim ini ya?"
"Bukan Pak" Oceana melihat jaket di tangannya dengan raut wajah sedih.
"Apanya yang bukan?. Kamu teriak histeris begitu untuk membuat saya tidak nyaman kan?" David menaikkan alisnya.
"Maaf Pak, saya" Oceana melirik Malika yang membalasnya bingung.
"Jangan alasan, Kamu bawa apalagi tu. Masih nggak belajar menerima barang dari orang luar. Itu Jaket dari siapa lagi yang kamu pegang?"
" Jaket adiknya Pak" jawab Jagad
"Memangnya saya nanya kamu Jagad?"
"Maaf Pak" Jagad mengatupkan mulutnya.
"Sudah tidak penting, yang jelas kalian kumpulkan Laporan kerja kalian semuanya!. Oceana kamu yang antar ke ruangan Pak Rafanza!"
"Kenapa harus Oceana Pak?" Agatha angkat bicara
"Memangnya kenapa?"
"Gimana kalau Ratu saja Pak" saran Agatha
"Saya maunya Oceana, pagi-pagi sudah buat saya kesal"
"Baik Pak" Oceana memasuki jaket itu ke dalam tas dan mengambil berkas laporan.
Oceana melihat Ajib yang sedang mengangkat telepon. Ajib mengangkat tangannya meminta Oceana menunggu ia selesai.
Rafanza keluar ruangan untuk berbicara dengan Ajib karena panggilannya tertolak. Ia melihat Oceana berdiri dengan risih menunggu Ajib. Akhirnya, Rafanza menyuruh Oceana langsung masuk saja ke ruangannya.
"Kamu ada urusan apa?"
"Ini pak David nyuruh saya mengantar berkas laporan perjalanan karyawan masa percobaan Pak"
Seusai meletakkan berkas laporan di meja Rafanza. Oceana ingin mengatakan sesuatu, tapi ia ragu.
"Kamu mau membicarakan sesuatu?"
"Enggak Pak, sepertinya nanti saja. Kalau boleh tahu Bapak pulang jam berapa?"
Sean nanya saya pulang jam berapa?
Rafanza menahan sudut bibirnya yang tertarik. "Jam 5, kalau kerjaan saya selesai lebih cepat mungkin sebelumnya"
Karyawan masa percobaan pulang jam 3, aku harus nunggu Kak Rafa, atau nemuin Bagas dulu ya.
"Ohh baik pak " Oceana berlalu pergi.
"Tunggu, kamu mau bilang apa?"
"Enggak Pak"
Setelah lama terdiam akhirnya Oceana memberanikan diri "Kalau jaketnya Kak Rafa aku balikin lebih lama nggak papa kan ya?"
"Terserah kamu saja Sean, aku nggak butuh-butuh banget juga"
"Makasih Kak Rafa" Oceana membungkuk 90 derajat.
"Eh makasih Pak" Oceana kembali membungkuk 90 derajat.
Rafanza hanya melihat gadis itu heran sampai Oceana meninggalkan ruangan.
....
Malika dan Oceana makan dengan tenang di kantin. Oceana beberapa kali tidak menyuap makanan dan hanya menusuk-nusuk potongan ayam kecap.
__ADS_1
"Sean kamu kenapa ?" Malika khawatir.
"Enggak kok Lika"
"Aku tahu kamu lagi diet. Tapi jangan sampai nggak makan Sean!"
"Bukan gitu Lika"
"Apa gara-gara yang tadi. Alasan kenapa kamu histeris" Malika menebak.
Mendengar Oceana yang salah bawa jaket Rafanza menjadi jaket adiknya. Sukses membuat Malika histeris. Sampai-sampai beberapa karyawan melihat ke arah mereka.
"Terus gimana Sean?"
"Kayaknya Bagas bawa jaket itu ke turnamennya deh. Aku pulang, paling nyampe sana dia udah selesai"
......
David duduk di sofa. Ia menarik nafas panjang setelah semua karyawan masa percobaan di timnya selesai.
"Lo harusnya nyontoh gue dong" Ajib merasa bangga, karena ia termasuk pemimpin tim yang berprestasi.
"Lo mah kan emang dapatnya karyawan yang anteng semua. Lah gue bar-bar semua" David kembali membuang nafas.
David dan Ajib lama bercerita, sampai Rafanza Mendengar ucapan David bahwa Oceana histeris karena membawa Jaket adiknya.
"Jaket adiknya?" Rafanza berdiri.
"Kenapa?"
"Dia bilang itu jaket adiknya bukan punya gue?"
"Ngapain dia bawa jaket Lo?" David menahan tawa.
"Jadi itu alasannya dia nanyain gue pulang jam berapa?"
"Lo kenapa dah Rafa?" Ajib ikutan bingung.
"Gue mau pergi ke suatu tempat"
"Ini kan baru jam 3 an Rafa?" David menatap sahabatnya bingung.
"Gue kan direktur" Rafanza bergegas pergi. "Ajib Lo tanganin semua yang perlu Lo lakuin oke!"
"Kasian banget Lo Jib" David menepuk bahu Ajib.
Rafanza melihat Status Media sosial milik Bagas yang memenangkan pertandingan babak penyisihan. Menurut perkiraannya, Bagas tak jauh darisana.
Sesuai dugaan, Oceana dan Bagas tampak mengobrol dari kejauhan. Rafanza memberikan mereka tumpangan.
"Berapa harga jaketnya Kak Rafa?" ujar Bagas tiba-tiba.
"Kenapa nanyain itu?"
"Aku udah ngerusakin jaketnya Kak Rafa, kalau aku bisa ngutang aku ngutang deh"
Oceana mencubit lengan adiknya "Kenapa kamu ngomong selancang itu Gas" bisik Oceana.
"Maafin Bagas Kak Rafa, entah kenapa dia bisa jatuh dan bikin jaket Kak Rafa rusak. Aku ikutan ganti Kak Rafa" Oceana melihat Rafanza.
"Ngapain Mbak ikutan ganti. Biar aku aja!" Bagas ketus.
"Jaketnya taruh di mobil aja. Nggak usah diganti, itu KW kok" Rafanza tersenyum.
Ternyata Kak Rafa yang kaya raya juga bisa pakai barang KW.
Bersambung....
__ADS_1