
David mengumumkan bahwa mereka akan menjadi Tim dalam bagian rencana pemasaran. Maka dipastikan semua anggota Tim akan diterima dan mendapat Posisi Tim tetap di bagian Pemasaran.
"Jadi kita nggak akan dipindahkan ke Tim lainnya untuk posisi paling bawah?" Ivan bersemangat.
"Iya Tim kalian akan bergabung ke Departemen Pemasaran, Sebagai Tim 2."ujar David
"Bagaimana dengan Tim karyawan masa percobaan sebelumnya Pak?. Bukannya nanti akan membuat mereka marah?" Genta bersuara.
"Tim masa percobaan sebelum kalian sudah berhasil. dan mengapa mereka iri. Mereka adalah Tim Produksi . Bergabung di Departemen Produksi"
"Wah kenapa bukan kita yang masuk ke Departemen tersebut?" Jagad merasa kecewa.
"Tidak ada penolakan, kalian masih belum resmi menjadi Tim Pemasaran!. Kalau kalian kehilangan banyak poin, bisa saja kalian didepak sebelum jadi karyawan tetap. Ingat itu!" David duduk di kursinya.
Oceana heran mengapa Jagad dan Ivan tampak kecewa. Tim Pemasaran bisa saja disalahkan karena turunnya keuntungan perusahaan. Sebaliknya jika keuntungan naik, Tim Pemasaran adalah yang paling berjasa.
"Siapapun yang terpilih ide Proposalnya. Akan mendapatkan reward dari Perusahaan" David menutup pemberitahuan.
Ini kesempatan untuk Ratu. Menjadi individual terbaik pahlawan Tim. Pasti ia akan mendapatkan nilai lebih dari Rafanza.
Hari-hari berlalu. Semua memiliki konsep tersendiri untuk Bauran Pemasaran (Marketing Mix) yang mereka pilih.
Karena mereka masih Tim karyawan masa percobaan, semua diberi satu tugas untuk Promosi aplikasi, salah satu bagian penting dalam Marketing Mix. Bagian lainnya di handle oleh yang lebih berpengalaman.
"Apa yang bisa kita lakukan agar aplikasi kita memiliki rasio kunjungan lebih banyak. Mengingat kita berada di peringkat 5 besar" David melirik wajah Tim yang ia awasi ini.
Mengapa ide mereka klise sekali?. Tak ada inovasi, kalau begini mana bisa menaikkan rating aplikasi.
David meminta perhatian...
"Ada apa Pak?" tanya Jagad.
"Saya ingin menjelaskan sesuatu. Kalian tahu apa tujuan utama Tim ini. Tujuan utama kalian?"
"Promosi aplikasi kan Pak" ujar Jagad.
"Lebih spesifik. Apa tujuan individual kalian?"
__ADS_1
Malika menunjuk tangan "Rating aplikasi"
"Tepat sekali. Jika Rating aplikasi kita naik. Otomatis kita akan meningkatkan rasio kunjungan. Sehingga promosi lebih berjalan"
2 hari lagi adalah Hari H pengumpulan file. Masing-masing anggota harus menyerahkan proposal mereka. Di antara wajah-wajah tertekan yang bingung memikirkan proposal mereka, Agatha melihat Oceana menjadi satu-satunya yang sumringah.
Agatha mengajak Oceana bertemu secara 4 mata. Ia ingin mentraktir Oceana sebagai ucapan maaf atas tindakannya sebelum-sebelumnya.
Saat mereka menaiki Taksi, Rafanza melihat dari mobilnya. Sehingga ia menurunkan Ajib di depan Perusahaan dan mengambil alih kemudi.
"Rafanza, Lo nurunin gue disini. Jadi ngerasa diantar pacar tau nggak" Ajib menunjuk-nunjuk mobil yang tancap gas menjauh.
Beberapa karyawan melihat Ajib sambil berbisik. Ajib menegaskan bahwa ia bercanda sambil menggoyangkan tangannya berarti penolakan.
Sebelum pergi, Malika memperingati Oceana. Jangan terlalu mudah percaya dengan Agatha. Oceana hanya berpikir bahwa mungkin Agatha mulai sadar.
Memasuki restoran dengan banyak pembatas. Agatha merasa restoran itu cukup sepi dan tak akan diketahui orang. Rafanza berada tepat di sebelah mereka duduk, dibatasi papan, memakai topi dan kacamata hitam yang sengaja ia ambil dari laci mobil.
Ajib menanyakan kemana Rafanza pergi lewat pesan. Rafanza pergi sekejap dan akan segera kembali. Rafanza hanya ingin tahu apakah mereka membahas Tirta atau tidak.
Usai makan, Agatha berbasa-basi, rupanya ia asik juga diajak mengobrol. Hingga Agatha menceritakan tentang Tirta yang masih ia sukai. Namun Oceana secara jelas menolak bahwa ia tidak memiliki perasaan pada Tirta.
