
Oceana memakan kue yang diberikan oleh Jagad dan Ivan. Sebagai ucapan terimakasih atas pencerahan Oceana hingga mereka saling memaafkan masa lalu.
Baik Jagad maupun Ivan menguatkan status mereka sebagai kakak lelaki dari Oceana. Kelak jika ada yang mengganggu Oceana, mereka akan membantu sebisa mungkin.
"Sean" bisik Malika.
"Apa" balas Oceana.
"Baru kemarin mereka masih mengejek kamu gendut, sekarang udah jadi Abang kamu aja"
"Udah biarin aja kan Lika"
"Ayo cabut nomor Undian!" David mengeluarkan kotak yang sudah berisi tempat yang akan menjadi tujuan perjalanan mereka.
"Aduh kok jadi deg-degan ya Sean?" Malika menyentuh jantungnya yang berdebar melihat David semangat mengocok nomor undian.
"Sama aku juga Lika"
Tibalah saatnya mengambil nomor undian.
Malika, Jagad, dan Agatha mendapat tempat Perusahaan Partner. Sementara Ratu, Ivan, Nora mendapat tempat Produksi mandiri. Tirta dan Genta mendapat bagian Perusahaan Delivery.
"Saya kok kosong Pak?" tanya Oceana.
"Kebetulan berarti kamu tinggal di Perusahaan saja" ujar David
"Wah bagus dong kamu nyaman duduk di sejuknya AC" hibur Jagad.
"Kenapa gak gabung sama kita aja Pak. Kita hanya berdua" usul Tirta.
"Enggak, kalian berdua karena tempatnya dekat, dan siapa bilang kalian berdua, Saya ikut kalian. Dua tim lainnya juga pergi bersama dengan karyawan masa percobaan yang sudah 3 bulan serta Karyawan senior di bidang yang berkaitan"
"Tapi kalau cuma sendiri yang tinggal bukannya gak adil ya" Agatha masih merasa iri.
"Bener pak, Kalau kita melakukan perjalanan, harusnya semua ikut merasakannya!" Nora bersuara, biasanya ia jarang ikut terlibat. Namun kini karena sudah terbiasa ia ikut mengeluarkan pendapat.
"Ya udah kalau gitu nanti saya diskusikan dulu dengan Direktur muda kita"
****
Usai jam makan siang berakhir. David memberitahukan bahwa semuanya akan tetap melakukan perjalanan termasuk Oceana.
Oceana melakukan perjalanan bersama Rafanza ke salah satu perkebunan ekslusif masyarakat pegunungan. Tempat yang jauh sehingga mungkin membutuhkan waktu yang lama.
"Berdua saja pak?" tanya Ivan.
"Tentu saja berdua"
"Sekretarisnya kan ada pak" ujar Genta.
"Sekretarisnya harus menggantikan di kantor. Mana mungkin pekerjaan dibiarkan terbengkalai. Sudah kalian mulai bekerja!"
***
"Enak banget kamu bisa berduaan dengan pak Rafanza ya Ocean" Agatha terdengar kesal.
"Kan kamu yang tadinya gak terima aku duduk di kantor aja tanpa melakukan perjalanan" Oceana tersenyum.
"Harusnya Ratu yang ke tempat itu" imbuh Agatha.
"Emangnya wanita lembut kaya Ratu bisa disitu?" Ivan menginterupsi.
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Tempat itu jauh, kesana menghabiskan waktu setengah hari. Belum lagi jalan ke perkebunan cukup becek"
"Lah kamu tau dari mana Ivan?"
"Ya dari Mbah Goggle dong"
Agatha ikut melihat tempat tersebut. Memang jalannya jauh dan ada bagian becek seperti yang dikatakan oleh Ivan.
"Baguslah bukan kita yang ke tempat itu Ratu"
"Kemanapun gak masalah Agatha, yang penting kita melakukannya karena tugas" jelas Ratu.
David bertepuk tangan, ia memuji kebijaksanaan Ratu. Meskipun Ratu adalah yang termuda tapi pikirannya sangat luas dan lapang. Ivan dan Jagad juga ikut bertepuk tangan sambil ketawa kaya orang bodoh.
"Itu Pak David kelihatan banget naksir sama si Ratu. Ditambah dua lelaki gak berpendirian itu" Malika geleng-geleng kepala.
****
Besok adalah hari perjalanan. Oceana sibuk menyiapkan pakaian yang harus ia bawa.
