
“P-paman, Ibu, aku ke taman dulu. Ayo, Young Vei.” Putri Quan Ling bergegas meninggalkan ruangan itu bersama Young Vei yang berjingkrak-jingkrak kesenangan di depannya.
Bukan tanpa alasan Putri Quan Ling bertingkah seperti itu, dikarenakan ia pribadi tidak ingin membahas masalah keturunan yang sudah dapat dipastikan tentunya hal itu akan membuatnya semakin sakit hati. jujur Putri Quan Ling tidak ingin bersentuhan lagi dengan pria itu, apalagi sampai berhubungan badan, putri Quan Ling bergidik membayangkan hal itu.
“Tentu saja Paman, bukankah untuk hasil yang baik kita tidak perlu terburu-buru, agar hasilnya lebih memuaskan?”
Paman Yan Bei mengangguk membenarkan ucapan menantunya, begitu pula dengan ratu Yun Lie dan bibi Zhen Zhi, bukankah pernikahan mereka baru berjalan sebulan lebih? Raja Zhou Yhan mohon diri untuk menemui putri Quan Ling sedangkan yang lainnya masih melanjutkan perbincangan mereka.
Sementara itu putri Quan Ling sedang asyik memperhatikan Young Vei yang sedang berlatih ilmu bela diri bersama dengan prajuritnya. Tampak kedua mata putri Quan Ling sedang sibuk mengikuti kemana arah Young Vei berlatih. Akan tetapi, beberapa menit kemudian ia dibuat terkejut dengan kedatangan raja Zhou Yhan yang secara tiba-tiba terjun ke area medan perang menghampiri Young Vei.
Karena sedang serius berlatih, Young Vei tidak menghentikan gerakannya, malah ia dengan sangat cepat melayangkan gerakannya ke arah perut raja Zhou Yhan, dan mereka pun sama-sama saling menyerang tentunya dengan menyesuaikan gerakan Young Vei yang masih tampak berpikir gerakan apa yang harus dilakukan.
“Wah hebat! Kau benar-benar ksatria sejati,” puji raja Zhou Yhan pada saat latihan itu berakhir.
“Terima kasih Yang mulia,” sahut bocah itu kesenangan mendapatkan pujian dari rajanya yang sangat perkasa.
“Kim Yung!” panggil putri Quan Ling seraya bergegas menghampiri bocah itu kemudian membawanya pergi dari hadapan raja Zhou Yhan.
Putri Quan Ling harus melakukan hal itu dikarenakan ia tidak ingin Young Vei dekat dengan pria itu dan belajar keegoisan darinya, bukankah anak kecil itu seperti selembar kertas putih? Dia akan menjadi seperti apa yang tertulis di dalamnya.
“Kakak! Yang mulia raja baik sekali padaku, bahkan tadi waktu ingin kemari dia selalu menghiburku agar aku tidak menangis,” ucap Young Vei dengan polosnya.
“Ya, Yang mulia raja memang orang yang sangat baik,” sahut putri Quan Ling. “dan karena kebaikannya itulah hingga membuatnya sama sekali tidak merasa bersalah walau telah melenyapkan kehidupan orang lain.”
__ADS_1
Putri Quan Ling memang sedang berbicara dengan Young Vei, tetapi pandangannya tertuju kepada raja Zhou Yhan. Merasa dirinya disindir membuat pria itu sedikit tersulut emosi, ingin membalas tapi ia khawatir akan membuat suasana di istana itu menjadi tegang, walau bagaimanapun sikap orang-orang di istana ini sangatlah baik kepadanya. Jadi, raja Zhou Yhan tidak ingin merusak suasana itu. Oleh karena itu, raja Zhou Yhan berpura-pura tidak mendengarnya meskipun sebenarnya ia merasa sangat kesal.
“Oh,Ya, satu lagi kau boleh pulang sekarang, karena aku akan menginap disini untuk beberapa hari, jadi tidak perlu kau mengikutiku.” Putri Quan Ling melirik dengan ekor matanya yang berkelebat.
Mendengar ucapan wanita itu membuat raja Zhou Yhan tersenyum sinis kemudian berkata, “Kau pikir aku kemari untukmu? Tidak! Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan dua hari lagi adalah pernikahanku dengan putri Lin Mei. jadi, aku hanya ingin kau hadir menyaksikan pernikahan kami.”
JEDAR!!!
Bagaikan petir di siang hari, suaranya begitu dahsyat terdengar di telinga putri Quan Ling. Entah mengapa mendengar pernikahannya dengan wanita lain membuatnya terasa sesak seperti ada sesuatu yang mengganjal di antara tenggorokan dan ulu hatinya. Dan rasanya sakit sekali.
“Apa? M-menikah?” Suara putri Quan Ling terdengar terbata-bata.
