
Malika ikut senang karena Oceana berhasil menyelesaikan masalahnya dengan Rafanza. Ia tak tahan jika Rafanza melihat meja kosong Oceana dengan tatapan sendu melankolis lagi.
"Sean, nanti bunga yang dilempar kamu arahin buat aku ya!"
"Kamu tahu darimana aku mau adakan resepsi ala luar Lika?"
"Aku kan sahabat kamu"
"Iya deh aku coba ya. Eh emangnya udah ada calon Lika?"
"Itu sebagai awal Sean, siapa tahu ada yang nyantol karena aku nangkap bunga sendirian kan"
"Iya deh, kamu Do'ain juga biar Papa aku bisa Nerima"
"Aku pastikan Papa kamu mau Sean"
David, Ajib dan Budi merasa lega. Mereka tidak akan begitu tersiksa melihat level Bucin seorang Rafanza lagi.
"Gue juga mau nyari calon ah" celetuk Ajib.
"Nyari Dimana?. Harusnya Lo contoh aja Budi. Tenang, damai, nggak neko-neko. ya Kan Bud ?" David memuji Budi.
"Sebenarnya Gue udah punya tunangan" Budi berujar tiba-tiba dengan wajah datarnya sembari menggaruk kepala.
"Iya gue juga udah lama tau dari Papa" Rafanza tidak terkejut sama sekali, setahunya tunangan Budi masih menyelesaikan beberapa urusan di kotanya.
"Lo diam-diam menghanyutkan. Kenapa Lo nggak bilang-bilang ya" Ajib tak terima.
"Gue malu, lagipula kalian juga nggak nanya siapa tahu Rafa sudah bilang" Budi mengelus tengkuknya.
"Rafa ini tahunya Bucin Mulu mana ada waktu ngasih tahu" Protes David.
"Udah-udah. Gue Do'ain kalian cepat bertemu seseorang" Rafanza menyemangati kawannya.
Sementara itu setelah merayakan keberhasilan bersama David, Ajib dan Budi. Rafanza pulang dengan sumringah.
"Ma, Pa aku yakin akan menikahi Oceana."
"Bagus, itu baru putra Papa satu-satunya"
"Yes, Mama akan segera punya cucu. Kapan lagi Mama disebut-sebut sebagai nenek muda" Nyonya Linda antusias.
"Ma, pikirin nikahnya dulu, udah langsung cucu saja?" Tuan Kusuma heran dengan istrinya yang mau ngebut terus seperti pembalap.
Bi Yuyun, Cika dan Neti tak akan bahagianya. Mereka juga senang apabila Oceana jadi menantu keluarga Kusuma. Oceana sangat sopan dan perilaku baik.
"Ayo Paa, tadi kan Papa udah dengar pendapat Bagas, Mama dan juga aku. " Oceana merebahkan kepalanya di bahu Pak Bambang.
"Tapi, ini belum 3 bulan Sean" tukas Pak Bambang pelan, ada sedikit perasaan tidak rela dari wajahnya.
__ADS_1
"Kak Rafa dan juga aku pastinya, kita tahu makna Papa minta waktu. Aku juga yakin Papa sudah percaya sama dia"
"Tapi kan..."
"Udahlah, lagipula semua akan diurus Tuan Kusuma. Papa juga sebenarnya sering diam-diam berhubungan dengan Tuan Kusuma kan" Bu Omai melirik suaminya dengan lucu.
"Maksudnya apa Ma?" Bagas kepo mulai beraksi.
"Papa kamu sama Om Kusuma itu sering bertengkar bahkan sampai ke masalah cucu. Di depan anaknya aja seolah nggak mau. Padahal udah ngebet" Bu Omai membocorkan apa yang terjadi.
Pak Bambang memeluk putri kesayangannya itu. Ia akan segera membahas pernikahan mereka.
...****************...
1 bulan Kemudian.....
Usai janji suci terucapkan, Rafanza dan Oceana resmi berstatus sebagai suami istri. Selain acara resepsi pernikahan secara adat sekitar. Mereka juga memakai alat-ala pengantin luar.
Oceana dengan gaun putih terulur panjang dan rambut pendeknya yang diberi hiasan. Rafanza dengan jas hitamnya yang elegan dan serasi dengan Istrinya. Mereka Berjalan ke tengah panggung outdoor yang dihadiri banyak tamu.
