
Pada malam yang gelap hanya sinar sang rembulan yang menerangi derap langkah paman Yan Bei dan puluhan prajurit yang mengikutinya.
Mereka berjalan melewati semak belukar yang berduri, jadi tidak heran jika banyak di antara mereka yang mengaduh kesakitan ketika menginjak duri-duri yang melintang di tengah jalan. Namun, itu semua tidak membuat mereka patah semangat, Paman Yan Bei dengan penuh keyakinan jika ia akan segera menemukan keponakannya malam itu juga mempercepat langkahnya.
Paman Yan Bei adalah seorang perwira yang gagah berani, yang siap mengemban tugasnya dengan penuh tanggung jawab.
Mereka terus menyusuri jalan yang penuh dengan semak belukar hingga pada akhirnya mereka tiba pada sebuah gua, dimana di dalam gua tersebut terdapat dua manusia yang sedang terlelap.
"Hm, sepertinya aku mencium aroma tubuh putri Quan Ling, apa mungkin dia ada di dalam gua ini?" Paman Yan Bei menerka-nerka.
Ya, Paman Yan Bei memiliki kelebihan pada indra penciumannya, bahkan ia bisa mengenali seseorang hanya dari aroma tubuhnya saja dan tanpa melihat sosok orang itu.
Paman Yan Bei yang berada di depan seluruh prajuritnya, secara tiba-tiba menghentikan langkah membuat beberapa prajurit yang berjalan di belakangnya saling menabrak secara beruntun. Sehingga membuat mereka jatuh bertumpuk dan saling menindih satu sama lain.
"Sialan! Mengapa berhenti tiba-tiba?" tanya prajurit yang paling belakang, dengan cepat ia bangun karena mendengar suara mengaduh kesakitan di bawahnya.
"Aku juga tidak tahu!" jawab prajurit yang di bawahnya seraya mengusap punggungnya.
"Dia yang berhenti mendadak!" seru yang lainnya menunjuk ke arah prajurit yang paling depan dan dalam posisi jatuh paling bawah.
"Sudah, jangan berdebat aku yang menjadi korban." Prajurit yang paling bawah meringis kesakitan karena tertindih oleh beberapa orang di atasnya.
"Aduh~pinggangku," lanjut prajurit itu mengeluh seraya memegangi bagian atas pantatnya yang terasa remuk.
"Sssttt, jangan berisik! Panglima Yan Bei sepertinya menemukan sesuatu," ucap prajurit yang selamat dari insiden menyengsarakan itu, ia mengangkat jarinya dan meletakkan di depan mulutnya membuat prajurit yang sebelumnya berisik saling menyalahkan, kini diam seketika.
Paman Yan Bei mulai memasuki mulut gua dan ia menjadi yakin bahwa di dalam sana ada putri Quan Ling mengingat aroma tubuh keponakannya itu semakin kuat tercium olehnya.
Dan, pada saat itu pangeran Zhou Yhan yang sedang tertidur di samping putri Quan Ling, membalikkan badan lebih dekat dengan wanita itu. Sedangkan putri Quan Ling tetap tertidur pulas.
__ADS_1
Paman Yan Bei yang melihat semua itu, terkejut bukan main. Kedua matanya melebar menatap pangeran Zhou Yhan dengan beringas. Tanpa berpikir lagi paman Yan Bei sontak mengayunkan tombak nya dan melemparkan tombak di tangannya dengan kasar.
WUSH….
TAP.
Beruntung pangeran Zhou Yhan segera terbangun dan setelah mendengar adanya gerakan udara yang menuju ke arahnya. Dengan sigap pangeran Zhou Yhan berhasil menangkap tombak itu dan melemparkannya kembali ke arah Paman Yan Bei.
Hanya dalam sekelip mata, pangeran Zhou Yhan telah menghilang dari pandangan paman Yan Bei.
"Sial! Kemana larinya laki-laki brengsek itu?" Paman Yan Bei mengejutkan putri Quan Ling dan membuatnya terbangun.
"Paman, benarkah ini kau, paman?" putri Quan Ling mengucek kedua matanya, ia tidak yakin dengan penglihatannya sendiri.
"Ya, Quan Ling, keponakan kesayangan paman," jawab paman Yan Bei kemudian merentangkan kedua tangannya.