“Ya, dia sendiri yang melamarku, lagi pula hubungan pernikahan kita hanya sebatas semu, menurutku tidak ada salahnya aku menikah kembali,” jawab raja Zhou Yhan dengan tenang, “dan aku ingin kau memberiku penghormatan tepat pada acara itu sebagai istri pertama,”
Putri Quan Ling hendak meninggalkan tempat itu, tetapi tiba-tiba saja sebelah tangannya dicengkram dengan kuat oleh raja Zhou Yhan dan membuat wanita cantik itu sedikit mengaduh kesakitan. Beruntung saja Young Vei tidak lagi disana, jika tidak tentulah ia akan menyaksikan sebuah perdebatan yang tidak kunjung habis. Entah kemana perginya bocah itu, mungkin ia merasa jenuh dengan sikap kedua manusia itu yang tidak pernah bisa akur itu.
“Lepaskan tanganku, Yang mulia!” pinta putri Quan Ling dengan suara sedikit lebih keras.
Ia berusaha menarik tangannya yang dipelintir ke belakang oleh tangan kekar milik raja Zhou Yhan. Sebenci apapun putri Quan Ling kepada pria itu, tetap saja ia menyebutnya dengan kata-kata hormat yang tetap memanggilnya dengan sebutan ‘Yang mulia’.
“Kau adalah satu-satunya wanita yang selalu memancing emosi dan gairahku, tapi sayangnya aku tidak tertarik untuk menyentuhmu!” Raja Zhou Yhan melepas cengkraman tangannya secara tiba-tiba dan hampir membuat putri Quan Ling jatuh tersungkur.
“Apa yang kau lakukan, putraku?” Suara itu berasal dari Ibu ratu Yan Yikhu yang baru saja sampai di sana dan melihat perlakuan kasar putranya terhadap putri Quan Ling.
__ADS_1
“Dia istrimu, harusnya kau bersikap lebih lembut padanya, dan ingat ini adalah kerajaan King Huan bukan kerajaan Shengshi, jadi jangan menambah masalah lagi,” lanjut Ibu ratu Yan Yikhu lagi.
Mendapat teguran dari Ibunya membuat raja Zhou Yhan segera meninggalkan tempat itu karena ia merasa enggan berdebat dengan wanita itu. Jadi, ia putuskan untuk pergi saja. Sedangkan Ibu ratu Yan Yikhu hanya bisa memandangi putranya yang telah berlalu.
“Maafkan putraku.” Ibu ratu Yan Yikhu mewakili raja Zhou Yhan.
“Apa yang bisa kuperbuat selain memaafkannya? Lagi pula aku tidak memiliki pilihan lain, bukan?”
Mendengar jawaban dari menantunya, Ibu ratu Yan Yikhu mengerti betapa terlukanya perasaan putri Quan Ling. Apalagi ia telah mendengar sendiri kabar pernikahan suaminya dengan wanita lain. Wanita mana yang akan rela di madu? tentu jawabannya adalah ‘Tidak ada’.
>>>>>>>>>>>
Pada malam hari langit yang menaungi istana kerajaan King Huan terlihat sangat cerah, sang rembulan menampakkan sinarnya dihiasi ribuan bintang yang bertaburan di langit. Putri Quan Ling duduk di sebuah kursi seraya menatap langit tampaklah di atas sana bayangan raja Shan Hua sedang membalas tatapan matanya dengan sebuah senyuman yang indah.
“Ayah…,” lirih putri Quan Ling dengan air mata yang mulai berlinang membuat genangan bening sebening kristal.
“Putriku, jagalah dirimu baik-baik, jangan pernah kau simpan dendam atas kematianku. Semua ini adalah takdir dan jalani hidupmu sesuci air yang terus mengalir. Kau harus bisa menyatukan dua kerajaan ini untuk memperoleh kesejahteraan di antara keduanya.” Terdengar suara yang begitu lembut menyentuh gendang telinganya putri Quan Ling.
“Tapi, Ayah, hati ini masih belum bisa menerima penyebab kematianmu, aku memang sangat dendam dan ingin sekali melenyapkannya,” sahut putri Quan Ling dengan tangan yang terkepal erat, “tapi, aku tidak memiliki kekuatan sedikitpun, permata kristal putih telah jatuh ke tangan orang yang salah.” Putri Quan Ling menundukkan wajahnya merasa sangat bersalah.
“Perlu kau ketahui putriku, tidak selamanya kita membutuhkan kekuatan untuk mengalahkan musuh, terkadang dengan menebarkan cinta dan kasih sayang, maka musuh akan kalah dengan sendirinya. di dunia ini tidak ada satu kekuatan pun yang akan mampu menandingi kekuatan keduanya karena kedua kekuatan itu tidak akan pernah terpisahkan walau hingga akhir zaman.”
Putri Quan Ling terdiam dan berusaha meresapi setiap kata yang diucapkan oleh Ayahnya. Perlahan ia mulai memahami isi nasehat tersebut.
__ADS_1
“Terima kasih, Ayah.” Putri Quan Ling mendongakkan kepalanya kembali, tetapi langit telah kosong hanya bintang-bintang berkerlap-kerlip tampak indah mengelilingi sang rembulan.