"Ocean, apa kamu sudah memiliki ide?"
"Kenapa memangnya?" Oceana tak curiga.
"Aku belum menemukan ide. Begitu pula Ratu. Kamu tahu kan yang lain tak mau membagi idenya"
"Mungkin karena individual Agatha" ujar Oceana "Satu lagi, pasti kita semua ngin mendapat reward tersebut"
Agatha meminjam file dari Oceana setelah nada mengiba yang ia lontarkan. Ia janji hanya akan memakai itu sebagai petunjuk. Tanpa perasaan aneh Oceana meminjamkan file itu secara sukarela.
Malam harinya, Rafanza ikutan meminta Oceana mengirimkan file yang sama lewat surel. Oceana bilang bahwa kemungkinan idenya masih bisa berubah. Rafanza hanya ingin melihat saja, karena ia tak punya wewenang menentukan proposal yang akan menang.
...************...
David menyuruh semua mempresentasikan proposal dan menjelaskan ide dari proposal mereka. Tirta maju duluan, kemudian Agatha, Lalu Ratu. Ratu memakai dari file milik Oceana. Sehingga bagian per bagian sangat sama, Oceana hafal betul kalimat yang ia rancang.
__ADS_1
Malika merasa tak asing dengan yang disampaikan Ratu sehingga ia melihat Oceana bingung. Oceana mengangguk, ia tahu apa maksud ekspresi kebingungan Malika. Ia sempat memperlihatkan file itu pada Malika sebelumnya. Lalu Oceana hanya tersenyum miring melihat Agatha yang terlihat tak bersalah.
"Tapi ketika giliran kamu. Gimana kalau Pak David marah?" Malika tampak khawatir.
"Aku ngasih filenya sama Agatha. Dia bilang mau dapat petunjuk dari punya aku. Eh siapa sangka Ternyata Ratu makai keseluruhannya tanpa diubah" Oceana membuang nafas.
"Agatha ini benar-benar sampah. Mau aku masukin lagi ke kepalanya tong sampah Sean" Malika meremas jarinya.
"Tenang Lika, sekarang giliran aku" Oceana maju dan mempresentasikan proposal miliknya.
Diluar dugaan, Oceana menjelaskan ide yang sangat berbeda. Untungnya Oceana dapat ide baru karena melihat Bagas. Oceana meminta adiknya yang populer untuk bertanya mengapa teman-temannya ingin menginstal aplikasi. Tanyakan terutama kepada yang suka berbelanja. Atau main ponsel.
dan alasan terbesar mereka yang dapat disimpulkan Oceana adalah karena aplikasi tersebut Multiguna.
"Lika kamu tahu kenapa harus selalu ada Plan B?" tanya Oceana.
Malika hanya menggeleng tak paham. Jawabannya karena Plan A tak selalu berhasil. Oceana memiliki firasat bahwa Plan A nya pasti akan bermasalah. Apalagi ia juga pernah magang di suatu Perusahaan Pemasaran sebelumnya. Salah satu pelajaran terbesar yang ia dapat adalah jangan berbangga diri dengan suatu ide.
dan juga, salah satu kunci untuk tetap bertahan adalah untuk tidak memposisikan diri sebagai orang yang mudah dimanfaatkan. Mungkin kita adalah rekan kerja, tapi tak semua orang akan memiliki insting untuk berterima kasih. Apalagi saat dihadapkan pada pilihan atau kesempatan.
Rafanza melihat proposal Tim karyawan masa percobaan ketika David memilahnya. "Kalian jangan ikut campur ya. Ini murni keputusan gue"
"Benar-benar sama persis" Rafanza membaca milik Ratu.
"Kenapa Rafa?" Ajib melihat laptop Rafanza.
Ajib syok berpikir ada yang mencuri file dari laptop milik Rafanza. Padahal Teknisi selalu mengecek keamanan komputer di tiap ruangan. Apalagi Laptop Rafanza memiliki Sandi, dan tak ada yang mengetahuinya kecuali Rafanza sendiri.
"Ternyata dia cukup hebat" Rafanza melihat file milik Oceana.
David mengambil kembali file-file tersebut. Ia juga memperingatkan tak ada yang boleh mengintimidasi pilihannya. David segera keluar ruangan.
"Dia kenapa Dah" Ajib geleng kepala.
Sekretaris lainnya yang baru direkrut pun masuk, Budi. Dia sekretaris yang memiliki meja tersendiri di luar ruangan. Budi adalah salah satu kepercayaan Tuan Kusuma. Bisa dibilang dia agen ganda, di Perusahaan bawahan Rafanza. Di rumah bawahan Tuan Kusuma.
"Semoga dia berbudi, seperti namanya ya" Rafanza melihat Ajib.
__ADS_1
"Dia amat berbudi setahu saya Pak. Anda tenang saja" Ajib mengacungkan jempol.
Bersambung....