
Mobil berdecit terhenti di gerbang yang tampak mengkilap. Lalu 2 orang Satpam membukakan pintu gerbang setinggi 3 meter itu.
Oceana turun dari mobil, melihat rumah yang begitu mewah dan megah. Tampak beberapa wanita yang lalu lalang dengan pakaian sama.
"Mereka siapa Kak Rafa?"
"Mereka pelayan disini"
Salah seorang dari wanita itu mendatangi Oceana dan Rafanza. "Selamat datang Den Rafa"
Den Rafa?. Kak Rafa ternyata seorang tuan muda juga.
"Ini Cika, baru dua bulanan disini", ujar Rafa
"Oh halo Cika"
"Selamat datang Nona Ocena"
"Oceana, Cika berulang kali sudah dibilang!" Seorang wanita paruh baya mendekat.
"Maaf Bi"
"Ini Bi Yuyun, yang paling senior dan dekat sama Mama aku" Rafanza memperkenalkan lagi.
"Silahkan masuk Non Oceana"
******
Oceana memasuki rumah mewah tersebut. Ia dilayani dengan baik. Oceana duduk di sofa yang benar-benar empuk yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Nyonya Linda turun dari tangga dengan pakaian modis dan anggun. Ia tersenyum menemui Oceana dan putranya.
"Ini Mama, yang mau ketemu kamu" Rafanza melihat Mamanya, "Ini Oceana Ma"
"Saya Oceana Tante"
"Tante inget kamu yang waktu itu di butik kan?. Syal ingat nggak?" Nyonya Linda menyentuh lehernya.
" Iya aku ingat Tante, maaf sebelumnya Tante" Oceana menyatukan tangannya.
"Enggak, bukan salah kamu kok. Itu salah syal nya, ngapain pakai nyantol di tempat lain"
"Bukannya Mama yang dari awal naro disana?"
"Makanya Mama bilang salah syal nya"
"Iya Ma, iya"
....
"Tante mau bilang makasih sebenarnya sama kamu"
"Buat apa Tante?"
"Buat bikin Rafanza tetap disini"
"Maksudnya Tante?"
"Enggak, maksudnya, makasih udah mau balikin syalnya"
"Sama-sama Tante"
"Sekarang Tante mau ajakin kamu makan disini karena ucapan terimakasih"
"Nggak usah repot Tante, lagipula kan memang akunya yang ceroboh waktu itu"
"Tapi kenapa kamu bisa ngambil syal tiba-tiba Sean?"
Karena aku gugup ketemu Kak Rafa setelah sekian tahun, nggak mungkin kan aku ngomong begitu. Eh tapi, Sean ? kok Mamanya Kak Rafa tahu panggilan aku.
"Udahlah Ma jangan ditanyakan lagi yang sudah lalu!. Kasian Sean nya udah kayak orang diinterogasi"
"Iya deh iya. Bi Yuyun siapkan semuanya ya!"
"Baik Nyonya"
Di meja makan semua terhidang. Oceana hampir saja meneteskan air ludahnya.
__ADS_1
Oceana berbisik, "Kak Rafa, Makanan ini buat ngejamu siapa kak?"
Rafa balas berbisik "Kamu"
"Sebanyak ini?" Oceana dan Rafanza terus berbisik sementara Nyonya Linda hanya memperhatikan mereka.
"Kak Rafa, mungkin aku gendut tapi aku juga nggak makan sebanyak ini"
"Hahaha, bukan karena kamu gendut. Aku nggak bilang gitu kan. Ini memang seperti biasanya"
Tepat saat mereka masih berbisik. Tuan Kusuma datang.
"Akhirnya Papa datang"
"Kenapa Papa harus pulang lebih awal Ma?"
Nyonya Linda bersemangat memperkenalkan Oceana. Mereka makan malam bersama sambil terus mengobrol.
"Papa tahu nggak kalau Oceana ini sekolah di SMA yang sama dengan Rafa"
"Oh ya, satu angkatan?"
" Enggak Pa, Aku seniornya"
"Berarti kalian seusia"
"Saya lebih tua satu tahun Om" tambah Oceana.
"Kok kamu yang lebih tua?"
"Cuma satu tahun Pa, itu namanya seusia Sean!" Rafanza menatap Oceana.
"Iya Kak Rafa"
"Sudahlah siapa yang lebih tua nggak masalah, Tante punya kenalan yang suaminya lebih muda beberapa tahun" Nyonya Linda merekah.
"Kamu karyawan masa percobaan yang baru?"
"Iya Pak"
"Panggil saja Om kalau di rumah!"
"Semangat terus ya, jangan Nyerah!"
"Iya Om, pasti"
Ternyata Pak Kusuma nggak sekejam kelihatannya.
"Tapi kening kamu kenapa?"
"Hah?" Oceana meraba keningnya.