Budi dipilih sebagai MC acara. Ia pertama meminta Bagas berjalan ke depan mengatakan kata-kata yang ingin ia sampaikan. Memang acara tersebut lebih kepada para anak muda.
"Pokoknya, kalau berani membuat Mbak Sean menangis, aku akan pukul"...
"Bagas,.. bicara apa kamu?" Pak Bambang menegur putranya.
Selanjutnya Malika yang juga untuk menjaga Oceana. Karena sudah cukup rasanya dua orang dari pihak Oceana, kini lanjut dari pihak Rafanza. Sudah jelas Ajib dan David yang ingin mengeluarkan kata-kata mutiara mereka.
"Aku tidak menyangka Rafanza duluan nikah, padahal aku lebih dulu...." Ajib berhenti karena Pak Abdan meneriakinya serta David juga.
"Baiklah aku tidak akan mengiba. Pokoknya selamat buat kalian, jangan lupa buat bayi!" Ajib turun dari panggung dengan gelengan orang-orang terutama Pak Abdan yang berusaha Kalem.
Rafanza justru tertawa keras dengan ucapan Ajib.
"Kenapa Kak Rafa?".
"Buat bayi, dia pikir kita pabrik Sean" Rafanza berusaha menahan tawanya.
"Mungkin Dia lebih gugup daripada kita Kak Rafa"
Selanjutnya David ikut maju. Ia mengeluarkan secarik kertas dari saku dan mulai membacanya.
Mungkin dari awal masih normal. Hingga ucapan David sudah mulai ngalor ngidul bawa-bawa Game dan kisah masa lalu. Ajib terpaksa turun tangan menarik sahabatnya itu turun segera.
"Kamu sudah merelakannya Tirta?" Agatha bertanya pelan.
"Sudah lama," Tirta tersenyum memandang pasangan itu.
Meskipun Agatha diam-diam merangkul tangannya. Tirta tidak menghindar, dia perlahan mulai membangun puzzle yang dulu rusak dari masa lalu mereka.
__ADS_1
.......
Setelah acara selesai tentunya Pelemparan bunga sangat ditunggu-tunggu.
"Aku," ujar Malika yang dengan gesit berhasil mendapat bagian atas bunga.
"Lihatlah siapa yang bicara, ini sepenuhnya ada di tangan saya"
David memegang bagian bawah bunga tersebut sembari menahan tubuh Malika yang setengah oleng. kalau David mundur, Malika akan jatuh.
"Pak David?" Malika dipenuhi dengan tanda tanya.
"Iya, bisa kamu lepas dulu bunganya Malika?"
"Ini aku yang punya"
"Saya"
"Aku"
Perdebatan mereka tak kunjung usai, sementara kini masuk sesi foto bersama. Di dalam bingkai, sudah bisa dijelaskan apa yang terjadi.
Tirta dan Agatha yang berangkulan. Nora dan Genta yang saling curi pandang serta Malika dan David yang memegang erat bunga sampai akhir.
Tim Pemasaran 2 sangat sumringah di dalam Foto. Seolah anggota keluarga mereka yang melepas masa lajang, seperti Ivan dan Jagad yang tiba-tiba bersikap rapuh menahan tangis.
.........
Oceana terbangun dari mimpi indahnya. Ia melihat siapa yang berada di sampingnya kini. yang akan selalu menemani malam-malamnya.
Oceana menyentuh dagu Rafanza. Kemudian ia tersenyum melihat bibir yang sepenuhnya miliknya, dengan senyuman mematikan dan terus menggoyahkan jantungnya.
Rafanza terbangun sembari memegang tangan Oceana yang menyentuh bibirnya.
"Kak Rafa...?"
Rafanza mengecup tangan Oceana lembut "Sudah bangun, sayang?"
Rafanza kemudian mengecup kening istrinya itu. Tak lupa juga memberikan morning kiss sehabis bangun tidur.
Oceana....
Aku tidak pernah menyangka bahwa laki-laki yang pernah aku sukai ini akan mendampingiku. Takdir membawaku untuk bertemu dan terus berada di dekatnya.Dapat aku pastikan satu hal, Aku akan terus bersamanya.
Rafanza....
Aku selalu merasa Gadis ini istimewa. Aku mengaguminya dan penasaran tentangnya. Aku berterima kasih pada takdir yang menuntunku bertemu dia kembali. Suatu hal yang aku janjikan, aku akan selalu menjaganya.
.........__~ SELESAI~__.........
__ADS_1