Putri Quan Ling tersenyum dan berlari menghampiri paman Yan Bei, lalu masuk kedalam pelukannya.
"Bagaimana bisa paman tiba disini?" tanya putri Quan Ling dengan penuh haru.
"Takdir keberuntungan yang membawa paman kemari, bagaimana mungkin paman membiarkan dirimu dalam bahaya disini."
"Tidak, paman! Aku tidak sendiri aku bersama dengan Kim Yung." tangan putri Quan Ling menunjuk ke arah tempat pangeran Zhou Yhan tertidur sebelumnya.
"Kemana dia?" Gumam putri Quan Ling yang merasa heran ketika melihat tempat pangeran Zhou Yhan kosong.
"Siapa yang kau maksud? Apa laki-laki brengsek itu?" paman Yan Bei menatap wajah putri Quan Ling.
"Kim Yung, paman. Namanya Kim Yung dia pria yang baik, dan jika bukan karenanya maka aku pasti telah mati di serang Gough Raks."
__ADS_1
"Gough Raks? Siapakah dia? Baru pertama kalinya aku mendengar namanya." Paman Yan Bei terkejut mendengar keponakannya di serang.
Kemudian putri Quan Ling menceritakan siapa dan seperti apa wujud Gough Raks, hingga ia berhasil dikalahkan oleh raksasa itu dan di selamatkan oleh seorang pria yang bernama 'Kim Yung'.
"Wah, pantas kuda yang kau tunggangi mati mengenaskan," sambung paman Yan Bei seraya mengelus rambut keponakannya dengan lembut. Kedua matanya kini mulai berkaca-kaca membayangkan bahaya yang telah dihadapi oleh keponakan kesayangannya.
"Siapakah Kim Yung? Dan dari mana asalnya?" tanya paman Yan Bei kemudian.
"Aku juga tidak tahu, dan ini salah paman! Paman Yan Bei yang telah membuat dia pergi!" Putri Quan Ling memalingkan wajahnya, ia merasa tidak rela kehilangan Kim Yung. Seorang pria yang telah berhasil merebut hati dan jiwa nya.
"Sudahlah, mari kita pulang! Yang penting kau telah selamat." Paman Yan Bei membujuk putri Quan Ling.
"Jika Yang Maha Kuasa berkehendak maka kalian akan kembali dipertemukan." Paman Yan Bei tersenyum menyeringai, hingga membuat putri Quan Ling ikut tertawa karena tidak tahan melihat mimik wajah menggelikan dari pamannya.
Kemudian putri Quan Ling melangkahkan kedua kakinya menuju ke luar gua, di iringi paman Yan Bei yang mulai bernafas lega.
>>>>>>>>
"Sialan! Dasar manusia tidak tahu diuntung! Masih mujur aku mau menyelamatkan keponakannya!" geram pangeran Zhou Yhan atas perlakuan paman Yan Bei kepadanya.
"Untunglah topeng ini masih aku pakai," gumamnya lagi dengan suara yang lebih rendah seraya meraba area wajahnya yang tertutup topeng.
Pangeran Zhou Yhan kembali merasakan telepati, ia bisa mendengar dengan jelas suara batin raja Fan Kris Wu yang beberapa kali memanggil namanya.
Raja Fan Kris Wu ingin mendapatkan informasi tentang putri Quan Ling. Dan betapa marahnya raja Fan kris Wu ketika mendengar bahwa putri Quan Ling masih hidup dan ditinggalkan begitu saja oleh pangeran Zhou Yhan.
"Ayah, ada beberapa alasan mengapa aku membiarkan dia tetap hidup, karena raganya akan sangat menguntungkan kita," jelas pangeran Zhou Yhan.
"Batu permata kristal putih yang Ayah cari selama ini ada padanya, dan jika aku sampai membunuhnya, maka itu sama saja dengan sengaja melenyapkan kekuatan batu permata kristal putih itu."
__ADS_1
"Baiklah, aku terima alasanmu. Sekarang cepatlah datang ke istana kerajaan Hua Kingyan, kekuatan raja Shan Hua di luar dugaanku." raja Fan kris Wu mengakhiri perbincangan telepati mereka.