"Coba aku lihat" Rafanza melihat seksama kening Oceana. "merah dan kayaknya agak bengkak Sean"
"Nggak apa-apa Kok kak Rafa"
"Biar aku obatin, ayo!" Rafanza menarik Oceana kembali ke sofa.
Aku kan belum selesai makan Kak Rafa
Oceana melihat makanan yang terhidang di meja dengan sedih. Tuan Kusuma dan Nyonya Linda juga heran sendiri.
"Ma, kenapa Rafa jadi aneh begitu?"
"Aneh darimana Pa, Mama senang karena gadis itu bisa meruntuhkan spekulasi mama Kalau Rafa itu nggak suka seorang wanita"
"Iya ya, setahu Papa dia nggak pernah dekat dengan gadis manapun. Sekarang malah langsung dibawa ke rumah"
"Itu tandanya Sean ini istimewa"
"Istimewa?"
"Iya Pa, dia bikin Rafa mau kerja di Indonesia bahkan megang jabatan di Perusahaan"
"Darimana Mama tahu itu karena dia?"
"Papa nggak akan paham, ini namanya firasat seorang Ibu"
__ADS_1
"Iyalah terserah Mama"
Rafanza memberikan sebuah semprotan pada kening Oceana. Beberapa saat kemudian terasa sangat dingin. Rafanza juga meniup kening Oceana membuat gadis itu tersipu.
"Dingin Kak Rafa"
"Kamu ngerasa dingin?. Wajah kamu juga merah. Biar aku hidupkan penghangat" Rafanza mau berdiri.
"Enggak, maksudnya ini" Oceana menunjuk keningnya.
"Ooh, yaudah nanti di rumah kamu jangan lupa pakai ini beberapa kali ya!" Rafanza memberikan semprotan itu pada Oceana.
"Tapi Kak Rafa"
"Nggak apa-apa, hitung-hitung karena aku yang bikin kening kamu kebentur"
Neti, pelayan lainnya tergopoh-gopoh bertanya siapa yang sakit. Ia pernah sekolah di SMA kesehatan sebelumnya dan berhenti karena biaya dan kemampuan.
"Udah selesai Neti, itu mereka!" tunjuk Tuan Kusuma.
"Oh udah selesai ya Tuan"
"Den, makanannya sudah siap"
Rafanza menyuruh Netti membungkus makanan untuk Oceana agar bisa dibawa pulang. Oceana senang bukan main, ternyata ia masih bisa menikmati hidangan mewah tersebut.
****
Di ranjang, Oceana mengusap keningnya sambil melihat semprotan yang diberikan Rafanza. Oceana memandanginya sambil tersenyum.
Bagas mengetuk pintu kamarnya. "Mbak udah selesai?"
"Selesai apanya Gas?"
"Jalan-jalan sama Kak Rafa"
"Kita itu refreshing sambil kerja Gas"
"Kenapa harus bawa makanan pulang segala, Makanan dari rumahnya Kak Rafa lagi"
"Itu karena makanan mereka banyak banget, takut mubazir kali"
"Eh Mbak, itu etil klorida kan?" Bagas menatap semprotan di tangan Oceana.
"Nggak tahu Gas"
"Mbak kenapa?" Bagas terdengar panik.
"Cuma kebentur aja Gas" Oceana memperlihatkan keningnya yang agak bengkak.
"Ooh, cuma kebentur"
"Cuma kebentur?. sakit tahu Gas" Oceana menyentuh keningnya.
"Nggak apa-apa Mbak, sekali-kali. Tapi Mbak Sean nggak mantul kan?"
"Mantul?"
"Iya, memantul mental kayak bola" Bagas mencandai Oceana.
"Diam ya Gas, ini udah malam" Oceana tenang.
"Buat aku aja Mbak, aku butuh itu kalo cedera pas Main basket"
Oceana tersenyum, "Ini?. ogah, aku nggak mau ngasih buat kamu Gas, ini punya aku, kalau kamu takut cedera ya berhenti aja main basket!"
"Basket itu jantung aku Mbak, nggak bisa berhenti. Ini aja kita baru selesai latihan buat turnamen Minggu depan"
"Kamu baru selesai latihan?. Pantas aja kamu baru pulang. Tapi kamu belum mandi dong Gas?"
"Belum Mbak"
"Iih Bagas, keluar Sono mandi dulu!" Oceana menarik adiknya keluar kamar.
"Eh Mbak, obat itu nggak bisa dipakai berlebihan Mbak, dikit aja!"
"Iya tahu kok, Kak Rafa udah bilang tadi" Oceana mengunci pintunya.
__ADS_1
Oceana berbaring di ranjang. Ia mengingat kembali waktu yang ia habiskan dengan Rafanza. Sama seperti Oceana, Rafanza juga berbaring mengingatnya.
Bersambung.....