Omai masuk kamar putrinya. Melihat Baju yang bertumpuk di atas kasur.
"Kamu ini kok malah bikin kamar berantakan Sean?"
"Masalahnya perginya besok Ma"
" Kok Dadakan banget?"
"Gak tahu juga Ma, katanya besok ya besok. Kan atasan yang minta"
"Iya juga ya, sama kaya Papa kamu. Kalo disuruh lembur ya lembur kalau disuruh libur ya libur"
"Udah siap semuanya Mbak?"
"Bagas kalau makan selesaikan di luar, nanti kamar Mbakmu ini kotor!"
"Ahh aku kan makannya gak berantakan kaya Mbak Sean"
Bagas membawa satu kantong plastik penuh Snacks dan camilan kesukaan Oceana. Berharap agar Oceana betah disana.
"Jangan bikin malu deh Gas, Ntar apa kata Kak Rafa kalau aku bawa camilan sendiri. Lagian disana itu udah kaya tempat wisata dan terkenal. Jadi ada penginapannya juga"
"Baguslah Sean. Mama gak perlu khawatir"
"Eh Mbak Sean pergi bareng Kak Rafa?" Bagas antusias.
"Iya, kenapa emang?"
"bukannya Mbak bilang atasan"
"Iya atasannya Pak Rafanza"
"Pak Rafanza yang Mbak bilang itu kak Rafa?"
"Iya Gas, kok kamu jadi bawel banget sih"
"Wah gak bisa nih. Aku akan memberikan pesan buat dia dulu"Bagas keluar kamar Oceana dengan tergesa.
"Dia kenapa sih Ma?"
__ADS_1
"Mama juga gak tahu. Adik kamu itu sehari aja gak bikin pusing ya bukan adik kamu itu"
****
"Ingat ya, apapun yang terjadi kabari kami!" petuah Pak Bambang.
"Iya Pa, pasti"
"Jangan lupa Disana harus rendah hati. Gak boleh sombong. Ingat Tuhan!" petuah Bu Omai.
"Iya Ma"
"Pokoknya kalau Kak Rafa memperlakukan Mbak Sean dengan buruk bilang aja sama aku" Bagas menepuk dadanya.
Tikk..Bambang menjentik kepala putranya.
"Aduuh sakit Pa" Bagas meringis.
"Kamu emangnya siapa bisa lawan bos Kakak kamu"
"Aku adik kebanggaan Mbak Sean Pa"
"Udah aku pergi ya, Kak Rafa udah nunggu dari tadi"
Semua melihat Rafanza yang duduk di sofa menunggu perpisahan keluarga itu. Rafanza hanya senyum-senyum melihat Oceana yang seperti pergi ke luar negeri saja.
"Nak Rafa, tolong jaga Putri Om ya!"
"E e Baik Om. Saya pasti akan menjaga Sean"
"Nak Rafa, pokoknya kalau Sean bikin kamu repot. Kamu marahin aja Ok!" perintah Bu Omai.
"Iya siap Tante"
"Pokonya kalau bisa kamu beri perhatian lebih sama anak Tante ya!"
"Maa aku itu mau kerja. bukan jalan-jalan. Disana harus .."
Belum selesai Oceana berbicara. Rafanza langsung menyetujui permintaan Bu Omai.
****
Barang bawaan Oceana masuk ke bagasi. Seorang sopir profesional di sewa dengan Dana Perusahaan. Mobil pun berjalan meninggalkan pekarangan rumah Oceana.
"Maaf keluarga aku terkesan lebay Kak. Eh Pak"
"Gak papa Kok. Apalagi mereka harus melepas anak perempuan mereka. Aku juga sama"
Keluarga Oceana juga mirip dengan Mamanya yang sangat lebay. Sebelum berangkat bahkan Mamanya ingin mencium pipi Rafanza. Fakta tersebut sukses membuat Oceana menahan tawanya.
"Kok kamu ketawa?"
"Enggak Kok Kak. Eh Pak"
"Kalau cuma kita berdua aja kamu bisa panggil saya Kak!"
"Baik Kak"
Undian kertas kosong itu. Membawa Oceana menjadi orang yang mendampingi Rafanza.
Memikirkan adegan romantis disana membuat Oceana mesem-mesem. Tapi hal itu tak berlangsung lama, Oceana menyadarkan diri kalau ia tak boleh menyukai Rafanza. Ia hanya pergi untuk urusan pekerjaan.
__ADS_1
Bersambung....