
Beberapa Bulan kemudian, Rafanza berhasil membuktikan bahwa Ia menjadi Direktur Pemasaran bukanlah kesalahan. Sistem yang sedikit diperbaharui oleh Rafanza serta beberapa kebijakan yang ia tambah membuat Keuntungan perusahaan meningkat 5 persen.
Dengan demikian, Posisi Jabatan Direktur Pemasaran Rafanza tidak diragukan lagi. Rapat Direksi berakhir.
Rafanza duduk di kantor Tuan Kusuma. Direktur utama Perusahaan.
Tuan Kusuma bertepuk tangan. Ia pikir Rafanza akan menggunakan berbagai cara curang untuk keuntungan 1 persen yang ia janjikan. Namun secara keseluruhan, apalagi dengan laporan Budi. Tuan Kusuma yakin sekali kelak bukan tak mungkin Rafanza mampu menggantikannya sebagai Direktur Utama.
"Aku tahu Papa hanya berbasa-basi. Budi itu orang suruhan Papa kan?" tanya Rafanza.
Tuan Kusuma agak kaget mendengar Rafanza sudah tahu. Tapi untungnya Rafanza tidak kesal, selama Budi bekerja dengan baik. Bahkan Ajib sangat senang dengan adanya Budi. Ajib tak perlu meneruskan panggilan telepon penting atau membantu tugas Rafanza di Perusahaan saat Rafanza harus lama di luar.
Tim karyawan masa percobaan yang dipimpin David berhasil masuk Departemen Pemasaran. David tetap menjadi Pemimpin Tim.
"Padahal sudah beralih jadi karyawan tetap. Kok kita masih dapat pemimpin Tim Pak David sih" Malika menatap pengumuman resmi di situs Perusahaan.
"yang penting kita karyawan tetap Lika. Punya Id Card resmi karyawan" Oceana antusias.
David kembali ke kantornya yang baru sambil membawa Id Card baru. Ia berjalan gontai, sambil menyapa beberapa karyawan lainnya.
David langsung membagikan Id Card pada masing-masing anggotanya. Id Card tersebut memiliki tali gantungan bewarna biru navy. Dilengkapi dengan foto karyawan bersangkutan dan barcode baru. Mereka bukan lagi karyawan masa percobaan tapi karyawan tetap.
Malika dan Oceana saling memasang Id Card satu sama lain. Lalu mereka berfoto bersama. Melihat Malika yang asyik berfoto dengan Oceana. David mengusulkan agar mereka berfoto tim agar bisa dipajang di kantor hari itu juga.
Usai berfoto bersama, David mengusulkan agar mereka makan malam Tim. Sebagai perayaan mereka sekaligus pengumuman hasil dari ide Proposal yang akan mendapatkan reward.
...***********...
Bagas makan malam bersama Ayah dan Ibunya. Berharap bahwa yang memenangkan reward adalah Oceana.
"Mama yakin Sean bilang dia diterima?"
"Iya Pa, tadi siang. Dia juga mengirimkan beberapa foto pada Bagas" tukas Bu Omai meyakinkan suaminya.
"Ini Pa" Bagas memperlihatkan ponselnya pada pak Bambang.
"Semoga Mbak Sean juga dapat rewardnya" Bagas menyuap makanan semangat.
__ADS_1
"Reward apa Gas?" Pak Bambang kebingungan.
"Reward kalau idenya berhasil Pa. Aku dapat komisi juga tuh" Bagas menampakkan giginya.
"Makan yang benar!. Jangan poroti Kakak mu Gas!" larang Pak Bambang.
"Nggak banyak-banyak Pa"
Kalau Mbak Sean nggak boleh diporoti, kalau aku yang dapat hadiah tanding. Mbak Sean selalu aku aku buat senang-senang. Untung dia kakakku tersayang.
Di meja panjang restoran moderen. Ketika satu persatu makanan di hidangkan. David menyambut beberapa orang lainnya. yang akan mewakili Perusahaan untuk memberikan Reward pemenang.
Ada Rafanza, Ajib, bahkan Budi. Agatha berusaha memberikan ruang, namun Ivan dan Jagad tak mau beranjak dari dekat Ratu.
Sehingga, Rafanza duduk di samping Malika. Sadar diri, Malika ingin bertukar dengan Oceana yang bersebelahan dengan Tirta dengan alasan ia ingin hidangan di dekat Tirta. Meskipun Tirta menawari agar ia saja yang mengambilkan, Malika menolak. Jadilah Rafanza duduk di sebelah Oceana, berhadapan dengan Ratu.
Agatha menyuruh Ivan pindah juga, karena ia ingin berbicara dengan Ratu nantinya. yang dengan enggan dituruti oleh Ivan.
"Pasti Pak Rafanza mau menatap kamu terus Ratu" bisik Agatha.
"Jangan asal nebak Agatha" Ratu menolak, tapi hatinya senang.
David mengumumkan pemenang reward yang akan diberikan langsung oleh Rafanza. Selagi Rafanza sudah berdiri dan memang membawa hadiah reward di saku di dalam jas hitam yang dipakainya.
Pemenangnya adalah.... jeng-jeng jeng...
Oceana, tak salah lagi. Sehingga Malika lebih bahagia jingkrak-jingkrak lebih dari siapapun.
"Malika, yang memang Oceana bukan kamu" David melihatnya terheran-heran.
"Nggak apa-apa Pak. Memang saya ingin Oceana menang lebih dari diri saya sendiri" Malika memeluk Oceana.
Antusias Malika kurang lebih sama dengan David yang begitu bahagia ketika Rafanza berhasil meraih keuntungan 5 persen. Oceana maju menerima amplop putih dari Rafanza.
Entah datang dari mana Malika sudah berada di depan. Memotret berulang Rafanza yang merangkul Oceana. Semua orang ikut senang kecuali Agatha dan Ratu.
Ratu terus memperhatikan Rafanza, Sementara Rafanza justru memperhatikan Oceana yang makan tanpa berkedip. Menurutnya Oceana sangat imut apalagi dengan makanan yang ada di mulutnya.
__ADS_1
Agatha melihat Rafanza dan Tirta bergantian. Apa yang membuat Gadis gendut itu begitu istimewa.
"Ocean, apa kamu mau menghabiskan semua hidangan sendirian. Berikanlah beberapa jeda!" celetuk Agatha.
Rafanza menatap Agatha, pandangannya menunjukkan. Atas dasar apa Agatha menyuruh Oceana berhenti.
Rafanza meletakkan beberapa hidangan di piring Oceana. "Makanlah, saya suka sekali melihat kamu makan"
"Apa Pak Rafanza mengira Sean sedang konten mukbang?" tawa Ivan meledak diikuti pukulan punggung oleh Jagad.
"Tapi kalau Ocean ikut konten Mukbang lucu juga ya" Genta ikutan yang kemudian dicubit oleh Nora.
"Oh ya, maksud saya bukan karena mirip konten mukbang. Saya memang menyukai Oceana" ujar Rafanza yang membuat semuanya terdiam.
Bahkan Oceana tak bisa mengunyah makanannya lagi. David sampai menjatuhkan sendok gemetar terkaget-kaget.
Level Rafanza yang jomblo sejak lahir memang berbeda. Di banding menyatakan perasaannya secara pribadi di tempat yang romantis. Rafanza justru memilih hari dimana Oceana mendapatkan reward di depan semua anggota Tim David.
Setelah semua orang pulang, Oceana berbicara dengan Rafanza. Oceana tak tahu apa alasan Rafanza melakukan hal tersebut.
Oceana berterima kasih Rafanza menyelamatkan situasi ketika ia terpojok. Namun jika itu karena kasihan, lebih baik jangan diulangi.
Begitulah akhirnya Oceana pulang ke rumah. Ia merasakan bahwa sebenarnya ia berdebar kencang ketika Rafanza bilang menyukainya. Tapi ia ragu, apakah ia benar-benar menyukai Rafanza atau hanya tampangnya saja.
Pak Bambang dan Bu Omai bahkan Bagas mengira Oceana gagal. Namun Oceana meletakkan amplop di meja.
Bagas bertanya pada Rafanza langsung karena ia melihat mobil Rafanza yang mengantar kakaknya. Barulah diketahui kalau Rafanza menyatakan perasaan disaat perayaan.
Bagas masuk ke kamar kakaknya. Sementara Pak Bambang dan Bu Omai menguping di pintu.
"Apa Mbak Sean maunya ditembak secara romantis?"
"Aku nggak percaya Gas, kenapa Kak Rafa suka sama aku. Atas dasar apa. Kita nggak pantas"
"Kenapa Mbak. Bukannya Mbak Sean selalu percaya diri. Kenapa jadi pesimis seperti orang yang nggak aku kenal?" ujar Bagas.
Sebelumnya Rafanza sudah duluan bilang saat ia memasak bersama Pak Bambang. Sehingga Pak Bambang hanya menyerahkan keputusan itu pada Anaknya. Mengetahui bahwa satu-satunya laki-laki normal dan nyata selain orang Korea yang biasa ditonton anaknya di layar laptop sudah membanggakan bagi Pak Bambang.
__ADS_1
Bersambung...